Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 40. Berlibur


__ADS_3

Dari hari ke hari Hana memanfaatkan kedekatannya dengan Fauzi. Bahkan ia sengaja mengumbar kemesraan di depan banyak orang terutama Laila.


Dengan sengaja Hana mencium pipi Fauzi di depan Laila yang kebetulan melintas melihatnya.


"Sayang kapan kita akan berbulan madu di pulau milik keluarga ku ?" tanya Hana dengan manja saat Laila masuk ke perpustakaan.


Sementara Fauzi hanya melihat Laila yang menunduk saat berjalan di hadapan mereka.


"Maafkan aku sayang, ini tidak akan bertahan lama, sebentar lagi aku akan mengakhiri sandiwara ini." batin Fauzi.


Sementara Hana dengan sengaja mencium pipi Fauzi yang terdiam melihat Laila. Laila menetralkan rasa cemburu di hatinya.


Ia tetap fokus pada materi yang ia pelajari, ia sudah berjanji tidak akan sakit hati melihat kedekatan Hana dan Fauzi, ia juga sudah berjanji akan segera lulus dan akan segera menggelar resepsi pernikahan mereka.


"Aku harus bisa." batin Laila dan ia mulai mempelajari materi pelajarannya.


"Hana kapan kita pergi ke pulau milik orang tuamu ?" tanya Fauzi.


"Apakah kita tidak menikah terlebih dahulu baru kemudian kita berbulan madu ?" ucap Hana.


"Hana kita akan berlibur bukan berbulan madu." jawab Fauzi.


"Terserah kau saja." jawab Hana dengan manja sambil menyandarkan kepalanya di pundak Fauzi.


"Sekarang juga kita nakan berangkat ! persiapkan segala kebutuhan mu, aku tunggu kau disini." ucap Fauzi dengan tegas.


"Kau sudah tidak sabar, kita akan menikmati hari-hari hanya berdua." jawab Hana.


"Kalau begitu cepatlah !" ucap Fauzi.


"Ok sayang." jawab Hana kemudian ia berdiri dan segera berlalu.


Fauzi segera mendekati Laila setelah memastikan Hana sudah pergi.


"Sayang maafkan kakak ya." ucap Fauzi sambil mengusap pipi Laila.


"Mengapa kakak minta maaf ?" jawab Laila dengan lembut.


"Sayang kakak berjanji akan segera mengakhiri sandiwara ini, setelah kakak berhasil menyelamatkan kedua orang tua kakak." ucap Fauzi.


"Iya kak Laila selalu mendoakan yang terbaik." jawab Laila.

__ADS_1


"Sayang terimakasih atas pengertian mu." ucap Fauzi sambil mencium tangan Laila. Sementara Laila hanya menundukkan kepalanya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi ?" tanya Fauzi lagi.


"Ternyata sangat sakit kak" jawab Laila dengan menitikkan air matanya.


"Maafkan kakak sayang, maafkan kakak. Kakak terpaksa." ucap Fauzi sambil mengusap air mata istrinya.


"Tidak kak, kakak jangan meminta maaf terus, segera selamatkan mertuaku." ucap Laila sambil tersenyum di antara air mata.


"Sayang aku sangat mencintaimu, aku rindu semua yang ada padamu." ucap Fauzi sambil mencium bibir Laila.


Keduanya saling membalas dan memperdalam ciumannya, saling melepaskan rindu meskipun hal itu tidak mampu mengobati rasa rindu di hati masing-masing.


"Tunggu kakak sayang, kita akan melakukannya setelah kakak pulang." ucap Fauzi sambil mengusap bibir istrinya.


"Kakak akan segera berangkat, hati-hati di rumah, kabari kakak jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan." ucap Fauzi.


Laila hanya mengangguk, kemudian ia menjabat tangan suaminya dan mencium punggung tangan yang selama ini menjadi pelindungnya.


Dengan berat Fauzi melangkah meninggalkan Laila dengan segala rasa di dalam dada. Fauzi segera mengemudikan motornya menuju rumah Hana.


Hana dan juga Fauzi segera pergi menuju pulau tempat orang tua Fauzi berada selama ini. Keduanya berangkat dengan menggunakan kapal cepat milik keluarga Aditya.


Hana dan Fauzi berlayar bersama orang-orang Tuan Aditya, Hana dengan posesifnya mengandeng tangan Fauzi, sedangkan Fauzi hanya memandang lautan luas.


