
Laila dan Fauzi pulang menuju ke rumah mereka dengan mengunakan mobil, Fauzi menjalankan mobilnya kecepatan sedang.
"Kak aku berhasil naik kelas lebih cepat dari yang lainnya, aku akan menelpon ayah dan ibu." ucap Laila.
"Apa kau ingin pulang sayang ? jika ia nanti malam kita bisa berangkat. Kau bisa tinggal di sana selama beberapa hari." jawab Fauzi.
"Apakah kakak serius ?" tanya Laila dengan penuh semangat.
"Iya sayang." jawab Fauzi sambil tersenyum dan menarik Laila agar bersandar kepada-nya.
"Kak aku mau martabak." ucap Laila saat melihat penjual martabak di pinggir jalan.
Kemudian Fauzi menghentikan mobilnya sedangkan Laila langsung turun saat mobil sudah berhenti.
"Siapa sebenarnya pemilik mobil itu ? bukankah mobil itu yang membawa orang-orang asing di rumah orang tuaku ?" batin Fauzi.
Kemudian ia segera menghubungi seseorang agar mencari tau siapa pemilik mobil itu dan apa tujuannya sehingga mengawasi dan mengunjungi rumah peninggalan orang tuanya tanpa di undang.
"Kak siapa yang kakak lihat ?" tanya Laila sambil ikut mengamati lingkungan sekitarnya.
"Tidak sayang, kakak hanya seperti mengenal mobil itu, tetapi kakak lupa." jawab Fauzi kemudian ia segera melajukan mobilnya kembali.
"Sayang mengapa kau sangat suka sekali dengan martabak ? biasanya anak-anak seusia mu akan menyukai makanan yang lagi ngetrend atau makanan yang berbau luar negri." tanya Fauzi.
"Entah Laila juga bingung, kalau lihat martabak bawaannya jadi lapar." jawab Laila sambil melahap martabak di tangannya.
"Kakak mau ?" tanya Laila lagi.
"Buat Laila saja." jawab Fauzi.
Namun Laila malah menyuapi Fauzi, ia menggigit martabak dan juga menyuapi suaminya. Keduanya menikmati martabak sambil bercanda.
Dan tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah mereka. Keduanya kemudian turun dan segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri sebelum istirahat.
"Sayang, tidurlah nanti malam kita akan pergi mengunjungi orang tua kita di Bandung." ucap Fauzi sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Kakak serius ?" tanya Laila sambil membalikkan badannya menghadap sang suami.
__ADS_1
"Iya sayang, kakak serius." jawab Fauzi dengan lembut.
Kemudian keduanya berbaring, Laila mencari posisi ternyaman di dada sang suami. Hingga ia terlelap.
Sedangkan Fauzi, perlahan bangkit dan meninggalkan Laila yang sudah tidur pulas. Ia kemudian keluar dan mencari bik Sumi agar menyiapkan oleh-oleh untuk mertuanya.
Setelah itu, ia masuk kering kerjanya untuk memastikan bahwa perusahaannya dalam kondisi yang aman.
"Tuan, bolehkah saya masuk ?" tanya Rian sambil mengetuk pintu.
"Masuklah !" jawab Fauzi sambil membereskan berkas-berkasnya.
"Tuan saya sudah menemukan siapa pemilik mobil yang tuan kirimkan tadi." ucap Rian sambil duduk di depan Fauzi.
"Katakan secara detail !" jawab Fauzi.
"Maaf sebelumnya tuan. Pemilik mobil tersebut adalah almarhum ayah anda." jawab Rian.
"Jangan bercanda Rian !" ucap Fauzi sambil menatap tajam wajah Rian.
"Saya serius tuan, secara administrasi surat-surat kendaraan tersebut atas nama ayah anda. Tetapi sekarang mobil tersebut sering digunakan oleh orang kepercayaan tuan Aditama."
"Kelompok pertama adalah orang-orang suruhan mertua Anda dan yang kelompok kedua adalah orang-orang suruhan orang tua nona Hana yang merupakan ayah dari tunangan anda tuan."
"Tujuan dari kelompok tersebut sama tuan, yaitu untuk mencari barang bukti." jelas Rian.
