
🌼🌼🌼🌼
"mas kita gak pulang?"tanya Nisa.
"tidak,kita akan menginap dua hari kalau masih kurang bisa di tambah lagi"jawab Ibra.
"yah,kenapa mas gak bilang dari awal?,Nisa kan gak bawa baju ganti sama sekali harus nya tadi pagi mas mengingat kan ku kalau memang akan menginap,ayah juga kenapa gak bilang sih tadi"ucap Nisa yang mulai mengoceh.
"nah kita sudah sampai"ucap Ibra saat memasuki kawasan rumah yang tidak terlalu mewah,namun terlihat cukup nyaman,dan dipadukan dengan warna yang cantik,oh iya dia mengingatnya,sama seperti rumah Ibra.
Ternyata kedua nya sudah di sambut dengan gembira di halaman rumah itu.
"hai om Ibra lama tak jumpa"sapa seorang anak laki-laki kemudian mengulurkan tangan.
"halo Tante."sapa nya kemudian,"oh hai"sapa Nisa dengan tersenyum.tak lama kemudian muncul dari sepasang suami istri menyambut Nisa dan Ibra,"halo selamat datang,maaf ya kalian datang tak ada penyambutan"ucap nya.
"ah gak papa kak santai aja,Ibra ada urusan sedikit jadi sekalian mampir dan ini Nisa yang tempo hari ku ceritakan"ucap Ibra pada kedua kakaknya.
"oh iya,aku Arini kakak Ibra jangan sungkan ya anggap saja rumah sendiri,maaf ya sedikit berantakan"ucap nya
"kakak mau kemana?shif siang ya?"tanya Ibra yang melihat kakak nya sudah rapi.
"iya nih kakak tinggal dulu ya maaf banget kalian datang kakak malah harus pergi."ucapnya lagi.
"gak papa kak,hati-hati di jalan"jawab Ibra.
__ADS_1
Setelah beberapa lama,Nisa merasa tidak nyaman hanya berdiam diri,sedangkan Ibra asik bermain dengan keponakan nya.melihat Nisa yang memainkan ponsel nya dengan malas Ibra segera menghampiri nya dan duduk di sebelah nya.
"mas ayo pulang Nisa gak betah nih kalau cuma diem begini"ucapnya saat Ibra menghampirinya.
"oke,tunggu ya."jawab Ibra sambil berlalu menghampiri keponakan nya sepertinya ia berpamitan kepada keponakannya.kakak Ibra merupakan karyawan swasta yang keduanya sama-sama bekerja,jadi mereka hanya akan dirumah saat malam.itu pun jika kakaknya mendapat shif siang akan pulang jam sepuluh malam.dan kakak ipar nya bekerja juga namun hanya dari pagi sampai sore hari.
Tak lama kemudian Ibra dan Nisa kembali memasuki mobil dan melaju dengan santai sesekali Nisa melihat kanan-kiri jalan yang selalu ramai.
Ibra melirik ponsel nya yang bergetar beberapa kali kemudian mencoba mengambil nya namun sulit,"sayang tolong lihat ponsel ku ada apa kenapa sejak tadi bergetar"ucap Ibra.
Nisa segera mengambil dan melihat ada notif email,segera Nisa membuka nya kemudian membaca nya dengan keras,"maaf pak jam tiga nanti ada meeting dengan klien dari perusahaan ........pak Dias tidak bisa memimpin karena sedang berada di rumah sakit."
"ah Dias,menganggu ku saja,aku kemari ingin liburan tapi malah di kejar jam tayang begini sih."ucap Ibra memukul beberapa kali stir mobil nya.kemudian ia menatap Nisa yang juga menatap nya,"tidak papa mas aku akan menunggu mu."jawab nya sambil tersenyum,tak berapa lama kemudian mobil Ibra sudah kembali ke kantor nya dan dengan segera memasuki ruangan nya guna mempersiapkan segala nya,tentu saja dengan Nisa yang mengekor di belakangnya,kemudian Ibra menarik nya untuk sejajar dengan nya.
