
"Maaf Bu apakah ada Laila di sini ? saya kerumahnya namun tidak ada orang" tanya Fauzi saat pintu telah terbuka.
"Kak Fauzi!" teriak Laila saat melihat.
"Ayo ikut kakak di kampus ada acara ?" ajak Fauzi.
Setelah keduanya berpamitan, mereka berlalu menuju kampus. Sepanjang perjalanan Laila menceritakan apa yang di alaminya. Penyerangan yang dialaminya membuat Laila harus berpikir ulang untuk tetap melanjutkan pendidikan di kota ini.
"Laila jika kau kembali ke kotamu lalu siapa yang akan menemaniku ? siapa yang akan menjadi penyemangat ku ?" tanya Fauzi.
"Bukankah ada kak Hana ?" tanya Laila.
"Hana ?" tanya Fauzi sambil menghentikan motornya kemudian ia turun dan duduk sambil menatap pantai di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Laila lalu ikut turun, dan duduk di samping Fauzi, ikut menatap lautan yang luas dihadapannya.
" Kau tau, pantai ini sepanjang jalan dari pesisir Kalianda dan apakah kau tau dimana muaranya ?" tanya Fauzi tanpa melihat ke arah Laila.
" Sejauh ini Laila tidak tau karena Laila belum paham dengan kota Kalianda. Begitu juga Laila belum sepenuhnya paham dengan maksud pertanyaan kakak." jawab Laila.
" Itulah yang kakak suka dari mu, kau tidak akan menjawab sebuah pertanyaan dengan asal." jawab Fauzi.
" Ya mana mungkin Laila bisa menjawab pertanyaan tersebut, jika Laila tidak paham dengan maksudnya." jawab Laila.
"Seperti halnya pantai ini yang mendampingi Sepenjang jalan pesisir kota Kalianda ini, namun tetap air laut ini akan kembali ke tempat seharusnya."
" Sama juga seperti kakak dan juga Hana, Hana mengkalim bahwa kakak adalah miliknya padahal kakak tidak mencintainya meskipun kakak dan Hana sudah bertunangan."
"Namun hati kakak akan menjadi milik seseorang yang memang pemiliknya, seseorang yang memang ditakdirkan untuk menjadi istri kakak. Kakak hanya akan menikahi wanita yang benar-benar kakak cintai." jelas Fauzi.
"Memangnya siapa wanita yang kakak cintai ? Dan bagaimana dengan kak Hana yang telah menjadi tunangan kakak ? tentu ia sangat kecewa dengan kenyataan bahwa tunangannya tidak mencintainya." ucap Laila.
"Hana tau bahwa aku tidak mencintainya. Bahkan kedua orang tuanya juga tau akan hal ini, kakak mengatakan dengan jujur perasaan kakak terhadap Hana sebelum pertunangan itu." jelas Fauzi.
"Maksudnya ?" tanya Laila.
__ADS_1
"Kami bertunangan kerena kehendak Hana, dan orang tua Hana mendesak kakak dengan alasan balas Budi, tapi kakak telah mengatakan jika suatu saat sebelum kakak menikah dengan Hana, kakak lebih dahulu bertemu dengan wanita yang kakak cintai maka pertunangan itu akan kakak batalkan. " jawab Fauzi.
"Balas Budi ? memangnya kakak berhutang Budi apa ?" tanya Laila.
Fauzi menjelaskan tentang hubungan antara kedua orang tuanya dan juga orang tua Hana, sampai suatu saat Fauzi harus kehilangan kedua orang tuanya.
Semenjak saat itu Fauzi kecil di asuh oleh orang tua Hana, sampai Fauzi bisa menghidupi dirinya sendiri. Sampai suatu saat Hana menyatakan perasaannya kepada Fauzi yang langsung di tolak oleh Fauzi.
Dengan alasan balas budi, orang tua Hana meminta agar Fauzi bersedia menjadi tunangan Hana.
"Apakah saat ini kakak sudah menemukan wanita yang kakak cintai ?" tanya Laila penuh selidik setelah mendengar penjelasan Fauzi tentang hubungan antara Fauzi dan Hana.
"Tentu ! kakak telah menemukan wanita itu." jawab Fauzi sambil tersenyum menatap Laila.
