
Setelah beberapa saat Hana meninggal rumah itu, sang pelayan yang biasanya menemani Hana ingin mengajaknya untuk makan bersama.
Setelah mengetuk pintu dan tidak mendapatkan jawaban, pelayan itu kemudian membuka pintu kamar Hana dan mencari keberadaan Hana.
Namun ia tidak menemukan Hana hanya sebuah surat dan sejumlah uang dari Hana. Pelayanan itu kemudian membuka sebuah surat yang tertulis untuk dirinya.
Setelah membaca isi surat tersebut, pelayan itu berlari keluar rumah untuk mencari keberadaan Hana.
Namun ia sudah mencari kemana-mana namun tidak juga menemukan Hana. Sementara Hana yang melihat sang pelayan mencarinya seperti orang gila, hanya bisa meneteskan air matanya.
Hana bersembunyi, ia tidak ingin menjadi beban siapapun. Ia harus bisa kuat menahan segala kesedihan dan juga perasaannya saat ini yang tak menentu.
Setelah memastikan semua yang mencarinya berlalu meninggalkan tempat itu Hana melanjutkan perjalanan untuk memulai hidup baru.
Ia benar-benar bertekad untuk memulainya dari awal dan ia ingin mandiri tanpa merepotkan orang-orang yang sangat ia sayangi selama ini.
Sementara pelayan itu segera meminta penjaga yang di tugaskan oleh Fauzi, untuk melaporkan semua kejadian hilangnya Hana.
Setelah mendapatkan laporan itu, Fauzi segera mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Hana.
Setelah beberapa hari, akhirnya pencarian itu mereka hentikan atas permintaan Laila. Mau tidak mau Fauzi menghentikan proses pencarian Hana.
Fauzi dan juga Laila kembali menjalani kehidupan mereka seperti biasanya, Fauzi yang telah menyelesaikan skripsinya akhirnya bisa melakukan tahap demi tahap untuk mendapatkan gelar Sarjananya.
Begitu juga dengan Laila, ia kembali beraktivitas untuk menyelesaikan pendidikan SMA agar ia bisa segera mengumumkan pernikahannya dengan Fauzi.
Pada suatu hari Laila mengajak Fauzi untuk menghabiskan weekend di suatu tempat. Fauzi menuruti keinginan sang istri.
"Sayang sebenarnya apa yang kau cari ditempat terpencil seperti ini ?" tanya Fauzi sambil mengemudikan mobilnya.
"Sebentar lagi kakak akan mengetahuinya." jawab Laila.
"Apakah ada sesuatu yang selama ini kau sembunyikan dari kakak ?" tanya Fauzi lagi.
"Sebenarnya tidak seperti itu. Kak tolong berhenti di depan gang itu!" ucap Laila kemudian.
__ADS_1
"Apakah kau berjanji dengan seseorang ?" tanya Fauzi lagi.
"Kakak benar ! sebentar lagi dia akan muncul ." jawab Laila.
Setelah beberapa saat akhirnya Anis muncul untuk menemui mereka, setelah Anis masuk ke dalam mobil, kemudian mereka berlalu meninggalkan tempat tersebut.
"Sebenarnya apa yang kalian rahasiakan ?" tanya Fauzi dengan penasaran.
"Sebenarnya selama ini, Laila tau keberadaan kak Hana dari kak Anis. Maka dari itu Laila meminta kakak untuk menghentikan pencarian kak Hana."
"Kak Hana tidak ingin kita membantunya untuk menjalani kehidupan pribadinya. Oleh sebab itu ia selalu menghindar saat ada yang mengenalnya atau mencarinya." jawab Laila.
"Kemudian Laila meminta aku untuk mencari seseorang yang belum pernah dikenal oleh Hana untuk menjaganya melalui hari-hari tersulitnya."
"Bahkan orang tersebut juga dibayar oleh Laila dalam setiap bulannya. Ini adalah foto dan juga video Hana, kita bisa melihatnya bahagia kehidupan Hana yang sekarang." lanjut Anis ikut menjelaskan.
Fauzi menatap Laila dengan tersenyum, ia tidak menyangka bahwa Laila masih memikirkan untuk menjaga Hana dengan caranya, sehingga Hana tidak akan menolak pertolongan dari Laila.
