
Setelah mengatakan permintaan maafnya Rafik, menundukkan kepalanya, Ia menunggu hukuman apa yang akan diberikan oleh Fauzi.
Fauzi mendekati Rafik kemudian ia memeluk tubuh Rafik.
"Sejak kapan seorang sahabat menghukum sahabatnya sendiri sedangkan sahabatnya itu tidak melakukan kesalahan apapun ?" ucap Fauzi sambil menepuk-nepuk punggung Rafik.
"Tetapi ayahku terbukti terlibat dalam kejahatan terhadap orang tuamu." ucap Rafik sambil membalas pelukan Fauzi.
"Itu adalah urusan orang tua kita, selama kita tidak terlibat dalam hal itu mengapa kita harus menerima akibatnya, yang lalu biarlah berlalu."
"Saat ini, ayahmu menerima akibat yang ia lakukan dahulu, dan kita sebagai anaknya kita tidak boleh meneruskan kesalahan itu, kita harus memperbaikinya, agar kita jauh lebih baik dalam segala hal."
"Jadikanlah ini sebagai pelajaran buat kita, jangan sampai kita masuk dalam lubang kesalahan yang sama dan bahkan menjerumuskan anak cucu kita nanti." ucap Fauzi.
"Fauzi, terimakasih untuk semua kebaikanmu." jawab Rafik dengan berkaca-kaca.
"Sudahlah lupakan semuanya, lebih baik kita menata hidup kita agar menjadi lebih baik lagi." jawab Fauzi.
"Syukurlah kalian bisa bersahabat dan saling maafkan. Kita tinggal menunggu Hana dan kita buat Hana melupakan kesedihannya, agar ia bersemangat untuk menjalani kehidupan yang masih panjang ini." ucap Bima sambil ikut memeluk sahabatnya itu.
Setelah puas mereka saling mengungkapkan segala rasa, Fauzi masuk ke ruang UGD untuk mengunjungi Hana.
"Hana mengapa kau masih tidur ? sejak kecil kau selalu bangun kesiangan. Seandainya kau bisa bangun lebih awal aku pasti tidak akan kena marah ayahmu setiap hari."
"Hana kau tau, kau ini sangat menyebalkan. Sejak kecil aku selalu mengerjakan tugasmu dan kau selalu saja tidur seperti kerbau."
"Hana cepatlah bangun ! jika kau tidak mau bangun aku akan pergi saja bersama Laila, gadis yang selalu kau sebut sebagai selir kecilku. Apakah kau ingin aku bersama dengan dia ?"
"Atau kau ingin bertemu dengan Rafik ? sehingga kau tidak mau membuka matamu saat aku datang ?"
"Baiklah jika kau mang tidak mau melihatku, aku lebih baik pergi saja dari sini. Lebih baik aku menghabiskan waktuku bersama dengan Laila." ucap Fauzi sambil melangkah meninggalkan Hana.
"Tu tunggu." ucap Hana dengan lemas
__ADS_1
"Kau sudah bangun ?" tanya Fauzi sambil melangkah mendekati Hana.
Hana tersenyum sambil melihat wajah Fauzi.
"Apakah aku sudah mati ? mengapa aku bisa melihatmu datang menemui ku ?" tanya Hana dengan pelan.
"Hana kau baik-baik saja, saat ini kau berada di ruang UGD. Kau dibawa kesini karena percobaan bunuh diri." jawab Fauzi.
"Jadi aku belum mati ?" tanya Hana sambil mencoba meraba lalu mencubit tangannya sendiri.
"Belum kau masih hidup dan harus tetap hidup, karena perjalan kita masih panjang." jawab Fauzi.
"Maafkan aku dan juga maafkan ayah ku, setelah aku sembuh aku akan segera meninggalkan rumah itu." ucap Hana dengan pelan.
"Mengapa kau harus pergi dan kemana kau harus pergi?" tanya Fauzi.
"Aku aku tidak tau, tapi bukankah itu rumah mu." jawab Hana.
"Itu adalah rumah mu Hana ! jika dalam persidangan itu adalah hak ku, maka aku memberikannya kepada mu."
"Aku adikmu ?" tanya Hana dengan sedikit kecewa.
