
Ke esokan harinya Laila memutuskan untuk tidak masuk sekolah, ia izin dengan alasan tidak enak badan. Padahal ia tidak ingin bertemu dengan Hana orang yang sudah menamparnya. Jika ia masih di Bandung mungkin ia akan menggunakan kekuasaan ayahnya untuk membalas Hana namun disini Laila bukan siapa-siapa. Jadi ia harus berfikir matang - matang sebelum melakukan sesuatu.
Hari ini kebetulan ia dirumah sendirian, karena keluarga pamannya ada acara ke luar kota untuk menghadiri acara keluarga, namun Laila tetap memilih diam dirumah untuk menenangkan hati dan pikirannya.
" La ... kalau kamu memang merasa nyaman dan mungkin ada perasaan dengan Fauzi, maka pikirkan matang-matang. Jika kamu siap menghadapi kegilaan Hana maka perjuangkan perasaan mu ... karena kakak bisa menjamin Fauzi tidak memiliki rasa apapun dengan Hana, jadi kamu punya kesempatan untuk memiliki Fauzi seutuhnya dengan catatan Fauzi bisa mengambil langkah tegas untuk hati dan masa depannya. Namun jika kamu tidak siap lebih baik kamu mundur dari sekarang dari pada kamu kecewa dan malah menderita nantinya " Hana teringat ucapan Rafik
Hana membuang nafas kasarnya, ia duduk didalam kamar namun pikirannya melanglang buana entah kemana.
Sedangkan Fauzi gelisah karena dari pagi tidak melihat Laila sehingga ia memusatkan untuk menunggu Laila di depan kelasnya agar ketika jam istirahat ia langsung bisa melihat gadis kecil yang sudah menguasai hatinya.
Setelah beberapa saat akhirnya bel istirahat berbunyi ... satu persatu siswa dan siswi keluar dari kelas namun Fauzi tidak menemukan sosok yang ia rindukan.
" Anggi ... " teriak Fauzi saat melihat Anggi keluar istirahat bersama teman - temannya
Anggi menoleh kemudian berhenti menunggu Fauzi
" Iy kak ... ada yang bisa saya bantu ?" tanya Anggi
" Laila dimana ?" tanya Fauzi
" Laila tidak masuk kak, ia sakit " jawab Anggi
" Sakit ?! ... sakit apa bukanya kemarin dia baik baik saja ?" tanya Fauzi lagi
" Sebenarnya fisiknya tidak seberapa sakit ... tapi mungkin hatinya yang lebih sakit " ucap Rafik yang tiba-tiba muncul
" Maksut kamu ?!" tanya Fauzi penuh selidik
" Untuk lebih jelasnya silahkan tanyakan pada Hana " jawab Rafik singkat
" Hana ?!" tanya Fauzi dengan bingung
" Iy kak ... kami tidak bisa menjelaskan " saut Anggi
" Saya permisi dulu ya kak " pamit Anggi kemudian melangkah meninggalkan Fauzi yang masih bingung
" Selesaikanlah masalahmu dengan Hana dengan bijaksana, dan perjuangkan lah masa depan dan Hatimu " Rafik menepuk pundak Fauzi kemudian meninggalkan Fauzi yang masih belum mengerti
" Maksudnya ?!" tanya Fauzi Lagi
" Saya yakin kamu pria dewasa yang bijaksana " jawab Rafik tanpa menoleh dan terus meningalkan Fauzi
Kemudian Fauzi langsung melangkah meninggalkan kelas menuju tempat parkir, kemudian ia meminjam motor Bima menuju rumah Laila. Ia sengaja menggunakan motor Bima agar Hana tidak curiga. Setelah beberapa saat akhirnya ia sampai di depan rumah Laila.
Tok .. tok .. tok ..
" Assalamu'alaikum ... " Ucap Fauzi
Cklek perlahan pintu terbuka
" Wa'alaikum salam ... " jawab Laila
" Masuk kak ... " ucap Laila ketika melihat Fauzi yang ada di depan pintu
Kemudian Fauzi masuk dan duduk diruang tamu, sementara Laila mengambil air cup mineral dan di suguhkan untuk Fauzi
" Diminum kak ... maaf cuma air mineral " ucap Laila
Fauzi menggangguk kemudian meminumnya.
