Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 65. Air mata Hana


__ADS_3

Fauzi dan juga Laila memiliki pemikiran yang sama, yaitu tuan Aditya pasti sudah mengetahui resep pengubah wajah seseorang tersebut.


Kemudian Fauzi menghubungi anak buahnya agar segera menangkap Dokter yang ditugaskan oleh tuan Aditya di pulau milik tuan Aditya, yang pernah ditugaskan untuk merawat pasien yang di duga sebagai orang tua Fauzi.


Setelah itu Fauzi juga meminta Rian agar mengambil tes DNA untuk Anis dan juga orang tersebut.


Selain menunggu hasil tes DNA miliknya, ia juga ingin menyelesaikan masalah antara dirinya dan juga Hana. Ia ingin segera menikahi Laila secara hukum negara, agar Laila tidak lagi disebut sebagai selir melainkan istri kecilnya.


Sedangkan Laila kembali sibuk dengan pelajaran disekolah nya, ia ingin setelah Fauzi wisuda ia juga segera lulus dari SMA. Sehingga ia bisa segera mengumumkan pernikahannya kepada seluruh dunia sebelum ia melanjutkan pendidikannya.


Setelah semua dirasa cukup, Fauzi dan juga Laila beristirahat, melepaskan semua beban yang ada, merajut mimpi indah bersama.


Sementara Hana yang baru mengetahui semua kejahatan yang dilakukan oleh ayahnya hanya diam mengurung diri di dalam kamarnya.


Ia tidak tau harus bagaimana menjalani kehidupan ini tanpa sang ayah, dan ia tidak tau bagaimana dan dimana ia kan tinggal setelah ayahnya mendapatkan hukuman dari semua perbuatannya.


Dari hasil sidang memutuskan bahwa semua harta yang selama ini mereka miliki adalah milik tuan Sudrajat dan keluarganya, yang artinya harta tersebut adalah milik Fauzi sebagai anak tunggal tuan Sudrajat.


Hana menangis pilu disudut kamarnya, lampu yang redup menambah kesan yang semakin terlihat betapa terpuruknya kehidupan Hana saat ini, jauh berbanding terbalik dengan kehidupannya sebelumnya.


"Ibu mengapa aku harus menjalani kehidupan yang seperti ini ? mengapa ibu tidak mengajakku untuk pergi meninggalkan dunia ini bersama ibu selamanya." ucap Hana dalam tangisnya.


Perlahan ada seseorang yang masuk kedalam kamarnya, ia adalah pelayan satu-satunya di rumah itu yang masih mau bertahan demi Hana.


Dengan lembut ia membelai rambut Hana, kemudian menghapus air mata yang membasahi wajah Hana.


"Non, lebih baik non Hana makan dahulu, setelah itu non Hana mandi agar lebih segar." ucap wanita paruh baya itu.


"Bik bagaimana aku bisa makan, sementara nasib ku seperti ini." ucap Hana.


"Non Hana yang sabar ya, semuanya pasti akan baik-baik saja." jawabnya mencoba untuk menenangkan Hana.

__ADS_1


"Bik, bagaimana jika Fauzi mengambil rumah ini, aku akan tinggal di mana ? dan bagaimana aku harus menjalani kehidupan ini ?" ucap Hana dengan berlinang air mata.


"Non Hana jangan khawatir, jika tuan Fauzi mengambil rumah ini, kita akan tinggal di rumah bibi di kampung."


"Kita akan menjalani kehidupan yang baru, dan non Hana jangan berkecil hati, masa depan non Hana pasti akan lebih baik jika non Hana berusaha semaksimal mungkin." jawab pelayan itu.


"Terimakasih bik." ucap Hana sambil memeluk tubuh wanita yang selama ini merawatnya, sejak kepergian sang ibu. Keduanya saling menguatkan satu sama lain.


"Sekarang lebih baik non Hana makan dahulu, agar tubuh non Hana sehat." ucap sang pelayan dengan lembut.


"Terimakasih bik, seandainya tidak ada bibi entah bagaimana keadaan Hana saat ini." ucap Hama dengan terisak.


