Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 25 Nasihat Sang Ayah


__ADS_3

"Ya,aku mengenal mereka. " jawab ayah Laila.


"Kalau begitu, apakah sekarang om mengijinkan saya menikahi Laila ? saya berjanji akan menjaga Laila dengan seluruh jiwa raga saya. Dan saya juga berjanji akan membuat Laila sukses seperti yang om inginkan." ucap Fauzi.


Tuan Aditama hanya diam dan menatap wajah Fauzi, sementara Bima seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Ia sangat terkejut mengetahui niat sahabatnya yang ingin menikahi gadis kecil yang masih duduk di bangku SMA, sementara ia telah bertunangan.


"Fauzi, apa kamu tidak salah minum obat ? kau bilang ingin menikahi Laila ? bukankah Laila masih di bawah umur dan dia masih sekolah sedangkan kau sudah bertunangan dengan Hana ?" tanya Bima seakan tak percaya dengan perkataan sahabatnya.


"Ya kau benar Bima ! aku akan menikahi Laila dan akan mengakhiri hubungan Ki dengan Hana." jawab Fauzi tanpa ada sebuah keraguan.


"Kau gila !" ucap Bima sambil menggelengkan kepalanya.


Sementara mereka diam dengan pemikiran masing-masing, Laila datang dengan membawa teh hangat dan beberapa kue kering dan menyajikannya untuk mereka.


"Ayah, kakak silakan di minum !" ucap Laila dengan tersenyum.


"Nak kau bisa membuat teh dan menyajikannya ?"tanya sang ayah sambil menatap sang putri.


"Iya ayah kak Fauzi yang mengajari Laila." jawab Laila dengan jujur.


Tuan Aditama meraih tangan putrinya dan memeluk tubuh sang putri di pangkuannya. Dengan lembut ia mencium kening putri kesayangannya.


"Ibu mu pasti akan sangat senang mengetahuinya nak." ucap sang ayah dengan semakin mengeratkan pelukannya.


"Ayah, malu ada kak Fauzi dan kak Bima." ucap Laila sambil mencoba melepaskan pelukan sang ayah.


"Bahkan kau sekarang malu ayah peluk nak ? apakah pelukan lelaki itu lebih nyaman dari pelukan ayah ?" tanya sang ayah dengan tak percaya. Biasanya sang putri meminta dipeluk dengan merengek layaknya seorang balita meskipun di hadapan orang banyak tanpa merasa malu.

__ADS_1


"Ayah !" ucap Laila dengan sangat malu, terlihat dari rona wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.


"Pria ini telah merubah putri kecil ayah, awas saja jika dia berani merampas cinta putriku sehingga tak lagi mencintai kami orang tuanya lagi. Akan ayah pukul dan ayah cincang halus untuk makanan tikus." ucap sang ayah sambil tersenyum melihat ekspresi sang putri.


"Ayah !" ucap Laila lagi dan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan sang ayah.


" Berapa lama dan sejauh apa hubungan kalian Hem, sehingga membuat putri kecil ayah menjadi dewasa sebelum waktunya." goda sang ayah lagi.


Laila tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya diam bersembunyi dalam pelukan sang ayah. Ia malu diperlakukan seperti anak kecil, meskipun memang demikian biasanya. Laila sangat manja dan berprilaku seperti anak kecil dihadapan orang tuanya.


Mata tuan Aditama berkaca-kaca, ia terharu akan perubahan sang putri tapi ia juga takut akan kehilangan sang putri kerena kehidupan sang putri pada umumnya akan mengikuti suaminya setelah menikah dan meninggalkan orang tuanya yang telah membesarkan ia selama ini.


"Nak tatap mata ayah ! katakan pada ayah, apakah kau mencintai Fauzi dan apakah kau bersedia menikah dengannya dalam waktu dekat ini ? apakah semuanya telah kau pikirkan matang-matang ?" tanya sang ayah.


