
Setiap orang berhak untuk bahagia. Sedangkan bahagia atau tidak yang ia jalani dalam kehidupannya, adalah pilihan dalam setiap orang untuk menjalani kehidupan ini.
Begitu juga dengan Laila dan Fauzi, ia memilih untuk menjalani kehidupan yang bahagia tanpa ada perebutan harta, permusuhan yang di turunkan secara turun temurun., kebencian, keserakahan dan berhiaskan fitnah, pembunuhan dan dosa lainnya.
Mereka memutuskan, untuk mengakhiri semuanya kebobrokan generasi yang berada di atas mereka. Mereka merelakan sebagian harta yang seharusnya menjadi milik mereka namun terhalang oleh ketamakan akan harta dunia.
Mereka memilih untuk berdamai, menghiasi kehidupannya dengan penuh kasih sayang dan persaudaraan yang dibangun di atas keridhoan Allah.
Dengan keyakinan dan tekan yang kuat, mereka mengunjungi tuan Aditya dan juga tuan Ikhsan. Mereka berniat untuk menjalin persaudaraan bukan permusuhan yang selam ini memisahkan antara anak dan orang tua, antara kaya dan juga si miskin.
Dengan senyuman yang menghiasi wajah keduanya, mereka duduk di ruangan khusus untuk menjenguk kedua orang tua yang juga sahabat orang tua mereka.
setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tuan Aditya datang dengan dikawal oleh seorang Polisi.
"Bagaimana kabarnya om ? maaf baru bisa menjenguk om kesini." ucap Fauzi dengan sangat sopan.
"Untuk apa kau datang kesini ? apakah kau sengaja datang untuk mengejek aku ?" tanya tuan Aditya dengan kemarahan yang tergambar jelas di wajahnya yang terlihat sangat kacau.
"Bukan seperti itu om, kami datang dengan niat yang baik, tidak seperti yang om pikirkan." jawab Fauzi dengan sopan.
"Kau memang munafik, di hadapanku dan juga putriku kau bersikap seolah-olah kau adalah lelaki yang baik, tetapi ketika berada dibelakang kami, kau tampakkan wajah aslimu."
"Jadi untuk apa kau berbasa-basi di hadapanku, aku sudah mengetahui semua kebusukan mu." ucap tuan Aditya.
"Om, janganlah berburuk sangka, kami tidak seperti yang om pikirkan. Kami datang kesini dengan tujuan yang baik." ucap Laila.
"Kau siapa ? Dan mengapa kau ikut datang ke sini ?" tanya tuan Aditya sambil menatap wajah Laila.
"Apakah kau anak angkat Ikhsan ? yang menjadi saingan Hana putriku ?" tanya tuan Aditya lagi.
"Bukan om, saya Laila putri kandung tuan Aditama." jawab Laila dengan sangat jelas.
__ADS_1
"Bagaiman bisa kau berada disini ? Dan mengapa kau datang bersama dengan dia ?" tanya tuan Aditya sambil menatap Fauzi dengan pandangan yang sangat mengerikan.
"Saya berada disini karena saya adalah salah satu siswa di yayasan yang om kelola. Saya bersama dengan kak Fauzi karena dia adalah suami saya."
"Tapi apa yang membuat om, mengatakan bahwa saya adalah putri angkat tuan Ikhsan yang merupakan saingan kak Hana ?" tanya Laila.
"Bagaiman mungkin kau istri Fauzi, mengapa aku tidak pernah mengetahuinya ?" tanya tuan Aditya.
"Karena kami belum mengumumkan pernikahan kami.Tapi mengapa om tidak menjawab pertanyaan saya om ?" tanya Laila.
"Apa maksudmu ?" tanya tuan Aditya.
"Saya hanya ingin tau mengapa ada seseorang yang memiliki wajah sangat mirip dengan saya, sementara ia bukan saudara saya. Apakah om mempunyai jawabannya ?" tanya Laila dengan wajah polosnya.
Sedangkan tuan Aditya hanya membuang muka kearah lain, tanpa menjawab pertanyaan dari gadis cantik yang ada dihadapannya.
