Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 81. Happy Ending


__ADS_3

Setiap manusia tidak pernah tahu siapa yang menjadi jodohnya, terkadang seseorang yang kita anggap sebagai kekasih kita ternyata bukanlah jodoh kita, tetapi sebaliknya orang yang kita anggap sebagai seorang teman dialah jodoh yang Tuhan siapkan untuk kita.


Begitu juga dengan Hana dan juga Bima, setelah meyakinkan hati mereka akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan dalam ikatan yang suci seperti yang disyariatkan dalam agama.


Keduanya menggelar acara akad dengan kesederhanaan. Berbanding terbalik dengan pernikahan Fauzi dan Laila yang digelar dengan kemeriahan dan kemewahan.


Ketika Fauzi dan juga Laila menawarkan pesta yang meriah Hana menolaknya. Ia ingin pernikahannya dilaksanakan secara sederhana.


Ia ingin hidup dengan kesederhanaan, sebagai mana keadaannya yang sekarang ini. Namun meski acara itu digelar secara sederhana seluruh mahasiswa tempat Hana dan Bima menuntut ilmu datang untuk menyaksikan acara akan nikah keduanya.


"Kak Hana selamat ya, semoga menjadi keluarga yang bahagia untuk selamanya. Dan terimalah hadiah dari kami." ucap Laila sambil memberikan sebuah amplop kepada Hana.


"Apa ini ?" tanya Hana sambil menerima amplop dari Laila.


"Buka saja, kalau kak Hana penasaran !" jawab Laila sambil menggandeng tangan Fauzi.


Hana segera membuka amplop yang ada di tangannya. Perlahan ia baca tulisan yang ada di paling atas.


"Tiket Bukan madu." ucap Hana.


"Kau benar Hana, Laila ingin kita melakukan perjalan bulan madu bersama. Kita akan memulai kehidupan yang baru dan kita akan memulainya dengan kebersamaan dan persaudaraan." jawab Fauzi.


"Kita ?" tanya Hana.


"Tentu saja kita Hana siapa lagi !" jawab Rafik yang juga ikut perbincangan mereka.


"Kalian ?" tanya Hana lagi.


"Tentu ! aku dan juga Anis istriku akan ikut bersama dengan kalian. Tiga pasang tiket untuk kita telah dibayar oleh Fauzi si pengusaha Muda yang sukses itu." jawab Rafik.


"Tunggu, tunggu dulu ! coba ulangi lagi biar aku tidak ketinggalan informasi." ucap Bima yang ikut penasaran.

__ADS_1


"Jadi begini, Fauzi dan Laila akan berbulan madu ke Pulau Bali, dan mereka juga memesankan paket bulan madu untuk kita." jelas Rafik lagi.


"Jadi kau juga mendapatkan hadiah pernikahan yang sama ?" tanya Hana lagi.


"Tentu saja, kalian adalah sahabat kami." jawab Fauzi dan juga Laila dengan kompak.


Mereka akhirnya tertawa bersama , dan berbincang-bincang saling menceritakan masa kecil mereka masing-masing.


Setelah acara itu selesai, mereka bersiap untuk pergi berbulan madu bersama. Tiga pasang pengantin itu melakukan perjalan bulan madu di pulau Bali.


Kebahagiaan yang mereka rasakan, telah mengubur masa lalu yang kelam. Dimana ada permusuhan, dendam dan kebencian. Kini berubah menjadi sebuah kekeluargaan yang penuh dengan cinta.


Begitulah kehidupan, jika kita bisa menerima semua skenario yang Tuhan ciptakan untuk kita, maka hidup kita akan jauh lebih indah. Karena kita menjalani kehidupan ini dengan penuh rasa syukur.


Kehidupan yang mereka bangun sekarang, jauh dari kata dendam dan permusuhan. Membuat tuan Aditama dan tuan Ikhsan yang awalnya sempat berteman namun akhirnya bermusuhan kini kembali menjalin persahabatan yang sempat terputus.


Selaku orang tua, mereka belajar dan berusaha untuk menjadi teladan bagi anak dan cucu mereka.


Meskipun Laila melanjutkan pendidikan di sebuah Universitas ia tetap bisa menjaga bayi yang ada dalam kandungannya. Sedangkan Fauzi dia semakin posesif terhadap Laila.


