
"sesaat tak ku mengerti tentang hadirnya yang secara tiba-tiba.namun ternyata hadirnya membuat sepenggal kisah lama ku kembali terbuka hingga membuat keraguan nya hadir diantara kami"
🍀🍀🍀🍀
Ibra mengangkat tubuh Nisa yang sudah tertidur di pangkuan nya dan membawanya kedalam kamar nya. kemudian menutup tubuhnya dengan selimut tebal miliknya di lihat nya sekali lagi luka di jari tangan nya kemudian kembali ia mengoles luka itu dengan obat yang di simpan nya tadi. sudah tidak membengkak dan luka nya mulai kering ia masih saja penasaran namun tak ingin memaksakan. mungkin Nisa memang belum sepenuhnya percaya kepadanya dan masih enggan untuk berbagi dengannya.
Setelah selesai Ibra segera membereskan sisa obat yang di gunakan mengobati luka Nisa dan setelah itu pergi keluar dan menutup pintu. Nisa tadi mengajaknya untuk tidur bersama namun ia merasa tidak sedang baik-baik saja saat ini. ia membiarkan Nisa memiliki ruang nya sendiri saat ini dan ia memilih untuk tidur di kamar sebelah.
Saat tengah malam hujan turun dengan deras nya petir terdengar bersahutan dengan keras dan jelas. Nisa terbangun dari tidur nya meraba di sekitarnya dan tidak mendapatkan Ibra di sana membuatnya panik.
"Maas Ibra kamu kemana sih?" ucap nya mulai ketakutan dengan menutup telinganya dengan bantal.
Ibra juga terbangun karena angin nya sangat kencang di tambah Suara petir yang saling menyambar dengan cepat ia beranjak "pasti Nisa sedang ketakutan."
Dan benar saja saat ia membuka kamar sudah melihat Nisa menutup kedua telinganya. dengan cepat Ibra menutup pintu dan menutup jendela dengan membenarkan gorden yang telah tertiup angin kesana-kemari.
"tenanglah! lanjutkan tidurnya ya ini masih malam"ucap nya sambil memeluk Nisa.
"mas dari mana? kan Nisa udah bilang jangan kemana-mana."ucap Nisa
"tidak kemana-kemana sekarang sudah di sini kan?ayo tidur lagi"ucap nya.
Nisa hanya diam saja dan tidak menjawab kembali.
"kenapa mas Ibra tidak memanggil ku sayang seperti biasanya? jangan-jangan dia marah pada ku?"batin Nisa
"mas"
"hum apa lagi? tidurlah!"
"i love you."kemudian Nisa mengecup singkat bibir Ibra dan segera bersembunyi di dalam selimut tebal. tentu saja aksinya membuat Ibra menggelengkan kepala nya"anak ini sulit di tebak"batin nya.
****
Pagi hari sarapan sudah tersedia di meja makan dan segala isi apartemen itu sudah terlihat bersih dan wangi. kemarin saat pertama kali datang tidak sebersih ini dan kulkas juga sudah penuh dengan isi.
Nisa yang sudah keluar dari kamar nya merasa heran karena melihat Ibra sudah duduk di meja makan dengan secangkir kopi. ia juga melihat makanan sudah tersaji "mas Ibra memasak? sepagi ini sudah siap semua. ah ya ampun ini memalukan sekali"batin Nisa, ingin kembali ke kamar nya baru saja ia membalik kan tubuh nya Ibra memanggilnya.
__ADS_1
"cepat kemari kita sarapan hari ini kita akan pergi"ucap nya.
"ah iya mas,sebentar yaa ada yang ku lupakan"ucapnya mencari alasan kemudian kembali kekamar dan menutup pintu"apa yang harus ku lakukan sekarang? ah sepertinya aku tidak bisa menunggu hingga esok. hari ini harus segera pulang, mana bisa aku berlama-lama hanya berdua dengan mas Ibra, bisa-bisa aku malah memperkosanya nanti" batin nya mengumpat dirinya sendiri. mata nya tidak sengaja melihat seseorang seperti hendak meninggalkan apartemen ini ia melihatnya dari balik jendela kamar yang saat ini sudah di buka olehnya. akhirnya ia keluar kamar dan bergabung bersama Ibra yang sedang memainkan ponsel nya dan sesekali meminum kopi nya.
"sudah selesai?"tanya Ibra masih dengan melihat ponsel nya.
"eh sudah mas, siapa wanita yang baru saja keluar itu mas?"tanya nya karena penasaran.
"itu orang yang biasa membersihkan apartemen ini dan juga yang memasak sarapan ini"jawab nya masih fokus pada layar ponsel nya. Nisa yang melihat nya menjadi tidak semangat dan akhirnya dia mengambil sarapan nya, ia menyodorkan piring itu kepada Ibra terlebih dulu baru lah ia memakan makanan nya. setelah selesai ia berlalu sedangkan Ibra masih sibuk dengan ponsel nya, dan baru sadar setelah melihat Nisa tak ada di hadapan nya.
