
Setelah lama Anis dan juga Rafik menunggu, akhirnya sang ayah yang ditunggu-tunggu muncul dari balik pintu.
Dengan lesu tuan Ikhsan berjalan kemudian mendekati Rafik, Rafik dan juga Anis berhamburan kemudian memeluk tubuh sang ayah yang terlihat kurang sehat.
"Ayah, apakah ayah baik-baik saja ?" tanya Rafik sambil melepaskan pelukannya.
"Tidak nak, ayah kurang enak badan. Tinggal di sini sangat menyiksaku." jawab tuan Ikhsan dengan suara yang pelan.
"Ayah yang sabar, jika waktunya tiba. Kita akan kembali tinggal di rumah kita yang lebih nyaman." ucap Rafik.
"Nak, keluarkan ayah dari sini ! apapun caranya. Ayah sudah tidak tahan untuk tinggal di tempat seperti ini." ucap tuan ikhsan.
"Ayah, maafkan saya. Saya tidak bisa melakukan hal itu. Semua ini bukan karena saya tidak menyayangi ayah, tetapi saya tidak ingin ayah terjerumus ke dalam lubang kesalahan yang lebih dalam lagi."
"Bukannya saya tidak peduli dengan kondisi ayah, tetapi saya ingin ayah merenungi semua yang ayah lakukan dahulu."
"Saya ingin, ketika ayah keluar dari tempat ini, ayah berubah seperti seorang ayah kebanggaan keluarganya. Dan kita bisa memulai kehidupan yang baru." jawab Rafik.
"Jadi kau juga menyalahkan ayahmu ini ?" tanya tuan Ikhsan dengan rasa kecewanya.
"Bukan seperti itu ayah, saya tidak pernah menyalahkan ayah, semua yang ayah lakukan pasti demi kebaikan kami semua, tetapi saya juga tidak bisa membenarkan tindakan yang ayah lakukan."
"Saya juga bukan manusia yang sempurna, saya juga banyak melakukan kesalahan. Bahkan mungkin orang yang saya sakiti tidak bisa memaafkan semua kesalahan yang saya lakukan."
"Saya hanya ingin kita sama-sama memperbaiki kesalahan yang kita lakukan, merenungi semua kesalahan itu agar tidak terulang dimasa yang akan datang dan jangan sampai dilakukan oleh generasi penerus keluarga kita."
"Saya hanya ingin seluruh generasi penerus keluarga kita bisa berjalan dengan bangga karena prestasi yang berhasil mereka raih, bukan kesalahan yang mereka lakukan sehingga mereka tidak bisa menegakkan kepalanya saat berjalan."
__ADS_1
"Saya sangat menyayangi ayah, sama seperti dahulu. Rasa sayang saya tidak pernah berubah dengan mengetahui semua kesalahan yang pernah ayah lakukan."
"Saya tetap berdiri di depan ayah, sebagai anak laki-laki yang selalu ayah banggakan. Hanya saja saya tidak bisa membantu ayah untuk keluar dari sini." ucap Rafik.
"Omong kosong ! jika kau hanya ingin berkhutbah jangan di depan ayah tetapi pergilah ke masjid ! ." ucap tuan Ikhsan.
"Ayah, saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya ingin memperbaiki jalan yang akan saya tempuh. Dengan semua kejadian ini, saya juga berharap demikian. Saya ingin ayah menjadikan ini sebagai pelajaran buat ayah dan bisa memperbaiki diri." jawab Rafik.
"Sudahlah, jika kau tidak mau membantu ayah lebih baik kau segera pergi dari sini. Jangan pernah menemui ayah lagi." ucap tuan Ikhsan.
Kemudian ia berdiri dan hendak meninggalkan ruangan itu. Namun Rafik dengan cepat menarik tangannya dan menahannya. Dengan lembut Rafik memeluk tubuh sang ayah.
Rafik menangis sambil memeluk tubuh ayahnya. Sebenarnya ia tidak tega melihat ayah tinggal di tempat seperti ini. Tetapi ia juga tidak bisa membenarkan dan menolong ayahnya untuk keluar dari tempat ini.
Air mata Rafik menetes dan membasahi pundak tuan Ikhsan, tubuhnya bergetar karena menahan tangisannya.