"Mon sebagai manusia kita harus saling tolong menolong, terlepas bagaimana tuan Aditya tapi non Hana sudah bibi anggap seperti anak sendiri."


"Jadi non Hana jangan merasa sungkan. Jika ada sesuatu non Hana jangan ragu untuk berbicara dengan bibi." ucap pelayan tersebut dengan tersenyum.


"Terimakasih bik, hanya bibi yang masih mau menerima Hama, meskipun tau bagaimana jahatnya ayah Hana." ucap Hana.


"Sekali lagi terimakasih bik." ucap Hana sambil menghapus air matanya yang masih menetes.


"Sudahlah non, sekarang makan dulu nasinya selagi masih hangat." ucapnya lagi.


Kemudian Hana melahap makanan yang ada di hadapannya dengan sangat pelan. Ia seakan kehilangan nafsu makannya.


Masalah yang ia hadapi saat ini yang membuat ia merasa kenyang, bahkan matanya enggan untuk terpejam.


"Non apakah non Hana mau makan lagi ?" tanya pelayan itu dengan sopan.


"Tidak baik sudah cukup, aku ingin mandi dahulu." jawab Hana.


"Baiklah non, jika sudah selesai lebih baik non Hana istirahat, non Hana harus menjaga kesehatan non Hana. Jika ada sesuatu jangan sungkan untuk memanggil bibi." ucap pelayan tersebut sambil membereskan bekas makanan Hana.

__ADS_1


"Terimakasih bik, lebih baik bibi juga istirahat, ini sudah sangat larut." jawab Hana.


Setelah wanita paruh baya itu keluar dari kamarnya, Hana berdiri kemudian membersihkan tubuhnya, setelah itu ia berbaring di ranjangnya dan mencoba untuk memejamkan matanya.


Namun bayangan saat dalam sidang tersebut, masih terlihat jelas dalam ingatannya, bagaimana tatapan sahabat dan teman -temannya juga masih terukir jelas dalam benaknya.


Kristal -kristal bening itu kembali menetes, seakan tidak ada yang sanggup untuk membendungnya.


"Ayah, Hana rindu dengan ayah. Seandainya Hana bisa memilih lebih baik Hana hidup miskin dan kekurangan asalkan bisa bersama dengan ayah seumur hidupku."


"Hana tidak mengharapkan semua harta ini, Hana hanya ingin hidup bahagia bersama dengan ayah." ucap Hana dengan sangat pilu.


Ia kembali menangis menumpahkan semua rasa yang bergejolak di dalam dada, ia ingin berteriak untuk mengurangi beban yang ada, namun ia takut jika itu akan menggangu orang lain yang sudah terlelap.


Kemudian Hana menutup mulutnya dengan menggunakan bantal agar tangisnya tidak terdengar lagi dari luar. Ia tidak ingin mengganggu siapapun.


Ia hanya ingin menangis untuk meluapkan segala beban yang ada di dalam hatinya.


Semua bayang-bayang masa lalunya silih berganti melintas dalam benaknya, kesedihannya semakin mendalam saat ia teringat dengan hubungannya dengan Fauzi.


Seandainya sang ayah tidak melakukan semua kejahatan itu, pasti sebentar lagi ia akan segera menikah dengan Fauzi.


Lelaki yang sejak dari kecil ia cintai, tapi kini semuanya hancur berantakan hanya karena perbuatan sang ayah.


Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Fauzi saat bertemu dengan dirinya suatu hari nanti.


Sedangkan saat Fauzi masih berstatus sebagai tunangannya dan sang ayah belum ketahuan belangnya. Fauzi lebih memilih selir kecilnya itu dibandingkan dirinya.


Lalu bagaimana setelah semuanya terungkap, apakah Fauzi masih mau bertegur sapa dengan dirinya atau sebaliknya ?.


Hana teringat bagaimana ia berusaha untuk menjauhkan Fauzi dengan Anis dan juga dengan wanita -wanita yang lain termasuk Laila.

__ADS_1


Tetapi pada akhirnya, ia harus menerima sebuah kenyataan pahit akibat perbuatan yang dilakukan sang ayah.


__ADS_2