Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 55. Keraguan


__ADS_3

Anis duduk termenung di dalam kamar, ia mencoba berfikir yang terbaik untuk dirinya. Ia melihat barang-barang yang baru saja ia beli.


"Jika aku bersama dengan Fauzi, semua kemewahan dan fasilitas ini akan aku dapatkan setiap hari."


"Aku bisa membeli apapun yang aku inginkan, aku dilayani bak seorang ratu, Bahkan aku bisa mendapatkan cinta yang selama ini aku inginkan."


"Aku bisa membalas dendam kepada mereka yang telah menyakiti aku, termasuk putrimu tuan Aditya." ucap Anis sambil tersenyum.


Anis kemudian mencoba beberapa baju yang baru saja ia beli, ia mencari pakaian yang sesuai untuk acara di kampus Fauzi.


"Sempurna nona Anis, kau memang sangat cantik, tinggal sedikit dipoles wajah mu maka kau akan tampil laksana bidadari dan pangeran mu akan segera menjemput mu."


"Selamat menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya nona Anis," ucap Anis sambil tersenyum di depan kaca.


Setelah puas Anis berbaring di ranjang, hingga ia terlelap, dengan mimpi indahnya.


Sementara Rian yang sudah mendengarkan rencana Anis dan juga tuan Aditya, segera datang ke kampus untuk menemui Fauzi, namun banyak anak buah tuan Aditya yang sudah berjaga-jaga di lingkungan kampus.


"Tuan maaf mengganggu, sebenarnya saya ingin berbicara langsung dengan tuan, tetapi orang+orang tuan Aditya sudah mengawasi anda dan tempat ini."


"Tuan saya mengirimkan sebuah rekaman di ponsel anda tolong tuan dengarkan dan berhati-hati dalam mengambil keputusan." ucap Rian melalui telepon..


"Baik terus awasi mereka dan kabari jika ada pergerakan yang mencurigakan. Dan ingat untuk selalu mengutamakan keselamatan kalian masing-masing." jawab Fauzi melalui earphone.


Setelah menyampaikan pesannya, Rian mulai bergerak, ia dan juga rekan-rekannya mulai mengambil posisi masing-masing sesuai dengan rencana yang telah mereka susun.


Sedangkan Fauzi mendengarkan rekaman yang dikirimkan oleh Rian dengan seksama.


"Anis seharusnya kau mewarisi sifat baik dari orang tuamu, tapi mengapa kau menjadi orang yang begitu serakah, sifat mu jauh berbeda dengan keluarga mu."


"Tuan Aditya, kau boleh menyusun rencana termasuk bekerja sama dengan Anis, tetapi aku tidak akan pernah menandatangani sesuatu apapun." ucap Fauzi.


Kemudian Fauzi berjalan untuk mencari Bima, setelah bertemu Fauzi dan juga Bima, berkomunikasi menggunakan earphone sambil tetap melaksanakan pekerjaannya masing-masing.

__ADS_1


"Bima untuk semua tanda tangan acara ini, nanti kau yang akan menandatangani." ucap Fauzi.


"Apakah ada yang terjadi mengapa aku harus menggantikan tanda tangan mu ?" ucap Bima.


"Kau benar Bima." jawab Fauzi.


Kemudian Fauzi menceritakan semuanya kepada Bima, termasuk ia kehilangan Laila dan malah menemukan Anis yang sekarang berperan sebagai Laila.


"Jadi sebenarnya Laila belum ditemukan ? kalau begitu baiklah aku akan menandatangani semuanya. Kau jangan khawatir." jawab Bima.


Setelah semua persiapan selesai Bima dan Fauzi meningkatkan kampus untuk mandi dan berganti baju.


Fauzi pulang ke rumah lamanya bersama dengan Bima, ia juga mengendarai motor bersama Bima.


Setelah sampai mereka masuk ke rumah masing-masing. Sementara Fauzi menghubungi Rian agar ia tetap mantau keadaan di kampus.


Ia juga menelpon bik Sumi, agar bisa mencegah kepergian Anis, ia tidak ingin melibatkan banyak orang terhadap masalah yang ia hadapi.


