Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 57. Teka-teki


__ADS_3

Fauzi tersenyum melihat Anis dan anak buah tuan Aditya, kemudian ia melanjutkan kembali aktivitasnya.


"Anis kau telah berubah, setahuku kau adalah orang yang baik, tapi sekarang kau telah berubah." batin Fauzi.


Sementara itu, Laila yang sudah terkurung di ruang rahasia, menemukan fakta yang mencengangkan.


Kini ia berusaha untuk mencari jalan keluar, dengan sisa-sisa tenaganya ia mencari dan menekan setiap inci Diding ruangan tersebut.


Namun Laila terjatuh ke lantai, ia sangat lemas karena kekurangan asupan. Ia memejamkan matanya dan mencoba mengumpulkan tenaga.


Setelah beberapa saat ia mencoba berdiri dengan berpegangan pada sisi meja, namun tanpa ia sengaja ia menekan sebuah tombol yang langsung memperlihatkan pantauan seluruh sisi bangunan yayasan tersebut.


Laila berusaha untuk duduk di meja dan mencari apakah ada remote control untuk mengendalikan pantauan yang nampak begitu jelas di dinding layaknya layar monitor.


Laila memperhatikan meja tersebut dan ia menemukan bahwa meja tersebut seperti sebuah keyboard. Dengan perlahan Laila mempelajari apa yang ada didepan matanya.


Sesuatu yang belum pernah ia lihat, ia memejamkan matanya sambil mengingat sesuatu, ia pernah membaca sebuah buku milik Fauzi yang isinya hampir sama dengan yang ada di hadapannya saat ini.


"Apakah buku itu adalah desain dari ayah mertuaku ? apa sebenarnya yang tersembunyi di sini ?"


"Laila kau harus bisa tenang dan ingat apa yang tertulis di buku itu. Yakinlah kau pasti bisa memecahkan teka-teki yang ada di ruangan ini."


"Takdir yang telah membawamu masuk ke sini, artinya kau yang ditakdirkan untuk memecahkan semua teka-teki ini." ucap Laila.


Setelah merasa tenang, Laila mencoba mengeluarkan pena dan juga buku yang ia bawa saat mengikuti ujian kenaikan kelas.


Dengan seksama ia mencoba memecahkan teka-teki yang ada dimeja tersebut. Lama sekali Laila berusaha ia pantang menyerah, ia begitu ingin segera keluar dari ruangan itu.


Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, ia mulai merasa semakin lemah.. Kemudian ia beristirahat dan bersandar di kursi sambil mengumpulkan tenaganya kembali.


Setelah sedikit lebih kuat Laila kembali mencoba untuk memecahkan kembali teka-teki di hadapannya.

__ADS_1


"Kalau keyboard itu ini berfungsi untuk ? ah aku tau sekarang bagaimana caranya mengoperasikan layar tersebut.


Dengan lah jari jemari Laila mencoba berselancar di atas meja yang tertulis sebuah teka-teki tersebut.


Dan akhirnya ia bisa menggunakan tulisan yang seperti sebuah keyboard itu untuk mengoperasikan layar tersebut.


Laila bisa dengan jelas mantau setiap ruangan yang ada bahkan ia juga bisa mendengar dengan jelas suara orang-orang yang ada di ruangan tersebut.


Satu persatu Laila melihat dan mengoperasikannya layaknya ia mengoperasikan komputer.


Ia melihat Anis yang sedang berbincang dengan anak buah tuan Aditya, bahkan ia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Anis kau ternyata memanfaatkan hilangnya aku untuk mendapatkan Fauzi, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi meskipun kau terindikasi sebagai saudara kandung ku."


"Tetapi tidak ada dalam kamus ku untuk berbagai suami dengan siapapun. Kau belum tau kekuatan seorang istri."


"Tunggu dulu, jika ini berfungsi seperti komputer berarti ada sebuah penyimpanan semacam file atau yang lainnya." ucap Laila.


Dengan teliti ia memperhatikan semuanya, mulut Laila menganga saat mengetahui semua rahasia yang tersembunyi di masa lalu.


