Sepotong Sayap Patah

Sepotong Sayap Patah
Aku sakit bila menatap mata mu


__ADS_3

"beberapa orang saat di usap lembut rambut nya,namun justru air mata nya yang jatuh luruh tak terkira"


🍀🍀🍀🍀🍀


Nisa mengutuk dirinya sendiri saat ini urat malu nya sudah terputus semenjak menjalin hubungan dengan Ibra. entah mengapa dia sama sekali tidak berontak saat Ibra dengan paksa menyeru nya sesuatu.


saat sedang asik dengan pikiran nya Ibra keluar dari kamar mandi tampak rambut nya yang basah dengan handuk melilit di perut nya. "ah ya ampun dia tampan sekali" batin nya.


"kenapa menatap ku seperti itu? seolah kau akan memakan ku."ucap Ibra,dengan reflek Nisa segera beralih menatap arah lain.


"aku hanya bercanda sayang, tentu saja aku suka dan dengan senang hati jika kau memakan ku." ucap Ibra sambil tersenyum menggoda.


Nisa benar-benar tidak habis pikir dia bisa dengan santai berbicara mesum dengan seorang pria dewasa. tiba-tiba saja Ibra membalik kan badan nya, dan entah kapan Ibra sudah berpakaian lengkap.


"apa? mau apa ?" tanya Nisa terkejut.


"memakaikan baju mu sayang memangnya kau ingin aku melakukan apa?"lagi-lagi Ibra menggoda nya.


"mas keluar saja, aku ingin seperti ini sementara tolong ya...."jawab Nisa dengan memohon.


"kita belum makan sayang, setelah memakai baju kita akan makan."ucap Ibra lagi.

__ADS_1


"dua puluh menit dari sekarang, kumohon!"ucap Nisa, akhirnya Ibra setuju dan meninggalkan nya sendiri, Nisa melihat bungkusan yang di bawa Ibra tadi ternyata berisi beberapa pakai nanya beserta perangkat nya. bagaimana Ibra membeli semua ini sedangkan dia laki-laki di tambah ukuran nya yang pas dengan milik nya.


dengan menahan sakit perlahan Nisa memakai baju sendiri"ah Sial ini sangat sulit bagaimana cara nya."umpat nya saat akan mengaitkan br*nya di belakang, kemudian ia mencoba nya dari depan dan berhasil setelah berhasil memakai sendiri baju nya ia merasa lega dan menarik nafasnya dalam-dalam.


Ternyata benar kata Ibu aku tidak cocok sama sekali berada di luar kota, kehidupan di sini terlalu kejam untuk ku yang terlalu memakai perasaan dan juga hati sehingga sulit membedakan mana bercanda dan mana mencinta.


kapan terakhir kali aku bisa membohongi diri sendiri dengan bersembunyi di balik luka ku? akhir-akhir ini aku merasa semakin rapuh beberapa hal yang tak ku inginkan selalu datang tanpa alasan. oh iya ini memang salah satu tempat yang pernah Reza bilang padanya dulu, semoga saja Reza tidak tinggal di sekitar sini entah apa yang terjadi jika aku melihatnya lagi,jangan sampai aku benar-benar harus bertindak di luar kendali ku. mengapa dia datang mengusik ku di waktu yang tidak tepat apa katanya pria tua? om-om ? memangnya dia itu siapa? sial dia kira aku ini wanita bayaran sembarangan mengatakan selera ku buruk. tapi saat mengingat kalimat yang di ucapkan Reza kepada nya hati nya terasa sakit dan tidak terima sesak sekali dan ia ingin menangis lagi."tahan-tahan ayolah dia tidak berguna untuk mu Nisa." aku sama sekali tidak bersalah dia yang meninggalkan ku kan? dia yang bilang ingin mengakhiri tanpa memberi ku kesempatan menjelaskan jika sekarang aku bahagia bersama yang lain apa masalah nya?


ah rasanya aku ingin pulang dan memeluk ibu dengan nyaman aku benar-benar tidak cocok di sini ini terlalu keras untuk ku yang sangat lembek. Nisa terus saja asik berbicara dengan diri sendiri sementara Ibra sudah tidak sabaran menunggunya di meja makan.


"sayang lama sekali"ucap Ibra dari balik pintu yang sudah terbuka dan ia sudah melihat Nisa berpakaian dengan sempurna duduk di ranjang milik nya.


