
Setelah menyampaikan keadaan tuan Aditya, Fauzi mengajak istrinya untuk masuk ke ruang rawat Hana. Disaat mereka masuk Hana baru saja terbangun dari tidurnya.
Laila tersenyum kemudian mendekati Hana di ikuti oleh Fauzi.
"Kak Hana bagaimana keadaan kak Hana apakah sudah lebih baik dari sebelumnya ?" tanya Laila.
"Iya sekarang kak Hana jauh lebih baik dari sebelumnya, terimakasih Laila untuk semuanya." jawab Hana.
"Hana jika kau sudah jauh lebih baik, kita lebih baik pulang sekarang dan aku akan mengurus semua administrasinya sekarang." ucap Fauzi.
"Aku sudah lebih baik, tetapi aku ingin menjaga ayah. Laila bilang ayah dirawat di sini." jawab Hana.
"Benar, tetapi om Aditya sudah dalam perjalanan pulang. Aku baru saja menyelesaikan administrasinya." ucap Fauzi sambil melihat ke arah Laila.
"Kak Hana lebih baik kita bersiap sekarang, agar kita bisa pulang lebih awal." ucap Laila.
Kemudian Hana tersenyum dan mengangguk. Fauzi memanggil Perawat untuk melepaskan selang infus di tangan Hana, setelah itu Fauzi melangkah keluar untuk menyelesaikan administrasi.
Setelah semua selesai mereka pulang, sepanjang perjalanan Laila mengajak Hana untuk berbincang-bincang.
"Fauzi bagaimana keadaan ayahku ?" tanya Hana.
"Beliau sekarang sudah lebih baik, tidak merasakan kesedihan atau yang lainnya. Begitu juga dengan Hana, Hana harus kuat tunjukan kepada ayahmu bahwa kau bisa dan kiat untuk menjalani kehidupan ini." jawab Fauzi.
"Apakah ayah sudah bisa menerima kenyataan ini, sehingga beliau tidak merasakan kesedihan lagi ? " ucap Hana.
"Hana om Aditya telah kembali ke pangkuan Ilahi. Kau harus ikhlas dengan semua ini." jawab Fauzi.
"Tidak ! tidak mungkin, kau berbohong !." teriak Hana.
"Laila katakan kepada ku bahwa apa yang dikatakan oleh Fauzi itu bohong, katakan itu bohong Laila." ucap Hana dengan menangis pilu.
Perlahan Laila meraih tubuh Hana kemudian ia memeluknya dengan erat.
"Kaka Hana harus kuat dan ikhlas. Yakinlah bahwa ini adalah yang terbaik untuk kita semua." ucap Laila mencoba menguatkan Hana.
__ADS_1
"Kalian bohong !" ucap Hana sambil menangis dan memukuli Laila.
Dengan kuat Laila memeluk Hana, dan membiarkan Hana menangis dalam pelukannya. Setelah sampai Hana langsung keluar dan berlari mencari jenazah sang ayah.
Hana bersimpuh di samping sang ayah. Ia menangis melihat sang ayah yang sudah dikafani. Ia menumpahkan segala kesedihannya dengan menangis.
Laila dan Fauzi mendekati Hana, mereka mencoba menguatkan Hana dan menasehati agar Hana ikhlas menerima kenyataan ini.
Perlahan Hana menghapus air matanya,dan memeluk sang ayah sambil bersisik lirih.
"Ayah mengapa kau pergi meninggalkan aku, terasa perih goresan luka karena kepergian mu. Masih terbayang kenangan indah saat bersamamu."
"Tak terasa begitu cepat waktu berlalu, kerinduanku akan masa kecil bersamamu kini hanya bisa jadi sebuah kenangan."
"Kau memilih pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Meskipun kini kita tidak akan lagi bersama, semoga apa yang telah kau berikan kepada ku dapat menjadi contoh."
"Semoga aku menjadi pribadi yang tegas, berwawasan dan berjiwa kasih. Selamat jalan ayah, hanya doa yang bisa ku berikan untuk mengiringi kepergian mu." ucap Hana dengan air mata yang terus mengalir deras.