"sayang kau ini calon istri ku,kenapa malah berjalan di belakang ku."ucap ibra. Nisa hanya nyengir saja,sesampainya di ruangan segera Ibra menekan telepon yang berada di atas meja nya."iya sisi,tolong antar kan berkas yang akan saya pakai nanti jam tiga sekarang ya!"kemudian ia kembali meletak kan ponsel itu di tempat nya,dilirik nya Nisa yang sedang duduk di sudut ruangan nya tampak memainkan kedua kaki nya, ia melirik jam di tangan nya."ah Sial 20 menit lagi"batin nya.
"yang berupa file ada si? di mana di leptop ini sepertinya tidak mungkin."ucap Ibra sambil menunjukan leptop yang berada di depan nya,
"sudah saya kirim ke bapak,silahkan di periksa pak masih ada waktu delapan belas menit."ucap sisi kemudian berlalu pergi.
Nisa menatap kagum pada Ibra yang tengah berbincang dengan sekertaris nya,terlihat sangat cekatan,dan juga pandai,ah iya dia teringat Ibra belum menceritakan kepadanya perihal semua ini yang membuatnya kebingungan setengah mati.
"sayang mas tinggal dulu ya, jika butuh apa-apa panggil saja sisi di sini ada nama dan juga kontak nya."ucap Ibra sebelum berlalu pergi meninggalkan nya.
Nisa merasa bosan ia duduk di kursi Ibra dan membuka beberapa tumpukan berkas yang ada di atas meja nya,"astaga setebal ini berisi apa?hanya melihat nya sudah membuatku kenyang bagaimana orang-orang ini harus membaca nya setiap hari."batin Nisa.
__ADS_1
Karena bosan hanya duduk saja,ia berinisiatif membereskan rung kerja Ibra dengan telaten dan juga hati-hati kemudian ia mengubah posisi kursi dan meja nya tadi agar tidak lurus dengan pintu,sehingga jika pintu terbuka tidak langsung terlihat dengan jelas siapa yang sedang duduk di kursi itu.ia juga menyusun buku-buku yang tebal tak beraturan di meja itu dengan menatanya dengan rapi di sudut meja yang ada.jadilah seperti pojok baca yang biasa ia gunakan sewaktu sekolah dulu.
Kemudian ia menatap nya sebentar"ah sudah lebih baik,nah seperti ini jauh lebih baik dan terlihat lebih luas,ah mungkin akan ku tambah bunga ini di sudut kanan nya"ucap Nisa sambil mencoba melirik tiap sudut yang tersisa.setelah itu Nisa berjalan menuju kamar yang berada tepat di belakang kursi Ibra dan sekarang ia ubah menjadi di samping lemari kayu yang terlihat senada dan orang tak akan mengira bahwa itu adalah pintu.
Ia merasa gerah setelah kegiatannya tadi,ia ingin mandi namun tak memiliki ganti jadi ia urungkan niat nya dan berbaring di atas ranjang yang tidak terlalu besar itu.
tak lama kemudian Ibra datang, dengan membuka jas nya dan sambil menarik dasi nya yang sudah berantakan.
"sayang"
"kenapa?apa terjadi sesuatu kenapa mas sangat berantakan?"tanya Nisa kemudian bangkit dari ranjang dan membantu melepaskan dasi dan juga jas yang di kenakan Ibra saat ini,Ibra hanya diam dan menurut saja"oh iya aku lupa mas,kau sangat TAMPAN"ucap Nisa sengaja menekan kalimat nya yang terakhir.seketika senyum Ibra mengembang dan mencubit kecil pipi Nisa.
"sudah selesai belum?Nisa gerah ingin mandi tapi gak bawa baju ganti bisa kita pergi sebentar untuk membeli baju?"tanya Nisa.
"sudah sayang,mas juga gerah ingin segera pulang ayo"jawab Ibra sambil menarik Nisa keluar dari ruangan nya,sementara Ibra belum menyadari perbedaan tata ruang nya.
