Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 14. Menjadi Anis ( Part 2 )


__ADS_3

Setelah ibu Susi dipindahkan diruang rawat Laila pamit pergi ke kamar mandi.


" Rafik ... tolong beli sarapan, Kasian Laila pasti Lapar, sekalian beli untuk ibu dan kita " ucap pak ikhsan


Rafik menganggukkan kepalanya Kemudian Rafik pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sementara hanya ibu Susi dan pak ikhsan di dalam ruangan tersebut.


" Yah ... mari kita pulang, ibu sudah sehat " ucap Bu Susi sambil menatap suaminya


" Iy ... tapi nanti lihat dulu, ibu benar-benar sudah sehat atau belum " ucap pak ikhsan


" Di rumah pastinya lebih nyaman ... " ucap Bu Susi


" Anis ... sini nak ... " panggil Bu Susi saat melihat bayangan Laila. Dan Laila berjalan mendekati ibu Susi dan pak ikhsan sambil tersenyum kemudian duduk di samping Bu Susi.


" Maaf ya nak ... hari ini jadi gak bisa masuk sekolah " ucap pak ikhsan sedangkan Bu Susi menatap bingung


" Kenapa ucapan ayah sangat kaku ... seperti dengan orang lain saja " ucap Bu Susi


" Gak gitu Bu ... harusnya hari ini anak-anak sekolah " jawab pak ikhsan


" Kan yang penting gak sering pak izinnya " ucap Bu Susi


" Makanya tadi saya bilang juga apa, kita pulang aja dirumah lebih nyaman dan gak perlu merepotkan anak-anak " jelas Bu Susi lagi


" Gak Bu ... kita gak merasa direpotkan " ucap Laila dengan senyuman yang tulus


" Terimakasih ya nak ... " ucap keduanya bersamaan


" Wah ayah dan ibu semakin kompak aja, jadi iri " goda Laila


" Ayah dan ibu selalu mendoakan semoga hubungan antara kamu dan nak Fauzi langgeng sampai kakek nenek dan selalu kompak " ucap Bu Susi sambil menepuk-nepuk punggung tangan Laila


" Terimakasih ya Bu ... , Menurut ibu Kak Fauzi itu orangnya bagaimana ?" tanya Laila lagi


" Kelihatannya dia anak yang baik dan bertanggung jawab dan yang paling penting dia itu tipe lelaki yang setia dan Sholeh ... " jawab Bu Susi


" Iy ... walaupun ayah belum lama bertemu, sepertinya ucapan ibu itu benar " tambah pak ikhsan


Dan mereka bertiga ngobrol sambil bercanda. Pak ikhsan meneteskan air matanya. Setelah beberapa tahun tidak bisa melihat senyum istrinya, yang hanya duduk dan berbaring seperti mayat hidup, tapi hari ini semuanya telah kembali seperti dulu lagi ... namun pak ikhsan merasa khawatir bagaimana jadinya jika istrinya tau bahwa gadis yang ada didekat mereka saat ini hanyalah orang lain, bukan putri mereka.


Laila menatap pak ikhsan yang menghapus air matanya. Dan mencoba menutupinya dari istrinya. Rafik yang melihat kebahagiaan ibunya paham akan ke khawatiran ayahnya.

__ADS_1


" Sarapan sudah datang ... " ucap Rafik sambil perlahan membuka pintu setelah menghapus air matanya


" Ye ... kita makan besar ini " ucap Laila dengan penuh semangat


" Mari kita makan bersama ... " ucap Bu Susi dengan antusias


Laila mengambil satu porsi nasi dan menyuapi ibu Susi dan sesekali memasukkan ke dalam mulutnya sendiri. Hak itu membuat Bu Susi malah tertawa bahagia. Sementara Rafik dan ayahnya saling pandang dan sama-sama khawatir bagaimana jadinya jika Laila mengakhiri sandiwara ini.


Setelah selesai Sarapan ibu Susi berdiri dan berjalan sendiri ke kamar mandi karena tidak mau ada yang menemani.


" Kak ... Hari ini kakak sudah ijinin Laila belum kak " tanya Laila


" Sudah ... kakak sudah telpon Anggi, supaya dia membuatkan surat ijin untukmu " jawab Rafik


" Terimakasih ya kak ... " ucap Laila


" Seharusnya kakak yang berterima kasih La... karena Laila ibuku bisa sehat seperti dulu lagi " ucap Rafik.