Setelah itu jenazah tuan Aditya, segera dibawa ke pemakaman. Seluruh keluarga dan kerabat serta orang-orang yang beliau kenal mengantarkannya ke peristirahatan terakhir.
Mereka menemani Hana sampai Hana berdiri dan berjalan meninggalkan pemakaman itu. Setelah sampai di rumah Hana langsung masuk ke dalam kamarnya.
Laila dan juga Fauzi meminta sang pelayan yang masih tinggal di situ untuk menemani Hana.
Fauzi juga memanggil beberapa pelayan dan juga penjaga di rumahnya untuk menjaga Hana. Ia tidak ingin Hana melakukan hal negatif seperti waktu itu.
Tak lupa Fauzi juga meminta teman-teman Hana untuk datang dan menemani Hana di rumahnya, Fauzi juga membuat jadwal untuk mereka agar setiap hari ada teman Hana yang datang untuk menemani.
Fauzi juga memberikan uang saku bagi mereka, hal itu ia lakukan agar Hana tidak merasa kehilangan semua yang pernah ia miliki.
Cukup sang ayah yang pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Hal itu juga atas persetujuan sang Istri.
Setelah memastikan kebaikan untuk Hana, Fauzi mengajak Laila untuk pulang, ia tidak ingin istrinya terlalu lelah karena masalah yang akhir-akhir ini mereka hadapi.
Setelah sampai di rumah keduanya membersihkan diri setelah itu, Fauzi meminta Laila untuk menemaninya beristirahat.
__ADS_1
Sementara Hana, ia merasa terharu akan kebaikan Fauzi dan juga Laila. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa menjalani kehidupan ini tanpa bantuan dari mereka berdua.
"Laila hatimu sungguh luar biasa, kau tidak pernah membenci ku meskipun aku selama ini memperlakukan mu dengan sangat buruk."
"Bahkan kau memperlakukan aku layaknya saudara kandung mu sendiri. Laila maafkan aku dan juga ayahku."
"Aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan membalas semua kebaikan mu dan juga ketulusan mu."
"Mungkin bukan saat ini, tetapi suatu saat aku pasti akan membalasnya. Dan jika aku tidak sempat membalasnya maka anak keturunanku yang akan membalasnya."
"Dan aku yakin Allah akan membalas berkali-kali lipat semua kebaikanmu."
"Laila kau tidak layak disebut sebagai selir kecilnya Fauzi, tetapi kau lebih layak disebut sebagai Ratu. Benar kata Fauzi kau lebih layak dijadikan sebagai seorang ratu."
"Dan untuk kau Fauzi, maafkan aku dan juga ayahku. Aku beruntung pernah menjadi tunangan mu, meskipun kau tidak pernah menginginkan semua itu."
"Namun kau tetap menghormati ku dan juga menyayangiku meskipun sebagai seorang adik."
"Fauzi kau layak berdampingan bersama dengan Laila. Semoga kalian berjodoh." ucap Hana sambil tersenyum menatap ke arah jendela.
Setelah itu ia mengemasi barang-barang yang ia perlukan, setelah selesai ia menuliskan sebuah surat untuk Fauzi dan juga Laila.
Hana berpamitan untuk pergi melanjutkan perjalanan hidupnya yang masih panjang. Ia harus mewujudkan setiap mimpi-mimpi indah yang ia mimpikan sejak masih kecil.
Ia tidak ingin menjadi beban bagi Fauzi ataupun yang lainnya. Ia juga menuliskan sebuah surat untuk pelayan yang sejak kecil merawat dan membesarkannya dengan sepenuh hati.
Tak lupa ia memberikan uang tabungannya untuk sang pelayan agar ia bisa menjalani kehidupan lebih baik di kampung halamannya.
Setelah semuanya siap, Hana perlahan membawa barang-barang yang sudah ia siapkan, ia berjalan meninggalkan rumah tempat ia dibesarkan.
Meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan indah selama ini, baik dengan orang tua, para pelayan dan juga sahabatnya.
"Selamat tinggal semuanya, aku harus pergi untuk membangun kehidupan yang baru." ucap Hana sambil menatap ke arah rumahnya.
Kemudian ia melangkah meninggalkan semua yang pernah ada dalam kehidupannya.
__ADS_1