Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 16. Terperangkap dalam kamar


__ADS_3

Setelah berbincang dan bercerita Rafik meninggalkan Laila di kamarnya, sementara Laila merenungi apa yang diceritakan oleh oleh Rafik.


" Ah ... terlepas benar atau tidaknya cerita kak Rafik, aku harus lebih waspada dan selalu berfikir positif saja. Semua orang yang aku kenal disini ... semuanya baru dan aku tidak bisa menilai sebelah pihak " batin Laila


" Ya Allah ... lindungilah Hamba dalam segala situasi dan kondisi " ucap Laila.


Kembali ia melangkah untuk memastikan pintu serta jendela kamarnya terkunci dengan benar, karena Laila juga baru mengenal keluarga Rafik dia pun harus tetap waspada.


Setelah malam semakin larut akhirnya Laila tertidur... Namun baru saja ia terlelap ia mendengar suara langkah kaki tepat di depan jendela kamarnya. Perlahan ia turun dari Ranjangnya dan mencoba mendekati jendela kamarnya, dengan perasaan yang tidak menentu ia menempelkan telinganya agar bisa mendengar lebih jelas suara yang ada didekat jendela.


" Jika waktunya tiba baru ... kita laksanakan sesuai dengan rencana ... " hanya itu kalimat yang bisa Laila dengar karena perlahan suara itu mulai menjauh meninggalkan tempat itu.


Perlahan Laila kembali duduk di ranjang, dan mulai mengatur nafasnya.


" Tenang Laila ... semuanya akan baik-baik saja " batin Laila


Kemudian ia mengirim pesan teks kepada pamannya agar besok pagi ia segera dijemput dari rumah Rafik karena ia merasa sangat tidak nyaman dan berpesan agar menggunakan alasan Lainnya supaya keluarga Rafik tidak tersinggung lalu ia mengirimkan lokasinya. Setelah itu ia perlahan merebahkan tubuhnya. Dan berdo,a agar hatinya terasa lebih tenang.


Setelah beberapa saat ia tertidur kembali.


Saat pagi mulai menjelang, Laila perlahan membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Tetapi tidak menemukan sesuatu yang janggal. Perlahan ia membuka ponselnya.


" La ... maaf paman belum bisa menjemput soalnya, saudara bibi ada yang kecelakaan jadi paman ke rumah sakit untuk menjaga beliau " pesan teks yang dikirimkan oleh pamannya


Huff ... Laila menghembuskan nafasnya dan perlahan turun menuju ke kamar mandi setelah selesai ia berniat untuk membuka pintu namun ternyata tidak bisa.


Ia mencoba beberapa kali dan hasilnya tetap sama pintu tersebut tidak bisa dibuka. Laila menggedor pintu agar ada orang yang menjawabnya namun tidak ada jawaban sedikitpun ... semua terasa sunyi.


" Kak Rafik ... tolong bukakan pintunya " teriak Laila dari dalam. Namun sudah berkali-kali Laila berteriak tidak ada jawaban dari siapapun. Laila mulai merasa panik dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


" Paman .... "

__ADS_1


" Ayah ... "


" Mama ... " teriak Laila dengan air mata


" Tolong Laila ... " ucap Laila sambil terus menggedor pintu kamar tersebut.


Namun ... tetap saja tidak ada yang menjawab. Laila akhirnya duduk sambil memeluk lututnya sambil menangis ketakutan. Setelah beberapa saat akhirnya ia berdiri dan mencoba menghubungi pamannya.


" Kenapa no paman tidak bisa dihubungi " batin Laila kemudian Laila mencoba menghubungi berkali-kali namun tetap saja tidak bisa kemudian ia mencoba menghubungi Fauzi namun tetap tidak bisa terhubung. Laila tidak putus asa dia mencoba semua nomor kontak yang ada di ponselnya namun tetap tidak bisa terhubung satupun.


Laila perlahan memperhatikan ponselnya, dan ingin membanting ponsel tersebut, namun ia mulai mengerti mengapa semua nomor kontak tidak bisa dihubungi.


