
Lembayung pagi mengundang cakrawala, membawa angan serta asa, sejuk semilir menerpa raga. Kedua insan yang masih enggan untuk membuka kedua matanya, masih dalam posisi paling nyaman disaat bersama kekasih halal.
Perlahan Laila menggeliat dan ia sedikit bangun sambil menatap wajah sang suami yang masih memejamkan matanya.
Dengan lembut Laila memberi ciuman sebagai ucapan selamat pagi untuk sang suami. Sementara Fauzi yang merasakan ciuman sang istri dengan cepat membalasnya.
"Sayang kau sudah bangun ? maafkan kakak yang ketiduran ini. Sekarang katakan apa yang kau inginkan kakak akan segera menyiapkan semuanya." ucap Fauzi sambil mengusap kepala sang Istri.
"Laila lapar tapi Laila juga ingin mandi rasanya sangat tidak nyaman." jawab Laila dengan manja.
"Baiklah kakak akan mandikan mu setelah itu kita akan makan bersama." jawab Fauzi kemudian ia segera turun dari ranjang dan segera menyiapkan segala sesuatunya untuk memandikan sang istri.
Setelah selesai mandi, Laila tidak di ijinkan untuk turun dari ranjangnya, dengan cepat Fauzi menghubungi bik Sumi agar mengantarkan makanan untuk kedepannya.
Setelah beberapa saat, bik Sumi datang dengan membawa makanan untuk Laila dan juga Fauzi.
Dengan lembut Fauzi menyuapi Laila, ia begitu takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Istrinya.
"Kak Laila bisa makan sendiri." ucap Laila.
"Tidak apa sayang." jawab Fauzi.
Laila tersenyum kemudian ia mengambil sendok dan menyuapi Fauzi, Fauzi tersenyum kemudian ia membuka mulut. Keduanya makan dengan saling menyuapi. Tanpa terasa makanan yang disajikan oleh bik Sumi habis tak bersisa.
"Sayang kau ...?" ucap Fauzi terhenti saat melihat Laila cemberut.
"Maaf sayang, kakak tidak bermaksud lain, kakak malah sangat senang jika kau menghabiskan makan mu, artinya kau akan lebih cepat sembuhnya." jawab Fauzi.
"Benarkah ? kakak tidak ingin mengatakan aku rakus ?" tanya Laila.
"Tidak sayang, jika makan semakin banyak maka kau akan cepat pulihnya, kau kekurangan asupan selama kau terkurung di ruangan itu." jelas Fauzi.
"Tapi bagaimana kakak bisa tau Laila berada di sana ?" tanya Laila.
"Maafkan kakak sayang, seharusnya kakak bisa menemukan keberadaan mu lebih awal, sebenarnya sewaktu kakak masih kecil kakak sering di ajak ke ruangan itu."
"Bahkan dalam video yang kau putar saat terakhir kakak bersama orang tua kakak, saat itu kami baru saja keluar dari sana."
"Melihat video itu kakak jadi teringat bahwa ada ruang rahasia di ruangan itu." jelas Fauzi.
__ADS_1
"Sudahlah kak yang lalu biarlah berlalu." ucap Laila dengan tersenyum .
Tak lama kemudian Dokter Spesialis yang merawat Laila masuk bersama bik Sumi.
"Maaf tuan ijinkan saya untuk memeriksa kondisi nona Laila." ucap sang Dokter.
"Baiklah lakukan yang terbaik." jawab Fauzi.
Kemudian ia bergeser dan membereskan bekas makan mereka. Setelah itu ia memberikannya kepada bik Sumi.
"Bagus nona, keadaan anda jauh lebih baik, jadi saya akan melepas infus ini karena anda sudah tidak membutuhkannya lagi."jelas sang Dokter.
"Benarkah ? terimakasih banyak Dokter." ucap Laila.
"Semua berkat kerja keras dan dukungan dari semua pihak, terutama dari suami anda nona." jawab sang Dokter sambil tersenyum.
"Apakah artinya istri saya sudah sembuh Dokter ? sehingga anda melepaskan selang infusnya ?" tanya Fauzi.
"Benar tuan, istri anda sudah sembuh tinggal pemulihan saja." jawab sang Dokter.