Setelah beberapa saat sampai lah kedua nya di pusat perbelanjaan yang sangat ramai,Nisa turun bersama Ibra di sudut jalan terlihat seseorang yang memperhatikan kedua nya.
"sayang sebentar ya,mas ingin ke toilet sebentar tunggu disini" ucap Ibra Nisa hanya mengangguk,kemudian ia melihat sekeliling yang terlihat ramai dan juga lalu lalang orang-orang tiba-tiba saja mata nya tertuju pada seseorang di sudut jalan "DEG" dan saat kedua mata nya sama-sama saling memandang sosok tersebut berjalan mendekati nya dan menghampirinya dengan jelas.
"hai lama ya gak ketemu,sekali bertemu sudah berubah ya selera mu,memang nya segak laku itu ya,sampai harus dengan om-om yang lebih cocok jadi ayah mu,ternyata selera mu tidak cukup bagus,untung saja aku segera meninggalkan mu waktu itu,selamat ya denger-denger kalian juga kalian akan segera menikah,semoga gak keduluan mati deh ,kalau sudah jadi janda kabari saja aku juga punya banyak kenalan om-om seperti itu" setelah berkata seperti itu ia berlalu pergi,Ibra yang melihat dari kejauhan merasa penasaran siapa yang berbicara dengan Nisa barusan tapi. tiba-tiba saja ia melihat Nisa berlari.
Dengan emosi Nisa berlari mengejar kemana dia tadi pergi,hati nya sangat sakit ia tidak terima dengan segala tuduhan yang di lempar dengan kasar tepat di wajahnya. ia berlari mencari sampai ke belakang gedung namun tak di jumpai nya,dengan marah,emosi,dan segala kesakitan ia menangis dan memukul dengan keras tembok yang berada tepat di belakangnya. berkali-kali ia bahkan tak menyadari jika jari-jarinya sudah mengalir darah segar ia sangat marah,mengingatnya dengan benci dan terus saja meluapkan kemarahannya dengan memukul tembok berkali-kali.hingga akhirnya dia luruh dan bersandar pada tembok dan sesekali masih memukuli nya,Ibra yang panik segera mengejarnya namun tak juka dilihatnya karena sudah gelap samar-samar ia mendengar Nisa memukul tembok berkali-kali dengan berlari Ibra menghampirinya.
"sayang hentikan kamu menyakiti dirimu sendiri,oh ya ampun ini berdarah,sudah hentikan kamu bisa kehilangan jari mu"Ibra segera memeluknya dan Nisa masih menangis dan memukul pelan punggung Ibra. segera di bawa nya kedalam mobil untung saja sudah malam tidak terlalu terlihat kondisi nya saat ini,Nisa memeluk kedua lutut nya dengan erat dan menyembunyikan wajahnya dikedua kaki nya, saat sudah berada didalam mobil Ibra yang melihat nya merasa iba,sebenarnya siapa pria yang menemui Nisa kenapa bisa membuatnya marah sehebat ini, Ibra sangat terkejut tak menyangka Nisa bisa berbuat SEbrutal itu dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Tak lama kemudian Ibra sampai di apartemen miliknya, yang tak jauh dari kantor nya,baru ia sadari hari ini ia hanya terus berputar-putar dan membuat Nisa merasa bersedih. padahal niat nya hanya meeting sekali kemudian berencana menyenangkan Nisa malah sebaliknya.ibra segera membuka pintu untuk Nisa yang masih sesenggukan dan masih menangis"sayang kita sudah sampai"ucap Ibra sambil mengusap punggung Nisa dengan pelan tanpa perduli dengan keadaanya, Nisa segera turun dan masih menangis Ibra segera membuka pintu untuk Nisa sesampainya Nisa segera duduk di sofa dan melanjutkan menangis nya kembali memeluk kedua kaki nya dengan sendu bahkan kedua tangan nya berdarah tak di rasa lagi oleh nya.