Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 80. Pesta pernikahan


__ADS_3

Setiap yang ada di dunia ini diciptakan secara berpasang-pasangan, seperti siang dan malam, kaya dan miskin, lelaki dan perempuan. Suka dan duka.


Begitu pula dengan perjalan hidup seseorang ada kesedihan dan kesengsaraan ada pula kebahagian dengan wangi bunga.


hal itu juga yang di lalui oleh Laila, dulu ia sangat sengsara tatkala ia harus tinggal bersama pamannya. Kini tinggal kebahagiaan yang ia raih. Orang-orang yang dahulu membencinya kini menyayanginya seperti saudara sendiri.


Kini Laila dipuja bagaikan seorang Ratu. Ia telah membuktikan kepada semua orang bahwa ia layak disebut sebagai seorang ratu bukan sebagai seorang selir kecil seperti yang disematkan oleh Hana kepadanya.


Saat ini ia tengah mempersiapkan resepsi pernikahannya dengan Fauzi, di saat teman-teman seusianya masih duduk di bangku SMA, kini ia telah resmi menjadi alumni SMA, ia lulus dengan nilai yang terbaik.


Laila dengan sangat bangga menunjukkan nilai hasil ujiannya kepada sang suami.


"Kak lihatlah aku sekarang sudah lulus sekolah dengan nilai yang terbaik." ucap Laila.


"Sini Kaka lihat !" jawab Fauzi.


Fauzi meraih hasil ujian Laila, ia tersenyum senang setelah melihat hasilnya. Gadis kecil yang ia nikahi itu lulus lebih cepat dari pada yang lainnya dengan nilai yang terbaik.


Kini ia bisa mengumumkan pernikahannya secara resmi meskipun sang istri masih berusia sangat belia. Tetapi ia tidak lagi terhalang oleh ketetapan pemerintahan yang melarang anak SMA menikah sambil bersekolah.


"Sayang kalau begitu mari kita persiapkan resepsi pernikahan kita." ucap Fauzi sambil meraih tangan Laila.


"Memangnya apa lagi yang harus kita persiapkan kak ? bukankah semuanya sudah tinggal menyelesaikan saja dan itupun sudah dikerjakan oleh masing-masing orang yang kakak tugaskan." ucap Laila


"Setidaknya kita persiapkan baik mental dan fisik kita, agar saat hari H tiba kita dalam keadaan yang sehat dan tanpa kekurangan apapun." jawab Fauzi.

__ADS_1


Fauzi langsung membawa Laila pergi, meninggalkan Yayasan pendidikan tempat mereka menuntut ilmu dan bertemu sehingga mereka dipersatukan dalam ikatan yang suci.


Fauzi mengajak istrinya untuk pulang dan beristirahat, ia tidak ingin istrinya kecapean sehingga bisa menggangu kesehatannya.


Sementara ia menyiapkan sebuah pesta pernikahan yang akan selalu dikenang oleh semua orang, ia ingin menyelenggarakan pesta pernikahan semeriah mungkin untuk membahagiakan wanita yang sangat ia cintai yaitu Laila.


Ia mengundang beberapa media dan juga mengundang anak-anak yatim dan orang miskin. Ia ingin seluruh orang ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan.


Tugas untuk masalah konsumsi ia bebankan kepada Hana dan juga Bima, ia meminta mereka untuk memastikan bahwa semua yang datang baik kaya ataupun miskin, dari anak-anak hingga orang tua agar terjamin khususnya masalah makanan.


Fauzi menggelar acara pernikahannya sangat berbeda dengan yang lainnya. Ia tidak melakukan acara tersebut di sebuah gedung mewah tetapi ia menggelar acara itu disebuah lapangan agar siapapun yang datang bisa tertampung.


Hal itu ia lakukan agar semua orang yang ada di sekeliling mereka ikut merasakan kebahagiaan mereka dengan cara bisa ikut menikmati hidangan pesta pernikahan mereka.


Setelah beberapa hari persiapan yang mereka lakukan, tibalah hari yang mereka tunggu-tunggu. Acara pesta pernikahan mereka dilaksanakan dengan sangat meriah, semua orang yang hadir ikut merasakan kebahagiaan.


