Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 34. Kebahagiaan Laila


__ADS_3

Setelah selesai mandi mereka berdua kemudian sarapan dan beraktivitas seperti biasa, menjalani peran sebagai seorang siswa dan mahasiswa.


Fauzi menepati janjinya untuk menjadi guru privat Laila setelah pulang Sekolah. Bahkan Laila sampai tidak punya waktu untuk melakukan kegiatan lain selain belajar dan belajar. Namun usahanya itu membuahkan hasil.


Karena kepandaiannya ia dipanggil ke ruang Kepala Sekolah untuk mengikuti tes kenaikan kelas, meskipun belum waktunya. Hal itu karena masing-masing guru bidang studi merasa bahwa Laila sudah menguasai seluruh materi kelas satu.


Beberapa hari Laila mengikuti seluruh tes kenaikan kelas tersebut dan hasilnya sesuai yang mereka harapkan. Laila berhasil dan ia langsung naik ke kelas dua sebelum waktunya.


Dengan penuh semangat ia berlari-lari untuk mencari suaminya, ia ingin menunjukkan bahwa ia berhasil naik kelas dengan nilai yang fantastis, berkat kerja keras dan dukungan dari sang suami.


Laila langsung saja memeluk suaminya saat ia telah berhasil menemukan keberadaan sang suami.


"Kakak Laila berhasil ! Laila naik kelas ! mulai besok Laila sudah masuk kelas dua !" ucap Laila sambil memeluk tubuh sang Suami yang saat itu tengah duduk di Perpustakaan.


"Benarkah ?" tanya Fauzi sambil tersenyum dan membalas pelukan sang istri.


"Iya kak, ini lihat nilai Raport Laila. Terimakasih ya kak atas bimbingannya selama ini. Dan terimakasih karena kakak tetap sabar dengan sikap Laila yang mungkin sangat menyebalkan dihadapan kakak." Ucap Laila sambil menyerahkan nilai Raportnya.


"Iya sayang, itu adalah tugas dan tanggung jawab kakak sebagai seorang suami." jawab Fauzi pelan.


Kemudian Laila duduk di samping Fauzi yang memeriksa Rapornya.


"Nah ini yang kakak harapkan, tapi ini baru langkah awal, masih sangat panjang perjalanan yang harus kita Lalui. Laila harus lebih giat lagi agar bisa segera Lulus. Dan kakak bisa segera mengumumkan pernikahan kita di hadapan dunia." ucap Fauzi sambil tersenyum.


Brak !


Tiba-tiba Hana datang dan mengebrak meja, sehingga semua mahasiswa yang ada dalam Perpustakaan itu menatap ke arah sumber suara.


"Dasar anak tidak tau diri ! berani sekali kau memeluk tunangan orang lain dihadapan publik." ucap Hana setelah mengebrak meja.


"Apa maksud kak Hana ?" tanya Laila, yang juga ikut berdiri menghadapi Hana.


Namun, tangganya di tahan oleh Fauzi, dengan isyarat Fauzi meminta Laila untuk duduk kembali dan lebih tenang agar tidak terpancing emosi karena perlakuan Hana.

__ADS_1


"Hana jika kau bisa di ajak berbicara silahkan duduk dan jangan membuat kegaduhan tapi jika sebaliknya silahkan keluar dari sini !" ucap Fauzi penuh penekanan.


"Kau lebih memilih wanita ini dari pada aku ?" tanya Hana dengan berlinang air mata.


"Sikap mu yang membuat aku jadi seperti ini." jawab Fauzi.


"Kau ... ." ucap Hana terhenti dan ia menatap tajam wajah Laila.


"Laila berhasil naik kelas, hal itu karena ia sering belajar dengan ku, dan kau tau hal itu. Jadi wajar saja jika Laila berterima kasih untuk semuanya itu."


"Untuk masalah Laila memeluk ku, itu karena saat ini Laila begitu bahagia. Sepengetahuan ku, kau juga seperti itu. Saat kau tidak bisa mengungkapkan perasaan bahagia yang kau rasa, kau akan memeluk siapapun yang berada di dekat mu." ucap Fauzi.