"Ternyata selama ini orang tuaku dan juga Fauzi telah dibohongi oleh keluarga Aditya dan juga keluarga Rafik. Bagaimanapun caranya aku harus bisa mengungkapkan semua fakta tentang kejahatan mereka semua, terutama kau tuan Aditya !" ucap Laila dengan penuh semangat.


Dengan bermacam cara Laila mencoba menggunakan sistem yang ada di hadapannya. Ia ingin mengungkapkan kepada dunia siapa sebenarnya tuan Aditya.


Mata Laila berkaca-kaca saat ia melihat Fauzi yang mulai membuka acara di kampus tersebut.


"Kak Laila sangat merindukan kakak, apakah kakak bisa merasakan bisikan hati Laila ? kak berhati-hatilah dengan Anis, ia mempunyai niat buruk, ia ingin merebut kakak dari sisi Laila."


"Kak seandainya kakak ada di sini pasti kakak akan sangat mudah memecahkan teka-teki ini, Kak do,akan Laila agar bisa segera mengungkapkan semua kejahatan tuan Aditya beserta kawanannya." ucap Laila dengan air mata yang menetes.


Sementara Fauzi seakan-akan merasakan apa yang terjadi dengan Laila, hatinya mulai gelisah dan dalam pikirannya terlintas bayangan Laila.

__ADS_1


Ia mencoba untuk tetap fokus, agar apa yang ia sampaikan saat membuka acara ini tidak menyimpang dari apa yang telah ia susun.


Dengan sangat berwibawa, Fauzi menyampaikan sambutan untuk pembukaan acara tersebut, meskipun ada sesuatu yang terus-menerus mengusik di hatinya.


Setelah selesai ia segera turun, dan perlahan menekan dadanya.


"Sayang di manapun kau berada doaku selalu menyertai mu, semoga Allah memudahkan langkah mu untuk secepatnya kembali ke sisi kakak. Sayang kakak sangat merindukanmu." batin Fauzi.


Kemudian ia duduk dan meneguk air mineral untuk meredakan rasa di dalam dada yang bergejolak tak menentu.


Disaat yang bersamaan Anis datang mendekati Fauzi, ia kemudian duduk di samping Fauzi. Layaknya pasangan yang sah Anis mencoba menunjukkan hubungan yang romantis, namun Fauzi menghindari Anis.


"Apa yang kau lakukan disini ?" tanya Fauzi yang sedikit kaget dengan kedatangan Anis.


"Kak aku sengaja datang ke sini untuk kakak, aku ingin memberikan dukungan untuk kakak." jawab Anis dengan suara yang lembut.


"Seharusnya kau tetap tinggal di rumah, itu akan lebih baik untuk mu." jawab Fauzi sambil meraih sebuah kertas di hadapannya.


"Kak ini aku bawa sebuah pena, aku melihat pena ini sangat unik sehingga aku membelinya untuk kakak."


"Aku berharap pena ini bisa menemani setiap aktivitas kakak sebagai seorang ketua BEM yang sangat terkenal baik di kampus sendiri ataupun di kampus lainnya." ucap Anis sambil menyodorkan sebuah pena yang ia terima dari anak buah tuan Aditya.


Dengan ragu Fauzi menerima pena tersebut dan ia mencoba tersenyum dihadapan Anis.


"Apakah pena ini yang akan mereka gunakan untuk mendapatkan tanda tangan ku ? sebenarnya apa yang diharapkan oleh tuan Aditya dan juga Anis ?" batin Fauzi.


"Terimakasih banyak atas hadiah ini, semoga pena ini bisa bermanfaat sebagai mana mestinya." jawab Fauzi kemudian ia menyimpan pena tersebut di saku bajunya.


"Maafkan Anis kak, semua Anis lakukan karena aku sangat mencintai kakak dan aku berharap bisa memiliki kakak sepenuhnya. Baik fisik maupun cinta kakak yang telah kakak berikan untuk gadis itu." batin Anis.


Kemudian Anis dan Fauzi sama-sama menikmati hidangan yang disajikan di hadapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2