Perlahan tuan Ikhsan membalas pelukan putranya, ia memeluk tubuh putranya dengan kuat. Ia ingin sekali mengatakan bahwa Rafik harus kuat dan tetap tegar apapun yang terjadi. Meskipun saat ini beliau tidak bisa lagi mendukung setiap tindakan yang Rafik lakukan.
"Ayah, tolong ajari aku, agar aku bisa menjadi seperti yang ayah inginkan." jawab Rafik.
"Bagaimana caranya ayah mengajarimu nak, sementara ayah berada di sini menjadi seorang narapidana." jawab tuan Ikhsan.
"Om hanya perlu mendukung setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh kak Rafik." ucap Laila.
"Siapa kau ? dan mengapa kau berada disini ?" jawab tuan Ikhsan tanpa melihat wajah Laila.
"Sayanadalah putri tuan Aditama yang wajahnya sangat mirip dengan Gadis yang menjadi anak angkat om Ikhsan." jawab Laila dengan tersenyum.
__ADS_1
Perlahan tuan Ikhsan menoleh dan memperhatikan Laila, setelah itu ia melihat Anis yang sejak tadi duduk di samping Rafik.
Keduanya memiliki kemiripan wajah, hanya saja Laila berbeda ia memiliki aura yang sangat kuat, tatapan matanya memancarkan kasih sayang yang tulus.
"Om, bukankah kita pernah bertemu. Bahkan saya pernah berperan sebagai kak Anis demi istri anda, apakah anda melupakannya ?" tanya Laila.
Perlahan terbayang wajah sang istri yang selama ini hanya diam seperti patung, wanita yang dahulu begitu ceria penuh kasih, kini hanya diam di atas kursi roda.
Sesaat ia pernah tersenyum saat melihat wajah Laila yang ia anggap sebagai Anis. Meskipun waktu itu ia berusaha mendukung Rafik untuk mendapatkan gadis itu, namun semuanya gagal.
"Putraku, tolong jaga ibumu. Ia adalah wanita satu-satunya yang ayah sayangi. Sampaikan maaf ayah karena tidak bisa menjaganya lagi. Suatu saat jika ia bertanya tentang ayah, katakan bahwa ayah baik-baik saja."
"Sampaikan maaf ayah atas semua kebutuhan yang telah menimpa beliau. Ayah sangat menyesal seharusnya ayah mendengarkan ucapannya sejak dahulu." ucap tuan Ikhsan sambil menunduk wajahnya.
"Om istri anda dalam keadaan baik - baik saja. Apakah anda tidak ingin memeluknya ?" tanya Laila lagi.
Perlahan tuan Ikhsan membalikkan badannya, ada seseorang yang datang dari balik pintu. Seorang wanita paruh baya yang duduk di atas kursi rodanya. Dengan sabar bik Sumi mendorong kursi roda itu kemudian mendekati tuan Ikhsan.
Air mata tuan Ikhsan perlahan menetes, ia tak kuasa menahan kesedihannya saat melihat sang istri yang duduk dengan tatapan kosong di atas kursi roda.
Anis yang melihatnya langsung berhamburan memeluk wanita yang selam ini membesarnya, wanita yang dengan penuh kasih sayang membimbingnya hingga ia bisa seperti sekarang ini.
"Ibu, apa yang terjadi ? mengapa ibu jadi seperti ini ?" tanya Anis sambil memeluk erat tubuh wanita yang duduk di atas kursi roda itu.
"Nak, maafkan ayah. Semua itu salah ayah. Dia adalah ibu kandungmu nak, bukan ibu angkat seperti yang selama ini ayah katakan." ucap tuan Ikhsan.
"Apa maksud ayah ? bukankah waktu itu tes DNA Anis tidak sesuai dengan DNA ayah ?" tanya Anis dengan penasaran.
__ADS_1
"Maafkan ayah nak, maafkan ayah. Semua itu ayah lakukan karena ayah tidak ingin kehilangan ibumu."
"Ayah sangat mencintai ibumu sejak kami masih di bangku SMA. Tapi sayangnya cinta ayah bertepuk sebelah tangan." jelas tuan Ikhsan dengan berurai air mata.