
Setelah pernyataan cintanya di terima oleh Laila, Fauzi mengajak Laila untuk hadir pada acara di kampus dimana dalam acara tersebut, datang seorang pengacara sukses sekaligus seorang pengusaha yang akan mengisi materi dalam seminar tersebut.
Setelah sampai Fauzi mengandeng tangan Laila dan mengajaknya untuk duduk di pojok ruangan tersebut.
" Sayang kita duduk di sini, nanti kak Bima juga akan duduk di sini bersama kita." bisik Fauzi.
"Sayang ?" Laila mengulangi panggilan Fauzi untuknya.
"Itu panggilan baru untuk mu, karena memang aku sayang kamu." jelas Fauzi sambil tersenyum.
"Tapi ... ." ucap Laila tergantung.
"Kalau kurang nyaman atau keberatan aku akan mengunakan panggilan tersebut saat kita hanya berdua saja bagaimana ?" ucap Fauzi.
"Terserah kakak saja, tapi kak Laila belum pamit dengan paman." ucap Laila sedikit panik.
"Kakak sudah ijin dengan pamanmu, dan beliau mengijinkannya. Nanti pulangnya kakak antar ketempat pamanmu sekalian kita akan menjenguk keluarga paman." jelas Fauzi.
"Kakak sudah meminta ijin ?" tanya Laila.
Fauzi hanya menganggukkan kepalanya. Setelah beberapa saat Fauzi naik ke podium di mana sang pembawa acara memintanya untuk membuka acara tersebut.
Layaknya seorang ahli, Fauzi menyampaikan sepatah dua patah kata untuk sambutan sekaligus membuka acara seminar tersebut.
Laila menatap kagum, lelaki yang berdiri di atas podium tersebut dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Seorang lelaki yang paling populer di Yayasan tempat ia menuntut ilmu, seorang lelaki tampan yang nyaris sempurna, seorang lelaki yang baru saja melamarnya.
"Melamar ? lalu bagaimana caranya aku akan menyelesaikan sekolahku ? apakah kami hanya akan bertunangan seperti kak Hana dan kak Fauzi ?"
"Kalau hanya bertunangan apakah kami akan sampai ke jenjang yang lebih serius lagi ? yaitu dalam jenjang pernikahan ?" batin Laila yang merasa takut nasib hubungannya dengan Fauzi akan bernasib sama seperti nasib hubungan antara Fauzi dan juga Hana.
"Laila kamu sudah dari tadi ?" tanya Bima yang langsung duduk di depan Laila yang masih menatap jauh ke depan.
"Kak Bima." ucap Laila yang kurang mendengar pertanyaan Bima sambil nyengir kuda.
" Dari pada bengong ini makan !" ucap Bima sambil menyodorkan sepiring kue basah dan juga beberapa air mineral.
"Terimakasih kak, Oya kak memang siapa yang menjadi pemateri seminar ini ?" tanya Laila.
"Seorang pengusaha sekaligus seorang pengacara yang berasal dari Bandung. Mungkin Laila mengenal beliau karena berasal dari kota yang sama." jelas Bima.
__ADS_1
"Beliau adalah Bapak Aditama." jawab Fauzi yang langsung duduk di samping Laila.
"Aditama ?" tanya Laila.
"Apakah orang tersebut adalah ayah ?" batin Laila.
"Kak apakah Laila boleh bertemu dengan beliau, Laila ingin sekali bertemu dan lebih mengenalnya." ucap Laila sambil menggenggam tangan Fauzi sambil memohon.
"Tentu ! tapi setelah acara ini selesai Laila." jawab Bima sambil menatap ke depan.
"Apakah kau sudah sangat merindukannya ?" bisik Fauzi.
"Kak kau ... ." ucap Laila tertahan kerena mendengar tepuk tangan yang sangat meriah dari mahasiswa yang hadir dalam acara tersebut.
Mata Laila berkaca-kaca saat melihat sosok yang sangat ia rindukan. Ya ia adalah ayah Laila, tuan Aditama.
"Sabar sayang, kakak sengaja mengundang beliau untuk peri cantik kakak, dan kakak sengaja mengundangnya untuk segera melamar mu sayang." bisik Fauzi.
"Kak kau mengenalnya ?" tanya Laila.
"Tentu saja kakak mengenal calon mertua kakak." jawab Fauzi dengan tersenyum.
