
Setelah semua urusan administrasi selesai, Fauzi membawa pulang Laila dengan pengawalan ketat, semua alat bantu kesehatan yang masih digunakan oleh Laila di awasi langsung oleh Dokter Spesialis.
Setelah sampai Laila langsung di bawa masuk ke dalam kamarnya, para penghuni rumah mewah tersebut menyambut kedatangan Laila dengan penuh suka cita.
Tuan Aditama meneteskan air matanya, ia terharu melihat betapa berharganya sang putri di hadapan para penghuni rumah mewah tersebut.
Saat semua berbahagia, Anis melihat semua dengan air mata. Ia sangat sedih karena tidak ada seorangpun yang memperlakukan ia seperti orang -orang itu memperlakukan Laila.
Ia kemudian berjalan keluar, ia ingin pergi meskipun tak mempunyai tujuan. Namun saat sampai di pintu gerbang para penjaga mencegah kepergiannya.
Setelah beberapa saat Rian akhirnya muncul dan mengajak Anis kembali masuk ke dalam rumah.
"Nona silakan kembali masuk ke dalam rumah, anda dilarang meninggalkan rumah ini tanpa seizin dari nona kami." ucap Rian dengan sopan.
"Untuk apa lagi saya harus tinggal di sini ?" tanya Anis dengan sedih.
"Anda harus mempertanggung jawabkan semua kebohongan anda." jawab Rian singkat.
"Baiklah aku akan bertanggungjawab atas semua kesalahanku." jawab Anis lirih.
"Apa kesalahan yang telah dibuat oleh gadis ini ?" tanya tuan Aditama.
"Dia yang mengaku sebagai nona disaat nona belum ditemukan tuan." jawab Rian singkat.
"Kalau begitu kau harus menerima hukuman dari Ku terlebih dahulu ! kau berani sekali mengaku sebagai putri ku." ucap Tian Aditama sambil mendekati Anis dan hendak memukul Anis.
Namun ia berhenti saat melihat bahwa Anis begitu mirip dengan Laila. Ia tertegun sejenak.
"Siapa kau sebenarnya ? mengapa kau mempunyai wajah yang mirip dengan putri ku ?" tanya tuan Aditama.
"Maaf saya tidak tau siapa saya tuan, sejak kecil saya dibesarkan oleh keluarga tuan Ikhsan, tetapi saya hanya seorang anak pungut tuan." jawab Anis dengan meneteskan air matanya.
"Ikhsan ? " tanya tuan Aditama.
Anis hanya mengangguk, kemudian Rian dan tuan Aditama mengajaknya untuk kembali masuk dan mempersilahkan Anis untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Sementara tuan Aditama duduk di sofa dengan termenung.
__ADS_1
"Apakah dia putri kandung ku yang dibicarakan oleh Aditya?" batin tuan Aditama.
"Aku harus menemui Aditya dan menanyakan kebenaran semua yang di ucapkan selama ini." ucap tuan Aditama sambil berdiri dan hendak melangkah keluar.
"Tunggu tuan !" ucap Rian saat melihat tuan Aditama hendak keluar.
"Maaf tuan anda mau pergi kemana ? bagaimana jika nona mencari anda ?" tanya Rian dengan sopan.
"Aku akan menemui Aditya, dia harus menjelaskan siapa gadis itu." jawab tuan Aditama dengan jujur.
"Maaf tuan saat ini tuan Aditya masih dalam pemeriksaan Polisi, beliau berada di dalam penjara."
"Tuan Fauzi tidak mengijinkan siapapun menemui beliau sampai Nona sembuh total tuan." ucap Rian.
"Di dalam penjara ? Dan mengapa Fauzi melakukan hal itu ?" tanya tuan Aditama dengan bingung.
Kemudian Rian menjelaskan semua kejadian yang menimpa Fauzi dan juga Laila, bahkan hilangnya Laila dan video yang diputar oleh Laila di saat acara kampus berlangsung.
"Apa ? semua adalah perbuatan Aditya ? dan putri kecilku menghilang karena terjebak di dalam ruang rahasia Sudrajat." tanya tuan Aditama seakan tak percaya.
