Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 70. Pamit Anis


__ADS_3

Setelah mengungkapkan semuanya, Fauzi segera menghubungi Dokter agar Hana mendapatkan perawatan dan segera dipindahkan di ruang rawat.


Setelah memastikan keadaan Hana, Fauzi dan juga Bima berpamitan. Tinggal Rafik dan Pelayan itu yang masih setia menemani Hana.


Fauzi dan juga Bima kembali ke Kampus, dan beraktivitas seperti biasa. Namun alangkah terkejutnya mereka saat melihat apa yang sedang di perbincangkan oleh para mahasiswa dan mahasiswi di kampus.


Kabar Hana yang ingin mengakhiri hidupnya karena Fauzi lebih memilih selir kecilnya dari pada Hana yang sudah menjadi tunangan Fauzi sejak awal.


Dengan cepat Fauzi mengambil pengeras suara, ia mengatakan di depan umum bahwa kejadian yang menimpa Hana bukan karena Fauzi atau oleh Laila.


"Untuk kalian semua, kejadian yang menimpa Hana tidak ada hubungannya dengan Laila ataupun aku."


"Bahkan saya yakin kalian juga pasti tau apa penyebabnya. Terlebih lagi bagi kalian yang mengaku sebagai sahabat Hana."


"Kalian pasti tau semuanya, bahkan bagaimana kondisi Hana saat ini. Kalian semua sahabat Hana pasti mengetahuinya." ucap Fauzi dengan lantang.


Semua orang yang sedang berbincang itu langsung terdiam dan menunduk kepalanya.


"Untuk kalian semua, ingatlah satu hal ! jangan pernah menilai dan mengatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengetahui dengan pasti, jangan sampai hal itu menjadi bumerang untuk kalian." ucap Fauzi kemudian ia pergi menuju kelas Laila.


Sementara Bima hanya duduk dan memperhatikan orang-orang yang tadi membicarakan Fauzi dan Hana.


"Sungguh miris, sekarang kebanyakan orang lebih suka mencari aib orang lain dari pada aib diri sendiri." ucap Bima sambil menggelengkan kepalanya.


Sementara Fauzi duduk di depan kelas sang istri, sambil membuka laptopnya. Ia mengecek laporan perusahaan yang dikirimkan melalui email.


Cukup lama Fauzi mengotak-atik laptopnya, setelah selesai ia melihat kearah kelas Laila. Ia terkejut saat melihat kelas tersebut telah terkunci.


"Dimana istriku ?" tanya Fauzi pelan.


"Di samping mu." jawab Laila yang sudah duduk di samping Fauzi sambil membuka buku pelajarannya.


"Sayang, maafkan kakak. Kakak tidak melihat kedatangan mu, kakak masih mengerjakan pekerjaan kakak, maaf." ucap Fauzi.


"Kenapa kakak minta maaf ?" tanya Laila.


"Karena kesibukan kakak, sehingga kakak tidak menyadari kehadiran mu sayang." jawab Fauzi.


"Seharusnya Laila yang meminta maaf, karena Laila egois sehingga Laila meminta kakak untuk menjemput Laila, padahal banyak hal yang harus kakak kerjakan. Terutama kakak harus mencari nafkah untuk Laila." ucap Laila sambil menutup buku pelajarannya.


"Baiklah mari kita pulang." ucap Fauzi sambil membereskan laptopnya dan juga buku Laila.


Kemudian mereka berjalan hendak pulang, namun langkah Fauzi terhenti.

__ADS_1


"Mengapa kakak berhenti apakah ada masalah ?" tanya Laila.


"Sayang apakah tadi banyak yang membicarakan tentang kita dan juga Hana ?" tanya Fauzi.


"Laila tidak tau kak. Memangnya ada apa ?" tanya Laila sambil menatap Fauzi dengan penasaran.


"Mari kita pulang saja, nanti kakak jelaskan saat sudah berada di rumah." jawab Fauzi.


"Baiklah." jawab Laila.


Kemudian mereka segera pulang, sepanjang perjalanan Laila bersenandung sambil tersenyum menatap Fauzi.


"Sayang apakah ada sesuatu yang membuat mu menjadi seperti ini ?" tanya Fauzi.


"Laila bahagia kak, sebentar lagi Laila akan lulus SMA, selama ini tidak terbayangkan oleh Laila. Bisa lulus secepat ini." jawab Laila.


"Itu artinya kita akan segera mengumumkan pernikahan kita." jawab Fauzi.


