
Laila dengan sabar dan telaten mengobati luka di wajah Bima, ia merasa terharu karena Bima rela menolongnya lepas dari Rafik.
"Kak Bima, apakah sudah lebih baik." tanya Laila ketika sudah selesai mengobati Bima.
"Terimakasih Laila, ini sudah lebih baik." jawab Bima.
"Mengapa kak Bima melakukan hal itu, bukankah itu sangat berbahaya, kak Rafik seperti sudah kehilangan akal sehatnya." ucap Laila.
"Laila tidak mungkin aku diam saja, saat melihat seorang wanita yang di perlakukan kurang sopan seperti tadi, terlebih kau adalah istri sahabatku." jawab Bima.
"Terimakasih kak atas bantuannya, Laila tidak bisa membayangkan seandainya kakak tidak datang tadi. mungkin Laila sudah menjadi tawanan kak Rafik seperti waktu itu." ucap Bintang sambil mengingat kejadian buruk yang menimpanya waktu itu.
"Jangan sungkan Laila, kita memang harus saling tolong menolong. Oh iya biasanya Rian selalu menjadi pengawal mu, dimana dia hingga Rafik bisa menangkap mu ?" tanya Bima.
"Kak Rian sedang membantu kak Fauzi." jawab Bintang singkat.
Kemudian Bima mengangguk, ia juga tau misi yang dilakukan oleh sahabatnya itu.
"Laila yang sabar ya, pasti sebentar lagi Fauzi akan menyelesaikan masalahnya, aku mengenal dia sejak kecil, jadi aku bisa jamin kesetiaan yang ia miliki. Kau jangan khawatir." ucap Bima.
"Iya kak, hari ini kak Fauzi sudah pulang, tadi pagi beliau mengabari." jawab Laila
"Baguslah !" jawab Bima.
"Apanya yang bagus Bim ?" tanya Fauzi yang tiba-tiba muncul di dalam ruangan itu.
"Kakak !" seru Bintang, kemudian ia mendekati Fauzi dan langsung memeluknya.
"Sayang bagaimana keadaan mu ? tadi ada yang mengatakan kau akan dibawa oleh Rafik dengan paksa. Katakan Napa yang sudah Rafik Lalukan !' tanya Fauzi sambil memeluk tubuh istrinya.
"Laila baik-baik saja, tadi kak Bima datang tepat waktu dan kak Bima yang menolong Laila hingga ia babak belur seperti itu." jawab Laila sambil tersenyum.
"Syukurlah sayang, aku sangat merindukanmu." ucap Fauzi kemudian ia mencium bibir istrinya yang sudah menjadi candunya.
"Hem yang lagi rindu, sampai tidak bisa menjaga perasaan si jomblo." ucap Bima.
__ADS_1
Laila tersipu malu, dan ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Makanya Bim cepat menikah, menikah itu jauh lebih indah dari yang kita bayangkan. Sudah nikmat dapat pahala pula." jawab Fauzi sambil menggandeng tangan istrinya dan mendekati Bima.
"Pada ada wanita yang mau dengan aku, memangnya kamu, sang ketua BEM yang digilai oleh wanita-wanita cantik, bahkan gadis kecil seperti Laila aja sampai bertekuk lutut di hadapan mu." jawab Bima..
"Jangan begitu Bim, suatu saat pasti akan ada gadis cantik yang mencintaimu, dan ia kan bersedia menjadi kekasih halal mu. Percaya itu !" jawab Fauzi.
"Iya iya, bagaimana misi mu ?" tanya Bima.
"Sesuai dengan rencana, sekarang aku tinggal menunggu kabar dari Rian." jawab Fauzi.
"Syukurlah kalau begitu. Aku turut berbahagia, meskipun aku lupa seperti apa wajah orang tuamu. Tapi aku yakin beliau orang baik, karena anaknya saja baik seperti dirimu." ucap Bima.
"Terimakasih Bima, tapi aku tidak mengharapkan pujian dari mu, aku mengharapkan dukungan serta doa tulus dari mu Bim." ucap Fauzi sambil tersenyum.
Kemudian mereka berbincang-bincang sambil menyantap makanan ringan yang dibawa oleh Fauzi.
"Bim, kita pamit dulu ya. Aku sudah kangen rumah." ucap Fauzi sambil berdiri.
