
Fauzi dan orang-orang kepercayaannya menyusun rencana dan berbagai tugas untuk menyelamatkan Laila.
Setelah semuanya siap, Fauzi kembali lagi ke rumah orang tuanya. Ia tidak ingin lawan mengetahui bahwa saat ini ia tengah menghadapi masalah sehingga hal tersebut akan dimanfaatkan oleh musuh.
Fauzi merapikan rumah dan membersihkan lingkungan sekitarnya, dan ia juga berencana akan mengadakan seminar di kampusnya.
Ia ingin menyelenggarakan kegiatan untuk kemajuan kampusnya, selain itu juga ia ingin lawannya melihat bahwa ia tidak terpengaruh oleh hilangnya Laila.
Di samping itu, Fauzi juga mencari keberadaan Laila, baik secara langsung ataupun melalui orang-orang kepercayaannya.
Tak terasa sudah hampir satu Minggu lamanya Laila tidak mereka temukan. Entah bagaimana keadaannya selama ini. Hal itu membuat Fauzi mulai bimbang, terlihat ia sudah tidak bisa lagi fokus dengan semua yang ia kerjakan.
Disaat Fauzi tengah putus asa, tiba-tiba supir pribadi yang biasanya mengantarkan Laila pergi datang menghadap majikannya untuk melaporkan keberadaan seseorang yang sangat mirip dengan Laila.
"Tuan saya melihat Nona berada di sekitar pelabuhan, tapi saya belum memastikan apakah itu Nona atau hanya orang yang sedikit mirip dengan Nona." lapor sang Supir yang saat itu mengantarkan Laila pergi ke Sekolah.
"Baiklah kita akan segera ke sana, pastikan semuanya dalam keadaan yang aman. Dan jangan menimbulkan gerakan yang dapat memancing musuh." jawab Fauzi.
Setelah itu ia segera pergi meninggalkan aktivitas di kampusnya. Ia pergi dengan menggunakan mobil pribadinya yang biasa ia gunakan bersama sang istri.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Terlihat seorang gadis yang sedang dipaksa oleh seseorang agar mau mengikuti mereka.
Fauzi yang melihat Laila langsung datang dan menghajar orang-orang yang tak dikenal tersebut. Ia menghajar mereka dengan membabi buta.
Jika orang-orang kepercayaannya tidak mencegahnya mungkin orang tersebut bisa meregang nyawa.
Gadis itu terpaku ketika melihat Fauzi. Setelah ia sadar dari lamunannya langsung berlari dan memeluk tubuh Fauzi dengan erat.
"Kak tolong selamatkan aku." ucap gadis itu.
"Sayang bagaimana keadaanmu ? apakah kau baik-baik saja ? kakak sangat menghawatirkan mu. Maafkan kakak karena baru bisa menemukan mu." ucap Fauzi sambil memeluk tubuh gadis itu dengan erat.
__ADS_1
"Kak Fauzi tidak mengenali aku sebagai Anis, tapi ia mengenaliku sebagai gadis lain. Ah biarlah yang pasti saat ini aku bisa memanfaatkannya untuk lari dari masalah yang aku hadapi."
"Siapapun gadis itu, maafkan aku. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama lelaki yang paling aku cintai, dimana pun kau berada saat ini, semoga kau tidak akan pernah kembali ke sisi kak Fauzi."
"Maafkan aku kak, aku terpaksa memanfaatkan posisinya agar aku bisa mendapatkan cinta mu yang selam ini aku inginkan." batin Anis.
"Sayang, mari kita pulang. Kau terlihat sangat menyedihkan sekali." ucap Fauzi sambil menggandeng tangan Anis.
Anis tersenyum kemudian ia melangkah bersama dengan Fauzi. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah mereka, namun di tengah perjalanan Fauzi mendapatkan pesan agar ia ke universitas terlebih dahulu untuk memastikan acara yang akan digelar.
"Sayang, kita ke kampus terlebih dahulu ya, tadi kakak meninggalkan pekerjaan untuk acara yang akan kakak gelar." ucap Fauzi dengan lembut.
"Baik kak, aku ikut saja." jawab Anis dengan tersenyum.