" Bahas tentang apa serius banget ?" tiba-tiba Bu Susi sudah duduk di tepi ranjangnya


" Gak ada Bu ... cuma anak gadis ini, sudah lama tidak bertemu dengan pujaan hati ... mungkin kangen, jadi terkadang kalau ngomong sering ke sleo " ucap Rafik mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


" Benarkah ... anak ibu, sedang demam rindu ? " ucap Bu Susi menimpali


" Sudah-sudah jangan diganggu ... kasian, lihat itu mukanya merah seperti kepiting rebus " goda pak ikhsan yang tak mau ketinggalan.


Sementara Rafik hanya tertawa terbahak bahak melihat respon Laila. Mereka begitu bahagia dengan kehadiran Laila yang menjadi pengganti Anis


Setelah beberapa lama, dokter masuk dan menjelaskan bahwa keadaan ibu Susi baik-baik saja dan mereka diperbolehkan untuk pulang. Pak ikhsan keluar untuk mengurus semua administrasinya sedangkan Laila dan Rafik membereskan barang bawaan dan yang Lainnya, kemudian Rafik membawanya dan memasukkannya ke dalam mobil di bantu oleh Laila.


" Kak nanti Laila pulangnya bagaimana ?" tanya Laila


" Nanti malam menginap dulu di rumah Kakak ya ... nanti kakak yang akan menyampaikan ijin ke pamanmu, agar tidak khawatir " jawab Rafik


" Berapa lama ?" tanya Laila lagi


" Kita lihat perkembangan ibu dulu ya La ... Nanti kamu bisa menempati kamar Anis " jelas Rafik


" Baiklah kak ... " jawab Laila lagi


Kemudian mereka berdua melangkah menuju ruang perawatan Bu Susi, untuk menjemputnya pulang.

__ADS_1


" Ayo Bu ... kita pulang " ucap Rafik setelah sampai di kamar Bu Susi


" Ayo ... ibu sudah tidak sabar " ucap Bu Susi


Kemudian Laila menggandeng tangan Bu Susi dan berjalan keluar menuju mobil dan di ikuti oleh Rafik dan juga pak ikhsan.


Setelah sampai di rumah pak ikhsan mengajak istrinya untuk istirahat di dikamar sementara ia sibuk membereskan pakaian dan yang lainnya.


" Kenapa aku merasa Anis berbeda ya ?" tanya Bu Susi kepada suaminya


" maksud ibu bagaimana ?" tanya pak ikhsan


" Entahlah ... tapi aku merasa dia bukan Anis anak kita " jelas Bu Susi


pak ikhsan hanya tersenyum menanggapi ucapan istrinya.


" Kamar ini ... juga kenapa berbeda ?" tanya Bu Susi lagi


" Maaf ... kalau agak beda, soalnya yang biasa merawatnya sedang sakit " jawab pak ikhsan lagi


" Memangnya berapa lama saya sakit ?, Sampai-sampai saya hampir lupa karena perubahan yang terjadi " tanya Bu Susi lagi


" Ibu lebih baik istirahat dulu ... agar segera pulih " ucap pak ikhsan yang mencoba mengalihkan pembicaraan


Dan istrinya menurut, dia merebahkan tubuhnya sementara pak ikhsan menyelimuti dan memijat kaki istrinya dengan lembut. Dan tak lama istrinya tertidur.


" Nak ... maaf ya merepotkan, dan terimakasih atas bantuannya " ucap pak ikhsan setelah keluar kamar dan melihat Laila


" Jangan sungkan pak ... Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan " ucap Laila dengan tersenyum


" Yah ... gimana dengan ibu ?" tanya Rafik yang ikut bergabung


" Ibu sudah tidur ... Mungkin pengaruh dari obatnya " jawab pak ikhsan


" Lalu bagaimana caranya kita menjelaskan kepada ibu, bahwa dia adalah Laila bukan Anis ?" tanya Rafik lagi


" Tadi ibu sempat bilang ... kenapa ia merasa kalau Anis bukan anaknya, dan Anis terasa berbeda " jawab pak ikhsan


" Lalu ...?" tanya Rafik dengan rasa penasarannya


" Ayah belum menjelaskan ... kita lihat perkembangan kesehatan ibu dulu, baru nanti kita pikirkan cara menjelaskannya " jawab pak ikhsan

__ADS_1


" Menurutmu bagaimana La ...?, karena hal ini berhubungan dengan posisimu ... " tanya Rafik


__ADS_2