"Kakak benar, sebentar lagi tidak akan ada yang menyebut Laila sebagai selir kecil kakak." ucap Laila dengan polosnya.


"Iya sayang, sebenarnya selama ini kau bukan selir kakak melainkan istri kecil kakak." ucap Fauzi.


Laila tersenyum kemudian ia mencium pipi Fauzi.


"Tapi pipi yang satu lagi belum, jadi kurang seimbang." ucap Fauzi.


"Nanti kalau sudah sampai di rumah akan Laila berikan." jawab Laila sambil membenarkan posisi duduknya.


"Artinya nanti akan berbunga sebagai denda karena tertunda melakukannya." jawab Fauzi.


"Berbunga ? maksudnya bagaimana kak ?" tanya Laila dengan polosnya.


"Nanti saja kakak jelaskan, sekarang kakak ingin fokus mengemudi." jawab Fauzi sambil tersenyum menatap Laila.


"Mengapa harus menunggu sampai rumah ? dan apa hubungannya dengan mengemudikan mobil ?" tanya Laila dengan bingung.


"Karena jika disini maka akan terlihat oleh banyak orang dan kurang nyaman ?" jawab Fauzi.


"Dilihat banyak orang ? dan kurang nyaman ?" tanya Laila lagi.


"Karena mobil kita akan bergoyang sayang dan kita jadi kurang leluasa bergaya." jelas Fauzi.


"Mobil kita bergoyang ? dan kurang leluasa bergaya ?" tanya Laila lagi.

__ADS_1


"Kau memang istri kecilku." jawab Fauzi sambil tersenyum melihat expresi Laila.


Kemudian Fauzi melakukan mobilnya dengan lebih cepat, ia ingin segera sampai dan menjelaskan apa yang ia inginkan.


Setelah sampai Fauzi langsung mengendong istrinya dan segera membawanya masuk ke dalam kamar.


"Sayang mari kita mandi terlebih dahulu." ucap Fauzi.


"Kakak bilang kakak menjelaskan masalah yang tadi." jawab Laila yang masih penasaran.


"Iya sayang akan kakak jelaskan sambil mandi." jawab Fauzi sambil melepaskan pakaiannya dan juga pakaian sang istri.


Kemudian ia membawa istrinya masuk kedalam kamar mandi.


"Kakak coba jelaskan yang tadi!" ucap Laila.


"Sayang karena tadi kau telat memberikan ciuman mu di pipi kakak maka itu akan berbunga."


"Seharusnya kau hanya mencium kakak disini, tetapi sekarang berbunga jadi harus mencium di sini, disini, disini dan semuanya." jawab Fauzi yang langsung memberikan sentuhan cintanya.


Keduanya terbuai dengan keindahan dan kenikmatan yang mereka ciptakan, dengan sensasi yang luar biasa.


Setelah selesai, mereka membersihkan diri kemudian mereka berganti pakaian dan segera turun ke bawah untuk makam siang.


Mereka berdua makan siang berdua karena yang lainnya sudah selesai. Setelah selesai mereka berdua duduk santai di taman samping sambil memberi makan ikan-ikan hias mereka.


Sementara Anis yang melihat keduanya dalam keadaan yang sedang berbahagia, perlahan mendekati mereka.


"Laila Fauzi maaf jika aku mengganggu kalian." ucap Anis.


"Apakah ada yang ingin kau bicarakan ?" tanya Fauzi.


"Begini, sebenarnya aku ingin sekali berjumpa dengan orang tua kandung ku tetapi aku tidak tau siapa mereka dan dimana mereka."


"Tapi aku juga tidak bisa untuk berlama-lama tinggal disini. Untuk itu aku ingin berpamitan kepada kalian untuk segera meninggalkan rumah ini." jawab Anis.


"Meninggalkan rumah ini ? lalu dimana kau akan tinggal ? apakah kau akan kembali ke tempat mu yang lama ?" tanya Fauzi.


"Entahlah, tapi yang pasti aku harus pergi dan memulai kehidupan yang baru, perjalanan ku masih sangat panjang."


"Jika aku hanya berdiam diri di sini, aku tidak akan pernah tau kehidupan yang sebenarnya. Aku tidak akan mempunyai bekal untuk menjalani kehidupan ku dimasa yang akan datang." ucap Anis dengan serius.


Sementara Fauzi menatap ke arah sang istri, ia ingin istrinya terlibat dalam setiap keputusan yang ia buat.

__ADS_1


__ADS_2