
"bukan ingin egois secara sepihak melepaskan. terkadang, porsi sabar kita sudah habis sebelum waktunya, karena terlalu lama di forsir terus menerus".
🌼🌼🌼
Nisa sudah siap siap untuk pergi menjemput mici. karena bima sedang tidak sehat, dan dia sudah siap, ketika hari ini sepertinya hanya akan menjadi obat nyamuk,untuk sahabatnya itu. namun tak mengapa, hitung hitung mencari suasana sedikit berbeda. karena selama ini, dia hanya berdiam diri saja bukan, bukan tak pernah jalan, namun Nisa bingung harus kemana, sebab teman yang biasa bersamanya hanya mici, dan Fara dan hanya mereka berdua teman terbaik nya. yang mengerti seleranya, jadi selama mereka tak ada, Nisa tak pernah bepergian terlalu jauh dari rumahnya kadang hanya sekedar kepasar saja ia malas kalau tidak di paksa mengantar ibunya dia tak akan mau.
"waduh waduh, anak ayah dah wangi banget tumben mau kemana ?" tanya ayah Nisa.
"hmmm nisa lupa bilang sama ayah, Nisa hari ini mau nonton sama mici ya yah kemarin pulang dia" ucap Nisa.
"OOO nonton apa dimana?" tanya ayah lagi
"nonton bola ayah gak terlalu jauh kok " jawab Nisa
"motor an ber dua ?" tanya nya lagi.
"iya lah ayah " jawab Nisa sambil memasang helm nya
"lah Fara gak ikut?" tanya ayah lagi.
"enggak yah, katanya dia kurang enak badan" jawab nisa lagi.
"oh gitu, ok ok hati hati dijalan pulang jangan ke sore an yaa" pesan ayah pada Nisa .
"baik ayah siap" jawab Nisa sambil berlalu menuju motornya.
Nisa mengendarai motor nya yang berwarna toska. hari ini perdana si toska keluar jauh. setelah beberapa bulan hanya kesini dan kesitu, tak lama kemudian Nisa sudah sampai dirumah mici
"hai om mici ada?" sapa Nisa pada ayah mici yang sedang mencuci motornya di halaman rumahnya.
"hai Nisa, lama y gak kesini ada di dalam masuk saja " jawab nya.
"hehe iya om, kan mici nya gak ada, kalau Nisa kesini mici gak ada nanti dikira ngapel in Abang dong." jawab mici sambil cengengesan.
__ADS_1
"haha kamu ini bisa saja " jawab ayah mici ikut tertawa.
"ya udah Nisa permisi dulu ya om" ucap Nisa kemudian sambil berlalu .
"iya sana masuk saja" jawab ayah mici.
"mici mci oh mici" panggil Nisa dari luar rumah sambil duduk di teras.
"iyaa nis " suara mici terdengar menyahut dari dalam.
mendengar suara Abang mici keluar rumah "eh Abang kok dirumah gak nonton bang ?" sapa Nisa.
"oooo kamu Nisa, enggak ah Abang hari ini ada kepentingan lain ,besok saja kan masih ada to?" tanya Abang Nisa kemudian.
"nah itu Nisa gak tahu bang, soal nya ini kita baru mau mau kesana hehe" jawab Nisa cengengesan.
"mici lama banget, udah di tungguin Nisa nih" teriaknya pada mici.
"masuk dulu aja, gak tau si mici lagi ritual apa, udah sibuk dari tadi pagi padahal. " celoteh Abang mici sambil berlalu.
"emang gitu yaa" tanya Abang kemudian.
"iya bang kayaknya" jawab Nisa cengengesan.
"Halah kamu ini" ucap nya lalu melanjutkan langkahnya.
"udah siap nih yok" ucap mici kemudian keluar dari dalam rumah.
"yok om berangkat dulu yaa " pamit Nisa.
"iyaa hati hati kalian " jawabnya.
"tuh kan kalau lu yang jemput gak bakal ada drama dulu" ucap mici kemudian.
__ADS_1
"hmm iya sih percaya gue" jawab Nisa.
