Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 43. Rafik Vs Bima


__ADS_3

Fauzi di antar oleh orang suruhan tuan Aditya meninggalkan pulau tersebut, kini ia pergi dengan tenang pasalnya misi menyelamatkan orang tuanya telah berhasil, meskipun ia belum tau kondisi orang tuanya.


Di tengah perjalanan Rian menghubungi Fauzi, ia mengatakan belum bisa pulang dengan cepat karena ia harus memastikan keamanan dan perawatan organ tua Fauzi.


"Tuan, karena saya masih disini artinya saya belum bisa menjaga Nona." ucap Rian.


"Tidak masalah saat ini aku dalam perjalanan pulang."jawab Fauzi.


"Tuan, ini sudah jam berapa ? nona pasti sebentar lagi akan berangkat Sekolah, saya khawatir tuan." ucap Rian.


"Tidak apa Rian, biar Laila berangkat di antar oleh supir, nanti aku yang akan menjemputnya pulang. Kau tenang saja dan Pastika kedua orang tua saya dalam keadaan yang aman." jawab Fauzi.


"Baik tuan." jawab Rian kemudian ia menutup panggilannya.


Sementara Fauzi, menghubungi Laila.


"Sayang bagaimana kabarmu hari ini ?" tanya Fauzi.


"Baik, kakak bagaimana ?" tanya Laila dengan tersenyum.


"Baik sayang, ini kakak dalam perjalanan pulang sebentar lagi kakak akan sampai." ucap Fauzi.


"Benarkah ? kakak tidak bohong, Laila kangen." jawab Laila.


"Iya sayang kakak juga kangen banget, pagi ini ke Sekolahnya di antar oleh supir ya, soalnya Rian belum pulang, nanti siang kakak yang jemput." ucap Fauzi.


"Iya kak, kalau begitu Laila berangkat dulu ya kak." ucap Laila.


"Iya sayang, hati-hati ya." jawab Fauzi sambil memberikan ciuman jarak jauh sebelum menutup telponnya.


Sementara Laila, dengan tersenyum melangkah keluar dari dalam kamarnya, ia segera mencari sopir dan berangkat ke Sekolah dengan harapan segera pulang dan bertemu suami tercinta.


Rasa rindu kepada sang suami membuatnya tak nyenyak tidur dan juga tak berselera makan.


Setelah sampai di depan Gerbang Sekolah Laila segera turun, dan berjalan melangkah menuju ke kelasnya.


Namun, saat ia sedang berjalan, tiba-tiba tangannya di tarik oleh seorang. Laila reflek melihat orang yang menariknya. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat Rafik sudah berada di sampingnya.


"Anis, apa kabar ? mengapa kau menjauhiku ?" tanya Rafik.


"Kak, kak rafik." jawab Laila dengan ketakutan.

__ADS_1


"Jangan takut Anis, aku tidak akan menyakitimu, aku sangat mencintaimu." ucap Rafik dengan tatapan sendu.


"Maaf kak, aku bukan Anis aku Laila, tolong lepaskan tanganku !" jawab Laila sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rafik.


"Tidak semudah itu Anis, kau harus ikut pergi bersama dengan ku, kita akan pulang dan menjalani kehidupan yang penuh dengan cinta." ucap Rafik.


"Tidak mau ! tolong lepaskan tanganku ?"ucap Laila.


"Tidak akan." jawab Rafik dengan menarik Laila agar dan membawanya ke parkiran.


"Tidak mau ! tolong siapapun tolong aku !" Laila berteriak sambil terus berusaha untuk melepaskan tangannya.


Namun sekuat apapun tenaga Laila, ia tidak mampu untuk melepaskan cengkraman tangan Rafik yang begitu kuat.


Laila merasa putus asa, Fauzi dan Rian yang selalu menjaganya, saat ini sedang berada di tempat yang jauh. Laila menangis sambil terus meminta tolong.


Namun tidak ada seorang pun yang melihatnya dan segera menolongnya. Ia terus meronta berusaha melepaskan diri.


Di saat ia sudah putus asa, tiba-tiba Bima datang bersama beberapa teman-temannya.


"Lepaskan Laila atau aku akan berbuat nekat !" ucap Bima tanpa basa-basi lagi.