"Sejak kau mencuri hatiku." jawab Fauzi tersenyum menatap wajah gadis yang baru saja menerima lamarannya.
"Kakak Laila serius." jawab Laila sambil mencubit pinggang Fauzi.
"Kakak serius sayang, sejak hati kakak kau curi sejak saat itu kakak mencari informasi tentang kamu, dan kakak tau bahwa Laila adalah anak dari tuan Aditama dari data di Yayasan ini." jawab Fauzi.
"Kalau begitu mengapa la sekali kakak mengundang ayah agar datang ke sini ?" tanya Laila.
"Karena kakak baru punya keberanian untuk melamar mu sayang."jawab Fauzi sambil mengeratkan genggaman tangannya.
"Fauzi, Hana datang kesini." bisik Bima sambil menunjuk ke arah Hana yang berjalan ke arah mereka.
"Ngapain Hana ke sini ?" tanya Fauzi.
"Dari tadi Hana mencari mu, mungkin ia memperhatikan saat kau turun dari podium itu." jawab Bima.
"Laila ngapain kamu ada di sini ?" tanya Hana dengan sinis.
"Laila adalah tamu undangan tuan Aditama." jawab Fauzi.
__ADS_1
"Tamu tuan Aditama ?"tanya Hana seolah tidak yakin.
"Kau percaya atau tidak, itu terserah kamu, tapi jangan pernah kau usik Laila !" ucap Fauzi, dan Hana semakin membenci kehadiran Laila dalam hidup Fauzi.
"Kita lihat saja nanti Selor kecil." batin Hana sambil memaksakan senyuman di wajahnya.
Acara seminar yang di adakan oleh Fauzi itu sukses dan sangat memuaskan. Banyak mahasiswa dan Dosen yang merasa puas dengan acara tersebut.
Sementara setelah acara itu selesai, Fauzi mengajak Bapak Aditama untuk menemui putrinya.
"Ayah !" Laila langsung berlari sambil merentangkan kedua tangannya dan segera memeluk tubuh ayahnya.
"Ayah Laila sangat merindukan ayah, mengapa ayah tidak mengatakan bahwa ayah akan ke sini." ucap Laila sambil terisak-isak.
"Ayah ? apakah bapak Aditama adalah ayah Laila ?" ucap Bima dan Hana secara bersamaan.
"Betul sekali." jawab Fauzi sambil berdiri mendekati dua insan beda generasi yang saling melepas rindu.
"Laila biarkan ayah duduk dulu, sejak dari tadi beliau berdiri di podium itu." ucap Fauzi.
Perlahan Laila melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan sang ayah dan mengajaknya duduk di kursi tempat ia duduk tadi.
"Kau semakin Dewasa anakku." batin ayah Laila yang menatap wajah putrinya.
Putri kecil itu sekarang tidak lagi meminta gendong saat lama tidak bertemu bahkan putrinya itu menurut saat seseorang menyarankan sesuatu.
Ayah Laila menatap wajah sang putri dari ujung rambut hingga kaki. Terlihat sang putri yang sudah jauh berubah dari penampilan dan cara bergaul bahkan dengan orang yang jauh di atasnya.
Perlahan tatapannya terhenti di jari sang putri, terdapat sebuah cincin yang melingkar dijari sang putri.
"Cincin ! siapa lelaki yang telah melamar putri kecilku ?"batin bapak Aditama.
"Ayah apakah ibu juga ikut datang ke sini ?"tanya Laila yang memecah kesunyian dan beberapa pertanyaan dalam benak sang ayah.
"Tidak, ayah datang kesini langsung dari Jakarta tanpa sempat mampir dahulu untuk mengajak ibu." jawab sang ayah sambil membelai lembut wajah sang putri yang jauh berbeda itu.
"Kau sudah banyak berubah putriku." ucap bapak Aditama dengan mata berkaca-kaca. Ia terharu dengan perubahan sikap putrinya.
" Mengapa ayah menangis ? apakah ayah tidak senang bertemu dengan putri ayah ?" tanya Laila.
"Tentu saja tidak sayang, ayah sangat bahagia sehingga air mata ini ingin menetes, ibu juga pasti akan sangat bahagia saat melihat putrinya sekarang jauh lebih dewasa." ucap sang ayah.
__ADS_1