
"sebagaimana berakhirnya senja membawa keindahan. namun, ingin ku sampaikan meski tak tampak indah namun aku tak ingin rasa ini berakhir"
๐ผ๐ผ๐ผ
Ayah dan ibu Nisa kembali dari bepergiannya, hampir magrib. dikarenakan keadaan jalan yang licin sebab hujan.
sore tadi Nisa sudah beberes dan memasak sebisa nya saja. menurutnya, rasa nya sudah lumayan tapi untuk lidah ibunya sepertinya akan kurang. Nisa memang jarang sekali membantu ibunya di dapur, ia lebih suka membersihkan rumah. biasanya, Nisa dan ibunya akan beraktifitas sendiri-sendiri ketika pagi dan sore hari. ibunya mengurus segala sesuatu di dapur, sedangkan Nisa bagian beberes rumah seperti menyapu,mengepel, dan lain sebagainya.
"ayah kemana Bu tidak terlihat sejak tadi?" tanya Nisa.
"ayahmu sepertinya kecapekan, karena dijalan tadi benar-benar luar biasa ekstra, ibu saja pegel-pegel kakinya." jelas ibu nya.
"sudah makan belum Bu? nanti mag nya malah kambuh belum makan sudah tidur." tanya Nisa lagi.
"sudah tadi , selesai mandi ayahmu langsung makan, setelah itu sudah tak terdengar lagi suaranya, oh iya bebek ibu gimana aman gak ?" tanya ibu.
"aman Buu, ya ampun ibu ini, bebek aja yang di pikirin deh."keluh Nisa.
"la iya wong bebek itu Lo ibu beli satu ekornya nya saja lima belas ribu , kalau mati kan sama dengan buang buang duit to ndok" jelas ibu Nisa lagi.
"lah kalau satu ekornya lima belas ribu, apa ya gak mending beli bebek bakarnya aja Bu. cuma dua puluh ribu tinggal makan saja sudah kenyang." jelas Nisa lagi.
"Yo beda to ndok, kalau itu kan gak bisa buat Jaka panjang. kalau beli yang masih kecil, nanti bisa beranak Pinak, jadi banyak makin banyak makin untung." jelas ibu Nisa lagi tak mau kalah.
"ah ya sudah,terserah ibu saja lah!" jawab Nisa akhirnya menyerah sambil berlalu dari hadapan ibunya.
"oh iya Bu,tadi bulek kesini Lo, nyariin ibu. tak tanya katanya nanti tunggu ibu pulang aja."
"kapan tadi siang?" tanya ibu lagi.
"sore sih Bu, habis ke warung mampir sekalian gitu deh kayaknya." jelas Nisa lagi.
kemudian Nisa berlalu pergi mencari remote tv, dan menyalakan tv nya. ketika sedang menonton Nisa teringat mas Ibra yang menelpon nya sejak kemarin. namun tak terjawab berkali-kali akhirnya Nisa beranjak kemudian masuk kedalam kamarnya dan mengambil ponsel nya di meja belajarnya.
tak lama ia mencari nomor ponselnya, lalu menekan tombol hijau pada layar ponselnya itu, terdengar suara tersambung namun tak segera di angkatnya
"mas Ibra kemana ya?" batin Nisa.
Nisa mencobanya sekali lagi dan berhasil" iya halo" jawabnya
"lagi apa mas? kok lama sekali angkat telponnya?" tanya Nisa tak sabaran.
__ADS_1
"lagi duduk saja, dan tadi lagi kebelakang ngambil minum cah ayu" jawabnya menerangkan.
"hehehe๐kirain, mas kemarin nelpon ya maaf y gak denger hp nya ke silent soalnya." jelas Nisa.
"iya ga papa." jawab nya kemudian.
"oh iya , ini pakai ponsel siapa mas?" tanya nya lagi.
"punya si Fajri, tadi main kesini kok malah di tinggal tak lihat gak ada kartunya, jadi iseng saja tak isi dengan kartu ponsel ku" jelasnya lagi.
