Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 39. Rindu


__ADS_3

Setelah mendapatkan izin dari sang istri, keesokan harinya Fauzi mulai mendekati Hana, agar bisa masuk ke Pulau Sangiang dimana kedua orang tuanya di Sandra di sana.


Setelah mengantarkan Laila ke Sekolah, Fauzi pergi ke Rumah Hana ia berencana untuk menjemput Hana. Saat berada di depan pintu Gerbang, Fauzi melihat orang asing yang pernah datang ke rumah lamanya tanpa di undang.


Fauzi langsung menekan bel dan menunggu Hana keluar. Hana yang baru pertama kali di jemput oleh Fauzi begitu bahagia, ia berpamitan kepada ayahnya sambil bersenandung dan segera naik di atas motor Fauzi.


"Hana siapa orang yang bersama dengan ayahmu ? bukankah ia yang ada di rumah ku bersamamu waktu itu ?" tanya Fauzi sambil mengemudikan motornya.


"Aku tidak mengenalnya, tetapi sudah dua kali ini aku melihatnya berbincang dengan ayahku." jawab Hana.


Fauzi diam dengan jawaban Hana, sebenarnya ia juga yakin jika Hana tidak mengenal orang tersebut.


"Sungguh aku tidak mengenalnya, nanti akan aku tanyakan kepada ayah." ucap Hana lagi.


Fauzi masih diam sampai ia berada di gerbang kampus mereka.


"Hana aku akan ke rumah, melanjutkan untuk membereskan rumah, jika mencari ku datang saja ke sana." ucap Fauzi.


"Kau tidak masuk ?" tanya Hana.


"Tidak, aku tadi memang sengaja ingin menjemput mu, itu saja." jawab Fauzi bingung.


Sementara Hana tersenyum melihat Fauzi yang bingung dengan alasan apa sampai ia menjemput Hana. Perlahan Hana mencium pipi Fauzi dan segera masuk menuju kelasnya sambil bersenandung.


Sedangkan Fauzi langsung mengelap pipinya menggunakan tisu dan segera meninggalkan yayasan pendidikan dimana mereka menuntut ilmu.


Sementara Laila yang tidak sengaja melihat kejadian itu, meneteskan air matanya. Hatinya terasa sakit saat melihat suaminya dicium oleh wanita lain.


"Begini mungkin rasanya cemburu." batin Laila. Kemudian ia melanjutkan aktivitasnya kembali sambil mengusap air matanya.


Saat jam istirahat, Laila datang ke kelas Anggi, mereka berjalan menuju ke perpustakaan untuk belajar bersama, sejak Laila naik kelas lebih awal membuat Anggi dan teman-teman Laila yang lainnya semangat belajar, meskipun mungkin tidak akan seperti Laila setidaknya mereka bisa lebih baik dari sebelumnya.


Saat Laila dan Anggi baru saja masuk, mereka sudah di sambut oleh Hana. Hana berkacak pinggang di depan Laila sambil tersenyum mengejek.


"Selamat siang selir kecil, apakah kau tau bahwa tadi pagi aku dan Fauzi baru saja bersama ?" tanya Hana sambil mengejek.

__ADS_1


"Maaf kak mengapa kak Hana bertanya seperti itu ?" tanya Laila.


"Sekedar informasi saja, dan ingat Fauzi itu adalah tunangan ku jadi kau jangan bermimpi untuk memilikinya. Ingat itu ! dasar Selir." ucap Hana sambil menunjuk muka Laila.


"Hana jaga sikapmu ! jangan sampai karena ulah mu, Fauzi semakin menjauh dari mu." ucap Bima sambil menurunkan tangan Hana.


"Aku hanya memperingatkan selir ini Bima, tidak lebih." jawab Hana cuek.


"Laila masuklah dan belajarlah dengan fokus, ingat tujuan mu datang kesini untuk belajar." ucap Bima sambil mempersilakan Laila masuk.


"Terimakasih kak." jawab Laila kemudian ia masuk kedalam perpustakaan dan duduk di tempat biasanya.


"Kalian ini, selalu memperlakukan Laila layaknya seorang ratu." ucap Hana dengan sinis.


"Hana jika sikapmu sedikit lebih lembut, pasti banyak yang akan memperlakukan kamu dengan lembut." jawab Bima sambil melangkah meninggalkan Hana.