"Sayang seandainya kau yang berada di Samping kakak, pasti perjalanan ini lebih menyenangkan." batin Fauzi.


Setelah sampai Hana langsung mengajak Fauzi, pergi ke Villanya, mereka berdua di sambut oleh anak buah tuan Aditya.


Fauzi dan Hana segera masuk ke kamar masing-masing, sebelum menikmati keindahan pantai. Setelah berada di dalam kamar Fauzi segera mengirimkan lokasinya dan segera menghubungi Rian.


"Rian tolong cek, keberadaan ku saat ini masih jauh dengan lokasi orang tua ku atau tidak ?" ucap Fauzi setelah teleponnya tersambung.


"Baik tuan akan segera saya cek." jawab Rian.


"Tuan Anda berada di lokasi yang sama, namun lokasi orang tua anda berada di bawah anda tuan, kemungkinan beliau berada di dalam ruang bawah tanah atau sejenisnya." jelas Rian sambil menatap ke arah monitornya.


"Baiklah terimakasih aku akan segera mencari lokasinya. Rian tolong jaga istriku dengan baik." ucap Fauzi.


"Baik tuan, saya akan menjaga nona dengan sebaik-baiknya." jawab Rian.

__ADS_1


Kemudian keduanya mengakhiri panggilan tersebut, Fauzi segera bersiap-siap untuk mengajak Hana berkeliling villa sambil mencari keberadaan orang tuanya.


Setelah keduanya selesai, mereka keluar dari kamar masing-masing, kemudian keduanya menikmati makan malam yang sudah disiapkan.


"Hana setelah ini, mari kita berkeliling villa sambil menikmati keindahan malam." ucap Fauzi.


"Tentu saja sayang." jawab Hana.


Setelah selesai Hana mengandeng tangan Fauzi dan hendak mengajaknya keluar, namun Fauzi menolaknya.


"Hana, kita berkeliling villa saja, villa ini terlalu luas aku takut nyasar jika tidak kau kenalkan dengan setiap ruangannya. Aku takut salah sehingga membuat orang tuamu marah." ucap Fauzi.


"Kau ini, mana mungkin ayahku marah, memangnya ada apa di villa ini." jawab Hana.


"Aku tidak tau Hana, tapi jika memang tidak masalah tidak apa jika kau tidak mengajakku untuk mengenali villa ini. Mari nkita keluar untuk menikmati indahnya alam di malam hari." ucap Fauzi.


Kemudian Hana dan Fauzi keluar dan duduk bersama di tepi pantai, Hana dengan posesifnya menggandeng tangan Fauzi sambil menyandarkan kepalanya.


"Sayang, aku bahagia sekali malam ini, apakah kau juga sama ? sebaiknya kita segera menikah saja." ucap Hana.


"Apa yang membuat mu ingin segera menikah ?" tanya Fauzi dengan cueknya.


"Agar kita bisa menikmati indahnya surga dunia." jawab Hana sambil tersenyum membayangkan malam pertama mereka.


"Kau ini ! pasti sekarang kau sudah menghayal tentang hal itu." ucap Fauzi.


Hana hanya tersenyum kemudian ia ingin mencium bibir Fauzi namun dengan cepat Fauzi menolak sehingga hanya pipi Fauzi yang Hana cium.


"Semakin nkau menolak semakin aku menjadi penasaran." batin Hana.


"Hana kau angresip sekali, biasanya kau bersikap anggun dan menjaga kehormatan mu." ucap Fauzi.


"Aku sangat mencintaimu Fauzi, aku takut kehilanganmu. Apa lagi sejak kehadiran Laila kau begitu memperhatikan anak itu." ucap Hana.


"Menurut mu apakah Laila berada di atas mu ? sehingga kau begitu menghawatirkan kehadirannya ?" tanya Fauzi.


"Tidak ! tidak sama sekali, Laila hanya seorang selir kecil bagiku." jawab Hana.


"Selir ? mengapa kau selalu menyebut Laila dengan kata Selir ?" tanya Fauzi lagi.


"Karena ... . Ah entahlah ! kita jangan membahas Laila, lebih baik kita bahas bagaimana hubungan kita akan diresmikan ke jenjang yang lebih serius." ucap Hana mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2