
Setelah memastikan kesehatan Pelayan itu, Bima dan Rafik mengajaknya untuk pergi ke Rumah Sakit melihat bagaimana keadaan Hana.
Setelah sampai mereka menunggu Hana di depan ruang UGD karena Hana masih dalam pertolongan Dokter.
Mereka duduk berdekatan namun tidak saling bicara, pikiran mereka melanglang buana masing-masing, keheningan menyelimuti mereka.
Pelayan itu menegaskan air matanya, ia teringat bagaimana ketika ibu Hana menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit ini, hanya dia yang setia menemaninya. Karena tuan Aditya melarang siapapun untuk melihat keadaan istrinya.
Hari ini ia harus mengalami hal yang sama, ia menunggu Hana bayi kecil yang ia rawat bertahun-tahun layaknya anak sendiri,sejak kepergian sang ibu.
Hana yang sejak kecil dikelilingi oleh banyak orang dan juga Pelayan kini terbaring tak berdaya, dan hanya dia dan kedua temenannya yang mau melihat keadaannya.
Dunia ini seakan tidak adil, mengapa seorang anak harus menanggung kesalahan orang tuanya sedangkan sang anak tidak mengetahui apa - apa, ia hanya seorang anak yang lahir dari orang tua yang salah dalam menentukan langkahnya untuk mendapatkan harta.
Perlahan pintu ruangan tersebut terbuka, dan seorang Dokter keluar dari ruangan itu. Pelayan tersebut segera berdiri di ikuti oleh Bima dan juga Fauzi.
"Dokter bagaimana keadaan Hana ?" ucap mereka secara bersamaan.
"Pasien bisa diselamatkan, tetapi Pasien belum melewati masa kritisnya, jika hari ini Pasien bisa segera membuka matanya dan tidak terjadi apa-apa maka ia bisa kembali seperti semula tetapi sebaliknya jika Pasien tidak mau membuka matanya sampai besok pagi maka kita serahkan semuanya kepada Tuhan." jelas sang Dokter.
"Dokter lakukan apapun untuk kesembuhan nona Hana, saya siap melakukan apapun itu asalkan nona Hana selamat." ucap sang Pelayan dengan berurai air mata.
"Lebih baik kita banyak berdoa agar Pasien segera sembuh, karena hanya sebuah keajaiban yang kita butuhkan saat ini, dan itu bisa kita dapatkan salah satunya melalui doa." jawab sang Dokter.
"Baiklah Dokter, terimakasih atas penjelasannya." ucap Bima.
Setelah itu Bima mengajak sang Pelayan untuk duduk di ruang tunggu, sementara Rafik mengurus administrasi Hana.
"Bibi jangan menangis Hana pasti akan baik-baik saja, saat ini ia hanya tertidur karena lelah, kita doakan yang terbaik untuk Hana." ucap Bima mencoba menenangkan wanita paruh baya itu.
"Tuan saya takut kehilangan non Hana, sejak bayi saya yang merawatnya." jawab Pelayan itu dengan sangat sedih.
__ADS_1
"Saya tau bibi sangat menyayangi Hana seperti anak kandung sendiri, untuk itu kita harus berdoa yang terbaik untuk Hana, saat ini ia butuh dukungan kita bukan air mata." ucap Bima.
"Anda benar tuan, lalu bagaimana dengan biaya pengobatan nona ? kami sama sekali tidak mempunyai uang tuan." tanya Pelayan itu dengan jujur.
"Masalah biaya biar kami yang akan mengurusnya bibi jangan khawatir, bibi cukup merawat Hana dengan baik yang lainnya biar kami yang akan mengurusnya." jawab Bima.
"Baiklah tuan, terimakasih banyak." ucap Pelayan itu dengan tulus.
Setelah menenangkan pelayan tersebut Bima segera menghubungi Fauzi, dan memintanya agar segera datang ke Rumah Sakit tempat Hana dirawat.
Sementara Laila kembali beraktivitas seperti biasa, ia kini sudah duduk di bangku kelas 3. Kini ia tengah mempersiapkan ujian kelulusannya.
Ia tidak ingin mengecewakan suami dan juga orang tuanya, ia harus segera lulus SMA agar bisa segera mengumumkan pernikahannya dengan Fauzi.
