
Anis berjalan dan ia berhenti di meja makan yang terlihat sudah siap dengan begitu banyak makanan yang terlihat sangat lezat.
Ia duduk di sembarang bangku kemudian ia langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya.
Para pelayan yang melihat tingkah Anis hanya menggelengkan kepalanya, mereka berfikir mungkin sifat Laila seperti itu karena ia baru saja mengalami kejadian yang mungkin begitu sengsara.
Anis menikmati makanan seperti seseorang yang tidak makan lebih dari tiga hari, setelah kenyang ia bersendawa dengan kuat, hingga ia tidak menyadari kedatangan Rian.
"Nina bagaimana kabar anda, maaf kami terlambat menemukan anda." ucap Rian dengan sopan.
"Tidak masalah yang terpenting sekarang aku sudah kembali ke rumah ini." jawab Anis.
Rian menatap wajah Anis dengan seksama, sampai-sampai ia tidak mendengar saat Anis memintanya untuk meninggalkan dirinya.
"Rian ! nona meminta mu untuk pergi, mungkin nona ingin sendiri dan tidak ingin di ganggu." ucap bik Sumi sambil menggoyangkan tangan Rian.
Kemudian Rian berdiri dan meninggalkan Anis yang masih begitu lahap menikmati buah yang tersaji di hadapannya.
"Jadi lelaki itu bernama Rian, mengapa ia berani mendekati aku ? atau ia memang orang kepercayaan istri Fauzi. " batin Anis.
Setelah puas ia kembali masuk ke dalam kamarnya, ia kemudian berbaring di ranjang sambil menikmati musik, tak lama setelah itu ia tertidur pulas karena kekenyangan.
Sementara Fauzi yang baru saja datang, ia menatap wajah yang sangat ia rindukan, namun lagi-lagi ia mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh istrinya.
Perlahan ia mendekati Anis yang masih terlelap, dengan lembut ia mencium kening Anis kemudian ia berbaring di samping Anis sambil memeluk tubuh Anis dengan mesra.
Anis dengan cepat membuka matanya, saat ada tangan kekar yang tiba-tiba memeluk tubuhnya.
Jantungnya berdetak sangat kencang, saat melihat Fauzi memeluk tubuhnya dengan sangat posesif.
__ADS_1
"Mengapa jantung Laila berdetak sangat kencang, seperti baru pertama kali aku melakukan hal ini, dan cara dia berpenampilan dan juga aroma tubuhnya jauh berbeda."
"Ini berarti dia bukan istriku, dia adalah Anis yang selama ini dikabarkan telah meninggal dunia. Sebenarnya apa yang terjadi dengan istriku ?" batin Fauzi.
Ia tetap pada posisinya, ia takut wanita yang menempati posisi Laila saat ini curiga, bahwa ia telah mengetahui bahwa ia bukanlah Laila. Namun untuk memastikan apa motif Anis sehingga mengaku sebagai Laila, ia harus tenang seakan ia tidak mengetahui siapa Anis sebenarnya.
Setelah memastikan Anis kembali tertidur, Fauzi perlahan bangkit dan ia segera keluar dari kamar, ia masuk ke dalam kamar tamu untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah itu ia masuk kedalam ruang kerjanya untuk memastikan perusahaan dalam keadaan baik-baik saja. Di saat ia sedang sibuk, Rian mengetuk pintu dan masuk menghadapnya.
"Tuan maaf sebelumnya, tapi saya sudah tidak bisa menahannya lagi." ucap Rian.
"Katakan saja jangan sungkan." jawab Fauzi sambil menutup laptopnya.
"Maaf tuan, wanita yang ada bawa pulang itu bukan nona Laila." jawab Rian dengan ragu.
"Maaf tuan, nona tidak akan bertingkah seperti gadis itu, dan juga tatapan mata nona begitu lembut penuh kasih, sedangkan wanita itu, tatapan matanya penuh dengan ambisi dan juga kebencian."
"Nona tidak pernah sekalipun memiliki sifat seperti itu tuan, bahkan tatapan nona untuk Rafik dan juga Hana begitu teduh tidak ada sebuah dendam atau kebencian."