"Tolong Laila kak." ucap Laila dengan penuh harap sambil mengatur napasnya.


"Tenang Laila, kami akan menyelamatkan mu." jawab Bima.


"Bima kau jangan ikut campur !" ucap Rafik dengan menatap tajam wajah Bima.


"Aku akan ikut campur jika kau mengusik Laila." jawab Bima sambil membalas tatapan Rafik.


"Dia bukan Laila, dia adalah Anis milikku." jawab Rafik.


"Kau salah ia adalah Laila bukan Anis, Anis sudah lama pergi. Seharusnya kau fokus dengan tujuan awal mu datang ke kota ini. Bukannya mengganggu gadis lain." jawab Bima.


"Terserah apa katamu, tapi aku mempunyai bukti bahwa ia adalah Anis, buka Laila." jawab Rafik.


"Apa buktinya ?" tanya Bima sambil melangkah dan menutupi Laila agar berada di belakangnya.


"Aku telah melakukan tes DNA, dan hasilnya sangat mirip dengan DNA Anis, kau tau Anis tidak mempunyai saudara. Jadi Laila adalah Anis." jelas Rafik.


"Omong kosong ! Laila dan Anis jauh berbeda, Anis lebih dewasa dari pada Laila. Usia mereka juga jauh berbeda." jawab Bima.

__ADS_1


"Tau dari mana kau usia Laila, jika hanya berdasarkan kelasnya, bahkan saat ini aku tercatat sebagai salah satu siswa kelas tiga di SMA ini." jawab Rafik.


"Namun kau juga tercatat sebagai salah satu mahasiswa di salah satu Universitas di kota asal mu. Berbeda dengan Laila yang memang hanya berstatus sebagai siswa SMA baik disini atau di kota asalnya." jawab Bima sambil memberi kode kepada teman-temannya agar melindungi Laila.


"Banyak omong !" ucap Rafik sambil melayangkan tinjunya.


Dengan sigap Bima menghindari pukulan dari Rafik, keduanya kemudian terlibat baku hantam. Setelah keduanya sama-sama babak belur, keduanya mengakhiri perkelahian karena banyak yang datang untuk melihat mereka.


"Sebenarnya apa yang mereka perebutkan ?" tanya salah satu mahasiswi.


"Itu, mereka berebut Laila anak SMA yang di belakang Bima." jawab salah satu dari mereka.


"Sebenarnya apa kelebihan anak itu, jangankan mereka. Fauzi ketua BEM aja kepincut sama dia." celetuk salah seorang dari mereka.


"Oh jadi yang dimaksud Hana selir kecil ketua BEM kita itu dia orangnya ?" ucap beberapa orang secara bersamaan.


"Sudah bubar semuanya !" bentak Bima.


Kemudian mereka meninggalkan tempat parkir itu dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Kak Bima tidak apa-apa ? ayo Laila bantu untuk mengobati." ucap Laila dengan khawatir.


"Jangan khawatir kakak tidak apa-apa." jawab Bima sambil mengusap sudah bibirnya.


"Anis bahkan kau tidak perduli dengan keadaan ku ?" ucap Rafik.


"Maaf aku bukan Anis, aku Laila." ucap Laila.


"Sudah jangan hiraukan dia, ayo kita ke kantin saja, nanti kakak yang akan meminta ijin ke wali kelas mu." ajak Bima.


Kemudian Laila mengikuti Bima dan teman-temannya. Sesekali Laila melihat ke arah Rafik.


"Maafkan Laila kak, tapi Laila takut dengan kejiwaan kakak, yang selalu menganggap aku sebagai Anis." batin Laila.


Sementara Rafik melihat kepergian Laila sambil meninju tembok di sebelahnya.


"Anis tunggu !" teriak Rafik sambil mengulurkan tangannya. Namun Laila terus melangkah mengikuti Bima dan yang lainnya.


"Anis kau sungguh keterlaluan, kau tega mengabaikan aku disaat aku seperti ini, ingat Anis, aku akan mendapatkan mu apapun caranya." ucap Rafik sambil mengepalkan kedua tangannya.


Kemudian ia masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan tempat tersebut dengan penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2