Laila menatap wajah sang ayah dan segera mengangguk sebagai jawaban. Sementara senyum di wajah Fauzi semakin mengembang melihat pengakuan kekasih hatinya di hadapan sang ayah.


"Saya hanya memberikan sebuah kasih sayang yang tulus, kasih sayang yang tak akan Laila dapatkan dari orang tuanya. Meskipun saya tau kasih sayang yang saya berikan kepada Laila tak setulus dan seluas kasih sayang orang tua terhadap anaknya."


"Karena kasih sayang orang tua terhadap anaknya tak akan ada yang sebanding dengan itu di dunia ini. Tetapi kasih sayang saya tulus dan suci." jawab Fauzi atas pertanyaan sang calon mertua.


"Kau ! tidak sopan sekali anak muda. Aku bertanya kepada putriku !" ucap tuan Aditama sambil tersenyum menatap wajah sang putri.


"Ayah, Laila tidak tau apa yang kak Fauzi berikan dan Bagaimana keadaan Laila kedepannya, tapi saat ini Laila merasa nyaman bersama kak Fauzi."


"Tidak ada rasa takut saat Laila bersamanya dan Laila merasa sangat bahagia bersama kak Fauzi seperti yang Laila rasakan saat bersama ayah dan ibu." jawab Laila dengan jujur.


"Nak tapi ayah takut apa yang kau rasakan adalah cinta monyet yang akan berubah saat kau bertemu dengan seorang lelaki yang lebih dari Fauzi." ucap sang Ayah.

__ADS_1


"Dengan kasih sayang saya yang tulus, akan menjadikan cinta monyet itu menjadi cinta yang abadi." ucap Fauzi.


Sementara Laila tidak bisa berkata apa-apa karena memang baru pertama kali ini Laila jatuh cinta.


"Jawab ayah nak ! jawab dengan kata hatimu yang paling dalam, jangan terpengaruh oleh ucapan lelaki itu. "


"Keputusan untuk menikah adalah keputusan yang sangat besar dalam hidup nak, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terlebih lagi jika pernikahan itu kandas, kau sebagai seorang perempuan yang akan sangat dirugikan nak."


"Pikiran dengan matang, tanya hati kecilmu ! pernikahan itu hanya terjadi sekali seumur hidup. Dan diluar sana masih banyak lelaki dengan berbagai macam."


"Sebuah pernikahan itu tak melulu melalui jalan wangi penuh bunga tapi akan banyak jalan terjal penuh duri yang akan kau lalui nak. " ucap sang ayah.


"Ayah." ucap Laila sambil memeluk tubuh sang ayah dengan erat.


Ia bingung harus menjawab apa atas ucapan sang ayah, memang benar apa yang dikatakan oleh ayahnya bahwa ia harus memikirkan semua dengan matang karena itu adalah masa depannya yang akan ia jalani seumur hidup.


Sementara tuan Aditama membalas pelukan putri kecilnya dengan hangat.


"Nak jika masih ada sebuah keraguan di hatimu, lebih baik kau mundur dari sekarang. Untuk masalah keamanan dan juga sekolah mu, ayah akan mengurus semuanya."


"Jangan kau memutuskan untuk menikah hanya karena takut dengan keadaan yang kau alami saat ini. Jika kau mau ayah bisa membawamu pulang dan mengurus segala administrasi sekolah mu."


"Jika memang Fauzi adalah jodoh mu, kalian akan bersatu kembali meskipun kau ikut ayah pulang dan mengejar masa depanmu. Jika kalian memang jodoh kalian akan disatukan dengan cara-Nya."


"Tapi ayah mohon pikiran dengan matang keputusanmu untuk menikah diusia dini nak, jika kau takut berbuat zina, kau bisa kembali bersama ayah untuk menjauhi perbuatan yang bisa memancing itu."


"Kau bisa tetap menjaga hubungan baik dengan Fauzi meskipun kalian berada di tempat yang berjauhan." ucap Sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2