Sepotong Sayap Patah

Sepotong Sayap Patah
Hapus air matamu dan genggam tangan ku


__ADS_3

"Tak perlu kau ada disini tak perlu kau perduli kau tersenyum karena puas. Berhenti menguji ku karena sesungguhnya aku tak pernah sebaik itu"


🍃🍃🍃🍃


Meski mentari berhenti menyinari dan bumi berhenti berputar, tak akan pernah mengubah keadaan hati yang sudah terlanjur luruh lebam. bukan karena ter tikam melainkan dengan sengaja di tinggal dalam kesendirian sepi dan sunyi tanpa di perduli.


Dan kedua bola matanya telah menorehkan luka dengan deras nya, tanpa ingin berhenti dan menepi bagai di hantam ombak di samudera dengan derasnya. tak lagi perduli dengan raga nya yang kian berdarah karena ada sakit yang lebih terasa menyayat di tiap detik nya.


"apa lagi ini? atau memang begitu rendahnya aku Dimata mu? aku pernah berbuat salah apa? tadi nya aku hanya menganggap mu sebagai potongan iklan yang hanya sekedar singgah kemudian pergi dengan sendiri nya,tak ada rasa benci sama sekali. tapi hari ini kau membuktikan dirimu dengan datang sendiri di hadapan ku bahwa kau tak sebaik itu,setelah menyakiti dengan sadis kemudian di balas dengan memaafkan itu terlalu curang, tuhan bisa memaafkan segala salah dan dosa setiap hamba nya tapi sorry aku bukan tuhan.detik ini juga aku membencimu! jika tidak sekarang aku berjanji suatu saat aku akan menemukan titik rendah mu dan saat itu akan ku pastikan aku kan menginjak kepala mu yang sombong itu dengan kedua kaki ku ini. dengan sangat keras dan juga membekas hingga tak pernah terbesit di benakmu untuk melupakan!"batin Nisa dengan berapi-api tubuhnya masih sesenggukan dan tangisnya belum ingin mereda. ia membiarkan seluruh sakit nya tersampaikan hingga ke ujung kuku kaki nya, agar suatu saat dapat mengingat kan dirinya berapa kejam dia yang telah merobek hati yang sudah susah payah ia rapikan.


Ibra tak tahan melihat nya seperti ini dengan membawa kotak obat Ibra membersihkan luka di kedua tangan Nisa. ia membiarkan Nisa masih menangis sembari mengobati lukanya, rupanya kulit Nisa sangat sensitif meski sudah tak berdarah kini bagian yang tadinya mengalir darah segar menjadi membengkak. bahkan Nisa sama sekali tidak bergeming bukan kah itu sangat perih?"apakah sesakit itu sampai-sampai luka yang jelas mengalir darah tidak lagi di rasa oleh nya"batin Ibra dengan menatap punggung Nisa yang masih sesenggukan.


Masih belum berhenti juga Ibra benar-benar tidak tahan di tariknya tubuh Nisa kedalam dekap nya, dan Nisa hanya diam saja masih dengan menangis kedua mata nya seperti menatap tanpa arah.


Ibra masih terus mengusap lembut punggung Nisa berharap Nisa segera berhenti dari menangis ya.


"sayang..."


"sudah ya, bisa kita bicara?"tanya Ibra pada Nisa namun Nisa masih saja tak menjawab dan masih saja menangis. Ais tak ada cara lain Ibra segera menarik Nisa kemudian dengan cepat me*umat bibir Nisa dengan kasar,benar saja tak lama kemudian tangis Nisa menghilang, kemudian Ibra me**mat bibir nya dengan lembut tak ada penolakan Ibra masih menyesap dengan lembut memacari rasa manis di sana dan sesekali menggigit nya. setelah dirasa cukup tenang Ibra melepas bibirnya dan mengecup sebentar kening nya kemudian membawanya kedalam pelukan nya.


"ada apa sayang? katakan! jangan seperti tadi ya kau membuat ku takut siapa laki-laki yang menghampiri di parkiran sampai membuat mu terluka seperti ini?"tanya Ibra dengan suara pelan dan mengecup kedua tangan Nisa yang terluka.


"mas tahu kalau aku tadi berbicara dengan Reza semoga saja dia tidak mendengar apa yang Reza katakan pada ku tadi"batin Nisa dengan masih sesenggukan beberapa kali.