Kemudian mereka berhenti di sebuah cafe untuk sekedar bersantai dan menikmati keindahan alam, sambil melihat perkembangan Hana.
Hari berlalu dan berganti dengan Minggu. Bahkan Minggu demi Minggu berganti dengan bulan. Begitu juga kehidupan yang mereka jalani. Sebuah kesulitan dan kesedihan kini berganti dengan sebuah kebahagiaan.
Setelah beberapa bulan kemudian, Anis dan juga Rafik meresmikan pernikahannya. Pesta digelar dengan sangat meriah.
Bahkan ibu kandung Anis juga ikut hadir dalam acara tersebut, beliau telah kembali seperti semula, menjalani kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan tanpa kursi roda.
"Selamat kak Anis dan kak Rafik semoga langgeng sampai kakek nenek." ucap Laila dengan penuh kebahagiaan.
"Terimakasih, lalu kapan kalian akan menikah ?" tanya Rafik.
"Menikah ? kami bahkan sudah menikah sejak Laila masih duduk di bangku kelas satu." jawab Fauzi.
"Benarkah ? " tanya Rafik seakan-akan tidak percaya.
"Iya, mereka telah menjadi suami istri sejak dulu." sambung Anis.
__ADS_1
"Kalian selama ini menyembunyikan hal itu dari aku. Jadi selama ini kalian anggap aku apa ?" jawab Rafik sambil memukul Fauzi.
"Bukan begitu kawan, kami merahasiakan hal itu karena Laila masih duduk di bangku SMA. Jika publik mengetahui kebenarannya maka bisa berdampak pada pendidikannya. Bukankah ada larangan untuk anak SMA menikah secara resmi dalam catatan negara ?" jawab Fauzi.
"Kau benar-benar ya, bahkan demi untuk mendapatkan Laila kau bersedia menikahi dia dalam usianya yang masih dibawah umur. Kau ini." ucap Rafik dengan sedikit kesal.
"Tidak masalah, yang penting dalam hubungan kami tidak bergelimang dengan dosa, karena selam ini dia adalah kekasih halal ku." jawab Fauzi.
"Dia benar, aku sering merasa iri dengan hubungan mereka. Mereka adalah sepasang kekasih halal yang sebenarnya." jawab Bima yang juga ikut mendekati mereka.
Kemudian mereka berbincang-bincang sambil menikmati acara resepsi pernikahan yang begitu meriah.
Bima menatap ke sekeliling untuk mencari keberadaan Hana. Namun ia tidak menemukannya.
"Hana dimana kau sekarang ? bagaimana keadaan mu ? apakah kau hidup bahagia atau sebaliknya ?" batin Bima.
Kemudian ia duduk dan menikmati hidangan yang ada di atas meja. Fauzi dan juga Laila kemudian bergabung dengan Bima.
"Sebenarnya siapa yang kau cari ? aku perhatikan kau seperti mencari sesuatu." tanya Fauzi setelah duduk di dekat Bima.
"Aku memikirkan Hana. Entah bagaimana keadaannya saat ini." jawab Bima dengan jujur.
"Apakah kak Bima merindukan kak Hana ?" tanya Laila.
"Jelas aku merindukan dia, sejak kecil aku dan Fauzi selalu dibayang-bayangi oleh Hana. Hampir semua kenangan kami selalu bersama dengan dia." jawab Bima dengan tersebut mengenang masa lalu mereka.
"Apakah kak Bima mau menjaga kak Hana untuk selamanya ? dan apakah kak Bima bersedia menjadi imam untuk kak Hana ?" tanya Laila.
Bima termenung sejenak, kemudian ia menghembuskan nafasnya setelah itu tersenyum.
"Jika itu adalah takdir yang memang dipersiapkan untuk ku, aku bersedia menjalani kehidupan ini dan menghabiskan masa tua bersama dengan Hana." jawab Bima.
"Baguslah kalau begitu, dan kak Bima bisa menjemput kak Hana kapanpun kak Bima mau dan jangan lupa bawa kak Hana di acara resepsi pernikahan kami."
"Kami ingin acara bahagia yang selama ini kami tunggu, dihadiri oleh orang-orang yang kami sayangi termasuk kak Hana." ucap Laila sambil tersenyum dan menggenggam erat tangan suaminya.
__ADS_1