Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 66. Kesedihan


__ADS_3

Melangkah jauh dalam setiap kenangan indah, terbenam dalam lautan kesedihan. Bingung tentukan arah tujuan, hanya kesendirian yang setia menemani.


Awan kelabu menjatuhkan rintik air dipipi, lembayung menyapa begitu lunglai seakan tau kesedihan di hati Hana.


Sepanjang malam yang dingin ia tetap terjaga, menumpahkan segala rasa bersama gelapnya malam, hingga fajar mulai menyingsing ia masih belum menemukan arah tujuan hidupnya.


Matanya yang sembab menandakan bahwa ia menangis semalaman. Pancaran sinar mentari pagi dari celah-celah cendela kamarnya tak mampu membangkitkan asa yang telah terlelap dalam jiwa yang terdalam.


Ia enggan untuk keluar dan beraktivitas, ia memilih untuk mengurung diri bersama kehancuran yang ia rasakan, hanya di dalam kamarnya tempat yang nyaman saat ini.


Sang pelayan yang berkali-kali mengingatkan agar ia bangkit dan menjalani hari-hari panjang di depan sana, namun tak membuat Hana bergeming. Ia tetap dengan keadaan yang terpuruk dan sangat menyedihkan.


Berbeda dengan Rafik, ia terlihat lebih tegar menghadapi kenyataan bahwa sang ayah terlibat dalam kejahatan yang dilakukan oleh tuan Aditya.


Meskipun harta milik orang tuanya disita, tetapi ia masih mempunyai tempat tinggal hasil dari keringatnya sendiri. Namun ia tidak seperti sebelumnya yang terlihat sangat berkuasa.


Ia berniat mencari keberadaan Anis, ia ingin bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan kepada Anis.


Niatnya itu sempat terlupakan saat ia berkenalan dengan Laila, seorang Gadis yang mempunyai kemiripan wajahnya namun sangat berbeda karakternya.


Namun, sekarang ia sadar bahwa Laila tidak pernah menganggap ia lebih dari seorang teman. Rafik memutuskan untuk menyelesaikan pendidikan Sarjananya dan meninggalkan pendidikan SMA yang hanya ia gunakan untuk mencari kebenaran tentang Anis.


Sebelum ia pergi meninggalkan kota ini, ia ingin bertemu dengan Fauzi, ia ingin meminta maaf atas segala kejahatan yang dilakukan oleh ayahnya.


Dengan segala kekuatan yang ia miliki, ia berusaha untuk tegar saat nanti bertemu dengan Fauzi.


Disaat jam sekolah, Rafik menunggu Fauzi datang. Karena sudah beberapa hari sejak kejadian malam itu, Fauzi belum pernah datang lagi ke Yayasan tempat mereka bertemu.


Bahkan saat sidang Fauzi juga enggan untuk datang, ia seakan tidak mau bertemu dengan orang-orang yang telah memisahkan dirinya dan kedua orang tuanya.


Bahkan tuan Aditya dan komplotannya tega, mengambil semua harta milik Fauzi yang saat itu masih kecil.

__ADS_1


Rafik duduk termenung di bawah pohon sambil menatap ke arah pintu gerbang. Ia berharap Fauzi datang untuk melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.


"Boleh bergabung di sini ?" ucap Bima yang tiba-tiba ada di depan Rafik.


"Silakan jika kau tidak keberatan duduk bersama dengan anak seorang penjahat." jawab Rafik tanpa mengalihkan pandangannya dari pintu gerbang.


"Seorang anak tidak bertanggung jawab atas apa yang diperbuat oleh orang tuanya. Setiap anak lahir dalam keadaan yang suci tanpa ternoda dosa dan kesalahan orang tuanya."


"Jadi terlepas dari apa yang dilakukan oleh ayahmu, kau tidak perlu merasa ikut bertanggung jawab jika memang kau tidak mengetahui atau ikut melakukan hal itu."


"Kalau aku perhatikan kau sejak tadi menatap pintu gerbang itu, apakah pintu gerbang itu sangat menarik sehingga tatapan mu enggan beralih ke arah yang lain ?" tanya Bima.


