Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 48. Mata-mata


__ADS_3

Fauzi dan Laila menikmati malam indah bersama, setelah itu mereka terlelap menjemput mimpi indah bersama.


Sedangkan Hana, yang telah terjaga dari tidurnya, segera bangun dan keluar dari kamarnya untuk menuju ke kamar almarhumah ibunya.


Dengan langkah yang sangat pelan ia berjalan dan segera masuk ke dalam kamar tersebut, ia menatap seluruh sudut kamar yang lama tidak digunakan itu.


"Aku harus memulainya dari mana ?" batin Hana sambil ia duduk di sisi ranjang.


"Selama ini aku tidak mempunyai kenangan bersama ibu, apa kebiasaan ibu, apa hal yang paling ibu sukai dan apa yang paling ibu benci."


"Selama ini ayah tidak pernah menceritakan kisah tentang ibu, ia hanya memanjakan aku dengan mencukupi semua kebutuhan dan keinginan ku."


"Ibu banyu aku, untuk mengetahui kebenaran yang selama ini aku tidak mengetahuinya." ucap Hana pelan sambil ia menatap foto sang ibu yang tergantung di dinding.


Perlahan Hana melangkah mendekati meja rias dan duduk di sambil memeriksa perlengkapan yang masih tersisa.


Kemudian ia berdiri dan berjalan mendekati jendela kamar namun langkahnya terhenti saat ia mendengar ada suara di balkon kamar tersebut.


Hana segera berbalik dan keluar meninggalkan kamar tersebut saat mengetahui siapa pemilik suara tersebut. Dengan cepat Hana masuk kembali ke dalam kamar dan duduk di ranjangnya.


"Apa yang ayah lakukan di malam hari begini ? dan apa yang membuatnya berada di kamar ibu ?" tanya Hana.


Kemudian Hana mengingat tata letak barang-barang yang ada di kamar ibunya, ia berfikir dari mana ia akan memulai untuk mengenal ibunya dan menyelidiki masalah yang sebenarnya terjadi.


Dan akhirnya Hana terlelap kembali, meninggalkan sejuta tanya yang memenuhi benaknya.


Hingga tak terasa sinar matahari mulai masuk dari celah-celah jendela karena tidak tertutup dengan sempurna.


Hana yang masih enggan untuk membuka matanya, kembali melanjutkan tidurnya dengan merapikan selimut dan juga posisinya agar lebih nyaman.


Berbeda dengan Fauzi dan juga Laila, yang bangun lebih awal untuk mewujudkan mimpi indah mereka menjadi sebuah kenyataan.


Keduanya mengawali hari dengan sholat berjamaah, setelah itu mereka lari pagi mengelilingi taman yang ada di belakang rumah.

__ADS_1


Keduanya terlihat berbahagia, terlihat senyum yang menghiasi wajah mereka. Setelah puas berlari-lari kecil, Laila dan juga Fauzi duduk di bangku taman.


"Sayang, hari ini kakak akan menjenguk kedua orang tua kakak, kau mau menemani kakak ?" tanya Fauzi sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Laila


Laila tersenyum lalu menenggak air mineral tersebut untuk menghilangkan rasa dahaga.


"Iya kak, Laila akan menemani kakak untuk menjenguk mereka, bukankah sejak kita menikah kakak belum memperkenalkan Laila kepada mertua Laila." jawab Laila dengan tersenyum.


"Iya sayang, maafkan kakak ya." jawab Fauzi dengan tersenyum kemudian memeluk tubuh Laila.


"Kak, bagaimana dengan hubungan kakak dan kak Hana ?" tanya Laila sambil menyandarkan kepalanya di dada Fauzi.


"Hubungan kakak dengan kak Hana, akan baik-baik saja. Kau jangan khawatir dengan hal itu. Meskipun nantinya kak Hana tidak bisa dengan mudah menerima kenyataan ini, lambat laun dia pasti akan bisa menerimanya."


"Kakak berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu, kecuali hanya maut yang memisahkan kita." ucap Fauzi.


Laila hanya diam sambil mendengarkan detak jantung suaminya yang berdetak dengan teratur sambil menikmati pelukan hangat sang suami.