"Barang bukti ? apa maksudnya ?" tanya Fauzi.
"Untuk barang bukti itu, saya belum mendapatkan informasi tuan, hanya saja barang bukti itu ada hubungannya dengan orang tua anda, mertua Anda, ayah nona Hana dan juga ayah dari tuan Rafik." jawab Rian.
"Mengapa begitu ? apa hubungannya antara mereka ?" tanya Fauzi.
"Dalam catatan di salah satu koran lama yang saya temukan di bagasi mobil tersebut. Mereka berempat adalah teman dekat dan merupakan jajaran pengusaha sukses di zamannya."
"Dan mereka mendirikan sebuah perusahaan raksasa di negara Prancis. Namun sebuah kecelakaan menimpa orang tua anda sebelum mereka meresmikan perusahaan tersebut." jelas Rian.
"Maksudmu ada yang sengaja membuat kecelakaan tersebut ?" tanya Fauzi.
__ADS_1
"Itu yang harus kita selidiki tuan, dan anda bisa mencari tau mengenai kejadian itu dari mertua Anda atau dari orang tua nona Hana."
"Namun tuan harus ingat, apapun itu nanti. Tidak ada hubungannya dengan nona Laila tuan, beliau tetap istri sah anda."
"Yang harus anda jaga dan anda muliakan seperti janji anda ketika mengucapkan ijab kabul tuan." ucap Rian.
"Mengapa kau berkata demikian ?" tanya Fauzi.
"Baik tuan Aditama dan juga tuan Aditiya, sama-sama berpeluang sebagai pembunuh orang tua anda tuan. Hal itu terbukti mereka mengincar barang bukti yang disimpan oleh almarhum orang tua anda tuan." jawab Rian.
"Kau benar Rian, aku harus bisa memposisikan istriku dan juga masalah kematian orang tuaku dan masalah yang lainnya."
"Tolong ingatkan aku jika aku salah dalam mengambil keputusan nantinya. Dan terus selidiki terkait masalah ini !." ucap Fauzi.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." ucap Rian kemudian ia berlalu meninggalkan Fauzi sendirian.
"Apa sebenarnya yang terjadi kepada orang tuaku waktu itu ?" batin Fauzi.
Ia memejamkan matanya mencoba mengingat kembali kenangan masa lalu bersama orang tuanya. Kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan.
Namun semuanya berubah saat ia harus kehilangan kedua orang tuanya. Kebahagiaan yang ia rasakan berubah menjadi kesedihan dan kesengsaraan.
"Jika tuan Aditama tidak bersalah mengapa ia tidak pernah mencari ku selama ini dan jika tuan Aditiya tidak bersalah mengapa ia memperlakukan aku seperti budak waktu itu."
"Dan orang tua Rafik mengapa ia bersikap seperti tidak pernah terjadi sesuatu dan bersikap asing saat mengunjungi aku waktu itu ?" tanya Fauzi lirih.
"Ayah, Ibu dimana sebenarnya jasad kalian. Apakah benar selama ini jasad kalian belum ditemukan ?"
"Lalu siapa yang dimakamkan di pemakaman itu ? Siapa yang harus aku percaya ?" tanya Fauzi sambil meneteskan air matanya.
Perlahan ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya, dimana Laila masih terlelap dengan posisi yang sama sewaktu ia tinggalkan.
Dengan lembut ia mengusap rambut sang istri sambil berbaring di dekatnya. ia tatap wajah cantik istri kecilnya itu.
"Sayang mengapa semuanya harus seperti ini ? bagaimana bisa ayah kita saling kenal dan mempunyai sesuatu masalah yang kita tidak pernah mengetahuinya ?"
"Mengapa semua itu baru aku tau, saat kita sah menjadi suami istri ? aku takut masa lalu orang tua kita akan berpengaruh terhadap hubungan kita." ucap Fauzi dalam hati.
__ADS_1
Kemudian ia memeluk erat tubuh istrinya, perasaan yang sangat kacau dalam hatinya perlahan berubah menjadi damai saat hangatnya tubuh sang istri dalam pelukannya menjalar hingga ke relung hati yang dalam.