"Sudah beberapa hari aku menunggu Fauzi, kali ini aku berharap bisa bertemu dengannya sebelum aku kembali ke tempat asalku." jawab Rafik dengan jujur.


"Fauzi masih berkabung atas semuanya. Jika kau ingin kembali alangkah lebih baik jika keadaan sudah kembali seperti semula."


"Kau bisa bertemu dengan Anis, tanpa perlu menganggap Laila sebagai Anis. Kau bisa mengunjungi Hana sebagai teman yang berada di posisi yang sama."


"Hana bagaimana keadaannya ? dan kau bilang Anis ! apakah Anis berada di kota ini ?" tanya Rafik.


"Untuk keadaan Hana aku kurang paham, tetapi jika keadaan Anis ia dalam keadaan baik-baik saja." jawab Bima.


"Artinya kau tau diman Anis berada ?" tanya Rafik dengan antusias.


"Iya aku tau diman dia sekarang, tetapi aku tidak bisa mengatakannya jika tanpa ijin dari orang yang melindungi Anis." jelas Bima.


"Katakan siapa orang itu ? selama ini aku datang ke kota ini untuk mencari Anis. Apapun akan aku lakukan asal aku bisa bertemu dengan Anis." ucap Rafik.


"Kau harus sabar, jika waktunya sudah tiba maka orang tersebut yang akan mengantarkan Anis kepada mu."


"Sekarang lebih baik kita mengunjungi Hana. Saat ini pasti ia sedang bersedih menghadapi kenyataan yang sangat pahit ini." ucap Bima.

__ADS_1


"Kau benar, Hana pasti sangat terpukul dengan kejadian ini. Kita harus mengunjunginya setidaknya kita bisa menguatnya." jawab Rafik.


Setelah itu keduanya berjalan meninggalkan tempat tersebut dan segera menuju ke kediaman keluarga Aditya.


Sesampainya mereka di sana, rumah mewah tersebut sangat sunyi dan sepi bagaikan tak berpenghuni.


Tidak ada Satpam yang biasa berjaga di pintu Gerbang, tidak ada para penjaga yang berbadan besar dan berpakaian serba hitam yang menjaga pintu masuknya.


Bima dan Rafik saling pandang, keduanya sama-sama dengan cepat membuka pintu gerbang dan segera masuk ke dalam rumah mewah tersebut.


Keadaan rumah mewah tersebut bagaikan tak berpenghuni, hanya terdengar suara detik jam dinding yang berdetak ditengah kesunyian.


"Hana kami datang ! keluarlah kami ingin bertemu!" teriak Rafik ketika berada di ruang tamu.


Namun tidak ada jawaban dari siapapun. Bima mencoba menghubungi ponsel milik Hana, namun nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.


Keduanya kemudian berpencar mencari keberadaan Hana ke seluruh ruangan yang ada, namun lagi-lagi mereka tidak menemukan Hana.


Keduanya kemudian naik kelantai atas, sepi dan sunyi tak ada siapapun yang ada di sana. Namun langkah mereka terhenti di depan sebuah kamar yang gelap gulita.


Perlahan mereka membuka pintu dan menerangi ruangan tersebut dengan ponselnya. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat wanita paruh baya yang di ikat dan ditutup mulutnya.


Wanita tersebut berusaha untuk melepaskan ikatannya dan mencoba untuk bersuara. Dengan cepat Bima melepaskan ikatan wanita itu.


"Bibi apa sebenarnya yang terjadi ? dimana Hana berada ?" tanya Bima sambil melepaskan ikatan yang menutupi mulut wanita itu.


"Tolong selamatkan nona Hana, saya mohon." ucap wanita paruh baya tersebut.


"Katakan dimana Hana berada ! ?" ucap Rafik dan Bima secara bersamaan.


"Setelah mengikat saya, Nona Hana pergi meninggalkan saya di ruangan gelap ini. Ia berkata akan pergi meninggalkan semuanya."

__ADS_1


"Saya takut nona ingin bunuh diri, karena sejak kejadian itu semua orang pergi menjauhinya. Bahkan sudah beberapa hari ini, beliau tidak mau makan dan tidak mau keluar dari kamarnya." jelas pelayan tersebut.


__ADS_2