
Setelah sampai di rumah, Hana langsung masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap ke kampus, ia ingin segera bertemu dengan Fauzi, dan mengatakan keinginan untuk segera menikah.
Dengan penuh semangat ia pergi ke kampus untuk mencari Fauzi, namun ia tidak menemukan Fauzi di manapun tempat yang ia datangi.
Dengan kesal Hana duduk dibawah pohon, sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang. Pikirannya pergi jauh, ia mencoba menghubungi Fauzi namun tidak bisa, no ponsel tersebut tidak aktif.
"Dimana Fauzi ?, apakah ia belum sampai atau ia masih berada di pulau karena belum mendapatkan tumpangan." Batin Hana.
Kemudian ia melihat, Bima yang hendak pulang, Hana segera mendekati Bima sambil berlari.
"Bima wajahmu ?" tanya Hana sambil memperhatikan wajah Bima.
"Biasa anak lelaki." jawab Bima.
"Kau berantem dengan siapa ? apakah aku melewatkan sesuatu ?" tanya Hana dengan penasaran.
"Dia habis adu jotos dengan Rafik untuk merebutkan selir si ketua BEM." jawab sahabat Hana.
"Maksudmu Bima berantem dengan Rafik hanya karena selir kecil itu ?" tanya Hana sambil menggelengkan kepalanya.
"Ia benar !" jawab sahabat Hana lagi.
"Bima, sejak kapan kalian merebutkan selir kecil itu ?" tanya Hana lagi.
"Bukan urusanmu." jawab Bima sambil berlalu meninggalkan Hana dan teman-temannya.
"Bima ! tunggu!" teriak Hana sambil mengikuti langkah Bima.
"Apa lagi ?" tanya Bima sambil menghentikan langkahnya.
"Apakah kau melihat Fauzi ?" tanya Hana.
"Bukankah kalian pergi berlibur bersama ?" jawab Bima sambil bertanya balik.
"Iya kami memang pergi bersama namun aku pulang bersama ayahku sedangkan Fauzi ... ." ucap Hana terhenti.
"Sedangkan Fauzi ?" tanya Bima lagi.
"Sudahlah ! jika kau tak melihatnya aku akan mencarinya sendiri." ucap Hana sambil melangkah meninggalkan Bima.
__ADS_1
Hana kembali bersama teman-temannya, dan pergi meninggalkan kampus menuju kafe yang biasanya mereka kunjungi.
Sementara tuan Aditya, langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, ia segera memanggil orang kepercayaannya untuk segera mengganti isi surat perjanjian yang sudah di tandatangani oleh Fauzi.
"Maaf tuan, bagaimana caranya kita bisa mengganti isi surat ini ?" tanya orang kepercayaan tuan Aditya.
"Kau ini bodoh atau berpura-pura bodoh. Di bawah surat itu ada kertas kosong yang sudah di tandatangani oleh Fauzi, kau tinggal.mengetik seperti yang aku katakan." jawab tuan Aditya.
"Maaf tuan, sekali lagi saya minta maaf. Map ini hanya berisi selembar kertas saja tidak ada yang lainnya." jawab pria itu dengan ketakutan.
"Apa maksudmu ! aku sendiri yang telah meletakkan kertas tersebut." jawab tuan Aditya sambil berdiri dan mengambil map yang ada di tangan pria di depannya.
"Tidak mungkin ! bagaimana ini bisa terjadi !" ucap tuan Aditya sambil membanting map yang ia pegang.
"Apakah Fauzi sudah mengetahui semuanya ?" batin tuan Aditya.
Ia segera menghubungi orang-orang kepercayaannya. Baik yang ada di wilayahnya ataupun ada di wilayah musuhnya.
"Bagaimana apakah kalian sudah menemukan pasien yang dirawat di pulau itu ?" tanya tuan Aditya.
"Maaf tuan kami tidak menemukan keberadaannya, hanya saja dimalam itu ada kapal pesiar yang sempat sandar di pulau kita. Namun tidak ada saksi yang mengatakan bahwa ada yang datang ke ke villa kita. Hanya ... ." jawab orang tersebut.
"Hanya apa ? katakan dengan jelas !" kata tuan Aditya.
"Apa maksudmu ? aku sendiri yang melihat bahwa putriku bersama Fauzi bukan orang kita." jawab tuan Aditya.
