Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 42. Surat Perjanjian


__ADS_3

Setelah tuan Aditya berlalu dari hadapan mereka, Fauzi lalu mengambil barang bawaannya dan segera keluar dari villa tersebut. Ia berjalan ke tepi pantai, menunggu barang kali ada kapal yang lewat.


Sementara Hama, segera mencari ayahnya. Hana berjalan ke sana kemari namun ia tidak menemukan ayahnya.


Setiap penjaga yang ia tanya, selalu menjawab tidak tahu kemana ayahnya pergi. Dengan kesal Hana kembali ke kamarnya dan mencoba menghubungi Fauzi, namun lagi-lagi ia harus kecewa karena no Fauzi di luar jangkauan.


Di sisi lain, tuan Aditya sedang mencari dimana keberadaan sahabatnya yang sudah ia rawat selama bertahun-tahun. Namun ia tidak menemukan keberadaannya.


Ia segera mencari Dokter yang merawatnya, namun sang Dokter hanya mengatakan bahwa pasiennya masih berada di tempatnya. Hanya saja sewaktu ia menelpon pasien bisa merespon dan bisa menggerakkan tangannya.


Tuan Aditya segera memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan kedua sahabatnya itu.


Seluruh anak buah tuan Aditya mencari ke segala tempat termasuk ke tepi pantai, Fauzi yang mengetahui hal itu hanya tersenyum sambil pura-pura tidak tau apa-apa.


Fauzi duduk di sebuah batu, sambil memantau keadaan. Ia tidak ingin anak buah tuan Aditya segera menyusul kapal pesiar yang membawa orang tuanya.


"Maaf tuan, anda dipanggil kembali oleh tuan Aditya." ucap salah seorang anak buah tuan Aditya.


"Bukankah beliau telah mengusir saya ?" tanya Fauzi tanpa merubah posisinya.


"Maaf tuan, saya hanya di perintahkan untuk menjemput anda, untuk yang lainnya anda bisa menanyakan langsung kepada tuan Aditya." jawab lelaki itu.


Kemudian Fauzi mengikuti lelaki itu menuju villa, ia hanya tidak ingin menimbulkan masalah untuk orang lain. Setelah sampai Fauzi langsung di antar ke ruang kerja tuan Aditya.


"Paman, untuk apa anda memanggil saya kembali ?" tanya Fauzi dengan sopan.


"Duduklah !" jawab tuan Aditya dengan santai.


"Sebenarnya apa tujuanmu datang ke pulau ini ?" tanya tuan Aditya setelah Fauzi duduk.


"Saya berlibur bersama Hana, bukankah Anda sudah mengetahui dan juga sudah mengijinkannya paman." jawab Fauzi.


"Selain itu apa tujuanmu ?" tanya tuan Aditya lagi.


"Tujuan saya hanya untuk berlibur." jawab Fauzi tegas.

__ADS_1


"Kalau begitu tandatangani surat ini !" ucap tuan Aditya sambil menyodorkan sebuah kertas.


Perlahan Fauzi mengambil surat tersebut dan membaca isinya.


"Kau sungguh licik paman, di bawah surat ini kau letakkan kertas kosong agar kau bisa dengan sesuka hati mengganti isi surat ini."


"Akan ku ikuti permainan mu paman. Sejauh mana kau akan bisa menipu aku dan keluargaku." batin Fauzi sambil menarik dan menjatuhkan keras kosong yang berada di bawah surat perjanjian itu.


"Untuk apa surat perjanjian ini paman ?" tanya Fauzi sambil meletakkan surat di tangannya.


"Surat itu hanya untuk berjaga-jaga, agar dikemudian hari kau tidak akan mengecewakan Hana, kau harus tutup mulut atas kejadian malam ini." jawab tuan Aditya.


"Kalau soal Hana, aku akan tutup mulut paman, karena bukan hanya Hana yang malu, tetapi saya juga akan malu."


"Saya seorang lelaki, tetapi Hana malah melakukan tindakan pelecehan terhadap saya." jawab Fauzi.


"Kalau begitu mengapa kau tidak segera menandatangani surat itu ?" tanya tuan Aditya tanpa basa-basi lagi.


Dengan cepat Fauzi menandatangani surat tersebut, sedangkan kakinya menggeser keras yang ia jatuhkan agar berada di bawah tuan Aditya.