"masih belum ingin cerita hum?" tanya Ibra menarik wajah Nisa menghadap nya kemudian menyatukan kedua keningnya hingga bersentuhan. dan Nisa masih enggan menjawab namun kali ini ia menggelengkan kepala nya.


Nisa memeluk perut Ibra yang ramping ia membenamkan wajah nya di sana,matanya terpejam ia berbaring di sofa panjang itu kemudian beralih menghadap Ibra"mas aku ingin tidur sebentar"ucap nya sebelum Ibra menjawab ia sudah kembali memeluk perutnya Ibra hanya mengangguk dan tak lama kemudian terlihat bahu Nisa yang bergerak teratur, menandakan Nisa sudah tertidur dan sudah lebih tenang.


"kamu kenapa sayang? maaf ya aku benar-benar membuat mu semakin sulit sungguh aku tidak bermaksud"ucap Ibra memandangi Nisa yang tertidur di pangkuan nya dengan sesekali sesenggukan. Ibra semakin merasa bersalah saat ini melihat kemeja yang dikenakan Nisa terkena noda darah saat Nisa sedang los kontrol tadi, Ibra segera menggendong Nisa kedalam kamar dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. kemudian Ibra keluar kamar dan menghubungi seseorang.


"ke apartemen sekarang!"perintahnya. dan tak lama kemudian terdengar suara mobil datang dan muncullah seseorang dari balik pintu.


"kau sungguh merepotkan ku hari ini gara-gara ulah mu Nisa harus terluka berkali lipat"ucap Ibra frustasi dan langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dias yang baru saja datang langsung terkejut melihat tetesan darah di lantai, tetesan darah Nisa belum sempat Ibra membersihkannya.

__ADS_1


"ah ya ampun apa-apa an ini ? apa yang terjadi?"tanya Dias langsung terkejut melihat Nisa darah itu di lantai.


"itu semua karena ulahmu! aku kemari bukan untuk bekerja,aku ingin memberikan kejutan kepada Nisa tapi kau malah mengacaukan segala nya."ucap Ibra, kemudian ia menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada nya, dan Dias merasa sangat-sangat menyesal.


"sorry bro, itu juga bukan hal yang ku sengaja setelah makan siang tadi tidak sengaja aku menabrak seseorang jadi aku harus mengantarnya kerumah sakit,jika tidak bisa di jemput paksa polisi aku."jawab nya membela diri.


"ah ya sudah lah! semua nya sudah terjadi sekarang temani aku pergi!"ucap Ibra, dan Dias mengekor di belakang nya tak lama setelah mereka mengendarai mobil Ibra, sampailah di mall Dias menurut saja dan terus mengekor di belakang Ibra yang sedang sibuk memilih beberapa baju yang cocok untuk Nisa.


"kau beli baju untuk Nisa?akhirnya Dias bersuara.


"hum"jawab nya.


Setelah selesai beberapa baju telah di pilihnya dan sekarang ia berada di bagian pakaian dalam wanita.


"hei kau yang benar saja memangnya kau tahu berapa ukurannya?"tanya Dias yang merasa risih berada di tempat itu dan Dias lebih terkejut lagi ketika dengan santai Ibra menyentuh barang yang mirip seperti kaca mata itu, kemudian mengukur dengan jari-jari nya."em segini atau segini ah tidak-tidak segini terlalu kecil umm seperti nya segini nah iya pas sepertinya yang ini, "gumam Ibra sambil memilih dan seperti sedang mengingat membuat Dias memelototi nya dengan tajam.


"hei apa kau sudah menyentuh nya? kenapa seolah-olah jarimu itu mengetahui ukuran nya?"tanya Dias curiga.


"ku pikir kau cupu ternyata kau benar-benar suhu aku tak pernah menyangka kau bisa SE bar-bar itu"ucap Dias masih tak percaya.


"astaga warna merah? itu terlihat sangat sexy sekali bro"ucap Dias mencoba mengomentari.


"jauhkan mata mu itu! ini hanya milik ku kalau kau ingin pilih sendiri cari yang lain"ucap Ibra merasa kesal.