"Iya Hana, selama ini aku menyayangi mu layaknya adikku sendiri, maafkan aku jika itu membuat mu kurang nyaman." jawab Fauzi.
"Jadi kau lebih memilih selir kecil itu ?" tanya Hana lagi.
"Iya, aku memilihnya sebagai kekasih halal ku, karena hanya bersama dengan dirinya aku bisa merasakan kebahagiaan yang selama ini aku cari, yaitu kebahagiaan cinta yang tulus dan suci." jawab Fauzi dengan jujur.
"Selir kecil itu ! kau bilang kekasih halal mu ?" apakah sudah sejauh itu hubungan kalian ?" tanya Hana lagi.
"Iya Hana, dia adalah kekasih halal ku." jawab Fauzi dengan tersenyum bahagia.
"Kau terlihat begitu bahagia saat menyebut dia adalah kekasih halal mu, pancaran cinta terlihat begitu jelas dimata mu, bahkan saat kau menyebut namanya kau begitu bahagia."
__ADS_1
"Fauzi taukah kau bahwa aku menginginkan itu dari mu sejak dahulu, tapi sayangnya tak pernah aku dapatkan. Hari ini aku melihat cinta dimata mu tapi sayangnya cinta itu bukan untukku melainkan untuk Laila."
"Sakit rasanya hati ini, tetapi aku bisa apa ? aku tidak tau apa kelebihan gadis kecil itu, yang baru kau kenal belum lama tapi kau bangga menyebutnya sebagai kekasih halal mu."
"Selama ini aku berjuang untuk mendapatkan cintamu, tetapi hanya kau anggap aku sebagai seorang adik." ucap Hana dalam hati sambil menitikkan air matanya.
"Hana, jangan kau bersedih dengan kejujuran yang aku ucapkan. Tapi sungguh aku hanya menyayangi mu sebagai seorang adik."
"Ku harap cinta yang ucapkan selama ini, juga sebuah cinta dari seorang adik untuk kakaknya."
"Aku yakin kau akan menemukan cinta sejati mu dari orang lain. Dan orang tersebut sedang menunggu kehadiran mu."
"Mungkin saat ini, pria itu sedang berjuang untuk menemukanmu, menemukan cinta yang tulus suci darimu."
"Kau harus bangkit Hana, kau harus bangkit dan mengukir pelangi yang indah dalam hidup mu. Kau harus menunjukkan kepada dunia bahwa Kau layak untuk hidup bahagia, dan penuh cinta dari orang -orang yang menyayangi mu." ucap Fauzi.
Hana menangis pilu mendengar semua ucapan Fauzi. Entah apa yang sekarang ia rasakan patah hati, kecewa atau bahagia ? yang jelas ia ingin menangis untuk meluapkan segala rasa yang ada.
Dengan lembut Fauzi mengusap air mata Hana dan membelai rambutnya. Hana semakin menangis melihat perlakuan Fauzi terhadapnya.
"Hana apapun yang terjadi saat ini, adalah yang terbaik untuk kita. Meskipun terkadang terasa sakit namun yakinlah bahwa Allah memberikan yang terbaik untuk setiap hamba-nya."
"Jangan jadikan kesedihanmu semakin menjauhkan mu dari -Nya. Mungkin saat ini Allah tengah merindukanmu menyebut nama-Nya dalam uraian air mata saat kau berdoa."
"Demi ibu dan juga ayahmu, bangkitlah Hana ! Bangkitlah Hana !" ucap Fauzi mencoba memotivasi Hana.
"Terimakasih Fauzi, terimakasih untuk semuanya. Kau adalah kakak terbaik untuk ku, jangan pernah kau lelah untuk membimbing adikmu ini."
"Maafkanlah aku yang selalu menyusahkan mu sejak kecil. Aku akan bangkit demi kedua orang tuaku." jawab Hana.
Kemudian Hana dan Fauzi saling tersenyum diantara air mata. Fauzi merasa lega karena Hana mau menerima kenyataan bahwa ia lebih memilih Laila.
Sementara Hana jauh merasa lebih lega, ia telah meminta maaf dan menumpahkan semuanya yang selam ini menjadi beban di hatinya.
__ADS_1
Mereka sama-sama memilih jalan untuk mencari kebahagiaan mereka, tanpa harus memutuskan tali silaturahmi keduanya.