
Fauzi dan Bima segera mencari keberadaan orang tua Bima yang biasanya sedang menikmati teh di teras belakang rumahnya.
"Ayah ibu, maaf jika kami mengganggu." ucap Fauzi.
Kedua orang tua Bima saling pandang kemudian ia menatap wajah Bima dan Fauzi bergantian.
"Begini ayah, beberapa hari ini, rumah Fauzi di datangi oleh orang-orang asing, bahkan hari ini mereka masuk dan mengacak-acak rumah." jelas Bima.
"Apakah itu benar nak ?" tanya sang ayah sambil menatap wajah Fauzi.
"Benar, mereka mencari sesuatu yang Fauzi sendiri tidak tau apa itu, yang mereka ucapkan hanya mencari barang bukti."
"Sebenarnya apa yang terjadi terhadap kematian kedua orang tua saya ?" tanya Fauzi dengan wajah yang sendu.
"Apa maksudnya nak ? katakan dengan jelas !" ucap sang ibu yang juga ikut menimpali.
"Ayah, Ibu kalian sudah lama tinggal di sini, pasti kalian pernah bertemu dan mungkin sangat mengenal orang tua saya. Sejauh apa yang kalian ketahui tentang kematian orang tua saya." tanya Fauzi dengan suara yang bergetar.
Kedua orang tua Bima saling pandang, kemudian keduanya sama-sama saling menarik nafas dalam-dalam dan perlahan mengeluarkannya, seperti ada sesuatu yang berat yang mereka rasakan.
"Nak, mengapa kau tidak menayangkan hal ini kepada tuan Aditya ? bukankah ia calon mertua mu dan juga sahabat dekat ayah mu." tanya ayah Bima.
"Jika beliau terbuka dan jujur kepada saya, maka saya tidak akan bertanya hal ini kepada ayah dan ibu." jawab Fauzi.
"Ayah, ibu, Fauzi sekarang sudah dewasa, ia berhak mengetahui segalanya. Jika ayah dan ibu memang mengetahui sesuatu maka ceritakan dengan jujur, agar Fauzi bisa mengambil langkah dengan benar." ucap Bima menimpali.
"Sebenarnya kematian orang tuamu sangat tidak wajar, dan kami yang hadir di acara pemakaman mereka saat itu, tidak melihat jenazah keduanya."
"Bahkan saat mereka berangkat hendak mengantar putri sahabatnya, mereka sempat bertengkar dengan keluarga Aditya."
"Dari rumor yang kami dengar, putri kecil tersebut adalah putri dari istri Aditya yang dikabarkan berselingkuh dengan sahabatnya yang tinggal di Bandung."
"Orang tuamu bertengkar karena membela sahabatnya Aditama, orang tuamu berkata bahwa putri kecil itu adalah anak pasangan Aditama bukan anak dari istri tuan Aditya."
"Istri tuan Aditya hanya kebetulan membantu merawat putri dari sahabat suaminya itu, karena istri Aditama saat itu masih dalam keadaan koma, namun keluarga Aditya tidak mau mendengarkan penjelasan dari orang tuamu."
__ADS_1
"Setelah kejadian itu, orang tuamu dikabarkan meninggal dunia dalam kecelakaan, sedangkan Putri Aditama dikabarkan hilang sebelum kecelakaan itu."
"Hal itu membuat istri tuan Aditya merasa bersalah dan beliau memilih bunuh diri, dan meninggalkan Hana yang waktu itu masih kecil."
"Sejak saat itu, semua milik orang tuamu menjadi milik keluarga Aditya, termasuk yayasan tempat kalian menurut ilmu."
"Itulah sebabnya mengapa kau dirawat oleh keluarga Aditya, meskipun kami tau, mereka tidak memperlakukan kamu dengan baik nak."
"Selam ini kami bungkam, karena kami tidak mempunyai bukti apapun, mungkin teman ayahmu yang bernama Aditama yang bisa membantu mengembalikan semua milik orang tuamu." jelas orang tua Bima.
"Jadi sebenarnya aku tidak perlu balas Budi dengan cara menerima pertunangan dengan Hana ?" tanya Fauzi.
Kedua orang tua Bima hanya mengangguk, sementara Bima perlahan mendekati sahabatnya sambil menepuk pundaknya sebagai bentuk kepeduliannya.
"Apa yang harus aku lakukan ?" tanya Fauzi lirih.
