Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 79. Menjemput Hana


__ADS_3

Laila memberikan alamat tempat tinggal Hana kepada Bima, Laila juga memberikan no telp. Pelayan yang ia tugaskan untuk menemani dan menjaga Hana selama ini.


Setelah acara selesai Fauzi dan Laila segera berpamitan kepada Anis dan juga Rafik. Keduanya segera kembali ke rumah mereka.


Setelah sampai keduanya segera berbaring untuk melepaskan lelah setelah seharian menghadiri acara resepsi pernikahan Anis dan juga Rafik.


"Sayang, seperti apa konsep resepsi pernikahan kita nanti ?" tanya Fauzi sambil menatap wajah Laila yang berbaring di sampingnya.


"Apapun itu konsepnya Laila setuju, yang terpenting kita bisa mengumumkan kepada dunia bahwa kita adalah pasangan yang sah." jawab Laila.


"Sayang, terimakasih banyak, karena kau mau menerima semua ini, kau bersedia menjadi istri ku meskipun kita belum resmi tercatat sebagai sepasang suami istri."


"Terimakasih atas semua kesetiaan, cinta dan kasih sayang yang kau berikan dengan tulus selama ini." bisik Fauzi dengan lembut.


Kemudian mereka menyatu seluruh jiwa raga mereka dalam satu cinta, merenggut kenikmatan bersama, melepaskan kerinduan yang selam ini mereka pendam.


"Sayang, bolehkan kakak tanam benih-benih cinta kita ini ?" tanya Fauzi disela-sela kegiatan panas mereka. Laila tersenyum kemudian ia menggeleng.


"Tanamlah benih-benih itu dalam suasana dan keadaan yang tepat, setelah kita selesai mengumumkan hubungan kita."


"Agar ketika benih-benih cinta kita tumbuh dan terlahir di dunia ini, hubungan kita telah tercatat dengan indah sebagai pasangan yang sah, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dimasa depan." jawab Laila dengan sentuhan-sentuhan cintanya.


Keduanya terbuai dengan keindahan cinta yang mereka ciptakan.


Sementara Bima segera menuju, alamat yang diberikan oleh Laila. Ia ingin sekali bertemu dan melihat bagaimana kondisi Hana saat ini.


Setelah sampai di tempat yang ia tuju, Bima segera menghubungi nomor telepon pelayan yang selam ini menemani Hana.


Setelah memastikan keberadaan Hana, Bima segera menuju lokasi di mana Hana berada. Alangkah terkejutnya Bima saat melihat Hana sedang menimba air dari sumur.


Dengan susah payah Hana berusaha mengangkat air dari dalam sumur tersebut. Dengan cepat Bima mendekati dan membantu Hana.


"Hana biarkan saya saja yang melakukannya, kau duduk dan beristirahatlah dulu." ucap Bima sambil meraih tali yang Hana gunakan untuk mengambil air.


"Bima ! bagaimana kau bisa berad di sini ?" tanya Hana saat melihat Bima datang dan membantu ia mengambil air.

__ADS_1


"Nanti kita bicarakan setelah kita berada di rumahmu." jawab Bima dengan tersenyum.


Setelah air yang dibutuhkan cukup Bima membawa air tersebut menuju ke rumah Hana. Lagi-lagi Bima terkejut melihat kondisi rumah Hana saat ini.


Sungguh sangat berbanding terbalik dengan rumah yang selama ini Hana tempati selama ini. Rumah yang sangat sederhana itu menjadi pilihan Hama saat ini.


"Hana apakah kau nyaman tinggal di sini ?" tanya Bima.


"Ini jauh lebih baik Bima, dari pada aku tinggal di rumah mewah itu, tetapi selalu menjadi beban bagi yang lainnya."


"Disini aku belajar banyak tentang kehidupan yang sesungguhnya. Aku belajar bagaimana menghargai dan bagaimana susahnya perjuangan hidup ini." jawab Hana.


"Baiklah Bima, aku akan mandi sebentar dan kau tunggu sebentar lagi." ucap Hana lagi. Setelah itu, Hana meninggalkan Bima.


"Hana seandainya kau berfikir tentang hal itu sejak dulu, mungkin saat ini kau telah menjadi pasangan suami istri dengan Fauzi."


