Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 56. Di Aula


__ADS_3

Setelah beberapa saat akhirnya Anis, sampai di depan kampus dengan ragu ia turun dari taksi. Ia berdiri didepan gerbang sambil menatap ke depan dengan sebuah keraguan.


Saat Anis hendak berbalik arah, tiba-tiba Hana datang dengan di antar oleh supir, dengan sombongnya Hana melangkah dan menatap wajah Anis penuh dengan kebencian.


Anis dan Hana saling melemparkan tatapan kebencian dan dendam, Hal itu membuat orang yang melintas mengambil langkah seribu dari pada harus berada di antara mereka.


"Hai selir kecil, mengapa kau datang tidak menggunakan seragam hah ? apakah kau akan datang ke acara kampus kami ?"


"Dasar wanita yang tidak tau malu, bisa-bisanya kau merebut tunangan wanita lain." ucap Hana dengan sinis.


"Kau benar nona Hana yang terhormat ! aku datang kesini untuk menghadiri acara kampus kalian." jawab Anis dengan sinis juga.


"Selir kecil ingat satu hal, jika kau berani mendekati Fauzi maka kau harus bersiap menerima hadiah dari ku, ingat itu !" ucap Hana.


"Siapa takut !" jawab Anis singkat, kemudian ia berjalan masuk meninggalkan Hana yang menatapnya dengan heran.


"Mengapa selir kecil itu sekarang berani menantang aku ? tatapan matanya penuh dengan kebencian tidak seperti biasanya, apa sebenarnya yang terjadi ?" batin Hana sambil ikut melangkah masuk dibelakang Anis.


Anis berjalan dengan pelan, ia melihat sekeliling, kemudian ia berjalan menuju ke aula kampus.


"Setelah beberapa tahun, tempat ini tidak mengalami perubahan hanya warna catnya yang di perbarui, ini sangat menguntungkan bagiku."


"Dengan demikian aku tidak perlu merasa khawatir akan tersesat untuk mencari Fauzi." batin Anis.


Saat Anis berjalan menuju Aula, tanpa sengaja ia menabrak Rafik. Keduanya saling menatap.


"Mengapa Rafik ada disini dan ia masih menggunakan seragam SMA ? sedangkan Hana dan Fauzi sudah masuk universitas ?"


"Sebenarnya ada apa ini ? apakah keputusan ku untuk masuk ke masa laluku itu benar ? atau aku salah dalam melangkah dan akan masuk kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya ?" batin Anis sambil memperhatikan Rafik.

__ADS_1


Sementara Rafik menatap Anis dengan tatapan heran, ia merasa Laila telah berubah. Tatapannya yang biasanya lembut kini berubah sangat mengerikan.


"Anis kau ?" tanya Rafik sambil terus memperhatikan Anis.


"Apakah Rafik masih mengenali ku ? meskipun sekian lama tidak pernah bertemu ?" batin Anis.


Saat Rafik hendak meraih tangan Anis, dengan cepat Anis berlalu meninggalkan Rafik.


"Apakah aku tidak salah lihat ? bagaimana Laila berubah drastis seperti itu ? apakah karena kejadian waktu itu sehingga membuat ia penuh dendam dan kebencian saat melihat ku ?"


"Dan apa yang membuat ia datang ke kampus ini dengan penampilan yang begitu dewasa ? sebenarnya apa yang terjadi apakah ada sesuatu yang aku lewatkan selama ini ?" batin Rafik sambil menatap kepergian Anis.


Sementara Fauzi yang bai saja datang bersama dengan Bima berhenti di gerbang karena bik Sumi menelponnya.


"Maaf tuan, kami kecolongan ! wanita itu berhasil kabur dari rumah. Ia keluar dengan diam-diam bahkan membohongi scurity saat hendak keluar." ucap bik Sumi.


"Baiklah bik, kalau begitu kita lihat saja apa yang akan ia lakukan." jawab Fauzi.


"Tidak masalah bik, dia memang sudah mempunyai rencana sehingga ia bisa mengaku sebagai nona." jawab Fauzi.


