Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 59. Sebuah Fakta


__ADS_3

Setelah tuan Sudrajat dan istrinya menghembuskan nafas terakhirnya, tuan Aditya beserta beberapa anak buahnya hendak membawa jenazah tersebut keluar meninggalkan tempat kejadian.


Namun belum sempat mereka keluar dan membereskan semua bukti kejahatan yang mereka lakukan.


Datanglah salah seorang Dosen bersama anak dan istrinya, terlihat sang istri yang gemetar sambil memeluk tubuh bayi mungil dan berbunyi di belakang suaminya.


"Tuan apa yang anda lakukan ! Anda harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan Anda tuan." ucap sang Dosen sambil hendak melangkah meninggalkan tempat tersebut.


"Mau kemana kalian ? kalian telah masuk dan melihat semuanya untuk itu kalian harus menutup mulut dan juga mata kalian." ucap tuan Aditya.


Kemudian beberapa anak buah tuan Aditya mendekati sang Dosen yang mencoba melindungi anak dan istrinya itu.


"Apa yang akan kalian lakukan ? lepaskan anak dan istri ku !" ucap sang Dosen saat melihat anak dan istrinya ditangkap oleh anak buah tuan Aditya.


"Aku akan menyelamatkan putri kecil mu asalkan kalian mau melakukan apa yang aku perintahkan." ucap tuan Aditya.


"Baik aku akan melakukannya asal kau selamatkan istri dan anakku." ucap sang Dosen kemudian mengikuti langkah tuan Aditya.


Saat anaknya dibawa oleh anak buah tuan Aditya, sang istri berteriak dan menangis histeris.


"Anis ! Putriku, jangan ambil anakku !" teriak sang istri.


Namun salah satu anak buah tuan Aditya membungkam mulutnya dengan kain, setelah beberapa saat wanita itu pingsan. Mau tidak mau sang Dosen akhirnya menyetujui permintaan tuan Aditya.


Fauzi yang melihat video itu langsung jatuh ke lantai, tubuhnya terasa begitu lemas saat di depan matanya ia melihat kedua orang tuanya dibunuh dengan kejamnya oleh tuan Aditya yang selama ini ia hormati.


"Ayah ! Ibu !" teriak Fauzi dengan sekuat tenaga.


Bima dan kawan-kawannya langsung datang dan melindungi Fauzi, dari beberapa anak buah tuan Aditya.


Terlintas kenangan masa kecilnya, dan ia mengingat kejadian dalam video tersebut meskipun ia tidak seberapa tau apa yang mereka perselisihkan waktu itu.


"Kalian pembunuh ! aku akan membalas semua perbuatan kalian !" ucap Fauzi dengan suara yang bergetar.


"Fauzi kau harus tetap tenang, semua video itu sudah terekam secara otomatis seperti semua kegiatan yang kita lakukan."

__ADS_1


"Kau bisa menyerahkan itu sebagai bukti untuk kejahatan tuan Aditya berserta anak buahnya." ucap Bima.


Kemudian Fauzi mengangguk dan mencoba bangkit dari lantai. Ia mengaktifkan earphone dan menghubungi Rian.


"Amankan semua orang, kerahkan semua orang mu untuk menjaga tempat ini, jangan biarkan satu orang pun meninggalkan tempat ini. Aku akan menghubungi polisi."ucap Fauzi.


"Tidak perlu tuan, karena Polisi telah datang dan mengamankan tempat ini menurut informasi yang saya terima mereka mendapatkan informasi tersebut dari nona." jawab Rian.


"Sekarang dimana nona berada ?" tanya Fauzi.


"Maaf tuan kami belum menemukan nona, namun sumber video tersebut berasal dari ruang Kepala Sekolah tempat kejadian dalam video tersebut tuan." jawab Rian.


"Bima pastikan tuan Aditya dan anak buahnya di tangkap polisi, mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aku akan mencari Laila." ucap Fauzi.


"Baik ! selamatkan Laila dan serahkan semuanya kepada kami." jawab Bima.


"Tuan saya menunggu anda di ruang Kepala Sekolah." ucap Rian kemudian menutup panggilan tersebut.


Fauzi langsung berjalan meninggalkan Aula tersebut dan berjalan menuju ruang Kepala Sekolah.