"Benar tuan, jadi untuk memutuskan semua harus dengan persetujuan nona, karena hanya nona yang tau semua kebenaran peristiwa di masa lalu yang menimpa tuan Sudrajat beserta anda dan sahabat-sahabatnya. " jelas Rian.
"Pasien sudah sadar tuan tinggal menunggu ingatannya kembali. Dan untuk nona Anis kita bisa melakukan tes DNA untuk memastikan siapa dia sebenarnya." jawab Rian.
"Baiklah aku akan menunggu sampai putri kecil ku itu pulih." jawab tuan Aditama sambil kembali duduk di sofa.
"Maaf tuan lebih baik anda beristirahat, kami telah menyiapkan kamar untuk anda." ucap Rian.
Kemudian tuan Aditama berdiri dan di antar oleh Rian menuju ke kamarnya, setelah itu Rian kembali memastikan semua keamanan rumah itu, termasuk semua penghuni rumah.
Sementara Fauzi masih setia menunggu Laila, ia tidak ingin meninggalkan istrinya. Ia bahkan tidur sambil duduk di samping ranjang dengan tetap menggenggam tangan Laila.
"Tuan lebih baik anda membersihkan diri kemudian beristirahat, biar saya yang menjaga nona tuan." ucap bik Sumi.
"Baiklah bik titip Laila sebentar." jawab Fauzi dengan sangat berat.
__ADS_1
Setelah itu ia bangkit dan meninggalkan Laila dan bik Sumi kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah semua aktivitasnya selesai, Fauzi kembali mendekati Laila dan bik Sumi.
"Bik lebih baik baik Sumi istirahat, biar saya yang menjaga Laila. Jika saya membutuhkan sesuatu saya akan menghubungi bik Sumi." ucap Fauzi.
"Tapi tuan anda belum beristirahat sama sekali." ucap bik Sumi.
"Tidak masalah bik, ini jauh lebih baik dari pada saat Laila jauh dari sisiku." jawab Fauzi sambil menatap wajah istrinya.
"Baiklah tuan, jika itu keputusan anda." jawab bik Sumi, kemudian ia berjalan meninggalkan Fauzi dan juga Laila.
Dengan lembut Fauzi membelai wajah Laila, kemudian ia mencium kening istrinya.
"Sayang cepat sembuh ya." ucap Fauzi lirih.
"Kak, tidurlah di samping Laila. Karena tempat paling nyaman bagi Laila adalah saat Laila bisa tidur dalam dekapan kakak." ucap Laila pelan.
"Sayang kau sudah bangun ? apakah kau masih lapar atau mungkin kau ingin minum ?" tanya Fauzi.
"Laila ingin tidur dalam dekapan kakak." jawab Laila
"Baiklah sayang, kau beristirahatlah agar cepat sembuh." jawab Fauzi.
Kemudian ia berbaring di samping Laila, dan dengan lembut ia mengangkat Laila dan membaringkan kembali dengan lengannya sebagai bantal.
Laila kemudian menenggelamkan wajahnya ke dalam dada sang Suami, ia mencari posisi yang paling nyaman.
"Sayang semoga kemesraan ini akan abadi hingga kita menjadi nenek kakek nanti." ucap Fauzi sambil tersenyum. Kemudian keduanya terlelap menjemput mimpi yang indah.
Hingga saat pagi menjelang keduanya masih terlelap dengan posisi yang sama. Di saat bik Sumi mengantarkan Dokter untuk memeriksa keadaan Laila, mereka masih enggan untuk membuka matanya.
"Sebenarnya nona Laila tidak memerlukan seorang Dokter." ucap sang Dokter sambil tersenyum melihat kemesraan suami istri itu.
"Anda benar Dokter, tetapi untuk memastikan kesehatan nona, anda harus tetap memeriksanya Dokter." jawab bik Sumi.
__ADS_1
"Aku akan memeriksa kesehatan nona Laila setelah ia bangun nanti, sekarang lebih baik kita keluar dan biarkan mereka beristirahat dengan baik." ucap sang Dokter kemudian melangkah meninggalkan dua sejoli yang masih terlelap itu.
Bik Sumi mengikuti dari belakang sambil tersenyum, melihat kebahagiaan kedua majikannya. Setelah keluar ia segera menutup pintu kembali dengan sangat pelan agar tidak menggangu mereka beristirahat.