Nisa membawa piring kotornya kebelakang dan mencucinya setelah selesai ia kembali ke kamar dan membersihkan diri, tanpa menunggu Ibra ia obati sendiri luka nya setelah selesai ia keluar dan tak mendapati Ibra di meja makan lagi ia segera keluar rumah dan melihat Ibra sudah berada didalam mobil, ia kembali kekamar dan mengambil tas miliknya kemudian masuk kedalam mobil.
"sudah siap?"tanya Ibra
"iya sudah"jawab Nisa datar saja.
"kita akan kemana mas?"tanya Nisa akhirnya.
"ke butik mencari baju yang ingin kamu pakai nanti saat akad"jawab nya.
Nisa hanya manggut-manggut saja, tak lama kemudian kedua nya sampai dan keduanya turun.
"oke" jawab Nisa sambil memasuk i butik itu yang terlihat sangat mewah.
ia di temani seseorang yang akan memandu nya ia juga mencoba beberapa dan akhirnya ia tertarik pada sebuah gaun yang berwarna cream yang menurut nya terlihat sederhana namun sangat anggun saat di pakai.
"yang ini ada untuk pria nya gak MB?"tanya Nisa.
"ada Bu, mau ukuran apa?"tanya nya lagi.
"nah MB tanya saja pada orang yang sedang duduk di sana itu ya sekalian di coba supaya pas di Bandan nya"ucap Nisa. kemudian ia berjalan menghampiri Ibra yang sedang duduk di sofa panjang yang berada di luar butik itu.
"mas aku sudah selesai,kalau mas tidak cocok dengan pilihan ku katakan saja nanti biar di ganti"ucap Nisa.
"apapun pilihan mu aku suka"ucapnya sambil berlalu dan menghampiri petugas yang sedang menunggu nya.
Nisa menunggu di luar sambil melihat pemandangan di sekeliling yang terdapat beberapa kafe di samping butik itu, tiba-tiba saja mata nya tertuju pada seseorang yang sedang duduk bersama seseorang."ah itu dia kenapa juga aku harus melihat nya disini,dan dia bersama siapa? ah mungkin wanitanya"batin Nisa kemudian Nisa melihatnya keluar dengan reflek Nisa mengikutinya ternyata dia sedang berjalan ke arah parkir mungkin akan mengambil sesuatu dengan cepat Nisa menghadap nya.
__ADS_1
"wah kebetulan sekali kita bertemu disini, aku ingin menyampaikan beberapa hal yang harus ku luruskan saat ini,beberapa hari lalu aku terkejut dan juga tidak menyangka akan kembali bertemu setelah bertahun-tahun lamanya. saat itu aku terkejut jadi tidak bisa menanggapi ucapanmu yang terlalu mendadak, seperti biasa kau sangat suka ya sesuatu yang mendadak tanpa sebab, sama seperti saat kau dengan santai dan tanpa rasa bersalah memutuskan hubungan sepihak dengan ku yang tak pernah ku tahu apa sebabnya. ingat ya kau yang mengawali dan kau yang mengakhiri, sebelum beberapa hari yang lalu aku tak pernah ada rasa ingin bertemu atau sekedar mengenang mu, kau hanya ku anggap sebuah iklan yang hanya sekedar lewat di hidupku bukan untuk mengukir kisah atau sejenis nya. tapi ucapanmu beberapa hari yang lalu sukses membuat ku terganggu yah selamat sih ku ucapkan untukmu yang berhasil mendapat apa yang kau mau. disini aku hanya ingin menegaskan. pertama kita memang pernah menjalin hubungan kau yang mengawali dan kau juga yang mengakhiri. yang kedua dengan siapapun aku sekarang itu bukan urusan mu,sekalipun aku menjalin hubungan dengan kakekmu kau tidak berhak menghakimi. memangnya kau siapa? kau merasa lebih baik dari dirinya? sebelum ini aku hanya menganggap mu angin lalu, namun saat kau mencoba mencampuri urusan ku detik itu juga aku membenci mu dan suatu saat aku akan pastikan kau akan membayar mahal apa yang sudah kau perbuat pada ku. dan ku pastikan kau akan membayar luka ini dengan lebih sadis."ucap Nisa sambil menunjukan luka di jari-jari nya. dan ini untuk mu yang pernah membuang ku seperti sampah tak berguna. kemudian Nisa memukulnya dengan sangat keras tepat di bagian bibirnya, dan mengeluarkan darah hingga membuat nya meringis kesakitan dan jari-jari di tangan nya juga mengeluarkan darah karena luka nya memang belum sembuh hanya mengering karena ia gunakan untuk memukulnya lagi kini luka itu berdarah lagi."lihat kita impas sekarang!" ucap Nisa sambil menunjukan jari-jarinya yang juga berdarah.