Sementara Anis yang melihat dan mendengar wanita itu memanggil namanya juga ikut lemas dan lunglai.


"Ternyata aku telah salah dalam mengambil keputusan, tuan Aditya adalah seorang pembunuh. Sekarang dimana orang tuaku yang sebenarnya ?"


"Apakah beliau telah tiada sama seperti orang tua Fauzi ? aku harus mencari dan meminta agar tuan Aditya mau menunjukkan keberadaan orang tua kandung ku." ucap Anis.


Kemudian ia berjalan mengikuti tuan Aditya, mereka berjalan menuju ruang Kepala Sekolah.


Namun ditengah jalan Polisi datang dan menangkap tuan Aditya. Merasa tidak berdaya akhirnya tuan Aditya pasrah saat polisi menangkapnya.


"Tunggu pak Polisi !" ucap Anis sambil berlari menuju tuan Aditya.


"Ada apa nona ? kami akan membawa tuan Aditya ke kantor Polisi." ucap salah satu Polisi tersebut.


Fauzi yang berjalan kemudian menghentikan langkahnya dan mendekati tuan Aditya dan juga Anis.

__ADS_1


"Tuan katakan dimana orang tua kandung ku ?" tanya Anis tanpa memperdulikan Polisi dan juga Fauzi.


"Mereka telah hilang dari pengawasan ku !" jawab tuan Aditya dengan jujur.


"Kau pembohong ! aku akan membalas semua perbuatan mu terhadap mereka." ucap Anis sambil menampar wajah tuan Aditya.


Kemudian Anis jatuh kelantai sambil menangis pilu. Fauzi hanya berdiri melihat kejadian itu tanpa berkata apa-apa.


"Fauzi maafkan aku, aku telah berbohong kepada mu." ucap Anis saat Fauzi hendak melangkah pergi.


"Aku tau semua kebohongan mu, sekarang pergi dan pulanglah. Bik Sumi sudah menunggu mu." jawab Fauzi tanpa melihat Anis.


"Apakah kau masih mengijinkan aku ke rumah itu setelah kau mengetahui semua kebohongan ku ?" tanya Anis.


"Semua orang dalam rumah itu sudah mengetahui siapa kau sebenarnya, sejak pertama kali kau masuk bersama ku waktu itu, mereka menerima mu dan tidak akan mengusir mu dari rumah itu, tanpa perintah dari nona mereka." ucap Fauzi sambil terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun.


"Terimakasih untuk semuanya." jawab Anis kemudian ia melangkah meninggalkan tempat tersebut.


Sementara tuan Aditya dan para anak buahnya dibawa oleh Polisi, mereka di tangkap di depan semua mahasiswa dan Dosen yang hadir dalam acara tersebut.


Hana tidak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa menangis saat mengetahui semua kebenaran tentang ayahnya.


Ia menangis di lantai dan tidak ada seorangpun yang menghampirinya, semua sahabat yang selama ini selalu mengelilinginya enggan untuk mendekatinya. Mereka hanya menatap wajah Hana tanpa bisa berkata apa-apa.


Mereka melangkah dan meninggalkan Hana sendiri. Hana semakin terpuruk, ia begitu merasa hancur. Semua harapnya sirna begitu saja, bagaikan tertelan oleh bumi.


Ia kehilangan semuanya dalam sekejap mata, Fauzi lelaki yang sangat ia cintai sejak kecil tidak akan Sudi menerimanya apa lagi saat tau kejahatan yang telah dilakukan oleh ayahnya.


Sementara sang ayah, yang ia banggakan selama ini harus mendekam di dalam penjara karena perbuatan yang telah ia lakukan dimasa lalu.


Hana sedih sekaligus bingung, ia akan pulang ke mana dan akan mengadu kepada siapa. Hanya air mata yang jatuh ke lantai sebagai bentuk kesedihan yang ia rasakan saat ini.


Sementara Fauzi dan juga Rian telah tiba di Ruang Kepala Sekolah, tempat terakhir Laila terlihat saat ia mengikuti ujian kenaikan kelas.


Fauzi berdiri dan memperhatikan setiap sudut ruangan tersebut dan perlahan ingatan masa kecilnya perlahan melintas, sebuah kenangan indah saat ia bersama orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2