Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 8 Peringatan Untuk Laila


__ADS_3

Setelah dipersilakan masuk, orang tersebut masuk dan duduk di kursi yang ada di teras. Kemudian Fauzi duduk di bangku sebelahnya setelah membawa teh hangat untuk tamunya.


" Silakan diminum ... " ucap Fauzi


Orang tersebut tersenyum menatap Fauzi kemudian menyeruput telah hangat yang sudah disediakan itu.


" Maaf ya nak ... saya mengganggu " ucap orang tersebut


" Tidak apa pak jangan sungkan ... tapi kalau boleh tau bapak ini siapa dan ada keperluan apa ya ?" ucap Fauzi


" Perkenalkan nama saya Andi, saya orang tua Rafik dan ... " sebelum ucapannya selesai tiba-tiba Bima masuk tanpa permisi


" Zi ... tolong ... " Nafasnya ngos-ngosan sampai tidak bisa menyampaikan apa yang terjadi


" Ini Bim ... diminum " ucap Fauzi sambil menyodorkan segelas air putih


Setelah Bima minum kemudian ia mengatur nafasnya.


" Zi ... ada berita tentang Anis, tolong dengar baik-baik ya ... " ternyata Rafik itu saudara Anis


" Maksudnya ... ?" tanya Fauzi


" Iy nak ... Rafik itu Adik kandung Anis, ia pindah sekolah disini karena ingin menyelidiki tentang kecelakaan yang menimpa kakaknya " Ucap pak Andi


" Maksud bapak ?" ucap Fauzi dan Bima bersamaan


" ya ... sekitar 3 tahun yang lalu Anis kecelakaan " ucap pak Andi dan kemudian menundukkan kepalanya


" Sekarang bagaimana dengan keadaan Anis pak ... ? " tanya Fauzi lagi


" Assalamu'alaikum ... maaf kak, bapak kenapa ada disini dan tidak mengabari saya " ucap Rafik yang tiba-tiba muncul dan langsung menatap wajah orang tuanya


" Wa'alaikumsalam ... " ucap Fauzi dan Bima serentak


" Maaf kak kalau kedatangan ayah saya mengganggu kakak " ucap Rafik lagi


" Jangan sungkan ... saya tidak keberatan " ucap Fauzi


" Ayo yah kita pulang ... " ucap Rafik sambil menggenggam tangan ayahnya


" Kenapa buru-buru ... kita bisa ngobrol sebentar dan kebetulan banyak yang ingin saya tanyakan " ucap Fauzi


" Maaf ... jangan banyak bertanya kepada ayah saya, jika itu hanya membuat beliau sedih " jawab Rafik menolak dengan halus


Kemudian Rafik berdiri dan menggandeng tangan ayahnya dan mengajaknya meninggalkan rumah Fauzi.


" Tapi ... " ucap Bima tapi dihentikan oleh Fauzi


" Mungkin belum saatnya saya ceritakan semua tentang Anis " jawab Rafik dan berlalu meninggalkan Fauzi dan Bima.


Sementara Fauzi dan Bima Hanya bisa melepas kepergian mereka dengan segudang pertanyaan.

__ADS_1


Sedangkan ditempat lain Laila ... mencoba berdiskusi dengan dirinya sendiri. Dia bingung harus bagaimana. Jika ia harus sekolah otomatis dia tidak akan bisa menghindari Fauzi dan juga Hana tetapi jika tidak bersekolah ia harus bilang apa pada orang tuanya.


Laila hanya bisa termenung dan akhirnya ia merebahkan tubuhnya. tak lama kemudian ia tertidur pulas.


Keesokan harinya Laila akhirnya memutuskan untuk tetap sekolah dan akan berusaha untuk menghindari Fauzi. Setelah selesai mempersiapkan semuanya ia akhirnya berangkat ke sekolah, Namun setelah beberapa saat tidak ada satupun Angkot yang melintas di depannya.


" Tunggu 10 menit lagi Laila ... kalau tetap tidak ada angkot yang melintas berarti memang nasibmu untuk tidak masuk lagi hari ini " batin Laila


Dan setelah beberapa saat menunggu tetap tidak ada angkot yang melintas, Laila berencana untuk masuk kembali kedalam rumahnya.


Tin ...Tin ... Tin ...


Laila menoleh ke arah mobil putih yang berhenti di depannya. dan perlahan pintu terbuka.


" Ayo kita ke sekolah bersama " ucap Rafik sambil membukakan pintu untuk Laila


" Baiklah kalau kakak tidak keberatan " ucap Laila kemudian masuk dan duduk di depan samping Rafik.


