
"oh ya?,emang boleh?"tanya Ibra lagi.
"boleh dong,kalau gak boleh Nisa bakal paksa ibu buat pulang"jawab Nisa lagi.
"kaki mu dingin sekali sayang?"ucap Ibra terkejut saat tak sengaja menyentuh kaki Nisa.kemudian membawa Nisa dalam dekapan nya,memeriksa suhu tubuh nya.
"aku gak papa mas,"ucap Nisa lagi.
"gak papa bagaimana?tubuh mu dingin tapi berkeringat,sudah istirahat ke kamar sana,!"ucap Ibra,sambil mengusap lembut rambut Nisa.
"nanti mas pergi,kalau aku ketidur an,gak mau sendirian,"ucap Nisa lagi.
"tidak,mas tunggu di sini ya,"
"egak,Nisa di sini saja."ucap Nisa kemudian menyembunyikan wajahnya pada perut Ibra.
"ayolah sayang,disini dingin,"ucap Ibra lagi.
Nisa diam saja,tak menjawab ucapan Ibra.
"sayang,"
"sayang,"hei jangan di sini,dingin"ucap Ibra mengusap lembut kedua pipi Nisa.
"mas,Nisa mau di sini"jawab Nisa membangun kan tubuhnya, yang memeluk perut Ibra.
"katakan,kenapa menangis hum?"tiba tiba Ibra kembali penasaran.
"kapan?"jawab Nisa terheran.
"Nisa sayang mas gak?"
"pertanyaan apa ini,tentu sayang lah."jawab Nisa.
"masih ada rasa dengan mantan kekasih mu?"
"kenapa mas bertanya begitu?"tanya Nisa kembali sambil menghadap Ibra.
"mas serius sayang,mas tak ingin ada pemaksaan di sini."ucap Ibra menatap Nisa.
"siapa yang mas maksud?,siapa yang terpaksa?aku?"ucap Nisa.
"kebiasaan ya,di tanya malah balik tanya,"ucap Ibra menarik pipi Nisa gemas.
"ah mas,sakit.lagian mas ini bicara apa,tidak ada yang terpaksa di sini,Nisa tidak terpaksa,dua rius sayang mas"ucap nya lagi,sambil mengelus pipinya yang di tarik oleh Ibra.
"kalau begitu,kenapa masih menangis, dan galau,mas yakin itu pasti tentang kekasih mu itu"ucap Ibra lagi.
__ADS_1
"masssss,kekasih ku kan kamu,"ucap Nisa sambil menggenggam jari Ibra.
"tidak,tidak,maksud ku siapa mantan kekasihmu itu namanya?"
"untuk apa mengingat nya?menyebalkan!"ucap Nisa me manyun kan sudut bibir nya.
"kenapa menangisi nya,terus menerus?"
"hum,yang terakhir,aku sudah memblok nya,dan ku pastikan dia tak akan mengganggu ku lagi,aku dan dia itu tidak cuma satu,atau dua hari bersama mas,tidak bisa begitu saja membuang kenangan bersama nya,harus berlahan kan? tapi setidak nya aku kan sudah berusaha menjauh,dan memilih bersama mu,aku hanya marah,kenapa dia tidak bisa mengerti sama sekali,selalu saja me repot kan ku."ucap Nisa mencoba menahan ujung mata nya yang mulai berair,dan mencoba melihat ke arah lain,menggigit sedikit ujung bibirnya,merasa genangan air itu akan segera tumpah seketika.ibra menangkup wajahnya dengan kedua tangan nya,mata nya terpejam menahan air mata yang ingin keluar."maaf sayang,mas tidak bermaksud menyakiti mu" ucap Ibra,kemudian mengecup lembut bibir Nisa,membuat Nisa melepas gigitan di bibirnya. merasakan sesapan Ibra sesaat,yang membuat jantung nya serasa ingin keluar."emmmh mma-aaas" ucap Nisa yang akan ke habisan nafas nya.
"jangan menggigitnya,nanti berdarah sayang,"ucap Ibra. Nisa merasa heran pada dirinya,mengapa ia diam saja, saat dengan sengaja Ibra mengecup bibir nya.padahal,saat bersama bima dahulu,jangan kan mengecup,terlalu dekat saja bima dengan nya,akan segera di tonjok oleh nya."hei,jangan macam-macam,kasihan suami ku nanti,kalau mendapat sisa mu"cicitnya."memang nya kau tak ingin menikah dengan ku? harus aku yang menjadi suami mu."
"siapa yang akan menjamin,kalau kau akan menikahi ku?,berani macam-macam,apa lagi sentuh-sentuh."oceh nya saat itu.kenangan tentang nya dan bima,yang mendadak hadir di benak nya,membuat Nisa tersenyum,betapa galak,dan cerewet nya dia,tapi sekarang kemana dia yang dahulu? batin nya.
