
Dengan penuh rasa iri Hana ikut turun ke pesta Dansa sambil memperhatikan dua sejoli yang sedang berdansa dengan mesra itu.
"Siapa pasangan ini, berani sekali ia seperti ini dihadapan umum." batin Hana penuh dengan rasa iri.
"Seharusnya aku dan Fauzi yang melakukan itu." ucapnya lirih.
Sementara Fauzi yang tanpa sengaja melihat Hana sedang memperhatikan mereka berdansa, dengan sengaja mencium lembut bibir istrinya.
"Kalian berdua ! Dasar pasangan mesum !" umpat Hana, sambil menghentakkan kedua kakinya ia meninggalkan tempat tersebut sambil mencoba menghubungi Fauzi.
"Dimana Fauzi ponselnya aktif namun tak ada yang menggankat panggilan ku." batin Hana.
"Sayang, jangan ambil pusing tingkah Hana, ponsel kakak sudah kakak dalam mode getar. Jika kau sudah mulai capek, biar Rian yang mengantar pulang terlebih dahulu. Kakak harus menutup acara ini." ucap Fauzi dengan lembut.
"Ia kak, Laila pulang terlebih dahulu. Tidak nyaman ada kak Hana pasti ia akan melakukan hal-hal negatif." jawab Laila.
"Pastikan Rian selalu menjaga keamanan mu kemanapun kau pergi. Ingat itu. Hana pasti penuh emosi saat tau kau tak hadir dalam acara yang sudah di susun itu." ucap Fauzi sambil menggandeng tangan Laila dan mendekati Rian.
"Rian, tolong antar Nona pulang, biar dia bisa istirahat dan ingat jaga selalu keamanannya." ucap Fauzi saat berada di samping Rian.
"Siap tuan !" jawab Rian.
"Mari saya antar pulang Nona." ucap Rian.
"Ok, tapi saya harus ke toilet sebentar." jawab Laila sambil berdiri menuju ke toilet.
Sementara Hana yang tak sengaja melihat Laila menuju ke toilet segera mengikutinya dari belakang.
"Siapa dia sebenarnya ?" tanya Hana dalam hati.
Laila yang tidak menyadari saat dirinya di ikuti, langsung saja masuk ke dalam toilet tanpa pikir panjang terlebih dahulu.
Hana dengan sengaja menunggu Laila di depan pintu dengan membawa seember air. Ia akan menghukum wanita yang sudah membuatnya merasa iri, terlebih lagi saat melihat lelaki gagah itu mencium bibirnya.
Setelah selesai Laila segera keluar dan merapikan penampilannya, sedangkan Hana sudah siap dengan seember air di tangannya.
__ADS_1
"Nona berhati-hatilah, karena Hana telah mengikuti anda masuk kedalam toilet." ucap Rian melalui earphone.
"Hana ?" tanya Laila pelan.
"Iya Nona, anda harus selalu waspada. Saya menunggu anda di pintu luar toilet, jika terjadi sesuatu berteriaklah dengan kencang." ucap Rian.
Laila dengan hati-hati membuka pintu toilet, dan benar saja Hana sudah siap dengan seember air hendak menyiramkannya pada Laila.
Laila mundur dan segera menutup pintu toilet kembali.
"Rian tolong ! Kak Hana berada di depan pintu toilet yang aku gunakan." ucap Laila.
"Buka pintunya wanita ****** ! atau aku akan mengunci pintu ini dari luar agar kau tidak bisa berbuat mesum lagi di kampus kami." ucap Hana sambil menggedor-gedor pintu toilet dengan sangat kuat.
"Lakukanlah jika kau ingin melakukannya." ucap Rian dengan santai sambil tersenyum menatap Hana.
"Kau, pria mesum ! berani sekali kau masuk ke dalam toilet wanita !" bentak Hana.
"Aku masuk karena mendengar suaramu yang seperti kaleng rombeng itu." jawab Rian.
"Aku tidak takut Nona Hana yang terhormat." jawab Rian kemudian melangkah dan mengetuk pintu agar Laila segera keluar.