"mas makan sendiri saja ya, aku ingin di sini saja aku mengantuk dan juga lelah"ucap Nisa sambil beranjak dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Ibra menatap Nisa yang tidak bersemangat merasa bersalah semua terjadi karena dirinya, niatnya ingin membuat Nisa merasa terkesan dan juga bahagia tetapi yang terjadi justru sebaliknya.


"mas makan lah dulu sini aku bisa sendiri"ucap Nisa sambil menarik tubuhnya dari ranjang dan meminta obat yang sedang di tangan Ibra. Namun Ibra hanya diam saja dia segera mengobati luka di tangan sebelah Nisa melihatnya tidak bersuara Nisa justru merasa merinding"dia kenapa? apa dia marah pada ku? tapi kenapa ?" batin Nisa, tanpa berkata lagi-lagi ibra meletak kan obat itu di atas meja dan berlalu kemudian menutup pintu. Nisa hanya melongo saja menatap punggung Ibra yang sudah hilang dari pandangannya beberapa detik yang lalu.


Ibra tidak berselera makan dia juga tidak memakan makanannya, ia menghubungi seseorang yang biasa membersihkan rumahnya untuk datang malam ini juga.


"permisi tuan Ibra saya sudah membersihkan semuanya,besok pagi saya akan datang memasak saya minta kunci ini satu untuk saya bawa pulang ya takutnya nanti tuan masih tidur saat saya datang kemari"ucapnya dengan lembut.


"iya Bu bawa saja,oh iya tolong makanan di meja itu di bawa pulang saja mubazir nanti tidak ada yang memakan."ucap Ibra sambil berlalu menuju balkon.

__ADS_1


sementara Nisa merasa tidak tahan dan penasaran di diamkan oleh Ibra, sudah dua jam yang lalu Ibra meninggalkan kamar nya. tapi juga belum kembali Nisa juga tak bisa tidur karena memikirkan Ibra yang sekarang kemana. akhirnya Nisa memutuskan untuk mencarinya ia sudah mencari kesana-kemari namun masih belum menemukan dimana Ibra ia mulai panik dia takut kalau harus di rumah sendiri apa lagi ini rumah asing baginya.


"mas ...mas Ibra kamu di mana ?teriak Nisa dengan histeris dan hampir menangis.


Ibra yang sedang berbaring di kursi panjang balkon terkejut mendengar teriakan Nisa dari bawah belum sempat ia berdiri dengan benar Nisa sudah sampai di hadapan nya dan memeluknya.


"ada apa?"tanya Ibra yang terkejut"katanya mau istirahat kenapa kemari?"tanya Ibra mengusap lembut rambut Nisa yang sudah hampir kering.


"aku pikir aku sendirian mas membuatku takut"jawabnya,dan air matanya sudah mengalir sekarang.


"aku ada disini tak perlu takut"ucap Ibra membawa nya kedalam dekap nya.


"ayo kita tidur aku tak bisa tidur sendirian"ucap nya lagi.


"coba lihat tanganmu sudah tidak membengkak sepertinya."ucapnya sambil menarik tangan Nisa.


"tidurlah sebentar lagi mas menyusul"ucapnya kemudian mengecup lembut kening Nisa.


"gak mau,kalau gitu aku tidur di sini saja kalau mas masih ingin disini."ucap Nisa dengan membaringkan tubuhnya dengan segera dan menjadikannya Ibra sebagai bantal nya.


Ibra hanya diam saja melihat Nisa namun ia kemudian mengusap lembut ujung kepala Nisa dan secara perlahan mata Nisa terpejam.

__ADS_1


"apa yang sedang coba kau sembunyikan dari ku? jelas sekali kau terluka dengan sadis mengapa kau selalu memendamnya seorang diri? ada aku yang selalu mendengar dengan jelas setiap keluh-kesah mu apakah kau masih meragukan ku? apa yang sedang kau lindungi disini ? aku tak tahan melihatmu sakit seperti ini bagaimana cara agar kau pahami maksud hati ku? mengapa seperti sulit sekali mendapat kepercayaan mu" batin Ibra terus saja berbicara menatap Nisa yang tertidur di pangkuannya, dan lagi-lagi air matanya menetes membuat Ibra semakin penasaran dan juga merasa tak berguna saat ini. Nisa tak pernah bisa menatap kedua mata nya saat ia menatap dengan perasaan cinta. apakah dia belum mencintaiku sampai saat ini? kembali menetes untuk kedua kalinya, Ibra mengecup singkat kedua mata yang selalu saja mengalir tanpa ia tahu apa sebab nya.


__ADS_2