Sementara Ibra yang menyaksikan nya dari kejauhan merasa terheran dan juga sedikit takjub, tak mengira Nisa bisa sekuat itu hingga pukulan nya menyebabkan seseorang berdarah.
Nisa membersihkan luka nya dengan tisu basah yang ada didalam tas nya, sebelum kembali menemui Ibra yang pasti sedang sibuk mencari nya kesana-kemari seperti malam kemarin.
"hai dari mana aku mencari mu sejak tadi?"ucap Ibra yang berpura-pura seolah tidak tahu tentang apa yang baru saja terjadi. namun ia reflek melihat tangan Nisa yang tadi berdarah namun sekarang sudah tidak lagi.
"tadi keluar sebentar mas penasaran dengan sekitar sini tenang saja, aku tidak akan tersesat ini kan siang hari"ucapnya sambil menatap arah lain, emosi nya belum stabil setelah beberapa saat yang lalu ia dengan sadar menghajar seseorang.
"kita sudah selesai atau ada yang ingin di beli lagi?"tanya Ibra kemudian.
"tidak ada mas,jika sudah selesai aku ingin pulang."ucapnya sambil menunduk melihat jari-jari kakinya yang sengaja ia mainkan.
mendengar jawaban Nisa Ibra sedikit terkejut, karena ia sudah mengatakan bahwa dia sudah izin tiga hari artinya masih ada besok, namun Nisa meminta pulang hari ini sepertinya dia Memeng gagal membuat Nisa merasa nyaman dengan dirinya."ayo kita bersiap-siap kalau ingin pulang hari ini" ucap Ibra akhirnya.
Nisa mengangguk saja dan mengekor di belakang Ibra, keduanya sudah berada di dalam mobil dan berjalan menuju apartemen Ibra sepanjang perjalan nan tak ada percakapan keduanya. Nisa hanya memandang jalan dari sisi jendela nya tanpa bertanya apapun, sedang kan Ibra yang sesekali menatap Nisa yang terdiam sejak tadi juga merasa bingung dengan perasaan nya. keduanya sama-sama larut dalam pikiran dan perasaan masing-masing. tak lama kemudian mereka sampai di apartemen Nisa segera turun dan memasuki kamar tak ada apapun karena memang ia tidak membawa apapun. hanya ada baju kotor yang kemarin di pakai oleh nya.
"biarkan saja disini nanti ada yang mencuci"ucap Ibra dari balik pintu membuat Nisa seketika menoleh dan menghadap nya. ia hanya mengangguk saja tanda setuju.
Ibra tidak tahan lagi berlama-lama seperti ini kemudian ia masuk ke kamar dan duduk di ranjang. Nisa yang sedang berdiri menatap nya bingung sebab tadi ia menyuruhnya untuk berkemas namun kenapa ia malah duduk.
beberapa saat kemudian Ibra menarik Nisa dan terduduk di pangkuannya ia memeluknya, Nisa masih diam saja ia sendiri masih larut dalam rasa galau nya,yang belum sepenuhnya tersampaikan. Ibra juga tak ingin mengawali ia masih betah memeluknya.
"sudah mas aku berat"ucap Nisa akhirnya melepaskan diri dan beranjak kemudian duduk di samping Ibra.
"coba lihat sudah membaik belum luka nya?"tanya Ibra dengan menarik lengan Nisa dan memeriksanya.
"sudah mas ini sudah sembuh."ucapnya sambil menarik tangan nya.
Ibra memeluknya lagi Nisa hanya diam saja"kenapa ingin cepat pulang?"tanya Ibra kini sudah memeluk perut Nisa dan berbaring di sebelahnya.
"tidak tahu"jawabnya,dengan menatap kosong luar jendela dan mengusap pelan rambut Ibra.
"aku masih ingin berdua dengan mu"ucap Ibra masih dengan menyembunyikan wajahnya diperut Nisa. tak ada jawaban, ia masih sibuk dengan pikiran nya sendiri, ia belum bisa berbagi dengan Ibra karena menurutnya ini tentang masa lalunya ia tidak ingin Ibra berpikir bahwa ia belum selesai dengan masa lalunya. ia juga tak ingin membuatnya khawatir ia bisa menyelesaikan sendiri tentang beberapa kisahnya yang ternyata masih bersambung belakangan ini.
Nisa tahu Ibra menghawatirkan nya, namun ia tak ingin membebani Ibra perihal masa lalunya.
__ADS_1
cukup Ibra berada di samping nya ia merasa lebih baik, setidak nya ada tempat untuk nya bersandar meski belum berani mengungkapkan.
"aku baik-baik saja mas jangan khawatir biar aku selesaikan sendiri kisah yang usang yang belakangan ini menganggu"ucap Nisa mencoba meyakinkan Ibra,kemudian ia menunduk dan mengecup kening Ibra dengan lembut.