"berhenti dimana nih,?" tanya Nisa pada mici
"ntar deh, agak kejauhan dikit nanti ketahuan Abang bisa binasa gue" jawab mici.
setelah berkendara beberapa saat kemudian,Nisa dan mici berhenti mici pindah berbonceng pada pacarnya, karena sudah pasti akan dimakan bulat bulat oleh abangnya jika ia dan pacarnya ketahuan.Nisa kini melaju didepan mici dan pacarnya, Nisa sedikit meninggikan gas motornya sesekali menengok ke spion motornya , apakah sahabatnya masih terlihat namun secara tiba tiba pemandangan tak mengenakan terlihat oleh matanya.
"loh itu seperti motor bima kenapa ada di situ dan dengan siapa dia " batin Nisa.
dengan berlahan Nisa mengecilkan gas motornya, hingga melaju sedikit lebih pelan, dan sampailah ia pada motor itu, dan betapa terkejutnya dia, benar saja itu adalah bima dan dengan siapa dia alangkah lebih terkejutnya Nisa setelah tahu siapa wanita yang bersama bima FARA sahabatnya.
seperti kehilangan kendali, Nisa melajukan motor nya dengan sangat kencang, membuat mici khawatir dan mici juga menyaksikan Fara bersama bima mici pun merasakan hal yang sama .ia benar benar tak habis pikir oleh apa yang terjadi antara bima dan Fara. namun ia lebih mencemaskan Nisa karena Nisa berkendara sendiri dan melaju dengan sangat kencang "sayang cepat sedikit aku takut terjadi sesuatu pada Nisa" ucapnya
"iya sayang tenanglah, Nisa akan baik baik saja, saat ini pasti ia sedang di mode "tomboy"nya "balas nya.
"ih kamu ini aku beneran khawatir tauk" ucap mici.
beberapa saat kemudian, Nisa tidak pergi menuju lokasinya menonton .ia memilih arah lain dan dia berhenti sejenak di pos yang kosong. sepertinya pak security sedang makan siang,
tak lama kemudian mici dan pacarnya datang menyusul. dengan tergesa gesa, mici menghampiri Nisa yang sudah menangis tentunya.
"Lo gak papa kan nis ada yang lecet gak?" periksa mici pada tubuh Nisa, dan mencoba mencari luka apakah Nisa terjatuh atau tidak, sebab mici menyaksikan sendiri Nisa bagaikan kesetanan saat mengendarai motornya tadi. bahkan mici belum pernah melihat Nisa berkendara seliar itu.
"yaa ampun Nisa,
kan apa gue bilang nyesel kan lu gak dengerin gue waktu itu, dan Fara gue masih gak habis pikir kenapa dia bisa begitu sih, pantas saja ia seperti menjauh dari kita, rupa rupa ya ada udang di balik batu" celoteh mici ber kepanjangan yang merasa sangat kesal.
Nisa masih menangis, dengan duduk di pos di temani mici yang masih mencoba menenangkannya. "sudah lah menangislah sepuas mu hari ini, mumpung di sini juga sepi pasti tak akan ada yang tahu. tapi jangan lebih dari satu jam ya, nanti pak security keburu datang dan bisa habis kita di ceramah i nanti" oceh mici lagi. yang secara tidak langsung, membuat kekasihnya yang sejak tadi memperhatikannya hanya dapat menggelengkan kepalanya, melihat aksi kekasihnya yang sedang mencoba menenangkan sahabatnya.
kekasih mici juga mengenal bima, namun keduanya tak akrab, karena mereka pernah satu sekolah, dan dia juga tahu tentang kelakuan bima, karena tanpa mici tahu adiknya dulu juga hampir menjadi korban dari bima, setelah dirasa sedikit puas menangis Nisa secara berlahan mengangkat kepalanya, dan mencoba menghapuskan air matanya, setelah sedikit tenang barulah ia bisa bernapas dengan normal.
"jadi giman masih lanjut mau menonton atau enggak ?" tanya mici.
__ADS_1
"gak mau, gue laper nih " rengek Nisa kemudian.
"ya sudah kita makan saja Yook " ajak kekasih mici akhirnya.