" Sial ... kenapa tidak ada sinyal " ucap Laila


" Bukankah semalam masih bisa mengirim pesan teks ?" tanya Laila lagi


Laila akhirnya mengirimkan pesan teks ke beberapa nomor yang isinya meminta pertolongan ... karena dirinya terkurung di dalam kamar di rumah keluarga Rafik, Laila berharap agar ada salah satu pesan teks tersebut yang bisa dibaca oleh pemilik nomor tersebut, hanya itu harapan Laila satu-satunya.


Perlahan Laila membuka tasnya, mencari sesuatu untuk mengisi perutnya. Beruntung masih ada sebotol air mineral dan sebungkus roti yang ia beli sewaktu di rumah sakit saat ia pergi untuk mandi dan belum sempat ia makan dan Laila mulai makan untuk mengganjal perutnya.


Laila hanya bisa duduk di lantai dan menangis meratapi nasibnya.


" Ayah .... tolong Laila " ucap Laila sambil menangis


" Mama ... tolong Laila ... " ucapnya lagi.


Mungkin hanya kalimat itu yang bisa ia ucapkan Sambil menangis. Setelah lama ia menangis ia kemudian bangkit dan berbaring di kasur sambil meringkuk, tanpa terasa ia tertidur karena kelelahan.


Setelah beberapa saat akhirnya Laila terbangun dan ia melihat sekeliling namun tidak ada yang berubah, masih sama. Hanya dia yang ada diruang tersebut.


Perlahan ia bangkit dan duduk ditepi ranjang, kemudian ia memperhatikan foto yang ada di atas meja, kemudian ia perlahan melangkah menuju lemari pakaian dan mencoba untuk membukanya. Namun lemari tersebut terkunci rapat dan tidak bisa ia buka.

__ADS_1


Lalu ia berjalan ke kamar mandi ... lalu membersihkan wajahnya. Dan setelah selesai ia kembali duduk sambil merenung bagaimana caranya agar ia bisa keluar atau setidaknya ia bisa mengirimkan pesan kepada orang lain agar membantunya.


Laila meraba dan memeriksa semua tembok dan barang yang ada di sana sampai akhirnya ia merasa ada sinar yang terpancar dari mata sebuah boneka yang terletak di atas meja.


Perlahan Laila mengambil boneka tersebut kemudian ia memperhatikan dengan seksama.


" Apakah ini sebuah kamera ?" batin Laila


Kemudian ia mengambil boneka tersebut kemudian memeluknya dan pura-pura menangis ... tangannya kemudian perlahan-lahan meraba dan menarik mata boneka tersebut dan betapa terkejutnya ia.


" Ini adalah kamera ... " batinnya


artinya meskipun tidak ada yang masuk keruangan ini. Tetapi semua gerak geriknya diawasi oleh seseorang, yang entah punya tujuan apa terhadap dirinya.


perlahan Laila meletakkan kembali boneka tersebut dan melihat sekeliling untuk mencari apakah masih ada kamera yang terpasang di kamar tersebut.


" Untung aku tidak mandi ataupun melepaskan pakaian dan jilbabku " batin Laila


" Kak Rafik ... sebenarnya apa yang terjadi ? kenapa kakak begitu kejam memperlakukan Laila seperti ini ... " ucap Laila lirih dan tak terasa air matanya menetes kembali.


Laila merasa sedih karena ia merasa ditipu oleh orang yang ia anggap sebagai sahabat baiknya. Bahkan Laila dengan tulus menolong ibunya yang dinyatakan koma oleh dokter, tetapi apa yang Laila dapatkan, ia malah dikurung di ruangan dan bahkan ia diawasi dengan sebuah kamera.


Laila menangis tersedu-sedu sambil mencoba memikirkan apa yang harus ia lakukan.


" Jika Kamera cuma ada di mata boneka itu, maka saat akan melakukan sesuatu ia harus berpura-pura mengambil boneka dan membalikkan kamera kearah kasur " batin Laila


" Atau aku cukup memeluknya agar kamera tersebut tertutup oleh tubuhku " batin Laila lagi


Kemudian ia meletakkan boneka tersebut asal dan membalikkan badan untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa menolongnya.


Kemudian ia kembali ke kamar mandi untuk melihat fentilasi atau apapun itu yang bisa membuat ia keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


Cklek ...


Terdengar suara pintu yang terbuka dan Laila mencoba mengunci pintu kamar mandi ... dan berpura-pura menyatakan air


__ADS_2