Setelah mengatakan banyak hal, Fauzi menutup telponnya dan ia berjalan menuju ke kampus, Fauzi berjalan menuju ke ruangannya, sementara Bima berjalan menuju Aula.


Bima berjalan dan langsung menuju ke panggung dan memastikan apakah ada yang kurang pas, disaat ia fokus dengan panggung tersebut, ia mendengar beberapa mahasiswa yang membicarakan tentang Laila.


"Selir kecil itu sekarang lebih berani, bahkan ia sekarang berani menantang Hana secara terang-terangan, bagaimana nanti di saat keduanya berhadapan langsung dengan Fauzi ?" ucap salah seorang mahasiswi.


"Sudahlah kita jangan ikut campur urusan mereka, kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi." jawab salah satu dari mereka.


"Ia benar kita lihat saja nanti, apakah ketua BEM kita akan memilih selir kecil itu atau memilih tunangannya." ucap yang lain lagi.

__ADS_1


"Apak yang mereka bicarakan adalah Anis ? jika Laila mana mungkin ia bersikap seperti itu. Aku harus mencari dimana Anis berada."batin Bima.


Kemudian Bima berjalan meninggalkan aula dan menuju ke ruangan Fauzi. Dengan cepat ia mendekati Fauzi yang sibuk memeriksa laptopnya.


"Apakah kau sudah mengetahui bahwa Anis telah datang ke sini dan ia secara terang-terangan berani menantang Hana ?" tanya Bima.


"Aku tau jika Anis datang kesini dari bik Sumi, tetapi jika ia berani menantang Hana aku belum mengetahuinya.." jawab Fauzi.


"Tetapi bukankah dulu Anis juga tidak berani melawan Hana ?" tanya Bima.


"Mungkin setelah sekian tahun menghilang, Anis sudah berubah karena kita tidak tau apa yang ia alami selama ini yang membuat ia berubah dan menjadi lebih berani." jelas Fauzi.


"Ya mungkin kau benar, lalu apa yang akan kau lakukan jika mereka terlibat sesuatu yang kurang menyenangkan ?" tanya Fauzi.


"Aku akan berusaha bersikap adil tanpa memihak di antara mereka, toh itu bukan Laila jadi biarkan saja mereka selesaikan masalah yang terjadi di antara mereka."


"Lebih baik kita jangan ikut campur dan lebih fokus pada acara kita, dan satu hal lagi jika ada seseorang yang meminta aku memandangi sesuatu maka kau yang akan menandatangani termasuk Anis atau orang suruhan tuan Aditya." jawab Fauzi.


"Baiklah, kita harus segera bersiap karena sebentar lagi acara akan dimulai." jawab Bima.


Kemudian keduanya berjalan menuju ke aula tempat dimana acara yang mereka adakan di gelar.


Ruangan tersebut telah ramai dikunjungi oleh para mahasiswa, suara musik sudah mulai terdengar untuk mengisi suasana sebelum dimulainya acara tersebut.


Tuan Aditya dan para anak buahnya juga sudah datang dan langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk mereka.


Salah satu anak buah tuan Aditya datang menghampiri mereka dan menyampaikan bahwa Anis sudah datang hanya saja ia tidak bersama dengan Fauzi, hal ini karena Fauzi masih sibuk untuk persiapan acara yang akan berlangsung.


"Dekati gadis itu dan berikan pena ini kepadanya agar ia serahkan kepada Fauzi untuk menulis atau menandatangani sesuatu yang di perlukan." ucap tuan Aditya sambil menyerahkan sebuah pena kepada anak buahnya.

__ADS_1


"Baik tuan." jawab pria itu, kemudian ia berjalan menuju ke tempat dimana Anis duduk. Sementara Fauzi juga mencari dimana Anis sambil menatap satu persatu orang yang datang ke tempat tersebut.


Saat anak buah tuan Aditya mendekati Anis dan memberikan sesuatu, Fauzi melihatnya meskipun ia tidak tau pasti apa yang mereka bicarakan dan apa yang diserahkan kepada Anis.


__ADS_2