
Saat Anis membuka matanya, ia mencari dimana Fauzi, ia mengingat kembali saat Fauzi memeluk tubuhnya dengan mesra.
Anis tersenyum kemudian ia segera bangkit, untuk mencari Fauzi, ia membuka pintu kamar mandi dan ruangan yang lainnya namun tidak menemukan yang ia cari.
Kemudian Anis segera turun kebawah untuk memastikan bahwa Fauzi ada di dalam rumah. Namun lagi-lagi ia tidak menemukannya.
"Nona anda sudah bangun ? apakah ada yang anda butuhkan ?" tanya bik Sumi dengan sopan.
"Tidak aku hanya mencari dimana Fauzi." jawab Anis.
"Maaf nona, tuan muda sudah berangkat untuk menyelesaikan pekerjaannya, beliau tidak ingin mengganggu tidur anda yang terlihat begitu pulas sehingga tuan tidak berpamitan dengan nona." jawab bik Sumi.
"Sudah pergi ?" tanya Anis.
"Iya Nona, dan juga tadi tuan berpesan agar anda tidur di kamar tamu karena seperti yang anda inginkan agar kamar anda di renovasi." ucap bik Sumi.
"Di renovasi ?" tanya Anis.
"Iya nona, anda yang meminta sebelum anda pergi, jadi tuan muda mengabulkan permintaan anda agar anda tidak pergi lagi." jawab bik Sumi.
"Kamar sebagus itu masih mau direnovasi ? bagaimana jika mereka bertanya kepada ku apa yang akan aku katakan. Sementara aku tidak paham dengan selera orang kaya." batin Anis.
"Mari nona saya antar anda ke kamar tamu, agar kamar anda bisa segera di renovasi." ucap bik Sumi
"Tapi bagaimana dengan barang-barang ku ?" tanya Anis.
"Bukankah Anda juga mengatakan kepada tuan, bahwa anda ingin mengganti semua dan tidak ingin menggunakan barang-barang itu lagi ?" tanya bik Sumi.
"Baiklah, aku sedikit lupa." jawab Anis sambil melangkah mengikuti bik Sumi.
"Akan dikemanakan barang-barang mewah itu, sayang sekali aku tidak bisa beralasan untuk menahannya." batin Anis.
"Silakan nona anda bersiap, jika sudah mari saya antar anda membeli sesuatu yang anda inginkan." ucap bik Sumi kemudian ia pergi meninggalkan Anis.
__ADS_1
Anis masuk kedalam kamar tamu, ia kembali terpukau dengan kemewahan kamar tersebut, ia memeriksa semua benda yang ada di dalam kamar tersebut.
"Sebenarnya sangat bagus tapi tetap lebih baik kamar yang ada di lantai atas, kamar milik Fauzi. Tapi tidak masalah karena setelah di renovasi kamar itu akan menjadi milikku kembali."
"Hari ini aku akan membeli semua yang aku inginkan, semoga Fauzi meninggalkan banyak uang untuk ku berbelanja." ucap Anis kemudian ia segera mandi dan berganti pakaian yang sudah disiapkan oleh bik Sumi.
Setelah siap Anis mencari bik Sumi dan mereka segera pergi di antar oleh seorang supir.
"Nona mari saya antar, dan maaf ini sedikit kurang rapi." ucap bik Semi sambil membenarkan pakaian yang dikenakan oleh Anis.
Setelah itu keduanya masuk kedalam mobil. Mereka melewati perjalanan dengan hening. hanya sesekali bik Sumi memperhatikan Anis, wanita yang mengaku sebagai Laila.
"Siapa kau berani sekali mengaku menjadi nona kami, akan ku beri sedikit kenang-kenangan agar kau selalu mengingat siapa kau dan siapa nona kami." batin bik Sumi.
"Nona kita akan pergi kemana ? maksud saya ke mall mana ?" tanya sang supir.
"Ketempat biasanya saja." jawab Anis dengan santai.
"Baik nona." jawab sang Supir.
Anis yang tidak terbiasa langsung memejamkan matanya karena ketakutan, ia merasa perutnya seperti di aduk-aduk, namun untuk menutupi kebohongannya ia berpura-pura santai.