Kerena biasa para orang-orang kaya akan melaksanakan acara resepsi pernikahannya di sebuah gedung mewah dan para tamu hanya mereka yang mempunyai undangan yang bisa masuk kedalam acara tersebut.


Tetapi lain dengan acara yang diselenggarakan oleh Fauzi dan juga Laila, semua orang diperkenankan datang untuk ikut menikmati hidangan pernikahan yang sengaja dipersiapkan untuk mereka semua yang hadir.


Bukan hanya ratusan bahkan ribuan orang datang ke acara pernikahan tersebut, seluruh anak buah Fauzi dan juga dari keluarga Aditama di kerahkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban acara tersebut.


Bagaikan seorang Raja dan juga Ratu, Fauzi dan juga Laila menyapa mereka semua yang hadir dalam acara pernikahan tersebut dari atas podium yang dibuat khusus untuk mereka. Sedangkan mereka yang hadir bisa melihat mereka melalui Videotron.


Acara tersebut terlihat sangat meriah sekali. Tuan Aditama dan juga sang istri meneteskan air mata kebahagiaan, saat melihat Putri mereka duduk di pelaminan dan dapat dilihat dari jarak yang sangat jauh dengan adanya Videotron.

__ADS_1


Putri mereka bagaikan seorang ratu yang disambut oleh seluruh rakyatnya. Putri yang selama ini seperti anak kecil kini tumbuh dewasa dan menjadi kebanggaan seluruh orang yang mengenalnya.


Sementara Hana, melihat Fauzi yang berada di samping Laila. Ia menghapus air matanya. Ia menegaskan ke dalam lubuk hati yang paling dalam bahwa ia ikhlas melepaskan Fauzi , orang yang paling ia cintai sejak kecil.


Hana tersenyum sambil menatap kebahagiaan yang terpancar dari wajah Fauzi.


"Sejak aku mengenalmu, baru hari ini aku melihat kau begitu bahagia. Ternyata kebahagiaan mu bukanlah aku tetapi Laila. Dan kau benar Laila bukanlah selir kecil mu, hari ini kau buktikan kepada seluruh dunia bahwa Laila adalah Ratu dalam hidup mu."


"Semoga kau bahagia untuk selamanya. Aku turut berbahagia untukmu. Dan terimakasih untuk semua pengalaman yang telah kau berikan untuk ku." batin Hana sambil tersenyum melihat kebahagiaan Fauzi.


"Apakah kau terluka saat melihat lelaki yang selama ini kau cintai bersanding dengan wanita lain ?" tanya Bima yang sudah berada di samping Hana sejak tadi.


"Jika aku mengetahui hal ini sejak awal, mungkin saat itu aku terluka dan sangat kecewa, tetapi setelah lama aku hidup jauh dari kehidupan ku yang lama, aku tidak seperti itu."


"Aku sudah berubah Bima, aku bukanlah Hana yang dulu. Aku sudah mengikhlaskan Fauzi untuk wanita lain sejak aku memutuskan untuk pergi dan menjalani kehidupan ku yang sesungguhnya."


"Fauzi berhak bahagia dengan cintanya. Ia berhak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan." jawab Hana dengan tulus.


"Aku salut dengan mu Hana, kau sangat berbeda dengan yang dulu. Kedewasaan mu semakin menambah kecantikan mu." ucap Bima sambil tersenyum melihat Hana yang jauh lebih dewasa dari Hana yang pernah ia kenal.


"Bima sebenarnya aku dewasa selama ini, hanya saja sejak kecil kau dan juga Fauzi yang selalu ada di sampingku membuat aku menjadi manja karena kasih sayang kalian." jawab Hana dengan tersenyum menatap Bima sahabatnya sejak kecil dulu.


Keduanya saling bertatapan dan saling menjelajahi setiap relung hati mereka dari tatapan matanya yang membuat mereka melupakan kemeriahan pesta pernikahan Fauzi dan juga Laila.


*****

__ADS_1


Untuk pembaca yang setia jangan lupa mampir di novel terbaru saya " 29 Hari " yang menceritakan kisah bullying di sebuah Sekolah SMA.


__ADS_2