"Sebaiknya kau temui tuan Aditama nak, karena beliau tau banyak tentang orang tuamu, meskipun selama ini, beliau tidak pernah mengunjungi mu, tapi kami yakin beliau adalah orang yang baik." ucap orang tua Bima.
"Kalau begitu saya harus segera menemui beliau." ucap Fauzi sambil berdiri.
"Nak satu pesan kami, jangan pernah terbawa emosi. Meskipun nantinya kau mengetahui suatu kebenaran yang menguras emosi." pesan kedua orang tua Bima.
Setelah itu, ia kembali melakukan perjalanan ke Bandung, padahal baru saja ia sampai dari sana untuk mengantarkan istrinya. Dengan mengunakan pesawat pribadi, Fauzi terbang menuju kediaman mertuanya.
Setelah sampai di Kota Bandung, Fauzi langsung menuju kantor mertuanya, ia segera ingin mengetahui kebenaran tentang orang tuanya.
"Ayah, tolong jelaskan bagaimana kronologi kecelakaan yang menimpa orang tuaku." ucap Fauzi setelah berada satu ruangan dengan mertuanya.
"Fauzi mengapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu ?" tanya tuan Aditama.
Fauzi menceritakan semuanya yang ia ketahui, termasuk kedatangan orang suruhan tuan Aditama di kediaman orang tuanya.
"Nak, maaf ayah selama ini tidak pernah menjenguk mu, ayah tau kau banyak mengalami kesulitan. Hal ini ayah lakukan untuk menyelamatkan putri ayah yang di Sandra oleh keluarga Aditya." ucap tuan Aditama dengan suara bergetar.
"Lalu apa yang kalian cari di rumah orang tuaku ?" tanya Fauzi.
__ADS_1
"Aku mencari bukti kejahatan yang dilakukan oleh Aditya, termasuk bukti penyanderaan putri kami yang baru saja lahir."
"Semua bukti itu disimpan oleh ayahmu, dan bukti semua kekayaan keluarga Aditya adalah milik ayahmu." jawab tuan Aditama.
"Lalu bagaimana bisa orang tuaku mengalami kecelakaan dan bagaimana kondisi jenazah ayahku sebenarnya ?" tanya Fauzi.
"Mari ikut ayah." ucap tuan Aditama sambil berdiri dan melangkahkan kakinya keluar.
"Mengapa ayah tidak menjawabnya ? mengapa ayah malah menghindar ! apa sebenarnya yang terjadi ?" tanya Fauzi sambil berteriak mengikuti langkah tuan Aditama.
Namun tuan Aditama terus berjalan meninggalkan tempat tersebut menuju ke kediamannya.
"Ayah mengapa ayah pulang lebih awal ?" tanya Laila yang melihat ayahnya turun dari mobil dan disusul oleh suaminya.
"Kak, bukankah kakak bilang akan pulang karena ada urusan yang sangat penting ?" tanya Laila namun Fauzi segera mengejar mertuanya tanpa menjawab pertanyaan isterinya.
Laila langsung mengikuti keduanya yang terlihat saling bersitegang.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" batin Laila.
Tuan Aditama masuk kedalam ruang kerjanya di ikuti oleh Fauzi dan juga Laila.
"Ayah, kakak apa sebenarnya yang terjadi ?" tanya Laila dengan penasaran.
"Ayah jangan menguji kesabaran ku ! meskipun di depan Laila aku bisa berbuat nekat, katakan yang sebenarnya ayah." ucap Fauzi sambil menahan amarahnya.
"Laila pergilah dan panggil ibumu kesini." perintah tuan Aditama.
Laila yang bingung langsung saja keluar dan mencari ibunya di dapur. Sementara tuan Aditama meminta Fauzi untuk duduk di kursi.
"Sandiwara apa lagi yang akan ayah mainkan ?" tanya Fauzi dengan sinis.
"Kau akan mengetahui kebenarannya sebentar lagi menantuku. Tunggu istri dan juga ibumu." jawab tuan Aditama.
Kembali ia segera mengaktifkan LCD dan mengarahkan gambarnya di tembok agar semuanya bisa melihat dengan jelas.
__ADS_1
Setelah semuanya berkumpul, tuan Aditama menyangkan sebuah ruangan, dimana ada dua orang yang terbaring dengan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
Dan terlihat beberapa Perawat dan Dokter yang sedang memeriksa keduanya.