Fauzi dan Laila berangkat bersama untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya. Saat Fauzi mengantarkan Laila kelasnya Bima menghubunginya.
"Sayang, kakak minta ijin mau ke rumah sakit, kak Hana sedang dirawat karena percobaan bunuh diri." ucap Fauzi.
"Siap tuan putri !" jawab Fauzi dengan posisi tegak sempurna dengan posisi hormat.
"Baiklah kakak jalan duluan, yang rajin belajarnya." ucap Fauzi sambil mencium pipi Laila.
Spontan siswa siswi yang melihat hal itu, bersorak dan saling mengucapkan kalimat masing-masing.
"Romantis sekali ketua BEM kita dengan selir kecilnya, sedangkan dengan kak Hana belum pernah terjadi hal ini." ucap salah satu siswi.
"Kasian kak Hana, kalah dengan anak sekecil dia." ucap yang lainnya.
"Jelas kak Fauzi memilih dia, Laila lebih cantik dan lebih pintar dari kak Hana." ucap yang lainnya lagi.
"Kalian semua lebih baik diam dan simpan semua argumentasi kalian ! lebih baik kalian belajar agar bisa lulus ujian." ucap Fauzi dengan tegas.
__ADS_1
"Baik kak, maafkan kami." jawab mereka dengan kompaknya.
"Bagus ! dan ingat jangan ganggu ke kasih ku !" ucap Fauzi lagi.
Setelah mengantarkan Laila sampai ke tempat duduknya, Fauzi bergegas menuju ke Rumah Sakit untuk menjenguk Hana. Setelah sampai ia segera menuju ke ruang UGD, tempat Hana dirawat.
"Bagaiman keadaan Hana ?" tanya Fauzi dengan khawatir.
"Hana bisa diselamatkan namun ia belum melewati masa kritisnya." jawab Bima.
"Lalu bagaimana ini bisa terjadi ?" tanya Fauzi lagi.
Kemudian Pelayan Hana menceritakan semua kejadian yang di alami oleh Hana, sejak kejadian malam itu di aula hingga Hana merasa terpuruk setelah mengetahui hasil sidang ayahnya.
"Bibi maafkan aku, aku tidak bermaksud buruk. Fakta ini di luar kendali saya, tetapi saya tidak mempunyai niat sedikitpun untuk mengusir Hana ataupun yang lainnya."
"Seorang anak tidak berhak menerima hukuman dari kesalahan yang dilakukan oleh orang tuanya. Semuanya bertanggung jawab atas apa yang diperbuat oleh masing-masing individu."
"Jadi tolong bibi dan juga Hana jangan pergi, tinggallah di rumah itu seperti biasanya. Dan untuk bisa mencukupi kebutuhan kalian nanti, biarlah Hana belajar untuk bekerja di Perusahaan saya setelah ia lulus kuliah."
"Dan untuk sementara biarlah saya yang akan menanggung semua biaya kebutuhan kalian sampai Hana bisa hidup mandiri." ucap Fauzi.
"Terimakasih tuan, semua kebaikan dan ketulusan hati tuan akan selalu kami ingat untuk selamanya." jawab Pelayanan itu sambil menggenggam tangan Fauzi.
"Jangan sungkan sejak saya kecil kalian adalah keluarga saya. Jadi tetap perlakuan saya seperti biasanya bi." ucap Fauzi lagi.
"Sekarang lebih baik bibi beristirahat, biar kami yang akan menjaga Hana." ucap Fauzi lagi.
"Baiklah tuan, terimakasih." ucap Pelayan itu kemudian berlalu meninggalkan Bima dan juga Fauzi.
"Aku salut dengan kebaikan hatimu, wajar saja Anis dan juga Laila lebih memilih mu dari pada aku." ucap Rafik sambil duduk di samping Fauzi.
__ADS_1
"Fauzi atas nama ayahku dan juga semua keluarga ku, aku meminta maaf atas semua kesalahan yang dilakukan oleh ayahku. Sebagai anaknya aku siap menanggung semua hukuman yang akan kau berikan." ucap Rafik dengan tulus.