Ia tidak ingin terjadi sesuatu hal kepada calon penerusnya. Sementara usaha yang ia bangun semakin berkembang dengan pesat. Namanya semakin dikenal oleh para pengusaha baik di dalam negeri maupun dalam negeri.


Sedangkan Yayasan Pendidikan ia berikan kepada Bima dan juga Hana. Sementara Rafik dan juga Anis melanjutkan usaha keluarganya, dan Anis melanjutkan Pendidikan untuk menjadi seorang Dosen agar bisa melanjutkan cita-cita kedua orang tuanya.


Kehidupan mereka sekarang jauh lebih baik daripada Sebelumnya. Mereka menjalani kehidupan mereka dengan penuh suka cita.


Hari berganti Minggu, dan Minggu berganti bulan hingga saat yang di tunggu-tunggu oleh Fauzi dan Laila tiba. Dimana sang buah hati terlahir ke dunia ini.


Putri Cantik yang dilahirkan oleh Laila menambah kesempurnaan untuk kebahagiaan keluarga kecil mereka.


"Sayang, terimakasih telah memberikan kakak seorang putri yang cantik, kau telah membuktikan kepada seluruh dunia bahwa kakak adalah lelaki yang sesungguhnya." ucap Fauzi setelah mengumandangkan adzan untuk sang putri.

__ADS_1


Laila tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah sang suami. Semua rasa sakit yang ia rasakan terbayar dengan kebahagiaan keluarga kecilnya.


"Kak semoga kita bisa menjadi orang tua yang paling beruntung, karena Putri kita adalah aset paling berharga dalam kehidupan kita." ucap Laila.


"Apakah kakak tidak menyesal karena Laila melahirkan seorang Putri bukan seorang Putra ?" tanya Laila lagi.


Lalu Fauzi tersenyum, sambil membelai pipi istrinya. Kemudian ia berkata dengan tersenyum.


"Sayang, betapa beruntungnya kita dikaruniai seorang anak perempuan. Disaat ia masih kecil, ia kan membukakan pintu surga bagi kedua orang tuanya."


"Disaat ia telah menikah ia yang akan menyempurnakan agama suaminya dan kelak ketika ia menjadi seorang ibu, Surga berada di telapak kakinya." jelas Fauzi.


Lalu keduanya memeluk sang buah hati dengan penuh dengan cinta dan kasih sayang. Karena kelahiran sang buah hati membuat ikatan cinta yang mereka jalin semakin erat ikatannya.


Begitu juga dengan seluruh keluarga dan semua orang yang tinggal di rumah mereka berdua, ikut merasakan kebahagiaan karena kedua orang yang sangat mereka hormati dan juga mereka sayangi telah memiliki seorang putri.


Begitu juga Tuan Aditama dan sang istri rela meninggalkan kediamannya dan ikut tinggal di rumah anaknya demi bisa menemani sang cucu untuk menjalani hari-hari, dimana sang ibu masih harus menyelesaikan pendidikannya.


Tak jauh berbeda dengan Bima dan juga Hana mereka dikaruniai seorang Putra untuk menjadi penerus keluarga mereka. Bima dan juga Hana berharap anak merekalah yang akan membangun dan membesarkan Yayasan Pendidikan yang di diamanatkan oleh Fauzi dan juga Laila.


Meskipun kini mereka tengah sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kedua keluarga kecil itu tetap saling menjaga tali silaturahmi. begitu juga dengan Anis dan juga Rafik yang memiliki anak kembar.


Mereka mengenalkan anak-anak mereka sebagai keluarga besar bukan sebagai orang lain. Alangkah indahnya kehidupan mereka yang berhiaskan persaudaraan dalam naungan kasih sayang.


Sementara tuan Aditama dan juga tuan Ikhsan, selalu mengunjungi makam sahabatnya tuan Aditya dan juga tuan Sudrajat. Mereka ingin anak dan seluruh keturunannya mengenang mereka sebagai keluarga mereka yang juga berhak mendapatkan do,a di setiap sujud mereka.


***


Terimakasih untuk semua pembaca yang setia. Seluruh tulisan dalam novel ini adalah murni pemikiran penulis, mohon maaf jika ada kata dan penulisan yang salah.


Dan terus dukung karya penulis dalam novel selanjutnya yang berjudul " 29 Hari ".

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2