" Kamu sakit apa La .. ? Sudah ke dokter ... ?" tanya Fauzi sambil meletakkan minumnya
__ADS_1
Laila hanya menggeleng
" Kenapa ? ... ayo kakak antar kedokter " ucap Fauzi lagi. Dan Laila hanya menggelengkan kepalanya lagi
" Kenapa ? ... apa ada yang salah ? atau kedatangan kakak membuatmu tidak nyaman ? tanya Fauzi lagi. Dan Laila hanya menggelengkan kepalanya lagi
Sesaat keduanya diam dengan pikirannya masing-masing. Hanya detak jam dinding yang terdengar
" Sudah makan ... ?" tanya Fauzi memecahkan kesunyian di antara mereka
Dan lagi-lagi Laila hanya menggelengkan kepalanya
Fauzi bergeser agar bisa duduk lebih dekat dengan Laila kemudian ia tatap gadis cantik yang sudah memiliki hatinya itu dengan intens. Setelah lama menatap wajah itu dan tidak ada respon ia langsung memeluk tubuh kecil Laila
" La ... kenapa hanya diam ? jika kakak salah lebih baik Laila pukul kakak untuk melepaskan emosi di hatimu tapi kakak mohon jangan hanya diam tanpa kata La ... ini lebih menyakitkan untuk kakak La ... " suara Fauzi bergetar seolah menahan tangisnya
Laila bingung dan sekaligus kaget dengan apa yang dilakukan Fauzi, dia bimbang apa yang harus ia lakukan dan ia katakan pada Fauzi
" Aku lapar ... " ucap Laila dalam kebimbangan hatinya
" Lapar ... kenapa tidak bilang dari tadi, kakak ambilkan makan yang ada di dapur atau kakak beli diluar dulu ? Laila mau makan apa ? " tanya Fauzi sambil tersenyum menatap Laila
" Dirumah tidak ada makanan ... kalau beli jauh dan g tau apa yang enak dimakan " jawab Laila dengan harapan Fauzi segera pulang karena hal tersebut
" Memangnya paman dan bibi kemana ?" tanya Fauzi
" Pergi ke Bandar Lampung ... dari kemarin, ada acara ditempat saudara " jawab Laila
" Kalau begitu kakak masakkan ya ... Laila mau makan apa ?" tanya Fauzi lagi
" Emang bisa ... ?!" tanya Laila seolah tak percaya
" Temani kakak masak di dapur, agar kakak tidak nyasar " ucap Fauzi menyakinkan Laila
Terpaksa Laila bangkit dan berjalan menuju dapur yang di ikuti Fauzi dari belakang. Setelah sampai di dapur Fauzi membuka kulkas dan melihat bahan bahan apa yang bisa dimasak.
" Mau makan apa La ... ? biar kakak masakin ?" tanya Fauzi
" Ayam bakar ... " jawab Laila asal berharap Fauzi menyerah
Namun Fauzi hanya tersenyum kemudian mengambil beberapa potong daging ayam yang ada di kulkas kemudian memulai aksinya menjadi seorang chef untuk gadis kecil pujaannya.
Laila kaget yang melihat reaksi Fauzi, kemudian ia hanya bisa memperhatikan setiap gerakan Fauzi yang terlihat lincah di dapur seolah itu adalah kegiatan sehari-hari. Setelah beberapa saat mulai tercium aroma ayam bakar buatan Fauzi, Laila mendekat dan menikmati aroma yang membuat cacing diperutnya melakukan demonstrasi.
" Apa sudah matang ?" tanya Laila sambil mendekati Fauzi
" Sebentar lagi ... Biar matangnya sempurna dan bumbunya meresap " jawab Fauzi
Kemudian Laila berbalik mengambil piring dan menyiapkan nasi untuk mereka berdua. Setelah semua siap mereka makan bersama dan sesekali bercanda dan tertawa
" La ... kebahagiaanmu adalah segalanya untukku La ... " batin Fauzi
" Masakan kakak enak banget ... Laila sampai kekenyangan " ucap Laila sambil mengelus perutnya
" Benarkah ... ? bukannya tadi ada yang g percaya ?" jawab Fauzi sambil meledak Laila
" Maaf ... " ucap Laila
Setelah Laila dan Fauzi membereskan dapur dan mencuci peralatan yang digunakan untuk memasak dan makan mereka. Gerakan Laila sangat kaku, hal ini membuktikan kalau ia jarang melakukan hal itu. Fauzi menatap Laila kemudian tersenyum dan membantu sekaligus mengajari Laila untuk aktivitas di dapur. Dan akhirnya Fauzi tau bahwa jangankan untuk memasak untuk membuat teh manis saja Laila tidak bisa. Setelah itu Fauzi mengajari cara membuat teh manis kemudian mengambil es batu di dalam kulkas dan kedua kemudian duduk kembali di ruang tamu.
