Selir Kecil Ketua BEM

Selir Kecil Ketua BEM
Bab. 46. Masa Lalu


__ADS_3

Setelah puas berendam Hana membersihkan dirinya setelah itu ia merapikan dirinya, ia berdiri di depan cermin sambil menatap wajahnya.


"Hana, Kau harus memperbaiki diri agar kau bisa kembali dekat dengan Fauzi. Terlepas apa yang telah terjadi malam itu."


"Kau harus berpura-pura menyesali semua perbuatan mu, kau harus bisa berakting di depan Fauzi untuk mendapatkannya kembali."


"Kau cantik, kau kaya, kau punya segalanya Hana. Kau harus memikirkan cara yang jitu agar Fauzi menjauhi gadis sialan itu." ucap Hana di depan cermin sambil memotivasi diri sendiri.


"Tapi masalahnya sekarang bagaimana aku bisa keluar tanpa sepengetahuan ayah ?" tanya Hana.


Hana diam sambil memikirkan cara agar bisa kabur dari kamarnya.


"Hana ! kau harus kembali mendapatkan kepercayaan ayahmu !" ucap Hana sambil tersenyum sendiri.


Setelah yakin dan perasaannya sudah tenang, Hana duduk di meja belajarnya. Ia membuka buku pelajaran sambil berfikir bagaimana caranya untuk mendapatkan kebebasannya kembali.


Tak lama Hana mendengar suara langkah kaki mendekati kamarnya, ia tersenyum karena ia yakin ayahnya tidak akan tega memperlakukan ia seperti ini. Hana membukakan pintu saat ada yang mengetuk pintunya.


"Nina ini makan malam anda, saya akan meletakkan makanan ini di atas meja, makanlah selagi masih hangat." ucap Seorang pelayan yang masuk kedalam kamar Hana.


"Apa ini ? apa yang kau lakukan !" bentak Hana.


"Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas." jawab pelayanan itu sambil menunduk.


"Siapa yang menyuruhmu ?" tanya Hana lagi.


"Saya disuruh oleh tuan Aditya langsung Nona." jawab Pelayanan itu.


Hana yang awalnya tenang, kini amarahnya kembali memuncak. Ia segera keluar untuk mencari ayahnya.


Hana berjalan menuju ruang kerja ayahnya namun beliau tidak ada. Hana kemudian berjalan menuju kamar ayahnya. Saat hendak membuka pintu ia berhenti karena mendengar percakapan sang ayah dengan orang asing yang pernah datang ke rumah Fauzi.

__ADS_1


"Tuan, saya sudah mencari ke seluruh rumah itu, namun tidak menemukan apa-apa. Apakah tuan yakin barang bukti itu ada di rumah itu ? atau mungkin di simpan di tempat yang lainnya." tanya orang asing itu.


"Aku tidak tau pasti, yang aku pikirkan ia pasti menyimpan barang bukti itu di rumahnya. Karena hanya rumah itu yang tidak terjangkau oleh ku sejak dahulu."


"Coba kau selidiki, apakah Fauzi mempunyai tempat tinggal yang lain." ucap tuan Aditya.


"Baik tuan, saya akan menyelidiki tempat tinggal Fauzi yang lainnya." jawab orang asing tersebut, kemudian ia pamit dan pergi meninggalkan kamar tuan Aditya.


Hana bersembunyi sambil terus memperhatikan gerak gerik ayahnya. Tuan Aditya berdiri di depan jendela sambil menatap keluar.


"Seandainya Hana dan juga ibunya lebih pintar, pastinya hal ini tidak perlu sampai bertahun-tahun. Hana terlalu bodoh seperti ibunya. Ia tidak bisa di andalkan." ucap tuan Aditya sambil menghantam tembok yang ada di sisinya.


Hana merasakan perih di hatinya, untuk kedua kalinya sang ayah mengatakan bahwa ia bodoh dan tidak bisa di andalkan. Air matanya tak dapat lagi di bendung, ia menetes tanpa bisa di halangi.


Hana kembali berjalan ke kamarnya sambil terisak-isak. Begitu jelas dalam ingatan dan pendengarannya bahwa ayahnya sendiri yang mengatakan bahwa ia bodoh dan tak dapat di andalkan.


Hana duduk di bawah ranjang sambil menangis. Ia tidak pernah menduga bahwa ayahnya tidak pernah tulus menyayangi dirinya.