"hei, apa yang membuat mu tersenyum manis seperti itu sayang?"ucap Ibra.
"tidak ada,"ucap Nisa kemudian menyembunyikan wajah nya kedalam perut Ibra,wajah nya terasa panas,dia teringat lagi,saat dengan sadar ia meminta di cium oleh Ibra secara terang-terangan,urat malu nya apakah sudah terputus sejak saat itu?,"mengapa aku menjadi agresif seperti ini?memalukan Nisa."batin Nisa dalam hati,dan lagi-lagi ia tersenyum menahan malu nya.
"hei,ayolah sayang,apa kau memikir kan sesuatu yang menyenangkan?sampai harus senyum-senyum seperti ini?"tanya Ibra meraih wajah Nisa dari pangkuan nya,kemudian menatap nya penuh selidik.
"mas aku malu,jangan begini dong"ucap Nisa menutup wajahnya.
"malu?aku jadi semakin penasaran,sebenar nya apa yang sedang kau pikir kan hum?"tanya Ibra lagi.
"tidak ada mas,sungguh! aku hanya merasa kehilangan sesuatu dari dalam diriku"ucap Nisa akhirnya mencoba rileks,
"oh iya?apa itu?"tanya Ibra lagi ,sambil meneguk beberapa kali teh nya,yang telah hangat.
"hah,yang benar saja."Ibra terkejut.
"oh tenang-tenang,maksud ku hanya saat bersama mu saja mas"ucap Nisa lagi.
"tolong jelas kan,lebih rinci lagi sayang,aku tak paham sama sekali maksud ucapan mu tadi,"jawab ibra lagi,masih tidak puas dengan jawaban Nisa.
"ah ya sudah,tidak penting juga mas,"ucap Nisa sambil meraih ponsel nya,yang berkedip beberapa kali.
"tidak penting bagaimana?,tadi kamu bilang sendiri, bahwa urat malu terputus itu bagaimana bisa tidak penting,"
"ah ya baiklah,mas Ibra ku tercinta.maksudku,semenjak bersama mu,aku kehilangan urat malu ku,karena aku dulu tidak pernah seperti ini,maksudnya adalah,aku tidak pernah di sentuh oleh pria manapun,tapi dengan mu,kenapa aku justru malah dengan sadar meminta untuk di cium oleh mu? bukan kah itu terlalu agresif?dan aku baru saja menyadari nya, entah sejak kapan aku berubah begini,padahal sebelum ini,jika ada yang mendekat bisa saja langsung ku tendang."jelas Nisa sambil memainkan ponsel nya,Tanpa melihat Ibra.
"oh ya,aku beruntung sepertinya,tidak terkena tendangan mu,justru dapat tawaran yang eksklusif dari mu secara langsung" jawab Ibra merasa senang,dengan yang Nisa katakan padannya.
"mas aku mengantuk,boleh tidur disini?"ucap nya sambil menunjuk paha Ibra.
"boleh sayang,kemari lah!"jawab Ibra menarik Nisa dalam pangkuan nya,namun Nisa beranjak lagi,"loh mau kemana?"
"mematikan lampu mas,Nisa tak bisa tidur jika terang begini"ucap nya, dan setelah mematikan lampu nya,kembali berbaring ke pangkuan Ibra.
__ADS_1
"nah sudah,tidur lah"ucap Ibra lagi,jarinya mengusap lembut rambut Nisa,dan memainkan ponsel nya.
****
Nisa sudah tertidur,dan Ibra merasa kantuk nya mulai menyerang, dia mematikan tv,ia meraih bantal yg tidak jauh dari sofa tempatnya duduk,kemudian memejamkan matanya.namun paha nya terasa kesemutan.
"sayang,bangunlah tidur di kamar ya,mas akan tidur disini"ucap Ibra sambil menepuk pipi Nisa perlahan.
Nisa membuka matanya,dan menggeliat membuatnya hampir saja terjatuh,"sayang hati-hati,kau tidak sedang di kasur mu"ucap Ibra menahan pinggang Nisa, yang hampir saja terjatuh.
"hoaam,"Nisa menutup bibirnya yang menguap,dan bangun dari tidurnya,
"haduh,badan ku pegal rasanya,tidur di bawah sini saja mas,"ucap Nisa yang berjalan ke kamar nya,dan kembali membawa selimut dan juga bantal guling untuk dirinya.
"sayang,tidurlah di kamar mu"ucap Ibra.
"di sini saja mas,"jawab Nisa memberikan selimutnya pada ibra,kemudian merebahkan tubuh nya,dibawah sofa itu,tak lama Ibra menyusul berbaring di samping nya.
Ibra tak bisa terlelap sama sekali,akhirnya dia hanya memperhatikan Nisa yang tampak terlelap,"tidur mas,jangan menatap ku seperti itu"ucap Nisa.
