
Anis menatap wajah tuan Ikhsan dengan seribu tanda tanya. Ia masih belum paham dengan apa yang dikatakannya.
"Ayah bisakah ayah menjelaskan semuanya dengan jujur ? apapun itu akan Anis terima dengan lapang dada. Anis berjanji tidak akan pernah membenci ayah." ucap Anis.
"Sebenarnya dia adalah ibu kandungmu, ia adalah teman ayah sewaktu di SMA. Ayah jatuh cinta kepada ibu dari kelas 1, tetapi ibumu tidak pernah mencintai ayah."
"Setelah kami lulus SMA, ayah tidak pernah bertemu dengannya selama bertahun-tahun. Ayah akhirnya memutuskan untuk menikah dengan ibu kandung Rafik."
"Tetapi ia meninggal saat Rafik masih kecil, Rafik dibesarkan oleh pelayan yang ada di rumah kami. Tetapi sejak kejadian dimana Sudrajat meningal, aku bertemu kembali dengan ibumu."
"Sementara ibu telah menikah dan mempunyai seorang bayi perempuan yang cantik, bayi itu adalah kamu nak. Karena keegoisan ayah, ayah telah membunuh ayah kandungmu yang seorang Dosen di yayasan milik Sudrajat."
"Ayah yang awalnya hanya menginginkan harta, berubah pikiran menginginkan ibumu nak." jelas tuan Ikhsan.
Tuan Ikhsan menceritakan semuanya tentang siapa Anis sebenarnya. Dengan jujur beliau mengatakan semua kejahatan yang ia lakukan, baik terhadap ayah kandung Anis dan juga yang lainnya.
Dengan berurai air mata, tuan Ikhsan meminta maaf kepada Anis dan juga ibunya, yang saat ini sedang depresi. Selain beliau kehilangan suaminya, beliau juga harus menjalani kehidupan layaknya suami istri dengan tuan Ikhsan demi keselamatan Anis.
Selama bertahun-tahun, ia bertahan demi sang putri, tetapi ketika ia mengetahui perbuatan Rafik terhadap Anis, dan ia harus kembali kehilangan Anis, seorang putri yang mampu membuatnya bertahan selama ini, beliau akhirnya kalah dengan keadaan.
Sejak beliau kehilangan Anis, sejak saat itu juga beliau kehilangan semangat hidupnya, setiap hari ia duduk di atas kursi roda dengan tatapan mata yang kosong, seakan ia kehilangan jiwanya.
Perlahan Rafik datang menghampiri Anis dan juga ibunya, Rafik bersujud di hadapan keduanya.
"Ibu, meskipun saya tidak tahu apakah ibu mengerti apa yang saya katakan, tetapi didepan semua orang saya meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan terhadap Anis."
"Selama ini, saya sangat mencintai Anis layaknya seorang pria yang mencintai seorang wanita, bukan cinta seseorang saudara."
"Saya dengan sadar mengakui semua kesalahan saya dan dengan tulus meminta maaf kepada ibu dan juga Anis."
"Disaksikan oleh semua orang yang ada di sini, ijinlah saya bertanggung jawab atas segala perbuatan saya dimasa lalu terhadap Anis, saya ingin menjadikan Anis istri sah saya."
__ADS_1
"Anis bersediakah kau menjadi istriku ? bersediakah kau mendampingiku mengarungi bahtera kehidupan ini ? bersediakah kau menggapai keridhoan-Nya bersamaku ? bersediakah kau melengkapi separuh agamaku ?" ucap Rafik dengan tulus.
Anis terpaku menatap Rafik. Ia tidak pernah menyangka bahwa Rafik akan melakukan hal itu, bahkan ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan dilamar oleh pria yang selama ini ia anggap sebagai saudara lelakinya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa Rafik yang telah menodai dan membuatnya sengsara selama ini, ingin bertanggung jawab atas semua perbuatannya dengan cara melamarnya.
Sementara sang ibu, yang selama ini hanya diam dan mematung, tiba-tiba mengedipkan matanya dan mulai menggerakkan jarinya.