Keringat dingin mulai mulai membasahi tubuh Anis, dengan sekuat tenaga Anis menahan agar ia tidak muntah di dalam mobil mewah itu.
Sementara sang supir yang melihat reaksi Anis dari balik kaca tersenyum puas, setelah merasa cukup memberikan sedikit kejutan untuk Anis, sang Supir melajukan mobilnya dan berhenti di salah satu mall yang terkenal di kota tersebut.
Setelah mobil berhenti Anis langsung keluar dan memuntahkan semua isi perutnya. Anis terlihat begitu pucat dan terus memuntahkan isi perutnya.
"Nona apakah anda baik-baik saja ? mengapa anda jadi seperti ini ? sejak kapan anda mabuk kendaraan ? bukankah biasanya anda sangat menyukai hal ini ?" tanya bik Sumi sambil memijit punggung Anis.
Anis diam seribu bahasa, ia tidak bisa berkata apa-apa selain duduk di lantai sambil memegang perutnya.
"Maafkan kami nona, habis anda suka mengambil hak nona kami." batin bik Sumi.
__ADS_1
"Nona apakah anda ingin pergi ke Dokter atau langsung masuk untuk berbelanja ?" tanya bik Sumi setelah lama menunggu Anis.
"Kita masuk saja, nanti jika masih terasa mual baru kita ke Dokter". jawab Anis sambil berdiri.
"Baiklah nona, tapi sebaiknya anda merapikan penampilan anda sebelum masuk nona, kasian tuan Fauzi, jangan sampai anda menjadi sorotan publik karena penampilan anda yang terlihat sangat menyedihkan." ucap bik Sumi.
"Baiklah, kau benar. Aku akan ke toilet sebentar." jawab Anis, kemudian ia melangkah menuju toilet.
"Bik Sumi, apakah dia tidak akan mengadu kepada tuan ?" tanya sang supir sedikit merasa khawatir.
"Tidak, jikapun ia mengadu biarkan saja, tuan sudah mengetahui bahwa dia bukannya Nona, oleh sebab itu tuan menyuruh aku menutup kamar nona dengan alasan kamar itu akan direnovasi." jelas bik Sumi.
"Baiklah kalau begitu." jawab sang supir sambil tersenyum.
Setelah menunggu lama, akhirnya Anis keluar dan menghampiri bik Sumi. Kemudian keduanya berjalan dan segera masuk ke mall tersebut.
"Nina apa yang ingin anda beli terlebih dahulu ?" tanya bik Sumi.
"Aku ingin mengganti pakaian ku terlebih dahulu, mari kita mencari pakaian terlebih dahulu." jawab Anis.
Kemudian bik Sumi berjalan mengikuti Anis, Anis begitu antusias ia membeli beberapa pakaian dan mengenakan pakaian tersebut. Sementara bik Sumi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Anis.
"Bik tolong bayar semuanya ini, aku lupa membawa ATM." ucap Anis sambil mendekati bik Sumi.
"Maaf Nona bukankah biasanya anda hanya perlu scan wajah anda ?" tanya bik Sumi.
"Tidak, aku hanya ingin mengalihkan perhatian banyak orang saja." jawab Anis.
"Akan ketahuan jika aku scan wajah atau sidik jari. Karena sebenarnya aku bukan gadis yang kalian cari." batin Anis.
"Baiklah nona, tapi sampai di rumah nanti tolong ganti uang saya nona. Uang saya tidak sebanyak uang Nona, jika nanti uang saya tidak cukup anda jangan merasa kecewa nona.". jawab bik Sumi.
"Tenang saja, Fauzi pasti akan mengganti semuanya, kau jangan khawatir." jawab Anis.
__ADS_1
Setelah membayar semua pakaian yang Anis ambil, keduanya melanjutkan membeli beberapa barang yang dibutuhkan oleh Anis. Anis begitu menikmati menjadi orang kaya. Ia bahkan memesan makanan dan menyantap makanan tersebut layaknya orang yang kelaparan.