"kenapa belum tidur?mas pikir kamu sudah terlelap,"ucap Ibra mengusap pipi Nisa dengan lembut.
"mas dari tadi gerak-gerak terus,aku jadi terbangun kan"ucap Nisa me manyun kan bibir nya,sebenar nya ia belum tertidur,karena tadi sudah terbangun saat Ibra membangun kan nya,membuatnya susah untuk terlelap kembali.
tangan Ibra beralih menyentuh bibir Nisa yang terus saja mengoceh,mengusap nya pelan,dan tak lama kemudian mengecup pelan bibir Nisa, Ibra memejamkan matanya,bibirnya berganti menyesap,dan lama kelamaan terasa sangat liar,ia tidak hanya menyesap,juga menggigit sesekali. Nisa menikmati,ia merasa sangat terbuai,"emmmmmh maaaassshhh"
tangan Ibra sudah masuk kedalam piyama Nisa,dan memainkan dua milik Nisa yang terasa begitu pas saat di mainkan nya.tangan Ibra terus saja meraba,dan meremas, sesekali memilin ujung dua benda sensitif Nisa. ia melepaskan tali pengait pada kedua pa****ra Nisa.
menarik piyama Nisa ke atas ,menyesap dengan kuat,"aaahhh maassss" tangan Nisa mendorong kepala Ibra membuat nya menyesap lebih dalam lagi. tangan Ibra meraba, dan meremas, milik Nisa yang sebelah lagi."maaassss lepas ahhhhh "Nisa benar-benar merasa aneh saat ini.kembali di sesap bibir Nisa yang terasa manis,Ibra menyesap lebih dalam lagi,saat teringat bahwa dialah pria pertama, yang telah menyentuh Nisa,
tangan Ibra meraih tangan Nisa yang melingkar di bahunya,ia meletak kan nya tepat di atas ke*******nan nya yang sudah mengeras,dan membengkak sejak tadi,"beri dia sentuhan sayang"ucap nya parau. Nisa sama sekali tidak mengerti,menyentuhnya saja, membuat nya takut,dia hanya mengusap nya lembut,"aaahhhh lebih keras sayanggg"erang Ibra, menekan jari Nisa untuk lebih keras lagi,Nisa akhirnya meremas nya,dengan perlahan "emmmmhh ahhhh"desah Ibra tangan nya kembali meremas dua benda milik Nisa dengan sedikit kasar. "aahhhhh masss saakiit"
"sayang,,,,mas gak tahan"ucap Ibra parau menahan gairahnya. alih-alih mendengar,Nisa justru mengoceh sendiri.
"yah,kamu sudah gak perawan lagi,ahhhh"tiba tiba saja Nisa mengoceh,melihat dua benda milik nya basah karena ulah Ibra,dan terdapat tanda merah tidak beraturan,dan sedikit meringis ketika menyentuh ujung nya yang tampak sedikit lecet, karena ulah Ibra.
"sayang,,maaf aku kelepasan,"ucapnya masih dengan suara parau,dan kembali menyentuh milik Nisa,"aaahh masss,ini sudah lecet,sudah hentikan,nanti berdarah kalau di lanjutkan"ucap Nisa menahan suara laknat nya.
Ibra segera membalik kan tubuh Nisa membelakangi nya,dia tak akan bisa berhenti saat ini,memeluknya dengan erat,Nisa dapat merasakan milik Ibra yang terasa sangat keras."mas mi-lik mu.."ucap Nisa,terbata dan takut.
"ahhh sayang, mas gak tahan,"ucap Ibra membenamkan wajahnya di punggung Nisa, Ibra menggosok milik nya dengan perlahan,ia membiarkan Nisa membelakangi nya,Nisa yang merasakan milik Ibra sangat takut,dan jantung nya berdetak sangat kencang.ibra menggosok dengan tempo lambat, dan semakin lama, semakin cepat,sedang kan Nisa juga merasakan,dan akhirnya Nisa merasakan tubuh Ibra bergetar dengan hebat,dan memeluknya dengan erat.dan kedua nya sama-sama ke habisan nafas.
"maaf sayang,mas tidak menyangka, walau masih terbungkus dengan baik,kamu mampu membuat ku melayang seperti ini"ucap Ibra,sambil membawa tubuh Nisa berbalik ke arah nya.
Nisa yang sama sekali tidak paham,sebenarnya bingung."mas tadi kenapa? bergetar sehebat itu?"tanya nya polos.
"mas sudah mengatakan nya barusan,kamu membuat mas melayang dengan nikmat"jawab Ibra kemudian mengecup ujung kepala Nisa.
__ADS_1
"Nisa masih tidak mengerti mas"ucap Nisa lagi.
"nanti mas beritahu,kalau kita sudah menikah,"jawab Ibra setengah berbisik,membuat Nisa merinding seketika.