Laila menatap wajah Fauzi, dan terlihat tatapan itu tulus tanpa sebuah kebohongan. Ada rasa cemburu yang menjalar di hati Laila.
"Siapa wanita itu kak ? mengapa kakak tidak bisa merasakan apa yang Laila rasakan untuk kakak. Laila telah jatuh cinta saat kita sering bersama meskipun Laila tidak tau pasti sejak kapan itu."
"Tapi Laila telah jatuh cinta kak, Laila jatuh cinta kepada mu kak." batin Laila.
" Kau !" ucap Fauzi.
Laila menatap wajah Fauzi, ingin rasanya ia meminta Fauzi mengatakannya sekali lagi.
" Kau sangat mengenalnya Laila, wanita yang kakak cintai selama ini ... ." ucap Fauzi sambil menatap wajah cantik yang mulai berubah ekspresinya.
"Aku sangat mengenalnya ? memangnya siapa wanita itu kak ? seingat Laila, Laila tidak mengenal banyak orang di kota ini." tanya Laila sambil tersenyum kecut.
" Wanita yang kakak cintai adalah gadis kecil yang sudah berani mencium kakak di hadapan orang. Gadis kecil yang sudah berani tidur dikamar kakak dan sudah kakak ... ." ucap Fauzi terhenti saat Laila langsung berdiri dan meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
"Laila tunggu !" ucap Fauzi sambil mengejar Laila dan segera menarik tangan gadis itu.
" Mengapa kau pergi ? mengapa tak kau dengar penjelasan dari kakak ?" tanya Fauzi sambil menatap wajah Laila.
" Untuk apa kak ?" tanya Laila sambil membuang muka.
__ADS_1
" Kau harus tau Laila, kau harus tau siapa wanita yang kakak cintai selama ini." ucap Fauzi sambil meraih wajah Laila agar mau menatap wajahnya.
"Untuk apa kak ? untuk apa Laila tau ?" tanya Laila sambil berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
"Karena wanita itu adalah kau Laila." ucap Fauzi dengan lembut.
Laila menatap wajah Fauzi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jangan bercanda soal perasaan kak." ucap Laila.
" Aku tidak bercanda Laila ! aku serius. Aku sangat mencintaimu Laila. " ucap Fauzi mencoba menyakinkan Laila.
"Apa kakak serius dengan yang kakak ucapkan itu ?" tanya Laila lagi.
" Aku serius Laila, aku sangat mencintaimu." ucap Fauzi.
Perlahan Fauzi berdiri sambil berjongkok sambil menggenggam tangan Laila.
" Laila, maukah kau menjadi kekasih halal ku ? baik di dunia ini maupun di akhirat kelak ?" tanya Fauzi sambil mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin permata.
Laila meneteskan air matanya, ia sangat terkejut dengan pernyataan Fauzi.
"Kakak melamar ku ?" tanya Laila seakan tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Fauzi.
"Sekali lagi Laila, maukah kau menjadi kekasih halal ku baik di dunia ini maupun kelak di akhirat ?" tanya Fauzi sekali lagi.
"Laila mau kak, tapi bagaimana dengan sekolah Laila ? bagaimana dengan orang tua Laila ? bagaimana dengan kak Hana dan keluarganya ?" tanya Laila.
"Yang penting Laila bersedia dengan ikhlas menjadi kekasih halal kakak, untuk yang lainnya biarlah menjadi urusan dan tanggung jawab kakak sepenuhnya." jawab Fauzi sambil berdiri dan mengenakan cincin di jari manis Laila.
Laila hanya mengangguk sebagai jawabannya. Melihat hal itu Fauzi langsung memeluk tubuh Laila dan perlahan mencium bibir Laila.
Dibawah temaram cahaya lampu jalanan, bersama deburan ombak di tepi jalan yang mereka Lalui kedua insan itu saling melepaskan segala rasa di hati antara satu dengan yang lainnya.
"Terimakasih Laila, karena kau bersedia menjadi kekasih halal ku." ucap Fauzi sambil perlahan melepaskan pelukannya dan menatap wajah gadis kecil yang sudah membuatnya berani mengambil keputusan yang besar.
__ADS_1