Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 64. Buku Rahasia


__ADS_3

Melihat Laila yang berjalan meninggalkan ruangan tersebut dan di ikuti oleh Fauzi, Anis ikut mengejar mereka.


"Laila tunggu !" ucap Anis sambil mempercepat langkahnya mendekati Laila.


Laila menghentikan langkahnya, dengan satu kaki yang sudah berada di anak tangga. Ia berhenti tanpa melihat Anis dan juga Fauzi.


"Laila aku minta maaf, sebenarnya aku yang bersalah bukan Fauzi. Disaat Fauzi bingung mencari mu, aku tanpa sengaja muncul di hadapan mereka."


"Karena kemiripan di antara kita, sehingga Fauzi mengira aku adalah kau dan membawa aku ke rumah ini."


"Tetapi ketika aku sudah berada di rumah ini, Fauzi dan juga semua orang yang ada di sini mengetahui semua kebohongan ku. Aku ingin menempati posisi mu."


"Tetapi Fauzi mengusir ku dengan cara yang halus, ia meminta bik Sumi untuk memberitahu aku bahwa tempat ku adalah di kamar tamu, bukan di kamar milik mu."


"Untuk masalah menggunakan gaun milikmu, itu semua murni kesalahan ku, Fauzi dan yang lainnya membiarkan aku memakai semua itu, karena aku tidak mempunyai baju yang layak untuk ku pakai."


"Tetapi bik Sumi dengan sabar dan ikhlas membelikan aku beberapa baju dan juga keperluan ku."


"Dan untuk Fauzi, ia pergi meninggalkan rumah ini selama aku ada disini. Mungkin itu caranya untuk menghindari ku."


"Sekali lagi aku minta maaf Laila. Jangan salahkan Fauzi atau orang -orang yang ada di sini atas kesalahan yang tidak pernah mereka lakukan." ucap Anis sambil berdiri di belakang Laila.


"Sayang kakak mohon maafkan kakak." ucap Fauzi lagi.


"Aku juga wanita biasa yang mempunyai rasa benci dan juga cemburu." jawab Laila tanpa merubah posisinya.


"Bik Sumi ! ambil barang yang sudah dipakai oleh Anis dan berikan kepadanya, sekarang juga." ucap Laila lagi.


"Baik nona." jawab bik Sumi kemudian ia melangkah menuju kamar Laila di ikuti oleh Laila dan juga Fauzi.


"Laila lebih baik aku pergi dari sini, jika kehadiran ku tidak kau inginkan. Dan mohon maafkan aku." ucap Anis sambil menatap ke arah Laila.


"Pergilah jika itu yang kau inginkan, kak Rafik menanti mu." jawab Laila dengan terus melangkah menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Anis tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia juga tidak bisa menentukan langkahnya. Ia ingin sekali meninggalkan rumah ini, karena kesalahannya sehingga Laila tidak ingin melihatnya.


Tetapi jika ia pergi, ia takut akan bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah menyakiti dirinya, termasuk Rafik. Anis duduk di lantai dengan lemas, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.


Sementara bik Sumi, datang dan menghampiri Anis dengan membawa gaun juga perhiasan milik Laila yang pernah dipakai oleh Anis.


"Nona ambilah ini, nona Laila memberikan ini semua untuk mu." ucap bik Sumi.


"Bik maafkan aku." ucap Anis dengan meneteskan air matanya.


"Apa yang menyebabkan kau menangis ? bukankah kau menginginkan itu ?" ucap tuan Aditama yang ikut mendekati Anis.


"Tuan maafkan kesalahan ku." ucap Anis lagi.


"Bangunlah dan terimalah semua yang putriku berikan untuk mu, dan tinggal di sini sampai keadaan lebih baik."


"Setidaknya sampai orang tua kandungmu di temukan. Dan untuk putriku, maafkanlah dia, sejak kecil ia memegang tidak suka jika barang -barang pribadinya di gunakan oleh orang lain."