"ooooooooooo nanti kalau di cariin gimana mas? kok malah mas pakai sih?" tanya Nisa lagi.
"kalau di cari yang tinggal di kasikan saja lah." jawabnya kemudian.
"hari ini ngapain aja ndok?"tanya Ibra.
"dirumah saja mas, kemana lagi main gak punya temen"jawab Nisa.
"gak punya temen ? kok bisa? anak-anak seusia mu bukannya banyak disini?"tanya nya lagi.
"iya sih mas, tapi kan lain sekolahan juga, jadi gak terlalu akrab."jelas nya.
"ya sudah main kesini saja kalau gitu" kata Ibra.
"ya gak papa lah kan belum pernah kan main kesini ?"
"belum sih, ya aneh aja lah mas, agresif kali Nisa main kerumah mas Ibra๐๐"jawab Nisa sambil tertawa.
"hahaha siapa yang bilang gitu emang iya ada?"tanya Ibra kemudian.
"yaa gak tahu mas, kan belum kerumah mas ๐๐"Jawa Nisa.
"mas Lo waktu kerumah kemarin itu sudah izin sama ayah " kata Ibra.
"izin apa mas ?"tanya nya pura pura tak tahu.
"iyaa mas bilang kalau mas mau sungguh-sungguh sama sampean" jelasnya.
"serius?"
"iya lah serius"
__ADS_1
"terus ayah bilang apa mas?"
"katanya terserah Nisa saja mau atau enggak "
"hmmm iya-iya" jawab Nisa seolah olah sedang memahami.
"oh ya ampun mas serius nih, mas udah bilang sama ayah ?" tanya Nisa lagi memastikan setalah ia mencerna nya barulah dia menyadari.
"iyaaa serius , gimana kalau nanti hari Minggu kita pergi beli cincin atau apa mau?" tanya nya lagi.
"astaga mampus gue alamat bakal nikah muda nih" batin Nisa.
"ah gak mau ah, mas saja yang pergi aku malu"jawab Nisa.
"kalau mas pergi sendiri nanti takutnya kekecilan atau kebesaran bagaimana?" tanya nya lagi.
"mas kira-kira sendiri deh, aku saja jarang banget ikut ibu ke pasar nanti pasti di lihat banyak orang "
"loh yang bilang ke pasar siapa? kan mas tadi gak bilang ke pasar, ke mana aja yang jual cincin atau semacamnya" jelasnya lagi.
"tetap sajalah, gak mau mas apa pun pilihan mas aku terima kok " jawab Nisa kemudian.
"beneran, nanti gak nyesel kalau kekecilan atau kebesaran?" ucap Ibra lagi.
"enggak mas seribu persen ku percayakan padamu ๐๐"jawab Nisa cengengesan.
"ya sudah kalau gitu, tapi sudah ku tawarkan ya tadi, mau ikut atau tidak jangan nyesel nanti pas dilihat ternyata gak sesuai selera" kata Ibra melanjutkan bicaranya.
"iya mas iya . tapi mas sambil kira-kira juga dong nanti mentang-mentang aku bilang apapun yang mas pilih aku terima nanti belinya asal-asal an saja. parahnya lagi, model yang biasa dipakai nenek-nenek kan aku meng sedih" jawab Nisa panjang lebar.
"nah kan, sudahlah kita pergi berdua saja ya, lebih puas nanti milihnya " bujuk Ibra akhirnya.
"mas gak mau ,ya sudah iya, aku gak komplain lagi pokok nya. aku terima dengan tangan terbuka dan lapang dada" jawab Nisa meyakinkan.
"bener yaa?"
'iya-iya"
"mas udah bilang sama ayah kapan kesini lagi?"
"belum, mas aja belum bilang sama saudara mas ."
__ADS_1
"ya sudah bilang dulu, nanti kalau mau kesini jangan dadakan, nanti ibu bisa marah." kata Nisa.
"oh ya ampun ini, kesan nya kek gue ngebet banget pengen dilamar sih ,malu-malu in aja " batin Nisa.