Setelah selesai Ibra segera membayar dan membawa nya pulang Dias juga pulang bersama nya ia segera turun setelah Sampai di apartemen nya.


"pulang lah sudah selesai!"ucap Ibra.


"apa? jadi aku kemari hanya untuk menemani mu belanja pakaian dalam wanita?"tanya Dias terkejut.


"dan satu lagi,tolong jangan ganggu aku dulu apapun yang terjadi kau harus atasi sendiri dengan baik oke?aku tak ingin lagi di ganggu oleh mu,ini momen ku sekali seumur hidup aku mohon kau mengerti!"ucap Ibra kemudian memasuki apartemen nya dengan santai sedangkan Dias masih geleng-geleng kepala kemudian melesat dengan cepat.


"massss....."

__ADS_1


"hum iya sayang kenapa?


"kepala ku pusing sssshhhh tangan ku perih semua"ucap Nisa mencoba bangkit dari tidurnya.


"kamu melukai dirimu sendiri sayang,lihat lah bajumu banyak noda darah!"ucap Ibra. Nisa segera menunduk melihat kemejanya dan benar saja banyak noda darah di sana.


"Mandi setelah itu kita makan ya,"ucap Ibra mencoba membantu dan Nisa menurut saja lagian kedua tangan nya terasa sakit dan juga membengkak bagaimana dia akan mandi,tapi dia sangat gerah hari ini cukup melelahkan untuknya.


"mas bisa tutup mata gak?"


"bagaimana aku bisa membuka bajumu kalau tutup mata?"


"tapi aku malu mas"


"tidak perlu malu ini darurat kalau tidak mandi akan ku pastikan nanti kamu gak akan bisa tidur karena gerah."


Nisa berpikir sejenak dan benar yang di katakan oleh Ibra. akhirnya ia menurut saja Ibra melepas seluruh pakaian Nisa kemeja, tank top, sudah terlepas dan terlihat dengan jelas kedua benda sensitif itu. mendadak Ibra teringat saat ia membeli barang yang ia pilih bersama Dias "ah sepertinya akan sedikit kekecilan untuk ukuran ini"batin nya.


"mas cepat aku malu"ucap Nisa membuyarkan lamunannya.


Dengan sedikit gugup Ibra melepas nya dan sudah bisa di tebak jantungnya tidak baik-baik saja saat ini.dengan cepat ia melepas jeans yang di kenakan Nisa hingga tinggal tersisa pakaian dalam milik Nisa. dengan segera Nisa berbalik dan kemudian benar-benar tak mengenakan apapun di tubuhnya. mati-mati an Ibra menahan, detak jantung nya semakin cepat"mas dingin"Nisa menyadarkan nya lagi dengan segera ia menghidupkan air hangat dan menyiram tubuh Nisa. kemudian ia menuangkan sabun cair ke tubuh Nisa dan terlihat seperti ber asap dari kulit Nisa ditambah aroma greentea yang wangi, Ibra menggosok lembut punggung Nisa kemudian beralih ke perut dan sampai pada kedua pa*udara Nisa. alih-alih mempercepat Ibra justru dengan reflek melambat dan menggosok tepat di p*Ting nya dengan lembut membuat nya merasa seperti terkena aliran listrik seketika"mmaasssh emmmhhh" mendengar nya Ibra malah dengan sengaja memainkan nya lagi.


"maaassss akkkkkhhhh "


"emmmhhhh"


Ibra semakin menggila mendengar erangan Nisa, dibalik nya tubuh Nisa yang tadi membelakanginya menjadi menghadap nya. dengan tak sabaran segera ia melahap salah satu dari keduanya mendorong nya hingga bersandar pada dinding itu, nafasnya memburu tangan nya tak tinggal diam meraih apa saja. Nisa yang merasa kesakitan tersadar


"mass hennttiiikkaan , jujur ini nikmat tapi aku kesakitan"ucap nya parau dan meringis.


mendengar Nisa segera ia memejamkan matanya beberapa kali, kemudian segera membasuh tubuh Nisa dengan segera dan tak ada yang terlewatkan sama sekali dari ujung kaki hingga ujung rambut panjang nya.


setelah itu ia memakaikan handuk kimono nya yang panjang kepada nya,dan ia meminta Nisa untuk segera keluar terlebih dahulu dia juga akan mandi terlebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2