"Bima tunggu !" teriak Hana sambil mengejar Bima.


Sementara Laila dan Anggi belajar bersama dengan teman-teman yang lainnya.


"Ia kaya, cantik, pintar pasti akan sangat cocok jika bersanding dengan ketua BEM sekelas dengan kak Fauzi." ucap Anggi.


"Apakah kau mendukung kak Fauzi bersama dengan kak Hana ?" tanya Laila dengan menahan sakit di hatinya.


"Tidak ! kak Hana dan Kak Fauzi itu ibarat langit dan bumi, sikap dan kepribadian mereka sangat jauh berbeda." jawab Anggi.


"Ya sudahlah kita akan melanjutkan belajarnya." ucap Laila sambil membuka buku pelajarannya.


"Kak baru hari pertama kakak tidak menemani aku belajar di perpustakaan ini, rasanya sangat tidak nyaman. Lalu bagaimana jika suatu saat Laila melihat kakak bersama kak Hana yang sengaja ingin mengumbar kemesraan di hadapan Laila ?" batin Laila sambil terus membuka lembar demi lembar buku di tangannya.


"Laila tolong jelaskan materi ini dong, aku masih sedikit bingung." ucap Anggi.


Kemudian Laila menjelaskan materi yang ditanyakan oleh sahabatnya dengan pelan agar ia bisa memahami.


"Kak aku merindukan kakak, biasanya kakak yang akan membimbing aku dalam belajar." batin Laila.

__ADS_1


Mereka belajar sampai waktu istirahat habis, kemudian masuk ke kelas mereka masing-masing, untuk melanjutkan pelajaran berikutnya hingga waktu pulang tiba.


Laila segera membereskan buku-bukunya dan ia berjalan menuju gerbang sambil mencari keberadaan suaminya.


Namun lagi-lagi ia melihat Hana yang sengaja mendekati Fauzi dan dengan bangga Hana duduk di belakang Fauzi sambil memeluknya dari belakang.


"Ayo jalan !" ucap Hana dengan suara yang keras agar Laila mendengarnya.


Fauzi melihat istrinya dengan perasaan bersalah, namun Laila mengangguk sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja.


Dengan ragu Fauzi melajukan motornya dan mengantarkan Hana pulang, sementara Laila segera masuk ke mobil dimana Rian sudah menunggunya.


"Nona, apakah Anda baik-baik saja ?" tanya Rian.


"Iya aku baik-baik saja, hanya sedikit kurang nyaman." jawab Laila dengan polosnya.


"Nina yang sabar ya, saya yakin tuan tetap setia kepada nona, ini hanya sementara saja nona. Setelah kita bisa menerobos keamanan anak buah tuan Aditya, tuan pasti akan kembali menjauhi nona Hana." ucap Rian


"Iya aku tau itu." jawab Laila dengan lirih sambil menatap jalanan dari balik kaca.


Setelah Laila sampai ia segera masuk ke dalam kamarnya. Ia segera membersihkan dirinya dan segera beristirahat setelah makan siang.


Ketika sore menjelang Laila duduk di balkon sendirian, sambil memandang senja yang begitu indah menghiasi cakrawala. Ada sebuah kerinduan untuk sang suami tercinta yang terukir di dalam hati.


"Kak baru sehari kita tidak bersama, tapi Laila sangat merindukan kakak seperti sudah bertahun-tahun saja kita tidak bertemu." ucap Laila lirih.


Disaat ia melamun Fauzi menghubungi Laila, dengan cepat Laila mengangkat panggilan tersebut.


"Sayang malam ini kakak tidak pulang, kakak akan membereskan rumah dan juga mencoba mencari sesuatu yang mereka bilang barang bukti." ucap Fauzi saat teleponnya tersambung.


"Iya kak, kakak hati-hati dan jangan lupa jaga kesehatan." jawab Laila dengan suara yang serak.


"Sayang apakah kau menangis ? jika kau keberatan kakak akan segera pulang setelah selesai membereskan rumah." ucap Fauzi.


"Tidak kak, lakukan sesuatu yang lebih penting dahulu, Laila tidak menangis." jawab Laila sambil tersenyum menahan gejolak rindu di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2