"Itu berbeda Fauzi, dia siapa sehingga dia dengan seenaknya memeluk mu di hadapan para mahasiswa yang ada di sini ?" tanya Hana yang masih tidak terima dengan ucapan Fauzi.


"Lalu siapa Bima ? yang kau peluk saat aku terpilih sebagai ketua BEM saat itu ?" tanya Fauzi.


"Itu berbeda ! Bima adalah sahabat ku dan juga sahabat mu." jawab Hana.


"Laila bukan sahabat ku !" jawab Hana.


"Tapi Laila adalah istri sah ku !" batin Fauzi.


"Apakah Bima adalah sahabat mu ? atau Bima adalah sahabat ku ? Lalu apakah Andrian juga sahabat ku ?" tanya Fauzi.


Hana terdiam saat Fauzi menyebut nama Andrian , sahabatnya sejak di bangku SMP hingga kini.


"Hana silakan duduk atau kau boleh meninggalkan tempat ini." ucap Fauzi.


"Aku tidak mau melakukannya." jawab Hana.


"Ok, kalau begitu lakukan apa yang ingin kau Lakukan disini." jawab Fauzi sambil membereskan perlengkapannya dan juga menarik tangan Laila.


Keduanya berlalu meninggalkan Hana yang masih berdiri seperti patung, melihat reaksi yang dilakukan oleh tunangannya itu.

__ADS_1


Hana menatap punggung Fauzi dan Laila yang bergandengan tangan meninggalkan dirinya, tanpa perduli dengan perasaannya saat ini.


Air mata Hana menetes, sakit hatinya sudah tidak dapat ia sembunyikan lagi. Ia berteriak sekuat tenaga untuk melampiaskan perasaannya saat ini.


Sementara mahasiswa yang ada di dalam perpustakaan tersebut hanya bisa diam, tanpa berani melakukan apapun untuk Hana dan juga Fauzi.


Ada yang merasa iba dengan nasib yang dialami oleh Hana, ada yang mendukung Fauzi karena sikap Hana yang keterlaluan terhadap Fauzi dan Laila.


" Apa yang kalian lihat ?" tanya Hana saat Nia menyadari banyak mata yang melihat kearahnya.


Semuanya kemudian melakukan aktivitas yang sempat tertunda, karena melihat kejadian di depan mata mereka.


Hana bangkit sambil mengusap air matanya. Dan segera meninggalkan tempat tersebut.


"Tunggu saja pembalasan dari ku Laila, kau tidak bisa dikasih tau dengan cara yang baik, maka aku akan memberitahu dengan cara yang berbeda." ucap Hana dalam hati sambil terus melangkah.


Sementara Fauzi dan Laila menuju ke kantin untuk merayakan kenaikan kelas Laila bersama Anggi dan juga yang lainnya.


Fauzi mentraktir sahabat Laila yang sebentar lagi akan menjadi adik kelas Laila.


"Semuanya silahkan pesan apapun itu, Laila akan mentraktir kita semua, hal ini untuk merayakan kenaikan kelas Laila yang lebih awal dari kita."


"Mulai besok Laila akan menjadi kakak kelas kita. Ia akan duduk di bangku kelas dua." ucap Anggi memberi kabar bahagia untuk sahabat-sahabatnya.


"Selamat ya Laila dan terimakasih untuk traktirannya." ucap mereka dengan kompaknya.


"Iya Laila, selamat ya. Seandainya aku tau dengan belajar bersama sang ketua BEM bisa segera naik kelas, aku pasti tidak akan menolak ajakan mu untuk belajar dan belajar bersama kak Fauzi."


"Andai saja aku mengikuti saran serta langkahmu aku pasti juga akan naik kelas lebih cepat seperti dirimu, meskipun nilai ku tak sebagus nilai mu." ucap Anggi.


"Tidak ada kata terlambat untuk belajar, dan juga kita masih akan tetap belajar seperti biasanya, kak Fauzi tetap akan membimbing belajar ku sambil beliau menyelesaikan skripsinya." jawab Laila sambil tersenyum menatap wajah sahabatnya itu.


Kemudian mereka menikmati hidangan yang mereka pesan sambil bercanda. Fauzi tersenyum bahagia melihat raut wajah sang istri yang berseri-seri melihat dan mendengar canda dan tawa dari para sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2