
Setelah membicarakan keputusan yang Laila ambil, mereka berempat langsung berangkat menuju kediaman Aditama.
Dengan berat tuan Aditama merestui pernikahan putrinya. Dengan waktu yang sangat singkat mereka menyiapkan acara ijab Kabul antara Fauzi dan Laila yang diselenggarakan dengan sangat sederhana dan hanya mengundang kerabat dekat saja.
Pernikahan yang dilakukan oleh Fauzi dan Laila belum tercatat di kantor KUA pasalnya Laila masih duduk di bangku SMA kelas 1, dimana jika terbukti Laila sudah menikah maka ia harus segera meninggalkan bangku sekolahnya.
Setelah acara ijab kabul tersebut selesai, Fauzi menandatangani surat perjanjian bahwa ia tidak akan menikah dengan wanita lain selain Laila dan ia tidak akan pernah meninggalkan Laila dan masih banyak lagi poin yang tercantum dalam perjanjian tersebut.
Namun dengan sangat yakin, Fauzi menandatangani surat perjanjian tersebut di depan pengacara keluarga Aditama.
"Fauzi sekarang kau telah sah menjadi suami Laila, tapi ingat kau harus membayar mahal jika terjadi sesuatu yang buruk kepada putriku !" ucap tuan Aditama.
"Saya berjanji, akan menjaga Laila dengan seluruh jiwa raga saya. Bukan karena surat perjanjian yang telah kita sepakati, tetapi karena janji yang telah saya ucapkan di hadapan Allah dan Rasul-Nya."
"Janji itu lebih berat dari surat perjanjian itu, dan akan saya pertanggung jawabkan dunia dan akhirat." jawab Fauzi tanpa ada keraguan dan kebohongan.
Terlihat dari sorot matanya, ia begitu sungguh-sungguh dengan apa yang di ucapkan. Setelah berbincang beberapa saat kemudian mereka terbang kembali ke rumah Fauzi untuk melanjutkan perjalanan hidup yang baru mereka mulai. Sementara Bima kembali ke rumahnya.
"Kak ini rumah siapa ? mengapa kita tidak pulang ke rumah kakak ?" tanya Laila saat memasuki rumah mewah milik Fauzi.
"Sayang, ini rumah kita ! rumah yang kakak bangun dari hasil keringat kakak sendiri. Rumah yang akan menjadi saksi perjalanan cinta suci kita hingga kita menua bersama." jawab Fauzi sambil menggandeng tangan Laila dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang tuan dan nona." ucap seorang pelayan yang membukakan pintu.
"Terimakasih. Pak minta tolong kumpulkan semua orang ! saya ingin mengenalkan istri saya." ucap Fauzi.
Kemudian pelayanan tersebut segera mengangguk dan segera berlalu meninggalkan Laila dan juga Fauzi.
Tak butuh waktu lama, beberapa pelayan dan orang kepercayaan Fauzi datang dan berkumpul di hadapan Fauzi.
"Selamat Sore semua, perkenalkan ini adalah Laila. meskipun ia masih sekolah di bangku SMA tetapi ia adalah istri sah saya, jadi saya harap kalian memperlakukan ia dengan baik."
__ADS_1
"Ia adalah putri tunggal tuan Aditama yang saya yakin nama itu sudah tidak asing bagi kalian. Dan satu hal lagi, saya berharap hal ini jangan disebar luaskan karena saya tidak ingin di anggap melanggar peraturan pemerintah tentang status pernikahan untuk anak yang masih sekolah." jelas Fauzi.
"Siap tuan !" jawab mereka kompak.
"Sayang perkenalkan ini bik Sumi kepala pelayan di sini dan beliau yang akan mengurus semua keperluan mu. Dan yang ini adalah Rian, beliau adalah pengawal pribadi mu yang akan selalu menjaga keselamatan mu. " ucap Fauzi.
"Terimakasih kak, tapi apakah ini tidak berlebihan ?" tanya Laila.
"Tidak sayang, ini adalah yang terbaik untuk kita." jawab Fauzi.