" Ngomong - ngomong rumah kakak dimana " tanya Laila


" Disini saya hanya ngontrak La ... " jawab Rafik sambil terus mengemudikan mobilnya


" Maksud saya kok kakak berangkat dari arah sini ... " tanya Laila lagi


" Kebetulan tadi pagi saya ada perlu terus sekalian saya lewat sini ... memastikan kamu masuk sekolah " jawab Rafik


" Kenapa ... ?" tanya Laila penasaran


" Sebenarnya Laila takut ... tapi Laila lebih takut orang tua Laila kecewa " jawab Laila


" Nah ... untuk itu kakak setuju, kamu harus tetap melangkah untuk membahagiakan orang tua " Jawab Rafik kemudian.


Dan keduanya berbincang-bincang dengan santai hingga akhirnya sampai di depan gerbang.


" La ... sampai sini ya ... Kakak mau pulangin mobil ini sama pemiliknya dulu " ucap Rafik setelah menghentikan mobilnya


" Iy kak ... terimakasih atas tumpangannya, kalau tidak aku pasti telat " jawab Laila kemudian turun dari mobil


" Kalau telat ... lewat belakang lagi La ... yang penting jangan sampai nyasar " ucap Rafik


Dan Laila hanya membalasnya dengan senyuman kemudian melambaikan tangan dan melangkah masuk ke gerbang Yayasan tempat ia menuntut ilmu


" Ternyata masih berani melangkahkan kaki kesini " ucap Hana santai sambil berjalan disamping Laila.


Laila menoleh dan membalas senyuman atas pernyataan yang dilontarkan oleh Hana.


" Aku ingatkan ... itu hanya peringatan buat kamu dan jika kamu masih berani melangkah lebih jauh lagi, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup " Ancam Hana kemudian ia melangkah mendahului Laila dan menuju ke kampusnya


Sementara Laila hanya menghela nafas kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelasnya. Setelah sampai Laila duduk di bangkunya kemudian meletakkan tas dan juga bukunya


" Assalamu'alaikum cantik ... ini bekal untuk kamu " tiba - tiba Fauzi sudah berdiri didepan Laila

__ADS_1


" Wa'alaikum salam ... " ucap Laila kemudian menatap Fauzi


" Jangan lupa dimakan ya ... tapi hari ini kakak tidak bisa menemani, soalnya kakak ada perlu dan hari ini kakak tidak masuk " jelas Fauzi lagi


" Kenapa ... " tanya Laila


" Kakak ada urusan yang harus diselesaikan ... yang semangat belajarnya ya, Kakak pamit dulu ... " Ucap Fauzi kemudian meninggalkan Laila


" Hati-hati ... " ucap Laila


Dan Fauzi hanya membalasnya dengan senyuman, kemudian berlalu.


" Hai ... udah masuk ?" ucap Anggi yang langsung duduk disamping Laila


" Sudah ... " jawab Laila


" Kamu bawa bekal ? ... " kayak anak TK aja " goda Anggi


" Biar g ketemu sama nenek lampir " jawab Laila


" he he he ... ide bagus itu La ... besok aku juga mau bawa bekal juglah sekalian hemat uang jajan " jawab Anggi dengan semangat


" Mulai besok berarti kita tidak perlu keluar kelas untuk makan siang " lanjut Anggi


" Kamu semangat sekali ... " jawab Laila sambil memandang wajah Anggi


Kediaman keduanya saling pandang dan kemudian mengalihkan topik pembicaraan seputar materi pelajaran, karena khawatir ada hal-hal yang tidak diinginkan.


Setelah beberapa jam pelajaran, akhirnya waktu istirahatnya tiba. Laila dan Anggi memilih istirahat di bawah pohon yang ada disamping kelasnya.


" Ayo kita makan bersama ... meskipun sedikit, tapi bisa mengganjal perut " ucap Laila sambil membuka kotak makannya. Dan Anggi tanpa sungkan mengambilnya dan mulai menikmati makan siangnya


" Enak banget La ... kamu jago masak ternyata " ucap Anggi dengan mulut penuh makanan


" Bukan aku yang masak ... jangankan masak bikin teh aja aku belum pernah " Jawab Laila dengan jujur


" What ... bikin teh aja belum pernah ! terus selama ini ?" tanya Anggi dengan pemasaran


" Waktu di Bandung semua keperluanku sudah ada yang menyiapkan ... " jawab Laila sambil tatapannya kosong


" Maaf dech ... aku gak bermaksud membuatmu sedih, tapi makanan ini enak banget ... siapa yang buat " tanya Anggi lagi


" Tadi pagi ... aku dikasih sama kak Fauzi ... dia yang masak " jawab Laila santai


" Maksut kamu ... tadi pagi kamu ketemu sama kakak tampan itu dan ia memberikan ini buat kamu ? " tanya Anggi dengan penasaran


Laila hanya mengganggukan kepalanya sebagai jawaban.


" La ... ternyata kamu disini ?" terdengar suara


yang tiba-tiba mengangetkan Laila dan Anggi

__ADS_1


__ADS_2