"Jadi jangan kau anggap itu adalah sebuah bukti bahwa putriku sangat membencimu. Ia hanya tidak suka barang - barang pribadinya digunakan oleh orang lain, tidak lebih." jelas tuan Aditama.


"Sejauh yang saya tau tidak ada kebencian di pancaran sinar matanya. Jadi ambilah ini dan bangunlah. Suatu saat kau pasti akan membutuhkannya." ucap bik Sumi.


Perlahan Anis bangkit dan ia menerima apa yang telah diberikan oleh bik Sumi kepadanya.


"Terimakasih tuan, terimakasih bik Sumi." ucap Anis.


"Jangan sungkan segera simpanlah itu, karena sekarang itu sudah menjadi milikmu." ucap tuan Aditama.


Kemudian Anis berlalu meninggalkan mereka dan menuju kamar tamu yang ia tempati. Sedangkan Aris mendekati tuan Aditama dan juga bik Sumi.


"Tuan keluarga tuan ikhsan sedang menunggu di depan pintu gerbang, mereka ingin bertemu dengan nona Laila ataupun tun Fauzi. Apa yang harus saya lakukan tuan ? sementara nona mungkin masih dalam kondisi yang kurang stabil." ucap Rian.


"Sampaikan kepada mereka agar kembali lagi ke sini dua hari yang akan datang. Katakan bahwa putriku masih dalam masa pemulihan setelah kejadian itu."

__ADS_1


"Sampaikan juga bahwa Fauzi sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun." jawab tuan Aditama.


"Tapi bagaimana Laila tau bahwa Rafik telah menunggu Anis ? apakah ada kamera atau sesuatu yang bisa melihat keluar ?" tanya tuan Aditama.


"Maaf tuan saya tidak tahu untuk masalah itu, tetapi saat ini nona mengetahui banyak hal." kata Rian.


"Kau benar bahkan saat nona melihat gadis itu, nona mengetahui bahwa ada barang pribadinya yang pernah dipakai oleh gadis itu, padahal aku sudah mencuci dan merapikan semua sesuai tempatnya lagi."


"Dan bukankah nona sedang kondisi sakit saat masuk kembali ke rumah ini, dan bukankah tuan yang menggantikan pakaian nona selama nona sakit."


"Nona Laila memang luar biasa." ucap bik Sumi dan disetujui oleh tuan Aditama dan juga Rian.


Sementara Fauzi dan juga Laila sedang mendiskusikan sesuatu, Laila mengambil buku yang ada dimeja belajarnya dan segera menunjukkan kepada Fauzi.


"Kak apakah buku ini, dicetak oleh ayahmu ? semuanya sama persis dengan yang ada di dalam ruangan rahasia itu." ucap Laila.


"Sayang apakah kau tidak marah lagi dengan kakak ?" tanya Fauzi dengan sangat serius.


"Kak Laila tidak marah dengan kakak, Laila hanya tidak suka ada orang lain yang memakai barang - barang pribadi Laila."


"Tapi bukan berarti Laila mentolerir kesalahan kakak yang sudah dengan sengaja memeluk Anis." jelas Laila.


"Maafkan kakak sayang, kakak berjanji tidak akan pernah melakukan kesalahan itu lagi. Dan kakak mohon jangan pernah tinggalkan kakak lagi." ucap Fauzi.


Laila tersenyum kemudian ia mencium pipi suaminya dan duduk dalam pangkuan sang suami.


Fauzi memeluk tubuh istrinya, kemudian ia membuka buku yang ada ditangan Laila.


"Mari kita lihat apa saja yang tersimpan dalam buku ini." ucap Fauzi kemudian.


Setelah membuka halaman pertama mereka tersenyum karena itu adalah denah ruang Rahasia tersebut.


Keduanya dengan serius mempelajari lembar demi lembar halaman yang ada dibuku tersebut. Namun keduanya berhenti dan saling pandang saat membaca sebuah resep untuk merubah wajah seseorang agar menjadi seperti yang di inginkan.

__ADS_1


"Itu artinya tuan Aditya mengetahui resep ini." ucap Laila dan juga Fauzi secara bersamaan.


__ADS_2