"Karena om dan teman om mempunyai sebuah resep untuk merubah wajah seseorang, padahal resep tersebut masih dalam penelitian dan belum selesai penelitiannya." ucap Laila.
"Saya mengetahui semuanya om, karena saya yang berbicara pada malam itu, dan memutar semua video yang terjadi di masa lalu."
"Saya adalah seorang gadis yang dengan berani menyabotase acara Kampus pada malam itu. Dan bukankah om ingin bertemu dengan saya ?" tanya Laila.
"Kau ! bagaimana bisa kau mengetahui semuanya ! sedangkan aku dan juga ayahmu mencari bukti - bukti kejadian masa itu?"
"Bahkan Fauzi sendiri tidak mengetahui semuanya, meskipun ia tinggal bertahun-tahun di rumahku ." ucap Tuan Aditya.
"Sederhana sekali om, hal itu karena om sudah merancang wajah yang mirip dengan saya, padahal saya belum lahir. Bahkan belum direncanakan kelahirannya oleh ayah saya."
"Sehingga yang menciptakan wajah saya, menunjukkan jalan bagi saya untuk mengungkapkan semua fakta sebenarnya yang terjadi." jelas Laila.
Tuan Aditya hanya diam membisu, tanpa berkata sepatah katapun. Ia menundukkan kepalanya dan enggan untuk menatap wajah Fauzi dan juga Laila.
__ADS_1
"Om saya mengetahui semuanya, karena saya berhasil menemukan kunci dari semua masalah itu om, tetapi saya hanya ingin mendengarkan semuanya dari om sendiri. Apa alsan om melakukan semua itu om ?"
"Bahkan om melupakan perasaan orang -orang terdekat om, bahkan keluarga om sendiri. Sebenarnya apa tujuan om mencari harta jika semuanya itu hanya menyengsarakan orang -orang yang menyayangi om dengan tulus bahkan om kehilangan mereka semua." ucap Laila.
Tuan Aditya hanya diam mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Laila. Ia tidak bisa menyangkalnya.
"Om kami datang kesini bukan untuk mencari musuh, kami datang kesini dengan niat yang baik, kami datang kesini karena kami menyayangi om."
"Kami datang ke sini, bukan hanya berdua saja, tetapi kami datang ke sini bersama Kak Hana, Kak Rafik dan juga Kak Anis."
"Kami ingin memperbaiki semuanya, kami ingin hidup dengan tenang dan bahagia. Kami ingin hal itu juga terjadi dengan kalian sebagai generasi di atas kami."
"Agar anak cucu kami nanti akan bangga saat mengenang kalian semua. Kami datang dengan harapan yang besar untuk kita semua." ucap Laila dengan santun.
Tuan Aditya perlahan mengangkat wajahnya, disaat ia mendengar langkah kaki yang mendekatinya.
Terlihat Hana yang tersenyum menatap wajah sang ayah, perlahan Hana datang dan memeluk sang ayah.
"Ayah, Hana sangat menyayangi ayah. Apapun dan bagaimanapun keadaan ayah, Hana tetap menyayangi ayah." bisik Hana sambil menahan tangisnya.
Sedangkan Laila dan juga Fauzi, merasa terharu saat melihat tuan Aditya membalas pelukan Hana, putri yang selama ini ia abaikan.
Terlihat sebuah penyesalan di wajah tuanya, ia telah menyesali semua yang telah ia lakukan.
"Maafkan ayah nak, maafkan ayah." ucap tuan Aditya dengan terisak.
"Ayah yang lalu biarlah berlalu, mari kita perbaiki semuanya dari awal lagi." ucap Hana.
"Tapi bagaimana kau akan menjalani kehidupan mu nak ?" tanya tuan Aditya lagi.
"Ayah jangan khawatir, Fauzi dan juga Laila tidak pernah mengambil apa yang selama ini kita miliki. Aku bisa menjalani kehidupan seperti biasanya, hanya saja tanpa kehadiran ayah di sisi Hana." jelas Hana sambil berusaha tegar di hadapan Ayahnya.
__ADS_1
Sementara Anis dan juga Rafik hanya bisa memandang ke arah Lain, berharap tuan Ihsan muncul di hadapan mereka.