Laila yang menyadari hal itu, dengan lembut membelai rambut dan juga menggenggam tangannya. Dengan lembut, Laila memeluk tubuh wanita yang pernah menganggap ia sebagai anaknya.
"Ibu apakah ibu bisa mendengar ku ?" ucap Laila dengan lembut.
"Anis anakku." ucap Wanita itu sambil memeluk erat tubuh Laila. Ia kemudian menangis pilu dalam pelukan Laila.
"Ibu menangis lah agar semua beban yang ada di hati ibu bisa berkurang." ucap Laila.
Sementara Anis semakin terpaku, ketika melihat reaksi sang ibu. Ia merasa perih saat sang ibu menyebut namanya dengan berurai air mata.
"Ibu, apakah ibu baik-baik saja ?" tanya Laila.
"Iya nak, ibu baik-baik saja. Disaat ibu melihatmu dan berada di sisimu ibu merasa bersama putri ibu." jawab wanita itu.
"Ibu apakah ibu merindukan kak Anis ?" tanya Laila lagi.
Perempuan itu mengangguk dan kembali menangis pilu. Perlahan Anis datang menghampirinya.
"Ibu, Anis juga sangat merindukan ibu." ucap Anis sambil memeluk tubuh ibunya.
Seorang ibu yang sangat ia rindukan selama ini, yang ternyata adalah ibu kandungnya sendiri.
"Anis, benarkah kau itu nak ?" ucap sang ibu sambil meraba wajah Anis.
__ADS_1
"Iya ibu, Anis kembali di hadapan ibu. Maafkan Anis karena telah meninggalkan ibu selama ini." ucap Anis kemudian ia kembali memeluk tubuh sang ibu.
Keduanya saling berpelukan dan menangis, menumpahkan segala kerinduan dan semua perasaan yang bercampur menjadi satu.
Tuan Ikhsan berjalan mendekati mereka, namun dengan sekuat tenaga, wanita yang telah itu berusaha melindungi putrinya, hingga menyebabkan ia terjatuh dari kursi rodanya.
"Ibu !" teriak Anis.
Rafik dan juga Fauzi yang melihat kejadian itu, dengan sigap mendekati dan segera membawanya pergi ke Rumah Sakit agar segera mendapatkan pertolongan.
Sementara Anis dengan cepat mengejarnya dan ikut serta bersama mereka. Sementara tuan Ikhsan duduk di lantai dengan lemas.
"Om, om yang sabar ya. Saat ini ibu sedang tidak stabil, beliau baru saja berjuang untuk bisa berbicara dan menggerakkan tubuhnya."
"Nanti jika semua sudah baik, beliau pasti mau berbicara dengan om dan menyelesaikan masalah di antara om dan ibu." ucap Laila.
"Kau benar nak, semua ini pantas om terima. Tolong sampaikan maaf om." ucap tuan Ikhsan dengan pelan.
"Om jangan khawatir, kita doakan saja semoga semuanya baik-baik saja." ucap Laila.
"Sekarang lebih baik om istirahat terlebih dahulu, om harus menjaga kesehatan agar bisa menyaksikan putra putri om menikah." ucap Laila lagi.
"Terimakasih nak, kau sungguh berhati mulia, meskipun banyak kesalahan yang pernah om lakukan tetapi kau masih bersikap baik terhadap om."
"Maafkan semua kesalahan yang pernah om lakukan. Dan om mohon tolong jaga orang-orang yang om sayangi." ucap Tian Iksan dengan tulus.
Kemudian tuan Ikhsan bangkit dan berjalan meninggalkan Laila dan juga yang lainnya. Ia kembali ke ruangannya.
Sementara tuan Aditya dan Hana ikut meneteskan air mata melihat semua kejadian yang ada di hadapan mereka.
"Nak, saya juga ingin meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah saya lakukan terhadap seluruh keluarga mu."
__ADS_1
"Karena keserakahan akan harta, membuat saya menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya." ucap tuan Aditya dengan tulus sambil mendekati Laila yang berdiri tak jauh dari tempat dimana ia dan Hana berada.