"Terimakasih Dokter." ucap Fauzi.
"Mengapa berterimakasih kepada saya, bukankah itu karena kerja keras kalian semua." jawab sang Dokter sambil tersenyum.
Fauzi tersenyum melihat Laila yang turun dari ranjang. Kemudian mereka turun ke bawah untuk menemui tuan Aditama.
Laila berjalan sambil menggandeng tangan suaminya, senyum menghiasi wajah keduanya, semua yang melihatnya ikut tersenyum bahagia karena nona kesayangan mereka telah sembuh dari sakitnya.
"Selamat atas kesembuhan nona, kami sangat berbahagia nona telah kembali disisi kami." ucap para penghuni rumah tersebut dengan kompaknya.
"Terimakasih untuk semuanya." jawab Laila dengan berkaca-kaca.
Ia merasa terharu karena orang -orang disekitarnya sangat menyayangi dirinya. Begitu pula dengan tuan Aditama, ia sangat bahagia karena putrinya menikah dan berada di lingkungan yang sangat menyayanginya.
"Sayang hapus air matamu, lihatlah ayah jadi ikut menangis." bisik Fauzi.
Kemudian Laila berjalan mendekati ayahnya dan ia ingin segera memeluk tubuh sang ayah.
"Ayah." ucap Laila sambil merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Putriku kau sudah sembuh ? ayah sangat menghawatirkan keadaan mu." ucap sang ayah sambil memeluk tubuh putrinya.
"Iya ayah, Laila sudah sembuh." jawab Laila.
"Ayah bagaimana dengan ibu, apakah ibu juga ikut kemari ?" tanya Laila lagi.
"Tidak sayang, ayah datang sendiri. Ayah sengaja tidak memberitahu keadaan mu kepada ibu, ayah takut ibu akan menghawatirkan mu sayang." jawab tuan Aditama.
"Iya ayah itu lebih baik, biarkan ibu mendengar kabar bahagia saja." jawab Laila sambil melepaskan pelukannya.
Tak sengaja mata Laila melihat sosok yang belum pernah ia lihat berada di rumah tersebut.
"Apakah itu Anis, tapi bagaimana bisa ia berad di sini ?" batin Laila.
"Sayang apa yang kau lihat ?" tanya Fauzi sambil mengikuti pandangan sang istri.
"Dia adalah Anis, kakak yang membawanya kesini, karena kakak pikir ia adalah saudara mu sayang." jelas Fauzi.
Laila menatap wajah Fauzi seakan meminta penjelasan tentang keberadaan Anis.
Perlahan Fauzi meraih tubuh istri, kemudian ia memeluk sang istri sambil menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi.
Laila menatap tajam kearah suaminya, senyum yang biasa menghiasi wajahnya kini berubah dan hilang seketika saat sang suami jujur mengatakan bahwa ia telah membawa Anis ke dalam kamarnya.
"Sayang kau bisa menghukum aku sesuai dengan keinginan mu asal jangan pernah tinggalkan kakak lagi." ucap Fauzi dengan serius.
"Bik Sumi, ambil semua barang yang sudah digunakan oleh Anis, dan berikan itu kepadanya !" ucap Laila dengan lantang.
"Baik nona." jawab bik Sumi.
Kemudian ia segera masuk ke dalam kamar Laila, mengambil gaun, perhiasan dan alas kaki yang pernah dipakai oleh Anis.
Dengan cepat bik Sumi kembali dan segera memberikan semuanya kepada Anis.
"Anis terimalah, dan jangan berburuk sangka kepada nona, semua adalah kesalahan yang kau lakukan." ucap bik Sumi pelan.
Anis bingung harus bagaimana, ia sangat menyesal telah melakukan kesalahan dengan mengaku sebagai Laila.
"Sayang maafkan kakak." ucap Fauzi lagi.
__ADS_1
Laila menatapnya kemudian berlalu pergi meninggalkan semua orang yang ada di ruangan itu.
Dengan cepat Fauzi mengejar langkah Laila, ia tidak ingin kehilangan Laila untuk kedua kalinya, ia juga tidak ingin tuan Aditama membawa kekasih halalnya karena kesalahan yang tanpa sengaja ia lakukan.