Perlahan Laila membuka pintu dan berdiri dibelakang Rian, dengan cepat Rian membawa Laila keluar dari toilet.
Namun belum sempat mereka keluar dari toilet tersebut, Hana sudah menarik tangan Laila dan menjatuhkannya di lantai, dengan cepat ia mengambil air hendak ia siram ke wajah Laila.
Dengan sigap Rian membantu Laila untuk bangkit dan menahan tangan Hana agar air tersebut tumpah di tubuhnya sendiri.
Tidak terima dengan hal itu, Hana dengan cepat menarik topeng Laila agar ia bisa melihat wajah wanita yang di perlakukan layaknya seorang putri.
Rian dengan sigap menutup wajah Laila dengan jas yang ia gunakan, kemudian segera membawa Laila keluar dari tempat tersebut dan segera melajukan mobilnya untuk segera pulang.
Sementara Hana yang basah kuyup segera berlari mengejar keduanya sambil membawa topeng Laila, namun ia gagal mengejar mereka.
"Hana kau kenapa basah kuyup seperti ini ?" tanya Fauzi dan Bima secara bersamaan.
__ADS_1
"Aku ingin menghukum dua sejoli mesum itu, tapi sialnya malah aku yang jadi seperti ini." jawab Hana dengan penuh emosi.
"Dua sejoli ?" tanya Bima yang tidak paham dengan ucapan Hana.
"Tadi dua sejoli di pesta dansa itu, aku sengaja mengikuti gadis sialan itu dan hendak mencari tau siapa dia sebenarnya ? Dan mengapa ia diperlakukan begitu spesial oleh pria itu." jawab Hana dengan menahan rasa kesalnya.
"Berarti Rian berhasil menyelamatkan istriku." batin Fauzi.
"Kemana saja kau ini nona, sehingga tidak tau siapa mereka ? ha." ucap Bima.
"Siapa dia ?" tanya Hana.
"Dia adalah donatur acara ini, jika karena perlakuan mu terhadap mereka, membuat tersinggung dan bahkan menarik dana yang sudah di kucurkan, maka kau harus bertanggung jawab atas perilaku mu yang seperti preman jalanan itu." jawab Fauzi kemudian melangkah meninggalkan Hana dan Bima.
"Hana lain kali jaga sikap mu, jangan sampai karena sikap mu itu Fauzi jadi ilfil dengan mu." ucap Bima kemudian melangkah mengikuti Fauzi.
"Fauzi ! Bima ! tunggu aku, aku bisa menjelaskan semuanya." ucap Hana sambil berteriak-teriak.
"Simpan tenaga mu untuk menghadapi musuh mu yang sebenarnya. Dan jangan kau usik lagi Laila ku." ucap seseorang.
Hana segera berbalik dan mencari sumber suara itu, namun ia tidak melihat seorangpun yang ada dibelakangnya.
"Seandainya kau tidak berencana untuk menyakiti Laila, pasti saat ini aku sedang bersama Laila menikmati keindahan alam pegunungan." ucap orang itu lagi.
"Keluar kau ! jangan menjadi pengecut yang hanya bisa berkoar-koar tanpa berani menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya." jawab Hana.
"Aku akan keluar disaat yang tepat. Tapi aku ingatkan sekali lagi jangan pernah usik Laila lagi. Ingat itu !" ucap orang tersebut.
"Keluar kau !" teriak Hana.
Hana berjalan kesana kemari mencari siapa sebenarnya yang sudah berani mengancamnya itu. Namun ia tidak menemukan siapa pun disitu.
"Sial siapa sebenarnya wanita itu ? dan siapa yang berani mengancam aku di kampus ini ? apakah dia lupa siapa aku ? aku adalah putri tunggal pemilik yayasan ini. Ah !" ucap Hana sambil menjambak rambutnya karena merasa prustasi.
Dengan penuh emosi ia berjalan mencari Fauzi dan juga Bima. Tanpa ia sadari penampilannya yang sangat menyedihkan itu menjadi pusat perhatian seluruh peserta yang hadir dalam acara tersebut dengan tatapan mata yang penuh tanda tanya.
__ADS_1