"Tetapi mungkin ini sudah menjadi takdir kita, Kau berubah menjadi lebih baik' dengan adanya peristiwa itu." batin Bima.


Setelah beberapa saat, akhirnya Hana keluar dengan membawa teh hangat dan beberapa kue kering.


"Terimakasih." ucap Bima sambil menenggak minuman yang Hana hidangkan.


"Bima bagaimana bisa kau sampai ketempat ini ?" tanya Hana yang masih penasaran.


"Laila yang memberikan alamat ini." jawab Bima singkat.


"Laila ?" tanya Hana dengan bingung.


"Tuan apakah nona juga ikut datang kesini ?" tanya seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


"Nona ? apakah sebenarnya kalian saling mengenal ?" tanya Hana kepada wanita itu.


"Iya nak Hana, saya mengenal Nona Laila jauh sebelum kita bertemu. Dan baliau juga yang meminta saya untuk menemani nak Hana dalam menjalani kehidupan yang nak Hana pilih." jawab wanita itu.


"Jadi selama ini ... ." ucap Hana terhenti.

__ADS_1


"Hana, Laila sangat menyayangi mu, ia tidak mungkin membiarkan kau berada di luar sendirian. Saat kau ingin menjalani kehidupan yang baru maka Laila tidak bisa mencegah mu untuk melakukan hal itu."


"Tetapi tidak mungkin juga Laila melepaskan mu sendiri untuk mengarungi kehidupan yang kau inginkan." jawab Bima.


"Laila sangat luar biasa, Terkadang aku merasa malu, padahal dulu aku selalu memperlakukannya dengan sangat buruk. Tetapi ia memperlakukan aku seperti saudara kadungnya."ucap Hana.


"Hana apakah kau bahagia dengan kehidupan mu yang sekarang ?" tanya Bima.


"Tentu saja aku bahagia Bima, aku hidup dalam kehidupan yang sesungguhnya meskipun sekarang kehidupan ku kau berbeda dengan kehidupan ku yang dahulu."


"Tetapi ini adalah milikku yang sesungguhnya, bukan milik orang lain yang diambil secara paksa." ucap Hana dengan sendu.


"Hana maukah kau mendampingi aku dalam mengarungi kehidupan ini dan maukah kau menjadi pendamping hidup ku untuk selamanya ?" tanya Bima lagi.


"Bima aku, aku ... ." ucap Hana.


"Hana kau tidak perlu menjawabnya sekarang, kau bisa menjawabnya nanti saat kau sudah mempunyai jawabannya. Dan aku ingin menjemputmu untuk kembali ke tempat mu yang seharusnya."


"Di sana kita bisa membantu persiapan pernikahan Fauzi dan juga Laila. Sambil kau berfikir untuk masa depan kita nantinya." ucap Bima.


"Apa, Fauzi dan Laila akan menikah ?" tanya Hana.


"Apakah kau masih mengharapkan Fauzi ?" tanya Bima tanpa menjawab pertanyaan Hana.


"Bukan seperti itu Bima, aku tidak berani mengharapkan cinta Fauzi dia lebih pantas bersanding dengan Laila. Mereka sangat serasi meskipun terpaut usia."


"Aku bahagia jika mereka bersama dan aku pasti akan datang ke acara pernikahan mereka." jawab Hana.


"Kalau begitu bersiaplah, kita akan membantu persiapan pernikahan mereka. Walau bagaimanapun juga Fauzi sudah menganggap kau sebagai saudaranya sendiri. Dan bukankah kalian sudah bersaudara selama ini." ucap Bima.


"Baiklah kita akan ke sana dan membantu persiapan pernikahan mereka. Kau tunggulah sebentar aku akan bersiap." jawab Hana.


Kemudian Hana masuk meninggalkan Bima, Sementara Bima tersenyum sambil menatap punggung Hana sampai tak terlihat lagi.


Setelah beberapa saat, Hana keluar. Keduanya lalu berjalan beriringan menuju motor milik Bima. Lalu mereka mengarungi padatnya jalan menuju ke kediaman Laila dan juga Fauzi.

__ADS_1


Dengan hati yang berbunga-bunga, Fauzi melajukan motornya sedangkan Hana mengeratkan pelukannya kepada Bima.


__ADS_2