"Sayang mengapa kau bertanya seperti itu ?" tanya Fauzi.


"Sayang dengarkan kakak ! apapun yang akan dilakukan oleh Hana, kakak akan selalu ada untuk mu, kakak akan menjagamu dengan seluruh jiwa raga kakak."


"Bahkan kakak rela melepaskan seluruh harta keluarga kakak yang di inginkan oleh keluarga Aditya demi kamu sayang."


"Sejak kecil kakak terbiasa hidup dalam kekurangan dan terbiasa untuk bekerja keras demi mewujudkan impian kakak."


"Hanya kamu harta yang paling berharga dalam hidup kakak selain kedua orang tua kakak. Jadi, kakak harap kau jangan memikirkan hal-hal yang akan merusak konsentrasi mu dalam belajar."


"Ingat tujuan utama kita, setelah kau dinyatakan lulus dari SMA, kita akan segera mengumumkan pernikahan kita sayang." jelas Fauzi.


Ia mencoba menenangkan pikiran negatif yang mungkin muncul dalam benak istrinya. Dengan lembut Fauzi membelai rambut Laila yang diam dalam dekapannya.


"Kak ayo kita kembali ke rumah, kata kakak kita akan mengunjungi orang tua kakak." ucap Laila tanpa merubah posisinya.

__ADS_1


"Iya sayang." ucap Fauzi.


Kemudian ia mengangkat tubuh Laila dan membawanya masuk ke dalam rumah menuju kamar mereka. Para pelayan yang melihat hanya tersenyum melihat kemesraan majikannya. Setelah sampai di kamar, Fauzi mengajak Laila mandi bersama.


Setelah itu keduanya bersiap-siap untuk menjenguk orang tua Fauzi yang masih dalam keadaan koma.


Disaat Laila dan Fauzi sedang berkemas-kemas, tiba-tiba ponsel Fauzi berdering. Fauzi mengangkat panggilan tersebut sambil duduk di samping istrinya.


"Selamat pagi tuan, maaf mengganggu tuan, di luar ada beberapa orang yang sedang mengintai kediaman tuan." ucap Rian saat panggilan tersebut sudah tersambung.


"Darimana kau tau ? bukankah kau masih berada di luar kota ?" tanya Fauzi.


"Iya tuan, saya masih mengawasi keamanan orang tua anda, tetapi saya juga memasang kemera keamanan di luar rumah anda, sebelum pergi untuk memastikan keamanan nona tuan." jawab Rian.


"Apakah kau mengenali mereka ?" tanya Fauzi.


"Mereka adalah anak buah tuan Aditya, mungkin tuan Aditya mengincar anda tuan." jelas Rian.


"Baiklah, awasi setiap pergerakan mereka. Aku akan segera keluar dari belakang Ndan kemudian bertamu ke rumah ini, untuk mengecoh mereka." ucap Fauzi.


"Baiklah tuan, berhati-hatilah dan pastikan nona jangan keluar rumah terlebih dahulu tuan, jangan sampai mereka menemukan nona." jawab Rian.


"Ok, aku mengerti." jawab Fauzi kemudian ia mengakhiri panggilan tersebut.


"Kak, ada masalah apa ?" tanya Laila dengan sangat khawatir.


"Tidak apa sayang, hanya tuan Aditya mengirimkan anak buahnya untuk memata-matai keberadaan kakak." jawab Fauzi.


"Apa yang mereka inginkan dari kakak ?" tanya Laila.


Kemudian Fauzi menceritakan semuanya kepada Laila, termasuk kejadian yang ia alami selama berada di pulau milik keluarga Aditya, dan juga masalah surat perjanjian yang ditandatangani oleh Fauzi dan juga tuan Aditya termasuk rencana yang licik yang tersimpan di balik semua itu.


"Kak." ucap Laila sambil memeluk suaminya.

__ADS_1


"Sayang, yakinkan hatimu. Semua akan baik-baik saja. Doakan yang terbaik untuk kita semua. Percayalah akan kekuatan cinta kita. Cinta yang kita bangun bukanlah cinta terlarang, jadi cinta yang halal ini akan menunjukkan jalan untuk kebahagiaan kita berdua sayang."ucap Fauzi dengan lembut.


__ADS_2