"Kangen rumah atau kangen itu ?" goda Bima.
Bima hanya memandang keduanya, hingga tidak terlihat lagi.
Fauzi langsung membawa Laila pulang ke rumahnya, ia sudah tidak sabar untuk melepaskan rindu yang sudah ia pendam beberapa hari ini.
Dengan kecepatan sedang Fauzi melakukan motornya, sedangkan Laila memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.
Setelah sampai di depan rumahnya, Fauzi mengendong istrinya dan segera membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Para pelayan yang melihatnya tersenyum bahagia, mereka ikut merasakan kebahagiaan majikannya itu.
Setelah sampai di dalam kamar, dengan lembut Fauzi membaringkan tubuh istrinya, dengan lembut ia buka semua kain yang menutupi tubuh keduanya.
"Sayang, kakak sangat merindukanmu. Kakak ingin melakukannya, kakak sangat merindukanmu sayang." bisik Fauzi sambil melepaskan kain yang ada ditubuh istrinya.
__ADS_1
"Laila juga sangat merindukan kakak." jawab Laila sambil tersenyum menatap wajah suaminya itu.
Kemudian keduanya saling melepaskan rindu di dalam dada, dengan alunan cinta yang syahdu kedua saling membalas satu dengan yang lainnya.
Kedua melepaskan kerinduan, dan menikmati indahnya surga dunia, hingga AC dikamar itu tidak mampu mendinginkan suhu ruangan yang panas karena gairah cinta dari kekasih halalnya.
Setelah menyelesaikan kegiatannya, Fauzi mengangkat tubuh Laila kembali. Dan membawanya masuk ke kamar mandi, keduanya berendam di dalam bathtub yang berisi air hangat.
"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu." ucap Fauzi sambil mencium kening istrinya.
"Laila juga sangat mencintai kakak." ucap Laila sambil mencium bibir Fauzi.
"Sayang, apakah kau menginginkannya lagi ?" tanya Fauzi sambil meremas benda kenyal kesukaannya.
"Rindu ini terasa begitu dalam, hingga aku ingin kembali meneguk obatnya sampai rindu ini benar-benar terobati." jawab Laila sambil membalas setiap gerakan Fauzi.
Kemudian keduanya kembali mengobati rindu yang masih membara.
Setelah selesai dengan kegiatan panasnya, mereka kemudian membersihkan diri kemudian beristirahat di ranjang sambil berbaring dan saling memeluk.
"Sayang, mulai hari ini kakak sudah terlepas dari jerat keluarga Aditya." ucap Fauzi sambil menunjukkan foto surat perjanjian yang ditandatangani oleh Fauzi dan Tuan Aditya di galeri ponselnya.
"Syukurlah kak, Laila sangat bahagia sekali. Ternyata sangat sakti sekali saat melihat suami bersama wanita lain." ucap Laila dengan polosnya.
"Maafkan kakak sayang, kakak berjanji tidak akan menyakiti hatimu lagi. Kakak hanya akan bersama kekasih halal kakak ini." jawab Fauzi sambil mengusap pipi istrinya.
"Terimakasih kak, untuk semua cinta dan kasih sayang kakak." jawab Laila.
"Seharusnya kakak yang berterima kasih." jawab Fauzi. Kemudian keduanya terlelap sambil berpelukan.
Di tempat Lain Hana bersiap-siap untuk pulang, ia bersemangat karena akan mengubah isi surat perjanjian yang sudah ditandatangani oleh Fauzi dengan isi sesuai keinginannya.
Sedangkan taun Aditya, menyusun rencana untuk mengambil alih seluruh kekayaan keluarga Fauzi. Ia sangat senang karena apa yang sudah ditunggu-tunggu selama beberapa tahun ini akhirnya akan terwujud.
Hana dan juga tuan Aditya berlayar menuju rumah mereka, dengan segudang harapan masing-masing.
__ADS_1
Dengan senyum penuh kemenangan keduanya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah mereka.
Mereka tidak tau, bahwa surat yang telah di tandatangani oleh Fauzi dan juga tuan Aditya telah Fauzi kirim ke pengacaranya, sedangkan kertas kosong yang akan mereka gunakan untuk memalsukan surat tersebut telah Fauzi jatuhkan di lantai dekat kaki tuan Aditya.