"Maaf tuan, untuk lebih jelasnya anda bisa menanyakan langsung kepada nona Hana." jawab orang tersebut.
Dengan cepat tuan Aditya mengakhiri panggilan tersebut dan segera menghubungi putrinya.
"Hana cepat pulang ayah tunggu di ruang kerja ayah!" ucap tuan Aditya tanpa basa-basi lagi.
"Ayah, apa maksud ayah ! aku masih bersama teman-temanku. " jawab Hana dengan cemberut.
"Cepat pulang ! atau tidak sama sekali." jawab tuan Aditya sambil menutup panggilan tersebut secara sepihak.
"Ayah ! mengapa dimatikan aku belum selesai bicara." ucap Hana dengan kesal.
"Aku pulang dulu ya semua, ayahku entahlah ada apa dengan ayahku itu." ucap Hana.
__ADS_1
"Ok ! hati-hati ya, kalau kau sudah selesai hubungi kita, biarkan kita yang ke rumah mu." ucap salah satu teman Hana.
"Ok ! Bye " jawab Hana sambil meninggalkan tempat tersebut.
Hana segera pulang ke rumahnya dan segera menemui ayahnya.
"Ayah ! sebenarnya apa yang terjadi ?" tanya Hana dengan cemberut saat ia sudah berada di ruang kerja ayahnya.
"Seharusnya ayah yang bertanya, sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Fauzi dan juga anak buah ayah ?" tanya tuan Aditya dengan tatapan yang tajam.
"Ayah aku hanya ingin memiliki Fauzi sepenuhnya, makanya aku ingin melakukan hal itu, dengan cara memaksanya. " jawab Hana dengan jujur.
"Lalu ada skandal apa antara kau dan anak buah ayah ?" tanya tuan Aditya lagi.
"Tidak ada, hanya saja kami ditemukan ada dalam satu ranjang. Tapi Hana berani bersumpah tidak terjadi apa-apa. Bahkan Fauzi sudah melihat buktinya." jawab Hana.
"Buktinya ? apa maksudmu !" bentak tuan Aditya.
"Fauzi dan semua anak buah ayah sudah memeriksa cctv dan tidak ada bukti bahwa aku dan anak buah ayah ada sebuah skandal." jawab Hana dengan ketakutan.
"Cctv ! dan tidak ada bukti ? itu sangat aneh !" ucap tuan Aditya.
"Begitu juga ucapan Fauzi, seolah dia tidak percaya dengan semuanya. Makanya aku memaksanya untuk masuk ke kamar ku dan melakukan itu namun Ayah malah datang sebelum aku mendapatkannya." jawab Hana dengan polosnya.
"Bodoh ! kau seperti ibumu, tidak berguna !" ucap tuan Aditya dengan penuh emosi.
"Ayah mengapa ayah mengatakan hal itu ?" jawab Hana dengan menangis tersedu-sedu.
"Keluar kau dari sini dan masuk ke kamarmu ! jangan berani-berani kau keluar sebelum ayah mengijinkannya." jawab tuan Aditya.
"Ayah, apa salah ku ? mengapa ayah jahat sekali !" ucap Hana sambil menangis dan ia segera berlari meninggalkan ayahnya.
Hana masuk kedalam kamarnya sambil menangis, ia langsung menutup wajahnya dengan bantal dan menangis sekencang-kencangnya.
Ia tidak menyangka bahwa ayahnya tega membentaknya bahkan sekarang melarang dirinya untuk keluar. Hana ingin sekali bersama dengan ibunya yang tidak pernah bisa ia temui lagi.
"Ibu, aku merindukan ibu. Seandainya ada ibu, ayah tidak mungkin memperlakukan aku seperti ini, setidaknya ada ibu yang akan membela ku."
"Ibu, sebenarnya apa yang terjadi ? mengapa ayah mengatakan bahwa aku bodoh seperti ibu. Memangnya apa salah ibu dan aku ?" tanya Hana sambil menangis pilu.
__ADS_1
Setelah puas menangis, Hana bangkit dari tempat tidur kemudian ia masuk kedalam kamar mandi.
Ia berendam dalam bathtub, sambil mendinginkan pikirannya. Ia mencoba menenangkan diri sambil mengingat kejadian di villa malam itu.