Pelayanan yang kebetulan melintas, melihat Hana sedang menangis. Hatinya merasa iba, ia teringat saat pertama kali ia bekerja di keluarga Aditya.


Istri tuan Aditya sering menangis sendiri saat sang suami pergi dari rumah, Bahkan Hana yang masih sangat kecil, hanya bisa memandangi ibunya yang menangis pilu di hadapannya.


Perlahan pelayanan itu masuk dan mendekati Hana, ia dengan lembut menghapus air matanya kemudian memeluk tubuh Hana, ia mencoba menenangkan Hana dalam pelukannya.


"Non Hana yang sabar ya, meskipun bibi tidak tau apa yang terjadi, semoga non Hana bisa segera melewati masalah yang saat ini terjadi." ucap pelayan itu dengan tulus.


"Terimakasih, bibi apakah bibi tau masa lalu Hana dan juga ibu ? mengapa ayah seakan tidak pernah menyayangi ibuku ?" tanya Hana sambil terisak.


"Non, bibi tidak tau masalah yang dihadapi nyonya, hanya saja nyonya sering menangis sendiri di dalam kamarnya."


"Non, coba non Hana cari sesuatu di kamar nyonya. Mungkin ada sesuatu yang nyonya sembunyikan atau sesuatu yang bisa memberi petunjuk kepada nona." ucap pelayanan tersebut.

__ADS_1


"Maksud bibi ?" tanya Hana sambil menatap wajah pelayan yang ada di hadapannya.


"Non, selama ini nyonya tidak pernah keluar atau berbagi masalah yang beliau hadapi kepada siapapun, mungkin beliau mempunyai sebuah catatan untuk menumpahkan perasaannya atau yang lainnya."


"Karena nyonya sanggup bertahan selama ini sebelum peristiwa itu terjadi." ucap pelayanan tersebut.


"Peristiwa ? peristiwa apa yang bibi maksud ?" tanya Hana lagi.


"Peristiwa kematian nyonya." jawab pelayan tersebut sambil menunduk.


"Tolong bibi jelaskan bagaimana peristiwa itu" ucap Hana sambil memohon. Karena Hana tidak pernah tau bagaimana ibunya meninggalkan dirinya.


"Nyonya saat itu ingin melindungi seorang bayi yang akan dibunuh oleh tuan. Nyonya melindungi tubuh bayi itu dengan tubuhnya sehingga pisau itu menusuk tubuh nyonya berkali-kali."


"Namun nyonya tetap melindungi bayi itu, bahkan saat tuan Aditya melepaskan pisau itu, nyonya sempat berlari untuk membawa bayi itu ke rumah sakit."


"Namun setelah itu bibi tidak tau lagi bagaimana kondisi nyonya. Di hari berikutnya tuan telah membawa jasad nyonya dan mengumumkan bahwa nyonya meninggal karena bunuh diri. Setelah itu tuan memakamkan jenazah nyonya." jelas pelayanan tersebut.


"Apakah artinya selama ini ayah memang tidak pernah sayang kepada ibu dan juga aku ?" tanya Hana.


"Non Hana harus mencari tau kebenarannya sebelum nona mengambil keputusan bahwa tuan tidak menyayangi nyonya dan juga non Hana."


"Bersikaplah lebih bijak non, karena bibi yakin almarhum nyonya menginginkan non Hana menjadi lebih baik dari segi apapun." ucap pelayan tersebut.


"Terimakasih, Hana akan mengingat nasehat bibi, dan Hana juga harus mencari tau semua kebenaran yang mungkin di tutupi oleh ayah selama ini." ucap Hana.


"Kalau begitu, non Hana makan dulu. Non Hana harus menjaga kesehatan agar bisa menyelesaikan misi nona." ucap pelayan tersebut sambil mengajak Hana untuk berdiri.


Seperti seorang anak kecil, Hana menurut dan ia makan dengan lahap makanan yang di hadapannya, setelah selesai pelayan itu keluar sambil membawa belas makan malam Hana.


Setelah pelayanan itu berlalu, Hana duduk di ranjangnya sambil mengingat kembali apa yang telah diceritakan oleh pelayan tersebut sehingga ibunya meninggalkan dirinya untuk selamanya.

__ADS_1


__ADS_2