Setelah memberikan beberapa pesan kepada seluruh orang yang berkumpul di tempat tersebut Fauzi mengajak Laila naik ke lantai atas menuju kamar pribadinya.
"Sayang ini kamar kita, jika ada yang kurang berkenan kita bisa merubah sesuai dengan keinginan mu." ucap Fauzi sambil mengajak Laila masuk dan menunjukkan seluruh ruangan yang ada di dalam kamar tersebut.
"Laila suka semuanya kak." jawab Laila sambil tersenyum.
"Kalau begitu kita akan mandi setelah itu kita bisa beristirahat." ucap Fauzi.
"Kak apakah kita akan mandi bersama ?" tanya Laila yang melihat Fauzi ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Iya sayang ! mandi bersama seorang suami istri itu sunah." jawab Fauzi dengan lembut.
"Tapi kak ... . " ucap Laila terhenti saat ia melihat Fauzi melepaskan pakaiannya, Laila dengan cepat menutup kedua matanya.
Dengan lembut Fauzi membimbing Laila agar tidak takut dan canggung untuk mandi bersama. Meskipun sedikit ragu, akhirnya Laila terbuai akan perlakuan sang suami.
Setelah selesai, mereka segera berganti pakaian dan duduk santai di balkon sambil menatap indahnya pemandangan kota. Laila duduk sambil bersandar pada suaminya.
"Kak terimakasih untuk semuanya." ucap Laila sambil tersenyum mengingat hal-hal indah bersama Fauzi.
"Sayang sudah sepatutnya seorang suami memberikan yang terbaik untuk istrinya. Kakak akan berjuang untuk masa depan kita dan anak-anak kita." jawab Fauzi.
__ADS_1
"Anak ? memangnya kita akan membuat anak ?" tanya Laila dengan polosnya.
"Sayang salah satu tujuan pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan. Jadi ya kita pasti akan melakukannya." jawab Fauzi sambil membelai rambut sang istri.
"Tapi Laila takut, Laila juga belum bisa melakukannya." ucap Laila dengan jujur.
"Kakak yang akan mengajari Laila untuk banyak hal, termasuk untuk urusan ranjang." jawab Fauzi sambil tersenyum melihat betapa polosnya istri kecilnya itu.
"Urusan ranjang ?" tanya Laila lagi dengan bingung.
"Nanti malam kakak jelaskan setelah Laila makan malam dan belajar. Kakak ingin Laila lulus lebih cepat dari waktu umum untuk anak SMA lulus." jawab Fauzi sambil mencium kening sang istri.
Meskipun masih bingung, namun Laila hanya mengiyakan apa yang dikatakan oleh suaminya. Setelah beberapa lama mereka berdua turun ke bawah untuk makan malam bersama.
Di ruang makan itu semua orang makan bersama dalam satu meja, Fauzi tidak pernah membedakan antara pelayanan, anak buah atau ia sendiri.
"Sayang tidak apa-apakan jika kita makan bersama dengan mereka ?" tanya Fauzi saat mereka telah berkumpul.
"Iya kak Laila sangat suka, jadi kita bisa makan bersama setiap hari tanpa harus menunggu acara buka bersama saat puasa." jawab Laila dengan tersenyum manis.
"Dimana yang lainnya ?" tanya Fauzi saat melihat ada bangku yang masih kosong.
"Saya hanya waspada tuan, saya tidak ingin ada penyusup yang berhasil masuk di saat kita makan bersama, karena saat ini ada nona yang perlu kita jaga."
"Jadi saya mengatur beberapa orang agar tetap berjaga di saat v kita makan, dan mereka akan makan setelah ada yang menggantikan." jelas Rian.
"Ok ! aku suka cara kerjamu. Tapi harus kamu pastikan bahwa tidak ada yang tidak makan karena sibuk bekerja." ucap Fauzi.
"Baik tuan, saya akan selalu memperhatikan kesehatan dan kebaikan semua orang kita." jawab Rian.
Kemudian mereka memulai makan malam mereka, dan hal ini merupakan pengalaman pertama bagi Laila, makan bersama dengan orang-orang yang berbeda status namun tidak mereka tampakkan status itu. Semuanya terlihat sama.
__ADS_1