"Tidak ada, setelah ini kau akan di antar oleh anak buah ku untuk meninggalkan tempat ini segera. Ingat kau jangan macam-macam." ucap tuan Aditya.


Fauzi mengangguk kemudian ia segera keluar dari ruangan tersebut, sementara anak buah tuan Aditya sudah menunggunya.


Fauzi berjalan kembali mengikuti anak buah tuan Aditya, namun saat ia hendak keluar dari Villa Hana, sudah berdiri di depan pintu.


"Fauzi aku mohon jangan tinggalkan aku." ucap Hana sambil memeluk tubuh Fauzi.


"Hana, aku tidak pernah membencimu, tapi aku harus pergi, aku tidak mau melawan ayahmu." jawab Fauzi sambil melepaskan pelukan Hana.


"Kalau untuk masalah ayah, biar aku yang akan menjelaskannya. Beliau pasti akan menuruti keinginan ku." jawab Hana dengan sangat yakin.


"Hana, aku baru saja menandatangani surat perjanjian yang diminta oleh ayahmu, salah satu isinya adalah aku harus menjauhi mu." jawab Fauzi.


"Itu tidak mungkin !" jawab Hana.

__ADS_1


"Jika kau tidak mempercayai ku, silakan tanyakan sendiri kepada ayahmu." jawab Fauzi, kemudian ia keluar dan segera meninggalkan villa tersebut. Sementara Hana segera mencari ayahnya.


"Ayah, mengapa ayah meminta Fauzi untuk menjauhi ku ?" tanya Hana saat berada di hadapan ayahnya.


"Sayang mengapa kau masuk tanpa mengetuk pintu ?" tanya tuan Aditya.


"Ayah, apa maksud ayah ? bukankah ayah tau aku sangat mencintai Fauzi aku tidak ingin hidup tanpa dia." jawab Hana dengan muka masam.


"Siapa yang menjauhkan mu anakku, ayah hanya menginginkan tanda tangan Fauzi saja tidak lebih."


"Jika kau ingin menikah dengan dia menikahlah setelah Fauzi lulus seperti yang tertulis di dalam surat yang ada di tangan pengacara keluarganya." jawab tuan Aditya.


"Apa maksud ayah ?" tanya Hana yang masih bingung dengan jawaban ayahnya.


"Sayang ayah hanya ingin mengambil tanda tangan Fauzi untuk kepentingan yang lain, untuk surat yang menyatakan ia harus menjauhi mu, itu hanya siasat ayah saja agar ia mau tanda tangan." jelas tuan Aditya.


"Jadi ayah tidak melarang aku menikah dengan Fauzi." tanya Hana.


"Sesuai dengan keinginan anda tuan putri." jawab tuan Aditya sambil tersenyum memandang wajah putrinya.


"Ayah memang yang terbaik." ucap Hana sambil tersenyum kemudian ia memeluk tubuh ayahnya.


"Setelah semua keinginan ayah tercapai, ayah akan melenyapkan Fauzi dan seluruh keluarganya. Maafkan ayah putriku." batin tuan Aditya.


Setelah puas, Hana segera kembali ke kamarnya, ia tersenyum membayangkan saat ia mencium bibir Fauzi.


"Fauzi kau tidak akan bisa lepas dari tanganku, kau akan tetap menjadi milikku selamanya." ucap Hana sambil mengusap bibirnya.


Hana membayangkan bagaimana reaksi Fauzi saat tau, bahwa surat yang di tandatangani telah berubah isinya.


Dengan sangat mudah bagi Hana untuk bisa segera memiliki Fauzi, Hana tersenyum membayangkan segalanya. Padahal lain lagi dengan apa yang di inginkan oleh ayahnya.


Tuan Aditya sebenarnya tidak pernah menyukai Fauzi, ia hanya ingin menunggu sampai saatnya tiba, dimana ia bisa menguasai seluruh harta yang keluarga Fauzi yang di wariskan kepadanya saat ia masih kecil.


Surat wasiat itu berada di tangan pengacara, sehingga ia harus menunggu sampai Fauzi cukup umur dan dengan cara liciknya, maka Fauzi akan memberikan seluruh harta tersebut kepada tuan Aditya.

__ADS_1


Sebuah rencana jahat yang sudah disusun bertahun-tahun lamanya.


__ADS_2