Sementara Anis, diam-diam keluar dari kamar dan dengan mengendap-endap ia keluar dari rumah.


Dengan berbohong kepada penjaga gerbang, Anis berhasil keluar dari rumah, ia segera mencari taksi untuk menuju rumah tuan Aditya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Anis berhasil datang ke rumah tuan Aditya, saat ia hendak mengetuk pintu, ada seseorang yang menariknya dari belakang.


"Gadis bodoh mengapa kau malah datang kesini ? seharusnya kau datang ke kampus untuk menemani Fauzi." ucap pria berbadan besar itu.


"Aku bingung harus datang jam berapa ? menggunakan pakaian apa ? dan apa yang bisa aku lakukan di sana ?" tanya Anis dengan jujur.


"Kau memang gadis bodoh, kau tinggal datang dengan menggunakan pakaian yang sopan, kau hanya harus duduk menemani Fauzi atau kau menjadi asisten pribadi Fauzi yang penting kau harus bersama dengan Fauzi sampai kami memberikan instruksi untuk mu."


"Sekarang juga kau harus meninggalkan tempat ini, sebelum nona Hana melihat mu." jelas pria tersebut.


"Kau pikir aku harus jalan kaki datang ke kampus ?" tanya Anis dengan kesal.

__ADS_1


Ia tidak mempunyai uang sama sekali, karena ia tidak bisa menggunakan fasilitas milik Laila yang mengharuskan menggunakan Sidik jari atau scan wajah.


"Memangnya kau tidak mempunyai uang ?" tanya pria tersebut.


"Jelas aku tidak mempunyai uang, semua fasilitas gadis itu menggunakan sidik jari." jawab Anis dengan kesal.


"Kasian sekali nasib mu, kau hanya bisa menikmati sebagian dari kekayaan gadis itu. Asal kau tau nasibku jauh lebih baik dari mu." jawab pria tersebut sambil tersenyum mengejek Anis.


"Puas kau ! sekarang beri aku uang ! atau aku akan masuk dan menemui Hana. Karena aku tidak mempunyai uang sama sekali." ucap Anis.


"Baiklah terima ini dan segera pergi dari sini ! dan ingat jangan membocorkan rahasia ini kepada siapapun." ucap pria itu sambil memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu kepada Anis.


Dengan cepat Anis mengambil uang tersebut, kemudian ia mencari taksi dan segera.menuju ke kampus.


Terbayang kembali saat terakhir Anis sekolah di yayasan tersebut, dimana ia disiksa oleh Hana dan kawan-kawannya setelah itu ia dibuang ke jurang.


Untung saja ada seseorang yang menolongnya, dan merawat ia sampai sembuh dan menyayangi ia layaknya anak kandung sendiri.


Tak terasa ada kristal-kristal bening yang jatuh membasahi pipinya. Kenangan kelam dimasa lalu terlintas satu persatu dalam bayangannya.


Bahkan keluarga yang seharusnya menjadi tempat ia berlindung dan mengadukan semua, malah menambah beban dalam hidupnya.


Seseorang yang sudah ia anggap sebagai saudara lelakinya malah merenggut kesuciannya. Sementara sang ayah malah mendukung perbuatan anak lelakinya itu.


Hanya sang ibu yang membela dirinya, tetapi sayangnya sang ibu menderita suatu penyakit yang menyebabkan beliau tidak bisa melakukan apapun selain duduk di kursi roda seperti patung.


Anis terisak mengingat semua kejadian yang ia alami dimasa lalunya. Kini ia datang kembali tanpa sengaja.


Ia terjebak situasi yang sulit, sehingga ia memanfaatkan posisi seseorang yang kebetulan hilang dari sisi Fauzi, lelaki yang sangat ia cintai sejak ia duduk di bangku SMA.


Kini hati nuraninya mulai menentang apa yang telah ia pilih, namun akal sehatnya mengatakan hal sebaliknya.


"Tuhan apa yang harus aku lakukan ? haruskah aku membantu keluarga yang telah menyakiti aku selama ini atau aku harus mengejar cintaku ?" ucap Anis dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2