"Sifat nona sangat lembut dan juga santun jauh berbeda dengan sifat wanita itu. Maafkan saya tuan jika saya lancang, meskipun saya belum lama mengenal nona, tapi saya bisa pastikan bahwa wanita itu bukan nona." jawab Rian.
"Kau benar, sebenarnya aku juga sudah curiga. Namun aku harus berpura-pura, tidak mengetahuinya, hal ini untuk memastikan apa tujuan Anis sebenarnya." jawab Fauzi.
"Anis ? apakah tuan mengenal wanita itu ?" tanya Rian.
"Iya, aku pernah mengenalnya jauh sebelum aku bertemu dengan istriku. Satu hal yang pasti terus lakukan pencarian Laila, aku ingin istriku kembali dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun." jawab Fauzi.
"Baiklah tuan, saya akan berkoordinasi dengan yang lainnya. Terimakasih karena tuan telah mengetahui bahwa wanita itu bukan nona."
__ADS_1
"Saya akan merasa bersalah terhadap nona, jika tuan tidak mengenali wanita itu bahkan melakukan hal yang seharusnya tidak tuan lakukan. Saya permisi tuan." ucap Rian kemudian ia meninggalkan Fauzi di ruang kerjanya.
"Sayang maafkan suamimu ini, seharusnya aku mengenalimu lebih dari siapapun. Aku tetap membawanya ke rumah kita karena ia adalah saudara kandungmu. Dan untuk membawanya ke kamar kita itu adalah kesalahan terbesar ku, maafkan aku istriku." ucap Fauzi pelan sambil memejamkan matanya.
Ia sangat menyesal telah membawa wanita lain masuk kedalam kamar mereka, seharusnya ia tidur di kamar tamu. Sejenak Fauzi berfikir bagaimana caranya ia meminta Anis untuk tidur di kamar tamu.
Perlahan ia menelpon bik Sumi agar menemuinya di ruang kerjanya. Setelah beberapa saat bik Sumi muncul.
"Bik nanti tolong sampaikan kepada wanita yang tidur di kamar ku untuk segera pindah ke kamar tamu, bilang saja kamar itu akan direnovasi."
"Tolong sampaikan kepada yang lain seolah-olah akan merenovasi kamar tersebut, jangan sampai wanita itu mengunakan milik istriku, larang ia dengan cara yang halus."
"Ini ada ATM, gunakan untuk membeli kebutuhannya, dan pastikan ia tidak menyentuh milik istriku." ucap Fauzi.
"Tuan, apakah tuan juga curiga bahwa wanita itu bukan nona ? kalau begitu saya sangat bahagia tuan. Artinya tuan tetap akan menjaga cinta nona."
"Dengan senang hati, saya akan menjaga apa yang sudah menjadi milik nona, tidak ada wanita yang akan bisa menggantikan Nona di hati kami tuan." jawab bik Sumi dengan berkaca-kaca.
"Terimakasih bik, saya titipkan rumah ini kepada kalian semua, saya akan tinggal di rumah lama, saya tidak ingin menyakiti hati dan juga kepercayaan istriku."
"Jika wanita itu bertanya dimana saya, sampaikan kepadanya bahwa saya harus pergi keluar kota untuk pekerjaan yang sangat penting, dan saya tidak menyampaikan secara langsung kepadanya karena ia tidur begitu lelap." ucap Fauzi.
"Baik tuan, saya akan selalu mengingat pesan tuan. Saya permisi tuan." jawab bik Sumi kemudian ia pergi meninggalkan Fauzi.
Fauzi membereskan pekerjaannya dan membawa beberapa berkas yang masih belum selesai ia kerjakan.
Setelah semuanya siap ia segera keluar meninggalkan rumah tersebut dengan menggunakan motornya. Ia menuju rumah orang tuanya, setelah itu ia kembali lagi ke kampus untuk menyiapkan acara yang rencananya akan di gelar besok
Dibantu oleh Bima dan teman-teman yang lainnya, ia menyelesaikan semuanya, agar acara besok berjalan dengan sempurna sesuai dengan apa yang sudah mereka rencanakan.
__ADS_1