Fauzi mengerutkan keningnya mendengar jawaban Anis, sebab Laila tidak pernah menggunakan bahasa seperti itu, namun kemudian Fauzi menepis pikiran negatif yang melintas di pikirannya.
Anis menikmati perjalanan dengan tersenyum, ia bahagia bahwa Fauzi yang ia cintai sekarang berubah menjadi pria kaya raya.
"Sayang aku antar kau pulang terlebih dahulu, setelah selesai kakak akan segera pulang. Kau bisa membersihkan diri kemudian beristirahat." ucap Fauzi lembut sambil menggenggam tangan Anis.
"Dimana cincin pernikahan kita ? apakah kau bukan Laila ? atau cincin tersebut hilang atau di ambil oleh seseorang ?" batin Fauzi.
"Ok." jawab Anis sambil tersenyum sambil menatap Fauzi.
"Tuhan, ia manis sekali. Seandainya sejak dahulu aku bisa mendapatkan cintanya." batin Anis.
Setelah mendengar jawaban Anis, Fauzi kembali mengerutkan keningnya. Setelah itu sepanjang perjalanan keduanya diam seribu bahasa.
Anis begitu bahagia diperlakukan bak seorang putri, tanpa pikir panjang Fauzi segera mengantarkan Anis pulang ke rumah. Setelah sampai mereka di sambut penuh suka cita oleh semua orang yang tinggal di rumah tersebut.
Anis menatap rumah mewah di hadapannya, ia juga melihat orang-orang tersebut begitu bahagia melihat kedatangannya.
__ADS_1
"Tuhan, inikah buah dari kesabaran ku selama ini, aku seperti dalam mimpi, dijemput oleh pangeran impian dengan mobil mewahnya, dan dibawa ke istananya."
"Selamat tinggal kesedihan dan kesengsaraan, selamat datang kebahagiaan. Aku akan menyambut hari-hari yang penuh dengan kebahagiaan." batin Anis.
Fauzi mengantarkan Anis sampai ke kamarnya, kemudian ia pergi lagi menuju kampus untuk melanjutkan aktivitasnya.
Sementara Anis yang berada di dalam kamar mewah milik Fauzi, tersenyum bahagia sambil memperhatikan semua yang ada di dalam kamar tersebut.
"Foto pernikahan, artinya wanita yang mirip dengan diriku itu adalah istri Fauzi. Artinya aku akan berperan sebagai istrinya."
"Dan satu lagi, aku sekarang adalah seorang nyonya di rumah mewah ini. Oh my God ! ini sungguh di luar imajinasi ku selama ini."
"Baiklah nona, sebaiknya kau segera membersihkan diri dan berdandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan suamimu." ucap Anis kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Anis begitu terpukau melihat interior kamar mandi yang begitu mewah. Ia kemudian mencoba untuk berendam di dalam bathtub.
"Ah seger sekali mandi seperti ini, aku seperti dalam mimpi. Terimakasih nona dengan hilangnya dirimu menjadikan aku seorang nyonya besar di rumah mewah ini." ucap Anis sambil tersenyum.
Kemudian ia segera mengakhiri ritual mandinya, setelah itu ia mencari dan mencoba baju-baju milik Anis yang sangat mewah meskipun terlihat sederhana.
Ia juga mengenakan perhiasan dan mencobanya semua, setelah puas mencoba perhiasan tersebut kemudian ia memilih salah satu yang paling ia sukai.
Setelah itu ia berdandan di depan cermin, dan merias wajahnya. Ia tersenyum melihat penampilannya di dalam cermin.
"Sempurna ! sangat cantik, Anis mimpi apa kau semalam ? ibarat mendapatkan durian runtuh. Sekarang aku akan menjadi nyonya Fauzi."
"Aku harus melihat-lihat rumah ini, agar aku tidak tersesat dan aku juga harus mengenal para pelayan agar Fauzi tidak mencurigai aku."
"Aku harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin agar aku bisa menguasai semuanya." batin Anis.
Kemudian ia segera keluar dari dalam kamarnya, ia turun ke lantai bawah dan berjalan sambil memperhatikan setiap ruangan yang ia lewati.
__ADS_1