" Ternyata kakak baru tau gadis cantik ini tidak pandai memasak " ucap Fauzi menggoda Laila. Dan Laila hanya tersenyum malu mendengarnya
__ADS_1
" Tapi ada satu kepandaian Laila ... " ucap Fauzi lagi
" Apa ... bahkan Laila tidak tau apa yang bisa Laila kerjakan sendiri " jawab Laila
" Pandai mengambil hati kakak " jawab Fauzi yang sengaja menggoda Laila
Dan Laila langsung memukuli Fauzi dengan bantal kecil yang ada di sofa. Kemudian Fauzi menggenggam tangan Laila.
" Jujur sama kakak ... kenapa hari ini Laila tidak masuk sekolah " tanya Fauzi sambil menatap Laila
Huffs ... Laila hanya menghembuskan nafasnya
" Apakah karena Hana ?" tanya Fauzi lagi
Laila hanya diam kemudian menundukkan kepalanya
" La ... tatap kakak dan tolong dengar kakak ... " ucap Fauzi sambil tangannya menyentuh dagu Laila agar menatap wajahnya
" La ... jangan pernah takut jika kamu tidak melakukan kesalahan yang melanggar hukum baik itu hukum negara terlebih hukum agama, teruslah melangkah untuk membahagiakan orang tuamu. Jangan karena Hana kamu malas belajar dan sekolah ... pasti ayah dan ibumu akan sedih La ... Kalau masalah Hana biar kakak yang urus ... tapi Laila harus sekolah dan giat belajar " ucap Fauzi
" Tapi kak ... " ucap Laila terhenti dan tak terasa ada kristal - Kristal bening yang menetes dari matanya
" Ceritakan semua sama kakak, agar hatimu lega " ucap Fauzi sambil menghapus air mata Laila kemudian menyandarkan kepala Laila dipundaknya.
" Kemarin kak Hana menampar Laila tanpa menjelaskan apa salah Laila dan tanpa perduli dengan penjelasan Laila ... " jelas Laila
" Maafkan kesalahan Hana ... semua ini adalah salah kakak. Mungkin ia cemburu denganmu La ... " jawab Fauzi
" Apakah artinya kita tidak bisa ... " sebelum Laila menyelesaikan ucapannya jari Fauzi sudah menyentuh bibir Laila.
" Tidak ada yang bisa melarang kita dekat La ... termasuk Hana ... " ucap Fauzi sambil menggelengkan kepalanya
" Tapi kakak dan kak Hana sudah bertunangan " jelas Laila
" Bukankah kakak sudah pernah bilang, selama belum ada saksi yang mengatakan sah didepan penghulu dan di depan wali tidak ada yang memiliki Kakak " ucap Fauzi lagi
" Tapi kak ... " jawab Laila
" Jika memang pertunangan kakak dan Hana berakhir, itu bukan salah siapa - siapa La ... itu adalah takdir, kita tidak bisa memaksakan takdir " jelas Fauzi
" Tapi nanti dikiranya Laila yang menghancurkan hubungan kakak " ucap Laila lagi
" Bukankah Laila tidak melakukan itu ? " jawab Fauzi
Laila hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban
" Itu artinya Laila bukan perusak hubungan kakak " tegas Fauzi.
" La ... bagaimana cara kakak agar bisa memilikimu seutuhnya ?" batin Fauzi
Laila hanya diam mendengar ucapan Fauzi
" Kak sebenarnya Laila tidak mau jauh dari kakak, tapi Laila takut " ucap Laila
" Kakak juga sama La ... kakak tidak mau jauh darimu ... Biarlah semua mengalir apa adanya " ucap Fauzi lagi
Kemudian keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. tiba-tiba ponsel Fauzi berbunyi.
" assalamu'alaikum ... " jawab Fauzi
" Apa ... ok, aku segera kesana " jawab Fauzi. Kemudian berpamitan dengan Laila dan segera mengemudikan motornya
__ADS_1